UNTUK INDONESIA
Denny Siregar: Kesulitan Membuka Jati Diri Seseorang
Selamat berjuang. Kelak kita akan berterima kasih pada situasi yang membentuk pribadi kita menjadi lebih matang. Denny Siregar.
Ilustrasi - Semangat. (Foto: Pixabay/klimkin)

Resesi ekonomi 98 kurang buruk apalagi, coba? Pengusaha ambruk. PHK di mana-mana. Orang ngamuk. Banyak yang putus asa dengan kasus bunuh diri beberapa. Asia termasuk Indonesia kacau-balau dihantam badai.

Saya sendiri yang baru keluar dari perusahaan dengan mimpi indah jadi pengusaha, langsung kena hawa panasnya. Modal usaha langsung hilang. Barang yang rencana mau dibeli orang, batal karena orangnya bangkrut akibat dollar bengkak.

Luntang-lantunglah hidup. Marah enggak jelas. Mau nyalahin siapa? Cuma bisa nangis sesenggukan di pojokan, berasa dunia ini kejam. Mau kasih makan apa anak istri? Dan itu kulalui beberapa lama, menyalahkan banyak hal.

Tapi apa yang dilakukan beberapa teman malah membuatku sadar.

Mereka korban PHK massal. Sama bingungnya, mau ngapain. Sampai ada yang bilang, "Jual makanan saja. Separah-parahnya ekonomi, orang masih butuh makan."

Lalu dia pun jual gorengan di perempatan jalan. Bayangkan, gorengan. Dasi dia buang. "Enggak penting, yang penting ada yang dibawa pulang ke rumah." katanya. Gengsinya sudah habis, kalah dengan kebutuhan perut.

Beberapa tahun kemudian, kami bertemu lagi. Dia sudah sukses kayaknya. Punya beberapa outlet makanan. Dan kerjaannya cuma nongkrong di warkop, sambil berpikir, "Gua mau buka outlet di mana lagi, ya?"

Selamat berjuang. Kelak kita akan berterima kasih pada situasi yang membentuk pribadi kita menjadi lebih matang.

Dan saat itu candaannya mulai keluar, "Kalau gua gak di-PHK, mungkin selamanya gua jadi manajer dengan gaji segitu-gitu aja. Kerja jam 8 pagi, pulang malam. Belum risiko dipecat. Sekarang gua punya usaha sendiri. Terima kasih, resesi." Dan dia langsung ketawa terbahak.

Dalam situasi tertekan, ada tipikal orang yang pasrah dan menyerah dan ada yang tipikal petarung. Kesulitan membuka jati diri seseorang, siapa dia sebenarnya. Pada saat itu, orang dipaksa kreatif, kalau tidak mati kelaparan. Dan akhirnya tanpa sadar, keluarlah kemampuan dirinya sebenarnya.

Virus corona ini membuka gelombang resesi ekonomi kedua. Mulai tampak PHK massal di mana-mana. Dunia sedang hancur, dan mencoba bertahan dari puing-puing kerusakan.

Dan kelak, sekian tahun lagi, saya akan melihat banyak orang seperti temanku.

Mereka yang berhasil keluar sebagai pemenang dan berterima kasih pada kesulitan yang sekarang dia dapatkan.

Mungkin itu kamu. Mungkin kalian.

Karena itu, jangan panik. Duduklah dulu dengan tenang, jernihkan pikiran.

Secangkir kopi adalah teman sejati saat ia dibutuhkan.

Situasi saat ini memang sulit bagi sebagian orang.

Sejak awal saya sudah memprediksi bahwa yang lebih berbahaya dari penyebaran virus adalah ekonomi. Virus membuat banyak kegiatan ekonomi berhenti. Orang berdiam diri di rumah, takut tertular dan takut menulari.

Tapi selalu saja saya melihat para "Superman" dalam situasi sulit. Orang yang bertahan di tengah badai dan akhirnya keluar sebagai pemenang. Mereka adalah inspirator, orang yang menjadi contoh bagi orang lain.

Seperti kata ayahku, "Bukan besarnya badai yang harus kamu takuti, Nak. Tapi bagaimana kamu bisa melewatinya dengan selamat. Seorang nahkoda andal tidak tercipta dari laut yang tenang."

Selamat berjuang. Kelak kita akan berterima kasih pada situasi yang membentuk pribadi kita menjadi lebih matang.

*Penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi

Baca juga:

Berita terkait
Denny Siregar: Tsunami di Depan Mata
Situasi sekarang ini mirip jam dinding kehabisan baterai. Jarum jam terdiam. Tidak ada energi untuk menggerakkan. Denny Siregar.
Denny Siregar: Bekerja dengan Aman Saat Corona
Kalau produksi berhenti, perusahaan bangkrut, ujungnya terjadi PHK, menyusahkan negara. Bekerja dengan aman saat wabah corona. Denny Siregar.
Denny Siregar: Setelah Beberapa Minggu Diam di Rumah
Ugh, sudah mulai membulat karena tiap hari makan, tidur, bangun, makan lagi, tidur, bangun, makan lagi, tidur, bangun. Denny Siregar.
0
Relaksasi Kredit, Bank di Daerah Masih Saja Menagih
Presiden Jokowi membuat kebijakan relaksasi kredit saat pandemi Covid-19, praktiknya petugas bank milik negara masih ada yang menagih bunga kredit.