UNTUK INDONESIA
Ternak untuk Maulid Nabi Muhammad dan Kepercayaan Warga Aceh
Sebagian warga Aceh memiliki kepercayaan bahwa ternak yang diniatkan untuk disembelih pada perayaan maulid Nabi Muhammad bisa menghindarkan bahaya.
Ibu rumah tangga bernama Ely, warga Kecamatan Blangpidie Kabupaten Aceh Barat Daya sedang merapikan beberapa potongan kayu yang ada dibelakang kandang ayam miliknya. (Foto: Tagar/Syamsurijal)

Aceh Barat Daya - Azan Magrib di masjid, pesantren dan musala di seputaran Kota Blangpidie Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Provinsi Aceh mulai terdengar bersahutan. Bersamaan dengan dinyalakannya lampu-lampu depan dan dalam rumah warga, pertanda malam mulai menyapa.

Saat bersamaan seorang ibu rumah tangga bernama Ely sedang gelisah, lantaran dua ekor ayamnya tidak kunjung pulang dan menyantap umpan sebelum masuk kandang. Raut wajahnya gelisah saat itu, matanya terus memantau kiri dan kanan namun tidak juga terlihat dua ekor ayam itu.

Gelisahnya bukan tanpa alasan, hal itu ternyata karena acara Maulid Nabi SAW di Masjid kemukiman desanya hanya tersisa dua hari lagi atau pada, Kamis, 29 Oktober 2020 dan sejak dua ekor ayam yang tidak kunjung pulang itu masih kecil sudah diniatkan untuk disembelih sebagai sajian pada acara maulid.

"Sudah saya cari sekitar sini, biasanya tidak jauh-jauh mereka main dan jam segini sudah pulang. Masalahnya gak lama lagi maulid ayam itu untuk maulid," kata Ely saat Tagar menanyakan apa yang dicarinya, Senin, 26 Oktober 2020.

Kumandang azan perlahan berlalu dan tak lagi terdengar, Ely masih gundah saat itu. Disatu sisi dia harus bersiap-siap untuk menunaikan kewajibannya yakni salat Magrib, di sisi lain dua ekor ayamnya saat itu belum kembali. Hatinya tidak tenang, dia gelisah tidak menentu. Tidak lama kemudian, tampak dari kejauhan dua ekor ayam yang dicarinya keluar dari sudut rumah tetangganya.

Ayam ini terus mendekat dan menyantap umpan berupa nasi yang disuguhkan Ely. Kurang dari satu menit, setelah nasi habis dilahap, dengan sendirinya kedua ayam ini masuk kandang, sementar beberapa ekor ayam lain miliknya sudah terlebih dahulu masuk kandang. Ely bergegas masuk rumah untuk salat setelah menutup rapat pintu kandang.

Ternak Terlindung dari Bahaya

Bagi warga Aceh, meniatkan memotong ternak sebelum kegiatan-kegiatan besar Islam berlangsung adalah hal yang lumrah dilakukan tidak terkecuali warga Kabupaten Aceh Barat Daya.

Warga Aceh menyakini setiap ternak yang sudah diniatkan untuk kegiatan besar dalam Islam semisal Maulid Nabi Muhammad SAW akan terlindung dari segala macam marabahaya, seperti penyakit, dicuri atau segala kemudaratan lainnya yang bisa saja terjadi.

Cerita Maulid di Aceh (2)

Sajian yang dibawa masyarakat dalam acara Maulid Nabi di Masjid Baitul Ali Kemukiman Kutatinggi. Sajian ini selain berupa makanan dan minuman, juga buah-buahan. (Foto: Tagar/Istimewa)

Ely sendiri bukanlah peternak yang menyuplai ternak untuk stok para pedagang di pasar. Dia memanfaatkan tanah di belakang rumah untuk membuat kandang kecil dengan berkapasitas lima sampai 10 ekor ayam dan bebek. Hasilnya, selain untuk kegiatan-kegiatan besar biasanya untuk dikonsumsi sendiri.

Sekira pukul 20:10 WIB, Tagar kembali bersua dengan ibu tiga anak ini. Saat itu, Ely baru saja selesai mengajari anaknya mengaji. Saat itu suaminya sedang bernama Adnan sedang menyerumput kopi sambil menonton televisi.

Kepada Tagar, Ely mengaku meniatkan ternak untuk perayaan maulid sudah biasa dilakukannya sejak dulu dan hal ini merupakan warisan dari ibunya dulu. Setiap ternak yang sudah diniatkan untuk memeringati maulid pasti selamat sampai hari acara dan bisa disantap oleh santri-santri yang berzikir dalam acara maulid atau orang Aceh biasa menyebut dengan Meudike.

Saya tidak tau kenapa, pokoknya setiap ternak yang sudah saya niatkan untuk Maulid pasti selamat dan hal ini sudah bertahun-tahun saya lakukan.

Untuk Maulid tahun 2020 ini Ely meniatkan dua ekor ayam jantan untuk disembelih sebagai sajian maulid. Dalam merawat kedua ternak ini Ely hanya memberi makan dua kali sehari atau saat keluar kandang di pagi hari dan saat masuk kandang setelah berkeliaran seharian.

"Untuk hidangan maulid dua ekor sudah cukup, nanti saya tambah dengan menu lain seperti telur ayam, ikan goreng dan gulai lain," ucap Ely mulai bercerita.

