UNTUK INDONESIA
Bakso Ayam Legenda Kuliner Tersembunyi Asal Rembang
Belum setenar lontong tuyuhan, bakso ayam ternyata legenda kuliner asal Rembang. Seperti apa rasanya?
Salah satu legenda kuliner di Rembang, makanan berkuah menyegarkan yang bernama bakso ayam. (Foto: Tagar/Rendy Teguh Wibowo)

Rembang - Namanya bakso ayam. Satu dari sekian kuliner asli Rembang yang bercita rasa segar khas wilayah pesisir pantai. Tapi tidak seperti bakso pada umumnya, makanan ini punya perbedaan mencolok di sajian bahannya. 

Mendengar kata bakso, bayangan Anda pasti tertuju pada makanan berbahan daging sapi berbentuk bulat. Ternyata tidak dengan bakso ayam, kuliner asli Kecamatan Kragan. Dan jauh dari tempat asalnya, di Desa Tasikagung, Kecamatan Rembang, ada bakso ayam yang cukup melegenda. 

Mengulik keunikan kuliner khas Rembang yang satu ini, Tagar menghampiri penjual makanan berkuah segar tersebut di Desa Tasikagung. Lokasinya ada di bawah pohon di depan pintu masuk Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tasikagung. Sebuah gerobak dorong warna hijau, di etalase kacanya tertulis bakso ayam. 

Jangan kaget ketika menjumpai makanan ini. Sebab meski namanya bakso ayam, tapi tidak akan dijumpai bulatan-bulatan bakso pada umumnya di kuliner bakso. Yang didapati hanya potongan ayam kampung dan bihun yang tersaji di dalam etalase gerobak penjualnya.

Siang itu, arloji masih menunjuk angka 11. Tagar memesan satu porsi bakso ayam lengkap dengan isian tambahan telur dan jeroan ayam. Tidak menunggu lama, karena kebetulan tidak bersamaan dengan jam istirahat pekerja pelabuhan, satu porsi bakso ayam sudah tersaji. 

Dan di seporsi mangkok, yang namanya bakso ayam ternyata terdiri bihun, irisan kubis, dan potongan ayam kampung cukup besar. Sekilas tampilan makanan ini cukup unik. Jika diperhatikan seperti hidangan soto ayam, namun isiannya tidak seperti soto pada umumnya. Ini lah yang menjadi keunikan tersendiri dari kuliner tersebut.

Untuk cita rasa, khususnya kuah, mirip dengan kuah bakso. Namun bakso ayam lebih kaya akan nuansa rempah. Jadi sangat cocok disantap di musim hujan seperti sekarang. Menyegarkan dan dapat membuat hangat tubuh. 

Cukup mengenyangkan karena ada bihun dan potongan ayam. Potongan ayam kampung yang tersaji juga sudah melalui proses pemasakan, digoreng kemudian direbus dengan kuah bakso. Perpaduan kuah bakso dan ayam kampung ini menciptakan rasa gurih, nikmat di lidah dan kesegaran membuncah di mulut.

Yang jadi favorit pelanggan mintanya ditambah telur dan jeroan ayam.

Bakso AyamMohammad Ali Hasim ketika meracik seporsi bakso ayam. (Foto: Tagar/Rendy Teguh Wibowo)

Penjual bakso ayam, Mohammad Ali Hasim mengatakan sudah hampir 10 tahun berjualan di Desa Tasikagung. Hingga kini ia memiliki pelanggan tetap yang selalu membeli baksonya dalam jumlah yang banyak.

"Dari pagi, sekitar jam 10 WIB sampai sore jam 15.00 WIB biasanya sudah habis. Terkadang, lambat-lambatnya sampai jam 16.30 WIB ," ujar dia, Selasa 11 Februari 2020.

Hasim, sapaan akrabnya, mengaku harga seporsi bakso ayam dipatok Rp 10.000 hingga Rp 15.000 tergantung tambahan isian baksonya. Dalam sehari atau sekali berjualan, bisa menghabiskan 15 ekor ayam untuk 170 hingga 175 porsi mangkok. 

Karena rasanya yang nikmat para pembeli kerap minta tambah isian porsinya. Maka harganya pun mengalami penyesuaian. "Biasanya nambah, kadang sampai Rp 20.000. Kadang malah kalau bos (pemilik kapal) yang beli, mangkoknya suruh dipenuhi ayam, berapapun harganya enggak masalah katanya," beber dia.

Sedikit bangga, Hasim mengaku para pembeli sering melontarkan pujian atas bakso ayam jualannya. "Katanya lebih mantap," ujarnya tersenyum. Dan sebagai bentuk apresiasi, ia memberi bonus seporsi bakso ayam gratis untuk pembeli yang memborong 10 mangkok. 

"Kalau pas jam makan siang ramai sekali pembeli. Yang jadi favorit pelanggan mintanya ditambah telur dan jeroan ayam," terangnya.

Kuliner bakso ayam bagi warga asli Rembang bukan nama yang asing karena memang makanan ini lahir di daerah Kragan. Namun bakso ayam belum sepopuler lontong tuyuhan yang menjadi salah satu ikon kuliner Rembang.

Dan di tempat asalnya, di Kragan, banyak sekali dijumpai penjual bakso ayam. Bahkan makanan tersebut sudah menjadi ciri khas daerah tersebut. "Saya aslinya Kragan, karena di sana sudah banyak yang jualan akhirnya saya mencoba jualan ke kota (Rembang)," jelasnya.

Teguh Aribowo, pembeli setia Hasim, mengaku bakso ayam di langganannya itu terasa lebih nikmat dibandingkan kuliner sejenis yang bertebaran di Kragan. Kunci kenikmatan bakso ayam terletak pada kuahnya. Jika dari segi rasa ayam hampir tidak ada bedanya antara penjual satu dengan yang lain. 

"Saya kan sehari-hari kerja di Kragan, sudah mencoba bakso ayam yang ada di sana (Kragan). Tapi setelah mencoba bakso ayam di sini ternyata lebih mantap di sini, kuahnya itu lebih nendang rasa bumbunya," tutur dia. []

Baca juga: 

Berita terkait
Kue Keranjang, Simbol Kerukunan Imlek Lasem Rembang
Kue keranjang, panganan khas setiap Imlek. Di Lasem, Rembang, panganan ini juga simbol kerukunan.
Kue Bandung, Kuliner Perekat Keluarga Semarang
Kue Bandung di Semarang menjadi kuliner yang cocok dinikmati di musim hujan. Jadi sarana perekat keluarga.
Yopia Cemilan Wajib Perayaan Imlek di Rembang
Yopia, panganan wajib yang disuguhkan warga Tionghoa di Rembang saat perayaan Imlek, selain kue keranjang.
0
Skenario Penanganan Corona di RSUD dr Soeselo Tegal
Bagaimana alur penanganan RSUD dr Soeselo Kabupaten Tegal jika ada pasien suspect virus corona?