UNTUK INDONESIA
Berburu Buah Durian Lekak Asal Jepara Pasca-Petruk
Dulu Jepara dikenal dengan durian petruk. Varian tersebut sekarang diklaim telah punah. Jangan khawatir, karena masih banyak jenis lain yang lekak.
Suasana sentra durian di Pasar Buah Ngabul, Kecamatan Tahunan, Jepara, Jawa Tengah, Selasa 26 November 2019. (Tagar/Padhang Pranoto)

Jepara - Durian petruk Jepara, Jawa Tengah dinyatakan telah punah. Tapi jangan khawatir, masih banyak varian durian Jepara lain yang sekelas petruk. Namanya durian pahlawan. Sensasi lekak-nya pun tak kalah. 

"Durian Jepara itu punya kekhasan dari sisi rasa, istilahnya lekak. Ada manisnya, pahit sekaligus berlemak lengket dan kental. Tidak seperti di daerah lain, hanya manis saja," kata pecinta durian asal Jepara, Isnul Abdi kepada Tagar, Selasa 26 November 2019.

Isnul lantas berbagi tips memilih durian Jepara yang enak. Menurutnya, ada empat cara mencirikan durian berdaging lezat. Yang pertama dari sisi berat. Pastikan durian yang akan dipilih punya berat sekitar 1,5 kilogram hingga dua kilogram.

"Atau sesuai besar kecilnya buah. Kalau dia kecil tapi berat, kemungkianan masih mentah," kata dia.

Yang kedua adalah dari aromanya. "Cium baunya, kalau berbau daun atau tak berbau maka masih mentah," ujarnya. langkah selanjutnya adalah dengan memukul-mukul kulit durian dengan gagang pisau atau benda lain.

"Kalau suaranya krak-krak berarti mentah. Tapi kalau suaranya seperti orang yang perutnya kembung, kruk-kruk, itu matang," sebut dia.

Tips keempat dengan meneliti di bagian tangkai durian. "Cek tangkainya, cuil sedikit dengan kuku. Kalau masih segar artinya baru jatuh. Tapi kalau berkerut dan hitam berarti sudah jatuh lebih dari tiga hari dan tidak segar lagi," jelas dia.

Langkah lain yang tak kalah penting adalah memakan buah durian di tempat jualan. Karena biasanya akan ada kesepakatan yang jelas antara pembeli dan penjual. 

Durian Jepara itu punya kekhasan dari sisi rasa, istilahnya lekak. Ada manisnya, pahit sekaligus berlemak lengket dan kental.

Semisal durian bisa ditukar ketika mendapati daging buah tak sesuai harapan. Termasuk mendapat potongan harga."Kalau makan di tempat, pastikan saja duriannya memang bagus, jadi tak ada dusta," kata Isnul.

Durian Petruk Punah

Sekitar 35 tahun lalu, durian petruk asal Jepara pernah diakui Menteri Pertanian Achmad Efendi, sebagai durian unggul nasional. Berkat varian ini, nama Jepara meroket. Banyak pecinta buah beraroma khas ini yang datang ke Bumi Kartini hanya untuk menikmati petruk.

Durian petruk memang asli Jepara. namanya diambil dari penemu varietas tersebut. Pak Petruk, sapaan si penemu, asal Dukuh Randusari, Desa Tahunan Kecamatan Tahunan Kabupaten Jepara. Karena nama penemunya Pak Petruk maka dinamakan Durian Petruk.

Dari sisi bentuk, durian yang satu ini memang tidak seperti buah serupa lainnya. Bentuknya bulat telur terbalik, ujungnya agak runcing. Kulit kulit buahnya juga tidak setebal kulit durian jenis lain. Namun dari warna hampir sama dengan warna durian lain yang telah matang, hijau kekuningan.

Sudah tidak ada lagi durian petruk. Kalau ada yang bilang punya, bisa dipastikan 99,9 persen bohong.

durian 2Isnul Abdi, pecinta buah durian sedang memperlihatkan trik memilih buah durian berkualitas bagus. (Foto: Tagar/Padhang Pranoto)

Satu hal yang jadi pembeda dari durian petruk adalah ketebalan daging dan cita rasanya. Daging buah berwarna kuning, berserat halus, agak lembek dan rasanya sangat manis. Saking manisnya ada nuansa pahit di setiap kecapan lidah ketika menikmatinya.

Namun, kini varian itu diklaim telah punah. Pohonnya telah mati. Tidak ada pengganti. "Sudah tidak ada lagi durian petruk. Kalau ada yang bilang punya, bisa dipastikan 99,9 persen bohong," ucap Isnul.

Isnul mengaku sebagai pecinta durian, ia tidak hanya sekadar menikmati. Selama beberapa tahun terakhir telah merawat 450 pohon durian berbagai jenis. Tujuannya, untuk mencari bibit unggulan. 

Baginya, Desa Batealit dan Desa Kecapi adalah dua daerah di Jepara penghasil durian kualitas baik. Dua daerah ini dilalui oleh jalur tanah dari Gunung Muria.

"Saat ini ada sekitar 50 bibit unggulan, kami beri nama sendiri-sendiri, sekaligus mencari bibit pengganti durian petruk, the next petruk. Ada satu jenis yang kami temukan, kami namakan durian pahlawan, bobotnya bisa sampai dua kilogram. Harapannya bisa jadi pahlawan untuk Jepara," terang dia.

