UNTUK INDONESIA
Curhat Seorang Guru: HP Memperbudak Anak Didikku
Seorang guru di Pematangsiantar menyampaikan kegundahannya terhadap anak didiknya yang telah diperbudak oleh penggunaan handphone atau HP.
Ilustrasi. (Foto: Tagar/Nuranisa Hamdan)

Pematangsiantar - Risbeauty Simanjuntak, seorang guru di sebuah SMA negeri di Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara, menyampaikan kegundahannya terhadap anak didiknya yang telah diperbudak oleh penggunaan handphone atau HP. Ia menyampaikan kegelisahan tersebut dalam sebuah status di laman Facebook, Sabtu, 25 Januari 2020.

Dalam status yang dia beri judul Bad Effect of HP for The Kids, Risbeauty memulai dengan dua kasus ketika sedang mengajar, siswanya sibuk bermain HP. 

"Sedih sekali rasanya, ketika siswa lebih memilih memperhatikan HP-nya ketimbang gurunya," tulis Risbeauty.

"HP telah memperbudak anak didikku," katanya menambahkan.

Ia melanjutkan tulisannya, sebagian siswanya lebih peduli dan fokus pada HP dibanding gurunya. "Pengaruh HP membuat mereka tidak menghargai guru mereka. Guru mengajar, anak sibuk dengan HP. Segitu hebatnyakah si HP sehingga anak-anak segitu patuhnya pada HP-nya?"

Ilustrasi Anak dan HPIlustrasi (Foto: balipost.com)

"HP telah merebut waktu mereka, hidup mereka. HP mereka anggap bagai belahan jiwanya yang tak bisa dipisahkan. Anak-anak lebih mendengarkan HP daripada guru dan orangtua. HP telah membuat mereka kehilangan rasa hormat. HP telah merampas masa kanak-kanak dan masa remaja mereka. Bermain, bercanda tawa dengan teman-teman sudah berkurang. Saat-saat yang seharusnya sangat membahagiakan bersama keluarga juga telah dirampas oleh HP. Tiada lagi kehangatan. Sadar atau tidak sadar mereka telah diperbudak oleh HP. Smartphone yang seharusnya membuat mereka smart malah membuat mereka semakin bodoh. Inikah tujuan orangtua memberikan mereka HP? Tentu tidak," tulisnya.

Dalam kolom komentar, menanggapi komentar orang lain, Risbeauty mengatakan sebenarnya di sekolahnya telah dilarang penggunaan HP selama jam mengajar. "Namun tetap saja ada yang mencuri-curi menggunakan HP," katanya.  

Ia mengajak semua yang membaca tulisannya untuk lebih ketat mengawasi penggunaan HP pada anak. 

"Sebagai orangtua kita harus super tega terhadap anak, demi kebaikan mereka. Bantu kami untuk menyelamatkan generasi muda bangsa ini. Jangan biarkan anak-anak kita diperbudak oleh HP. Kembalikan keceriaan dan kehangatan di tengah-tengah keluarga dan pergaulan anak-anak. HP bisa menyelesaikan masalah jika dipergunakan dengan baik tapi HP bisa jadi sumber masalah jika tidak dipergunakan dengan benar. Mari bergandengan tangan menjaga dan mengawasi anak-anak kita. Mereka adalah aset berharga bagi negeri ini," katanya mengakhiri tulisannya.

Kegelisahan seorang guru seperti Risbeauty ini sejatinya semakin menegaskan kegelisahan dan kekhawatiran banyak kalangan terhadap ketergantungan pada HP, terutama pada anak-anak. 

Bahkan sejak 2008 peneliti di Inggris sudah memberi istilah nomophobia pada mereka yang sangat tergantung pada penggunaan HP. Rasa cemas akan muncul tiap kali lupa membawa ponsel. Jumlah penderita nomophobia tampaknya terus meningkat hingga sekarang akibat makin menjamurnya ponsel pintar atau smartphone

Ilustrasi Anak sekolah dan HPIlustrasi (Foto: baynolimit.blogspot.com)

Nomophobia ditandai dengan perilaku kecemasan yang berlebihan seperti, tidak mampu menon-aktifkan ponselnya untuk beberapa waktu, rasa khawatir yang berlebihan jika kehabisan daya baterai, terus-menerus memeriksa pesan, panggilan, email baru, dan jejaring sosial. Bahkan penderita nomophobia dapat membawa ponselnya hingga ke kamar mandi karena terlalu cemas.

