UNTUK INDONESIA
Bahan Klepon Halal Semua Kok Dibilang Enggak Islami
Klepon ini semua bahannya halal kok dibilang enggak islami. Itu sangat merugikan penjual klepon. Aku bingung, Mas, apanya yang tidak islami.
Eka, 30 tahun, menuang juruh (gula merah cair) ke atas lopis dan klepon pesanan pelanggan, Rabu, 22 Juli 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Yogyakarta - Perempuan berhijab itu duduk di samping gerobak jualannya, di depan sebuah minimarket di Kampung Kricak, Jalan Magelang, Yogyakarta. Namanya Eka, 30 tahun, ibu dua anak. Ia seolah abai pada juru parkir yang lalu lalang di dekatnya, memainkan ponsel sambil menunggu pembeli datang.

Eka, penjual kue tradisional Jawa, mulai dari cenil, lopis, ketan, hingga klepon, kue yang sehari sebelumnya sempat viral akibat meme yang menyebut bahwa klepon bukan makanan islami.

Kue klepon memiliki bentuk bulat berukuran mini dengan warna hijau muda, mirip onde-onde. Kue klepon berisikan irisan gula merah dengan bagian luar ditaburi kelapa parut.

Sejak sekitar lima tahun lalu, Eka meneruskan usahanya ayahnya yang sejak puluhan tahun lalu menjajakan kuliner berasa manis legit tersebut. Ia menggantungkan asa dan rezeki dari menjual klepon.

Pagi itu, Rabu, 22 Juli 2020, suasana di sekitar tempatnya menjual cukup ramai. Matahari belum terlalu tinggi keluar dari peraduannya. Deru knalpot kendaraan yang melintas menemani Eka memainkan ponsel. Sesekali terdengar suara peluit yang ditiup juru parkir saat mengatur kendaraan yang akan meninggalkan tempat itu.

Eka berdiri saat sepasang pria dan wanita singgah untuk membeli kue dagangannya. Jemarinya cekatan mengambil kue-kue pesanan pembeli itu dengan jepitan logam. Dia meletakkan kue tersebut di atas daun pisang sebelum kemudian membubuhinya dengan juruh atau gula merah yang dicairkan.

Ekspresi wajahnya jelas menunjukkan rasa senang, meski saat itu dia mengenakan masker di wajahnya. Kemudian Eka menutup etalase kaca pada gerobaknya dengan plastik transparan.

Klepon ini semua bahannya halal kok dibilang enggak islami. Itu sangat merugikan penjual klepon, tapi kan kebanyakan pelanggan sudah tahu. Aku bingung, Mas, apane (apanya) yang tidak islami.

Baca juga: Disebut Bukan Jajanan Islami, Kue Klepon Trending

Penjual KleponTumpukan klepon yang dijual Eka di kawasan Jl Magelang, Yogyakarta. Eka menghabiskan tiga kilogram tepung beras setiap hari. Foto diambil Rabu, 22 Juli 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Eka mengisahkan pada awalnya ayahnya menjual klepon keliling kampung, di sekitar Jalan Magelang. Namun seiring perkembangan dan bertambahnya usia, sang ayah memilih untuk mangkal di lokasi itu.

Menjual klepon merupakan pekerjaan utama Eka, dan hasilnya sangat membantu perekonimian dirinya dan keluarga. "Ini pekerjaan pokok. Bapak sampun puluhan tahun, kawit tasih disurung ngantos mangkal wonten mriki. (Bapak sudah puluhan tahun menjual, sejak didorong keliling sampai punya tempat di sini)."

Meme Klepon Tak Islami Sangat Merugikan

Klepon maupun beberapa jenis kue tradisional yang dijajakan Eka merupakan hasil buatannya sendiri. Mulai dari berbelanja bahan, membuat adonan, merebus, hingga menjajakan, semua dilakukannya sendiri. Sehingga Eka berani memastikan klepon itu tidak mengandung bahan yang haram.

Klepon dibuat dengan bahan halal, yakni tepung beras diisi potongan gula merah di dalamnya. "Bahannya cuma tepung beras saja, tidak ada campuran apa-apa.  Isinya pakai gula merah yang diiris kotak-kotak dadu, kemudian dimasukkan dan dibulatkan. Setelah itu, rebus air. Kalau sudah mendidih baru dimasukkan. Kayak bikin bakso. Kalau sudah mengapung berarti sudah matang."

Proses pembuatan klepon tidak sulit, kata Eka. Hanya mencampurkan tepung beras dan air putih, kemudian dibuat adonan hingga sedikit padat. Setelah itu adonan tersebut dibentuk bulat dan diisi dengan potongan gula merah. Dari awal membuaat adonan hingga perebusan dan penaburan kelapa parut, memakan waktu sekitar satu jam.

Baca juga: Disebut Tidak Islami, Ini Asal-Usul Kue Klepon

Penjual KleponEka, 30 tahun, menunggu pembeli di samping gerobak berisi kue tradisional klepon, Rabu, 22 Juli 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Ketika ditanya tentang adanya meme viral yang menyebut klepon bukan jajanan islami, Eka mengaku sudah mendengar kabar tersebut. Menurutnya itu sangat mengherankan, sebab bahan pembuat klepon sama sekali tidak mengandung zat haram.

