Indonesia
Es Degan Pak Ambon, Legenda Kuliner Semarang
Jika berkunjung ke Semarang, tidak lengkap jika tidak mampir ke Es Kelapa Muda Pak Ambon, salah satu legenda kuliner Semarang.
Warung Es Kelapa Muda Pak Ambon di pinggir Jalan dr Cipto Semarang. (Foto: Tagar/Agus Joko Mulyono)

Semarang - Jika berkunjung ke Semarang, tidak lengkap jika tidak mampir Es Degan Pak Ambon yang merupakan salah satu legenda kuliner Semarang.

Meski Warung es degan, atau orang menyebutnya es kelapa muda, tersebut sederhana, namun tidak pernah sepi pembeli. Es degan Pak Ambon yang berlokasi di pinggir Jalan Dr Cipto No 100 A Semarang telah menjadi legenda kuliner, dan diburu untuk takjil di bulan puasa Ramadan.

“Alhamdulilah ramai terus mas. Di bulan puasa seperti sekarang memang ada peningkatan permintaan dari masyarakat untuk keperluan berbuka,” kata Pak Ambon (60) membuka perbincangan dengan Tagar di tempat usahanya, Senin sore 13 Mei 2019.

Rasanya segar manis tapi manisnya tidak nyanthol atau bikin serak tenggorokan. Dan airnya memang air kelapa muda murni.

Cara penyajian es degan yaitu air dan irisan daging kelapa muda (degan) dicampur jadi satu, lalu ditambah pemanis dan es batu. Dan, es kelapa muda pun menjadi takjil yang menyegarkan tenggorokan.

Ditambah Tape Ketan

Umumnya, untuk menambah sensasi rasa, penjual es degan menambahkan pemanis, baik itu sirup, gula aren maupun gula pasir. Namun tidak bagi Pak Ambon. Ia punya resep turun temurun dari keluarga yang membuat kulinernya punya cita rasa khas.

“Ya dicampur dengan gula biasa tapi ada resep sendiri warisan bapak. Ini yang membedakan es degan kami dengan es degan di tempat lain,” kata bapak tiga putra ini.

Hal lain yang jadi keunggulannya adalah jaminan air degan asli, bukan campuran air putih. “Saya jamin air degan kami asli air kelapa muda. Dari awal usaha, tidak pernah dicampur dengan air biasa,” tegas Pak Ambon.

Dan satu lagi yang istimewa, Es Degan Pak Ambon masih ditambah dengan tape ketan yang rasanya manis masam. Jadilah Es Degan Pak Ambon punya cita rasa yang khas.

Di bulan puasa, omzet jualannya naik sekitar 50 % dibanding bulan biasa.

“Di bulan lain bisa jual 200 kelapa muda tapi kalau bulan puasa bisa sampai 300 kelapa muda,” kata Pria bernama asli Ahmad Nur Amin itu seraya menyebut kelapanya diambil dari Yogyakarta.

Legenda Selama 60 Tahun

Tidak heran, dengan resep tersebut warung es degan Pak Ambon telah bertahan selama sekitar 60 tahun. Mereka yang pernah mencicipinya dijamin bakal ketagihan.

Dia menceritakan sudah mulai membantu ayahnya berjualan es degan di Jalan Dr Cipto sejak umur 5 tahun. Dan saat ini, dia merupakan generasi keempat, setelah ayahnya, ibunya, dan kakaknya.

"Saya ini generasi keempat,” tuturnya. Matanya nampak berkaca-kaca membayangkan perjalanan usaha kuliner keluarganya yang penuh kenangan.

Wahyu (37) pembeli dari Mranggen, Demak, mengakui cita rasa es degan Pak Ambon beda dengan penjual lainnya. “Rasanya segar manis tapi manisnya tidak nyanthol atau bikin serak tenggorokan. Dan airnya memang air kelapa muda murni,” ujarnya.

Harga es degan yang relatif murah menjadikannya pilihan tepat untuk berbuka puasa. “Saya beli dibungkus untuk buka bersama dengan teman-teman kerja,” tutupnya. []

Baca juga:

Berita terkait
0
Persekusi Mahasiswa Papua di Jatim, Apa Kata NU?
Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj mengatakan kita bersaudara dengan warga Papua. Jadi tragedi persekusi mahasiswa Papua di Jatim disesalkannya.