UNTUK INDONESIA
Bisnis Lobster Rembang, Buntung di Era Edhy Prabowo
Jaya di era Menteri Susi Pudjiastuti namun buntung di masa Menteri Edhy Prabowo. Bisnis lobster di Rembang lesu karena pandemi.
Kondisi bisnis lobster di masa Menteri Edhy Prabowo ternyata beda saat era Menteri Susi Pudjiastuti. Kondisi pandemi Covid-19 membuat bisnis lobster di Rembang jadi lesu. (Foto: Tagar/Rendy Teguh Wibowo)

Rembang - Kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo yang membuka kran ekspor benih lobster ternyata belum dirasakan dampaknya oleh pelaku bisnis. Malahan, kebijakan yang keluar di saat pandemi Covid-19 itu, membuat mereka buntung

Pekan kedua bulan Juli ini. Jam digital di tangan menunjukan pukul 11.00 WIB. Berbagai aktivitas para pekerja lapangan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, nampak normal meski saat ini dalam kondisi wabah corona.  

Meski terik matahari begitu menyengat kulit, rasa penasaran untuk mengetahui lebih jauh kondisi bisnis lobster di situasi pandemi Covid-19, mendorong Tagar untuk mengunjungi salah satu warga yang memikiki usaha lobster di Desa Sukoharjo, Kecamatan Rembang.

Letak Desa Sukoharjo berjarak tidak jauh dari jantung kota Rembang. Hanya sekitar 500 meter dari alun-alun kota Rembang. Namun untuk menemukan rumah salah satu warga yang berprofesi sebagai pemasok lobster itu, dibutuhkan informasi yang akurat. 

Tidak ada papan informasi yang menyebut keberadaan pemasok lobster di kawasan desa tersebut. Terlebih perumahan di daerah pesisir yang juga sangat rapat. Sehingga butuh waktu untuk mencari. 

Setelah bertanya sana sini, dengan beberapa jawaban dari warga yang kadang bilang tidak tahu, Tagar akhirnya mendapat petunjuk jalan menuju rumah salah satu warga yang dicari.  

Saya harus booking bagasi bus dahulu waktu ingin kirim ke luar daerah.

lobster2Lilik Harijanto, pengepul di Rembang, menunjukan salah satu lobster yang dimiliki. (Foto: Tagar/Rendy Teguh Wibowo)

Lagi-lagi Tagar dibuat kebingungan. Memasuki gang sempit di sebelah timur sebuahminimarket, rumah di kawasan tersebut ternyata memiliki ciri yang mirip. Hanya kendaraan di depan rumah yang membedakan masing-masing pemilik rumah.

Setelah bertanya lagi kepada seorang warga, akhirnya pencarian selama sekitar 1,5 jam itu membuahkan hasil. Sebuah rumah dengan tampilan klasik, dindingnya terbuat dari kayu dan ada kendaraan jenis minibus di samping rumahnya. Rumah tersebut milik Lilik Harijanto, pemasok lobster yang dicari. 

Ternyata, Lilik sedang tak di rumah. Tagar diterima isteri Lilik dan mengabarkan jika suaminya lagi pergi namun tak lama lagi kembali. Lega rasanya demi mendengar informasi itu. 

Baca cerita: Siswa SD Sulap Botol Bekas Menjadi Face Shield 

Benar saja, tak selang lama, Lilik Harijanto datang menggunakan motor matik. Senyum ramahnya menyambut. Setelah menyampaikan maksud dan tujuan datang ke rumahnya, Lilik pun memulai memberi informasi seputar bisnis yang telah digelutinya selama 10 tahun terakhir itu. 

Ia memulai usaha lobster pada tahun 2010. Bermula dari membeli hasil tangkapan tiga kapal nelayan Rembang, lobster yang ia dapat dikumpulkan di tempat penampungan rumahnya dalam kondisi hidup.

Di tempat penampungan tersebut lobster dipelihara, mulai dari menyediakan alat filter, suplai air laut yang jernih, hingga memberi makanan dengan kerang. Ketika lobster sudah terkumpul dengan minimal berat 50 kilo, Lilik mengawali dengan menjual ke berbagai daerah di sekitar Kabupaten Rembang.

