UNTUK INDONESIA
Warga Kulon Progo Ketika Dilanda Kekeringan Panjang
Saat matahari masih malu-malu menampakkan diri, Supartilah warga Kulon Progo ini berjalan pelan menuju sungai kecil penuh bebatuan.
Warga Dusun Penggung, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, menggunakan air sungai untuk mandi, mencuci, memasak. (Foto: Tagar/Harun Susanto)

Kulon Progo - Saat matahari masih malu-malu menampakkan diri, Supartilah berjalan pelan menuju sungai kecil penuh bebatuan. Sungai ini berjarak sekitar 500 meter dari rumahnya. Wanita 60 tahun itu membawa setumpuk pakaian kotor untuk dicuci.

Supartilah sampai di lokasi, sudah ada beberapa orang dewasa dan anak-anak dengan tujuan sama.

Mereka warga Dusun Penggung, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo.

“Tidak ada air di rumah, daripada harus mengusung (membawa) air ke rumah, lebih baik mencuci di sungai,” ujar Supartilah saat ditemui Tagar pada awal bulan Juli 2019.

Kekeringan panjang melanda, Supartilah dan warga lain terpaksa menggunakan air sungai. Tidak hanya untuk mencuci, air sungai juga untuk mandi, bahkan juga untuk memasak. 

Untuk mendapatkan air sungai yang tidak terlalu kotor, Supartilah harus berangkat pagi, kadang sebelum subuh. Ia harus antre bersama warga lain.

“Harus bergiliran dan antre, Mas. Tidak lama kok menunggunya, tidak sampai berjam-jam,” ujarnya.

Supartilah mengatakan hingga saat ini belum menerima bantuan air bersih setetes pun. Ia mengalami dampak kekeringan sejak sebelum Lebaran 2019.

Riyantiningsih, warga lain, menggunakan air minum dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Namun karena harus membayar Rp 5.000 per kubik, ia juga menggunakan air sungai demi penghematan.

“Air sungai tersebut, saya gunakan hanya untuk keperluan mencuci pakaian. Sementara untuk mandi, memasak, menggunakan air sumur,” ujar Riyantiningsih.

Kalau pakaian kotor sedikit, ia mencuci di rumah. Kalau banyak, ia mencuci di sungai seperti warga lain.

Tidak banyak pilihan bagi Supartilah dan Riyantiningsih. Sungai menjadi andalan untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.

Situasi seperti ini bukan pertama kali. Kekeringan seolah menjadi agenda rutin di Dusun Penggung, Desa Purwosari setiap musim kemarau. Saat Kesulitan air tiba, mereka otomatis pergi ke sungai sebagai jalan keluar.

Tidak ada air di rumah, daripada harus mengusung (membawa) air ke rumah, lebih baik mencuci di sungai.

Krisis Air Kulon ProgoWarga Dusun Penggung, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo,menerima bantuan air bersih yang disalurkan Kepolisian Sektor Girimulyo.

Infrastruktur Saluran Air

Membutuhkan waktu, tenaga, serta kendaraan yang baik untuk mencapai Dusun Penggung. Jalan berliku, sempit, naik turun, curam, merupakan rintangan yang harus dilalui. Kalau tidak berhati-hati sepanjang perjalanan, bisa terjerumus ke jurang.

Berangkat dari Wates Ibu Kota Kulon Proro, butuh waktu 45 menit.

Camat Purwono di Girimulyo mengatakan Dusun Penggung sudah mulai terdampak kekeringan, sama seperti daerah Ngaglik. Kekeringan diperkirakan juga bisa melanda Dusun Ngroto dan Wonosari, karena wilayahnya berdekatan.

“Dalam tataran desa, memang semua desa di Kecamatan Girimulyo berpotensi mengalami kekurangan air bersih. Namun wilayah rawan kekeringan di Girimulyo kini sudah semakin berkurang, dengan adanya program pemerintah di antaranya perpipaan,” ujar Purwono.

Ia menambahkan, dalam jangka panjang akan dibangun infrastruktur saluran air. 

Pemerintah Kabupaten Kulon Progo sudah berupaya menaikkan air Sungai Progo ke wilayah yang lebih tinggi, agar bisa mengalirkan air ke wilayah kekeringan yang ada di bawahnya. Lokasinya diperkirakan ada di perbatasan Kecamatan Samigaluh dan Girimulyo, tepatnya di Desa Banjarsari.

Sementara itu, Kepala Kepolisian Sektor Girimulyo, AKP Surahman mengatakan permintaan bantuan air sudah banyak berdatangan dari masyarakat maupun sekolah yang ada di Girimulyo.

"Penyaluran bantuan (dropping) air sudah dilakukan sebanyak tiga kali oleh Polsek Girimulyo. Selain menyasar permukiman warga yang kesulitan air, dropping juga dilakukan di sekolah-sekolah,” kata Surahman.

Ia menambahkan, dalam melakukan dropping air, kepolisian tidak bergerak sendiri. Kerja sama dan komunikasi dijalin dengan Taruna Siaga Bencana (Tagana) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulon Progo, demi mengetahui titik-titik yang mengalami krisis air bersih.

“Bantuan air akan rutin kami salurkan demi masyarakat. Pokoknya jangan sampai masyarakat susah dalam memenuhi kebutuhan air,” ujarnya. []

Tulisan feature lain:

Berita terkait
0
4 DPD Golkar di Yogyakarta Sepakat Musdalub
Empat dari lima DPD Partai Golkar di Yogyakarta meminta DPP untuk segera menggelar Musdalub DPD I Partai Golkar DIY.