Istilah lain juga muncul yakni phubbing, istilah bagi orang yang sibuk main HP dan mengabaikan orang di hadapannya. Itulah yang terjadi, pola anti sosial.

Beberapa ahli pun kemudian menemukan beberapa gangguan mental dan kejiwaan akibat terlalu tergantung pada HP.

Beberapa gangguan mental dan kejiwaan itu antara lain:

1. Narcissistic personality disorder (NPD)

Penderita gangguan ini sangat mengagumi diri sendiri. Hobinya menyebarkan foto selfie dan mengumbar kebahagiaan pribadinya. Di dunia nyata, penderita NPD ini akan bersikap egois, kurang empati dan tidak mau mendengarkan orang lain. Ia ingin perhatian hanya terpusat pada dirinya. 

Ilustrasi Anak SMAIlustrasi (Foto: Loop.co.id)

2. Addiction
Addiction atau ketagihan. Ini merupakan gangguan kejiwaan dimana orang yang ketagihan pada fasilitas yang ada di HP, misalnya media sosial atau game. Ada yang ketagihan mengecek sosial media setiap beberapa menit, ketagihan menonton video di YouTube, dan bermain game.

Ketagihan seperti ini tidak sesederhana kedengarannya. Pasalnya, hal ini bisa menggagu kegiatan sehari-hari, mulai dari susah tidur, kurang fokus terhadap pekerjaan dan sekolah, bahkan sampai menghilangkan produktivitas dan meningkatkan kemalasan. Bahkan, parahnya, bisa jadi penderitanya kehilangan kehidupan sosial nyata karena hanya terpaku dengan berkomunikasi lewat media sosial.

3. Social Media Anxiety Disorder (SMAD)
Kurang lebih sama dengan Addiction, Social Media Anxiety Disorder atau SMAD adalah salah satu gangguan dimana para pengguna sosial media merasa ketergantungan dan tidak bisa lepas dari sosial media. Kapanpun dan dimana pun, penderita SMAD ini akan selalu mengecek sosial medianya, saat lagi kerja, lagi makan, atau bahkan lagi di kamar mandi. 

Update status dan foto-foto adalah hal wajib bagi para penderita SMAD ini. Ia akan merasa terganggu, emosi, dan marah kalau tidak mendapatkan likes atau feedback yang diinginkan, atau bahkan saaat followers-nya berkurang.

4. Munchausen Syndrome
Selain digunakan untuk memperoleh ketenaran, sosial media juga terkadang digunakan untuk mendapatkan perhatian lebih dari orang lain. Caranya, ia akan mengumbar cerita sedih, membuat cerita bohong, atau apapun agar mendapatkan perhatian dari orang lain. 

5. Compulsive Shopping

Penderita gangguan ini tidak akan berpikir dua kali untuk berbelanja banyak atau mahal demi status di media sosial. Kalau kaya sih tidak apa-apa, tapi ada sebagian yang mungkin rela berutang atau berbuat kriminal hanya agar bisa belanja barang mahal untuk ditampilkan di media sosial. Ngeri, ya? []


Berita terkait
Alasan BMKG Agar Handphone Dimatikan Saat Hujan
BMKG mengimbau warga untuk mematikan handphone saat cuaca buruk atau hujan lebat disertai angin kencang dan petir.
Tega, Ayah Ajarkan Anak Curi Handphone di Surabaya
Kapolrestabes Surabaya Kombes Sandi Nugroho menyebut NS melancarkan aksinya sebagai pembeli dengan mengajak anaknya yang masih berusia 7 tahun.
Mengenal Sejarah Handphone Pertama di Dunia dan Perkembangannya
Handphone pertama kali ditemukan oleh Martin Cooper. Bagaimana perkembangannya?
0
Verifikasi MBR, Alasan Risma Belum Salurkan Bansos
Saat ini sudah 65.925 KK yang sudah diverifikasi oleh Pemkot Surabaya untuk nantinya mendapatkan Bansos dari Kemensos.