Meme seperti itu disebutnya sangat merugikan produsen maupun penjual klepon seperti dirinya. Beruntung sebagian besar pelanggannya sudah paham bahwa klepon dan kue lain buatannya halal.

"Peminat klepon banyak banget, kan pada suka klepon to. Klepon ini semua bahannya halal kok dibilang enggak islami. Itu sangat merugikan penjual klepon, tapi kan kebanyakan pelanggan sudah tahu. Aku bingung, Mas, apane (apanya) yang tidak islami," tutur Eka.

Saat ini, dalam sehari Eka menghabiskan tiga kilogram tepung beras untuk membuat klepon, sedangkan untuk lopis dalam sehari dia menghabiskan tiga kilogram beras ketan,  dan masing-masing sekilo bahan untuk produksi cenil, ketan putih, dan ketan hitam.

Sebelum pandemi Covid-19, Eka biasanya menghabiskan empat kilogram tepung beras. "Terus selama corona ini saya kurangi. Alhamdulillah selalu habis." 

Penjual KleponKue tradisional yang dijual oleh Eka, 30 tahun, dibungkus menggunakan daun pisang dan kertas, Rabu, 22 Juli 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Meski dapat menyebutkan detail jumlah bahan yang digunakan, Eka mengaku tidak bisa memperkirakan jumlah butir klepon yang dibuatnya dalam sehari. Sebab dia membuat klepon secara manual, sehingga bentuk dan ukurannya tidak pernah sama persis antara satu dengan lainnya.

Setiap butir klepon dan jenis kuliner lain hasil buatannya dipatok seharga Rp 5 ribu. "Dari tiga kilo itu tidak tentu bisa jadi berapa butir, karena bikinnya manual pakai tangan, jadi ukurannya enggak pasti."

Meski dagangannya selalu habis, kata Eka, pandemi ini cukup berpengaruh terhadap omzet jualannya. Penurunan omzetnya mencapai kisaran 30 persen. Salah satu penyebabnya adalah para pembeli khawatir mengonsumsi kuliner yang dijual di pinggir jalan.

Sebagai upaya pencegahan penularan sekaligus menjaga agar pelanggan dan dirinya tidak terpapar virus corona, Eka menerapkan protokol kesehatan yang cukup ketat. Dia menutup etalase kacanya menggunakan lembaran plastik bening, dan mengenakan masker, baik saat memproduksi maupun menjual.

"Antisipasinya ya saya waktu proses produksi sampai melayani pembeli menerapkan protokol kesehatan, cuci tangan, pakai masker dll. Intinya jaga kebersihan," ujar Eka.

Penjual KleponEka, 30 tahun, menyiapkan beberapa porsi klepon untuk pembelinya, Rabu, 22 Juli 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Tidak Abaikan Pendidikan Anak

Eka sejak awal tahu lokasi berjualan paling strategis adalah di pinggir jalan. Gerobaknya mudah dikenali orang-orang yang lalu lalang kemudian singgah membeli klepon, banyak di antaranya menjadi pelanggan setia. Banyak pelanggannya rela datang dari jauh, dari kawasan Jalan Solo hingga sekitar Stadion Mandala Krida.

"Rata-rata pembeli justru bukan dari daerah dekat sini, tapi jauh-jauh. Mereka sengaja datang cuma buat beli klepon," kata Eka. 

Walaupun cukup sibuk membuat klepon dan menjualnya di lokasi itu mulai pukul setengah sembilan pagi hingga pukul setengah tiga sore, Eka mengaku cukup memperhatikan pelajaran sekolah anak-anaknya. Sebagai seorang ibu, ia tetap mencoba memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya, termasuk mengajari anaknya yang duduk di kelas empat dan kelas tiga sekolah dasar, setibanya dia di rumah.

Saat ini kedua anaknya masih melaksanakan belajar dari rumah (BDR) dan mereka belajar secara daring. Biasanya sepulang menjual, Eka mengajari dan membantu kedua anaknya belajar. Mulai dari membimbing mereka memahami pelajaran hingga membantu mengerjakan tugas-tugas sekolah. "Sekarang sekolah online. Saya mengajarinnya atau bantu mereka ngerjain tugas kalau saya sudah pulang dari menjual." []

Baca cerita lain:

Berita terkait
Masker Pengantin di Bantaeng Bikin Secantik Syahrini
Situasi sulit bisa membuat orang menyerah dan kalah, bisa juga membuat seseorang menemukan potensi terbaiknya. Fani di Bantaeng memilih yag kedua.
Ribuan Sapi Pemakan Sampah Jelang Idul Adha di Bantul
Jelang Idul Adha di Bantul, Yogyakrta, ribuan sapi makan sampah di tempat pembuangan sampah. Di antara sapi disembelih ditemukan kawat dalam perut.
Nenek Penjual Lopis dengan Nomor Antrean di Yogyakarta
Pagi masih berselimut sunyi, saat Satinem, 75 tahun, tiba di persimpangan Jalan Pangeran Diponegoro dan Jalan Bumijo, Yogyakarta. Ia penjual lopis.
0
Prakiraan Cuaca Jakarta, Minggu 26 Juli 2020
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan prakiraan cuaca untuk wilayah DKI Jakarta pada Minggu, 26 Juli 2020.