UNTUK INDONESIA
Tuan Guru Batak dari Simalungun: Islam Itu Damai
Tuan Guru Batak ini adalah tokoh dari Kabupaten Simalungun, memiliki ilmu pengetahuan agama Islam.
TGB Syekh Ahmad Sabban elRahmaniy Rajagukguk. (Foto: Tagar/Istimewa)

Simalungun - Tuan Guru Batak yang satu ini adalah sosok dan tokoh dari Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, yang memiliki ilmu pengetahuan dan penyebaran agama Islam. Dalam maknanya, TGB merupakan ulama dari suku Batak, pendakwah.

TGB Syekh Dr Ahmad Sabban elRahmaniy Rajagukguk lahir pada 7 Juli 1979. Ia menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Simalungun, pada tahun 1992.

Sebelum tamat dari MAN Kota Pematangsiantar pada tahun 1998, dia lulus dari MTS Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun, pada tahun 1995.

Lulus dari situ, Ahmad Sabban melanjutkan pendidikannya ke jenjang lebih tinggi. Strata-1 sampai dengan Strara-3, dia lulus dari Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU).

Di tahun 2002 ia memundak sarjana, tiga tahun kemudian, yakni 2005 ia lulus sebagai Master (S-2) dan terakhir menyandang gelar Doktor (S-3) pada tahun 2013.

Tak hanya sebagai pendakwah, Ahmad Sabban kini aktif sebagai narasumber kebangsaan dan pegiat kerukunan. Pernah menjadi Kepala Cabang (Kacab) Bank Mandiri Syariah Petisah 2010, Kacab Langsa Aceh 2011, Kacab Binjai 2012 dan saat ini Ahmad Sabban, Dosen Pascasarjana UINSU.

Pengalaman perjalanan agama Ahmad Sabban dituangkan dalam bukunya 'Titian Para Sufi dan Ahli Makrifah'. Dan terakhir dalam bukunya berjudul 'Dakwah Kerukunan dan Kebangsaan', TGB menyampaikan keberagaman tidak boleh terusik, karena agama sepakat membangun kerukunan.

Peluncuran buku tersebut digelar di Hotel JW Marriot, Jalan Putri Hijau, Medan, Sumatera Utara, Senin 23 September 2019 silam.

"(itu) buku ke tiga dan ke empat, dakwah kerukunan dan kebangsaan," katanya.

Muslim Itu Menyelamatkan

Tuan Guru Batak (TGB) Syekh Dr Ahmad Sabban elRahmaniy Rajagukguk, menuturkan agama hadir untuk menyebarkan keselamatan kepada sesama umat beragama dengan penuh kasih sayang.

"Secara normatif, secara esensi (hakikat,red), agama itu hadir mengembangkan cinta kasih, kasih sayang. Agama dalam konteks Islam, agama itu artinya selamat. Artinya orang muslim itu orang yang menyelamatkan," katanya, Minggu 17 November 2019 kepada Tagar di Kabupaten Simalungun.

Putra ke-6 dari 8 bersaudara buah pasangan Syekh Abdurrahman Rajagukguk dan Syarifah Herlina Togatorop itu menegaskan, tidak ada satu pun agama yang memperbolehkan tindakan yang menghilangkan nyawa sesama antar umat beragama.

Hal itu dikatakannya, berkaca dari peristiwa ledakan bom bunuh diri yang terjadi di Polrestabes Medan, Sumatera Utara, Rabu 13 November 2019 lalu.

"Bahwa tidak ada satu pun agama yang mentorelir atau yang memperbolehkan tindakan pembunuhan, tindakan yang menghilangkan nyawa sesama manusia demi perintah agama. Dalam arti tidak ada agama yang bisa membunuh orang lain supaya masuk surga, itu yang paling penting (dipahami)," terang pengasuh Pesantren Persulukan Serambi Babussalam, Kabupaten Simalungun dan pengasuh Rumah Sufi dan Peradaban Medan.

Tindakan bom bunuh diri dengan meyakini dengan membunuh orang lain ia akan masuk surga, sesungguhnya ia sedang masuk neraka

Dikatakannya, terkecuali seseorang itu teraniaya dalam agamanya. Sehingga ia harus menyelamatkan agamanya, semisal dalam penistaan agama.