Selang berjalannya waktu, melihat usahanya kian maju, ia mencoba untuk memasok ke wilayah Jakarta. Dengan menggunakan jasa pengiriman bus, Lilik mem-booking bagasi bus untuk meletakkan satu koli lobster.

"Saya harus booking bagasi bus dahulu waktu ingin kirim ke luar daerah," katanya.

Dapat Ilmu dan Pinjaman

lobster3Penampungan lobster milik Lilik Harijanto di Desa Sukoharjo, Kecamatan Rembang. (Foto: Tagar/Rendy Teguh Wibowo)

Sialnya, saat barang tiba di agen Jakarta, lobster yang ia kirim dalam keadaan hidup atau segar, semuanya mati dalam perjalanan. Alhasil lobster tersebut dibeli dengan harga lebih rendah, 

"Akhirnya ya dibeli dengan harga mati, padahal waktu dikirim sehat semua, masih hidup semua," ucap dia.

Lilik mengakui, saat itu ilmu dalam dunia bisnis lobster masih rendah. Karena ingin memperdalam pengetahuan ia mengikuti pelatihan terkait bisnis yang ia geluti di Jakarta. Dari sanalah Lilik mendapat ilmu yang sangat bermanfaat untuk mengembangkan usaha, khususnya teknik pengiriman lobster.

"Jadi itu seharusnya lobster sebelum dikemas harus dibius biar pingsan dahulu. Kemudian baru bisa dikemas dan dikirim-kirim. Jadi sampai sananya lobster masih dalam keadaan hidup," bebernya.

Lobster sebelum dikemas harus dibius biar pingsan dahulu. Kemudian baru bisa dikemas dan dikirim-kirim.

Dalam perjalanan mengembangkan usaha lobsternya, Lilik mendapatkan bantuan permodalan melalui program corporate social responsibility (CSR) pabrik semen terkemuka di Rembang. Ia mengaku sangat terbantu oleh CSR pemberdayaan perekonomian tersebut.

"Saya baru pertama kali bisa menikmati bantuan pinjaman permodalan yang mudah dan ringan sekali dari pabrik semen," ungkapnya.

Kebetulan saat itu Lilik sangat membutuhkan penguatan modal. Tak hanya untuk meningkatkan cakupan pelanggan namun juga mendukung infrastruktur pemeliharaan agar lobster tetap bisa hidup meskipun dikirim ke luar Rembang.

“Untuk memperluas cakupan pelanggan, saya butuh dukungan modal untuk membeli boks fiber tempat lobster untuk nelayan dan ABK. Hal ini penting agar komoditas lobster tetap memiliki nilai ekonomi yang tinggi,” jelasnya.

Baca lainnya: Jenazah Covid Siap Masuk Liang Lahat, Tanah Ambrol 

Lilik mengenang, awalnya mendapatkan kucuran pinjaman lunak Rp 40 juta tanpa ada potongan dan langsung masuk ke rekeningnya pada 2014. Di tahun itu, ia baru mampu memasok rata-rata satu koli atau 17 kilogram lobster kepada pembeli di Surabaya.

“Sebelumnya, saya sempat beberapa tahun mengalami stagnasi usaha. Mau meningkatkan kapasitas, modalnya tidak ada. Sementara permintaan pasar lobster terus meningkat,” katanya.

Berkat suntikan permodalan lunak tahap pertama dan tahap kedua, kini Lilik telah menjadi jutawan. Sekarang dia sudah bermitra dengan 14 kapal penangkap ikan dan melibatkan 202 nelayan.

Era Menteri Susi dan Edhy Prabowo

Kini dirinya telah memiliki kolam transit untuk lobster yang berada terpisah dengan rumahnya. Daerah tujuan pengiriman lobster pun telah meluas dari Rembang, Semarang, Surabaya, Bali, Jakarta, hingga ke Batam. 

Masa kejayaan berlangsung di era Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Harga lobster lokal sangat bagus. Bahkan Lilik menjadi salah satu suplier tetap lobster bagi salah satu perusahaan eksportir hasil perikanan di Rembang. Pasokan lobsternya merambah pasar internasional, diekspor hingga Vietnam dan Singapura.

Saat Menteri Susi harga lobster sangat bagus.