Panen Durian

Di Jepara sendiri mulai masuk masuk masa panen durian. Di wilayah kabupaten yang terletak di sisi timur pantai utara Pulau Jawa ini, sudah banyak dijajakan durian mulai akhir Oktober lalu.

Buah berkulit keras dan berlekuk tajam mirip duri tersebut lazim dijajakan pedagang yang mangkal di selasar rumah atau pasar-pasar tradisional. Pasar Buah Ngabul, Kecamatan Tahunan, satu di antaranya.

Pasar Ngabul, boleh dibilang sentral perdagangan durian. Setiap musim panen, durian dari berbagai pelosok di Jepara masuk ke pasat itu. Puluhan pedagang pun seakan berlomba menjajakan aneka ragam durian. baik jenis, kualitas maupun harga dijual.

Seorang pedagang durian Pasar Ngabul, Bathi, 50 tahun mengaku, telah menggelar lapak sejak 30 tahun silam. Kala musim durian tiba, ia bisa menjual ribuan butir durian. Harganya, mulai dari Rp 10.000 hingga ratusan ribu, bergantung pada ukuran dan kualitas.

Saat Tagar menyambanginya, Selasa 25 November 2019, ia tengah melayani pembeli. Ia menawarkan dua paket durian kecil.

"Yang ini Rp 60 ribu rupiah, yang satunya ini Rp 75 ribu rupiah. Kalau diborong semuanya bayar Rp 130 ribu rupiah saja, normalnya kan 135 ribu rupiah," ujarnya sambil menunjukan dua paket durian ukuran kecil, berjumlah masing-masing lima buah yang terikat tali rafia.

Setelah sekitar lima menit tawar menawar, Bathi akhirnya menyerah. Pembeli mendapatkan sepaket durian kecil dengan harga Rp 50 ribu. Itu artinya, sebuah durian dijualnya dengan harga Rp 10 ribu.

Manfaatkan teknologi seperti kultur jaringan, kerjasama dengan LIPI, Batan maupun Yayasan Durian Nusantara.

durian 3Bathi, 50 tahun, pedagang durian di Pasar Buah Ngabul, Kecamatan Tahunan Jepara, menunjukan durian dagangannya. (Foto: Tagar/Padhang Pranoto)

Setelah menerima selembar uang, ia kemudian menyapukannya ke dagangannya. "Laris-laris," ujar perempuan yang tinggal di Desa Senenan, Kecamatan Tahunan itu.

Ia bercerita, banyak pembeli dari luar kota yang berdatangan saat akhir pekan. Yang banyak ditanyakan dan dicari adalah durian jenis petruk.

"Kalau pas libur, banyak yang datang. Carinya ya macam-macam, itu ada yang harganya Rp 40 ribu rupiah, sampai ratusan ribu. Tergantung jenisnya lah. Kalau yang harga Rp 10 ribu rupiah, enak sih tapi ya begitu, ada harga ada rasa," sebutnya.

Selain Pasar Buah Ngabul, banyak tempat di Jepara yang bisa disambangi untuk berburu durian. Lantaran, pohon-pohon durian rata-rata dimiliki oleh orang kampung. Dan ketika musim panen tiba, banyak dari mereka yang menjajakan duriannya di depan rumah.

Gipah, salah satunya. Rumahnya banyak dikunjungi oleh pecinta durian. Bahkan banyak yang dari luar Jepara, rela mendatangi rumahnya di Desa Kecapi, RT 10 RW 02, Kecamatan Tahunan, Jepara, untuk menikmati durian yang dijualnya.

Saking terkenalnya, durian Gipah sempat jadi langganan Bupati Jepara. Ia mengaku sudah sering dihubungi ajudan bupati yang memesan duriannya.

"Setahu saya sejak Pak Narto (Soenarto, Bupati Jepara 1997-2002). Nanti dihubungi ajudan lalu saya kirim ke pendopo," kata Gipah.

Sementara itu, punahnya durian petruk disikapi serius oleh Pemerintah Kabupaten Jepara. Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Jepara Dian Kristiandi sudah menginstruksikan untuk dilakukan pemuliaan bibit durian dengan memanfaatkan teknologi pertanian.

"Kita jangan lengah untuk mengembangkan empat varietas durian unggul lain, seperti Subandi, Sutriman, Sukarman dan Tarmin. Manfaatkan teknologi seperti kultur jaringan, kerjasama dengan LIPI, Batan maupun Yayasan Durian Nusantara," tutur Dian. []

Baca juga: 

Berita terkait
Pindang Serani Jepara, Bekal Nelayan yang Lezat
Pindang Serani, bekal nelayan Jepara ini lezat dan segar. Karena kelezatannya, banyak restoran yang menjadikan pindang serani sebagai menu utama.
Pengusaha Kayu Jepara Minta SVLK Dihapus
Pengusaha merasa jadi korban kepentingan bisnis negara. Karenanya pengusaha Jepara, Jawa Tengah meminta SVLK dihapus.
Nikmati Kopi di Desa Tertinggi di Jepara
Kabupaten Jepara Jawa Tengah, mendunia karena, R.A. Kartini. Belakangan, produk kopi asal Bumi Kartini mulai menampakan pesonanya.
0
Bawa Pemudik, Armada ALS Tertahan di Pelabuhan Merak
PT Antar Lintas Sumatera (ALS) Tangerang yang masih mengoperasikan armada dan membawa penumpang pada 29 April 2020 terpaksa harus dihentikan.