TGB Syekh Ahmad Sabban elRahmaniy Rajagukguk.TGB Syekh Ahmad Sabban elRahmaniy Rajagukguk. (Foto: Tagar/Istimewa)

"Sebagai contoh seseorang dengan kalimat mengatakan agama Islam itu tidak benar. Kalau kamu ngga mau ke luar dari agama Islam saya bunuh kamu," katanya, mencontohkan.

Kalimat nistaan berupa ancaman itu, kata Syekh Ahmad Sabban, telah menyudutkan dalam menganut agama seseorang.

"Ia pun berupaya melakukan tindakan itu. Dan itu pun dalam konteks yang lebih. Di situ dia sudah melakukan pembelaan pada agamanya," sebut dia.

Mengulik pasca kejadian bom bunuh diri itu, katanya, bertolak belakang dengan ajaran agama.

"Tindakan bom bunuh diri dengan meyakini dengan membunuh orang lain ia akan masuk surga, sesungguhnya ia sedang masuk neraka. Kenapa? Karena memang dalam agama terutama dalam agama Islam surga itu tidak dengan membunuh orang lain," katanya.

"Justru surga itu memberikan kehidupan kepada orang lain. Memberi rasa nyaman, memberi rasa rukun dan memberi rasa damai," sambungnya.

Ia menambahkan, kemajuan teknologi di zaman milineal yang berkembang saat ini terus berpacu dari waktu ke waktu. Dalam menebarkan keselamatan itu, tegasnya, tak hanya melulu kepada manusia.

"Misalnya ada orang yang teraniaya, diselamatkan. Orang yang menemukan duri di jalan bisa celaka, diselamatkan. Bahkan, sekalipun hewan yang ingin teraniaya, harus diselamatkan," ucapnya. "Itulah Islam. Muslim yang baik itu orang yang banyak menyelamatkan," sambungnya.

Dengan tindakan seperti itu, lanjut dia, tampaklah seseorang itu memiliki iman.

"Dalam bahasa Arab diartikan aman, orang yang beriman itu orang yang memberi rasa aman. Seseorang memiliki iman yang tinggi maka dia akan memberikan rasa aman yang besar kepada orang lain," tuturnya.

Diteruskannya, menghilangkan nyawa orang, itu sudah salah. Itu distorsi (penyimpangan aturan, pemutarbalikkan,red). Konteks keislaman, itu sangat bertentangan sekali.

"Jika seseorang mengaku dia orang beriman tapi dia tidak memberi rasa aman, itu imannya dipertanyakan," tukasnya.

Untuk itu, ia berpesan kepada masyarakat agar senantiasa menciptakan kerukunan antar umat beragama yakni toleransi.

Menurut TGB Rajagukguk, ajaran agama Islam itu hidup damai, rukun dan toleransi. Saling menerima, memahami, mengerti, saling menghormati keyakinan masing-masing, tolong menolong dalam mencapai tujuan bersama.

"Sebaliknya, menciptakan permusuhan, keterbelahan itu melawan keragaman. Perbedaan di dalam Islam itu sudah jelas yakni, sunatullah (hukum Tuhan). Jika melawan keragaman melawan hukum Tuhan. Melawan hukum Tuhan berarti melawan Tuhan," jelasnya.[]



Berita terkait
Lagu Islam Berkumandang di Acara Katolik Papua
Para wanita berbusana muslimah menabuh rebana, mengiringi lagu bernuansa Islam dengan pesan keberagaman. Ini terjadi di acara Katolik di Papua.
PP Pemuda Muhammadiyah: Kabareskrim Tak Harus Islam
Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Sunanto menilai pemilihan figur Kabareskrim Polri tak harus merujuk pada satu agama tertentu saja.
Ribuan Warga Paris Demo Serukan Stop Islamophobia
Ribuan warga di Paris melakukan aksi demo menyerukan anti Islamophobia yang telah memecah belah politik di Prancis.
0
Polisi Tetapkan 5 Tersangka Kasus Stadion Bulukumba
Polisi menetapkan lima orang tersangka kasus dugaan korupsi proyek renovasi Stadion Mini Kabupaten Bulukumba, Sul-Sel.