Kala itu, ia mampu mengirim lobster hidup rata-rata 30 koli atau omzet kotor minimal mencapai Rp 200 juta per bulan atau belum dipotong biaya produksi sebesar 15%. Hitungan itu jika diasumsikan harga satu ekor lob­ster Rp 350 ribu dan volume per koli men­capai 17 kilogram

"Saat Menteri Susi harga lobster sangat bagus," ucapnya singkat sambil mengacungkan jempol.

Untuk satu ekor lobster mutiara dengan berat di atas satu kilogram, harga jualnya mencapai Rp 900 ribu per ekor. Sementara lobster jenis jenis pakistan dijual berkisar Rp 350 ribu hingga Rp 400 per ekor.

Setelah masa jabatan Menteri Susi digantikan Edhy Prabowo, kebijakan larangan ekspor dicabut. Kini, benih lobster diperbolehkan untuk di ekspor kembali. 

lobster4Lilik Harijanto, pengepul lonster saat berbincang dengan Tagar di rumahnya di Desa Sukoharjo, Kecamatan Rembang. (Foto: Tagar/Rendy Teguh Wibowo)

Baginya kebijakan itu belum memberi pengaruh banyak atas usaha yang ditekuni. Justru yang sangat Lilik rasakan di era Edhy Prabowo adalah dampak dari adanya wabah Covid-19.

"Kalau kebijakan menteri yang baru saya sifatnya menunggu dan melihat, karena saat ini yang paling terasa yaitu dampak Covid-19," akunya. 

Kalau kebijakan menteri yang baru saya sifatnya menunggu dan melihat, karena saat ini yang paling terasa yaitu dampak Covid-19.

Di masa pandemi Covid-19 seperti saat ini, kata dia, harga lobster per kilogramnya merosot tajam. Dari harga yang sebelumnya Rp 350 ribu per kilogramnya untuk lobster jenis pakistan, kini hanya dihargai Rp 150 ribu. Omzet yang didapatkan secara otomatis juga ikut merosot tajam.

"Sekarang omset katakanlah rata-rata tinggal Rp 10 juta, itu sudah bersih. Sangat hancur harga lobster saat pandemi seperti ini, tidak seperti dulu," tuturnya. 

Baca juga: Bahan Klepon Halal Semua Kok Dibilang Enggak Islami 

Belum lagi persaingan di bisnis lobster makin ketat seiring makin banyak pelaku usaha serupa yang bermunculan. Mereka tergiur omzet dan penghasilan yang didapat. 

Pernah Lilik mencoba untuk bisnis hasil laut lainnya di masa pandemi Covid-19 saat ini. Namun karena perekonomian yang belum kembali normal, bukannya untung namun kerugian yang malah ia dapatkan.

"Pernah mencoba ikan hasilnya jeblok, kemudian cumi hasilnya juga jeblok karena harganya naik turun tidak stabil. Akhirnya kembali ke lobster lagi walaupun harganya turun tapi masih stabil," ucap dia tersenyum simpul membayangkan kepahitan yang tengah dialami. 

Lilik sangat berharap kegiatan masyarakat berikut aktivitas ekonomi Tanah Air bisa segera pulih. Agar bisnisnya tidak mati, kembali berjaya seperti di era Menteri Susi Pudjiastuti. []

Berita terkait
Harga Anjlok, Pemasok Lobster di Rembang Gigit Jari
Seorang pemasok lobster asal Rembang harus merugi karena turunnya harga jual lobster. Apa penyebab harga lobster di Rembang?
Kisah Pengepul Lobster Bantul yang Enggan Jual Benur
Sugiyarto alias Tulus, seorang pengepul lobster di Kabupaten Bantul yang enggan menjual benur meski ramai dicari pembeli.
Kunjungi Tegal, Edhy Prabowo Tantang Pengkritiknya
Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo menantang pengkritik kebijakan cantrang. Jika tidak suka secara pribadi maka hadapi pribadi.
0
Bisnis Lobster Rembang, Buntung di Era Edhy Prabowo
Jaya di era Menteri Susi Pudjiastuti namun buntung di masa Menteri Edhy Prabowo. Bisnis lobster di Rembang lesu karena pandemi.