Menurut ibu ini hewan ternak yang diniatkan peternak daerahnya tidak hanya ayam namun juga bebek, kambing bahkan kerbau. Walau hanya diniatkan dua ekor dari banyak ternak namun dia meyakini efeknya akan dirasakan oleh semua ternaknya. Dia mencontohkan, saat ada penyakit semua ternaknya tidak terjangkit.

"Saya yakin ini adalah mukjizat, betapa mulianya nabi kita," kata Ely seraya mulai melipat pakaian suami dan anaknya.

Hal yang hampir sama dialami oleh Hafsah, seorang peternak bebek yang juga asal Kecamatan Blangpidie, Kabupaten Abdya, Aceh. Pengalaman menarik Hafsah diceritakan oleh suaminya, Khairul Ansani, di salah satu kedai kopi, Jumat, 30 Oktober 2020.

Segelas kopi bubuk masih mengeluarkan uap panas dari gelas kaca bening Khairul Ansani saat itu. Sambil menyeruput kopinya, Ansani awalnya bercerita tentang usaha ternaknya yang walau hanya belasan ekor bebek petelur namun cukup untuk bisa mencukupi hidupnya sehari-hari. Selain menjual telur, sesekali Ansari menjual indukan yang dirasa sudah berumur.

Obrolan panjang tentang peternak habis dikupasnya hingga pembahasan melenceng pada pengalaman unik sang istri yakni Hafsah tentang dua ekor bebek yang sudah diniatkan untuk maulid, hilang selama satu minggu dan kembali satu hari menjelang maulid.

"Istri bapak ada tu pengalaman unik, dua bebek hilang satu minggu padahal itu bebek yang sudah diniat untuk acara maulid dan uniknya kembali satu hari menjelang maulid," kata Ansani.

Saat dikonfirmasi, Hafsah yang saat itu sedang memasak menceritakan pengalamannya setahun lalu.

"Iya benar tapi sudah lama itu. Perasaan saya gak menentu, sedih ada gundah ada saat itu," kata Hafsah.

Hafsah mengatakan sore itu Ia dan suami telat sampai di rumah sehabis mengunjungi kerabatnya di Kabupaten Aceh Selatan.Akibatnya ternak peliharaannya tidak sempat diberi umpan dan menutup pintu kandang.

Tiba di rumah saat tengah malam ternak-ternaknya saat itu sebagian ada di dalam kandang, namun dua bebek yang sudah diniat untuk maulid malah tidak terlihat di dalam kandang. Dia pun mengajak suami untuk mencari disekitar rumah.

Kedua hewan ini tidak kunjung terlihat hingga pasangan suami istri ini kembali pulang. Pencarian kembali dilakukan keesokan harinya, namun tidak jua bertemu.

"Dua hari kami cari tidak juga ketemu, saya dan suami sudah pasrah saat itu sebab sudah tiga hari kami cari. Hati saya kemudian berkata kalau rezeki dan sampai seperti niat (untuk sajian maulid) pasti keduanya kembali," ucapnya serius.

Cerita Maulid di Aceh (3)Sajian yang dibawa masyarakat dalam acara Maulid Nabi di Masjid Baitul Ali Kemukiman Kutatinggi. Sajian ini selain berupa makanan dan minuman, juga buah-buahan. (Foto: Tagar/Istimewa)

Hari berganti hari, keluarga ini tidak lagi mencari keduanya dan memilih pasrah. Namun, tepat satu minggu setelah hari hilangnya kedua bebek itu, tiba-tiba keduanya kembali tepat saat sebagian ternak miliknya sedang diberi umpan.

"Itu menurut saya ajaib, besok acara maulid sore itu keduanya kembali, saya terkejut. Keduanya menyantap umpan ditangan saya dan saat itu yang terfikir di benak saya adalah ini adalah kelebihan dari maulid nabi," kata dia lagi.

Kemeriahan Maulid Nabi Muhammad SAW

Kedua bebek itu langsung disembelih untuk disajikan pada acara mulid keesokan harinya. Padahal Hafsah sudah mengganti kedua bebek itu dengan bebek lain, sehingga pada maulid itu empat ekor bebek disembelihnya untuk hidangan.

"Siang itu sudah disembelih dua ekor bebek, karena sudah kembali keduanya kami sembelih lagi sebab mamang sudah saya niatkan jadi harus ditepati," kata dia.

Peringatan Maulid Nabi diberbagai daerah terkhusus di Aceh dilaksanakan dengan berbagai macam kemeriahan. Seperti di Kemukiman Kutatinggi Kecamatan Blangpidie Aceh Barat Daya. Maulid di Masjid Kemukiman ini digelar dengan sangat meriah.

Hari kegiatan maulid Masyarakat melakukan pawai keliling pusat kota. Dalam pawai ini beragam jenis balai atau sebuah tempat sajian makanan dan minuman yang dibentuk beragam rupa baik berupa rumah adat, pesawat dan kapal mengisi barisan pawai.

Kegiatan ini sudah menjadi tradisi warga Aceh tidak terkecuali warga Kabupaten Abdya. Momen ini menjadi sakral bagi masyarakat Aceh yang dalam kehidupannya sehari-hari melekat dengan nilai adat dan budaya, maka tidak heran perayaan maulid Nabi terlihat sangat meriah.

Pawai keliling pusat kota diikuti oleh ratusan warga baik dengan menggunakan mobil, motor maupun becak. Sebagian warga membawa pengeras suara untuk bersalawat sepanjang jalan pusat kota. Sementara para santri di masjid melakukan zikir Meudike.

Panitia masjid tidak hanya mengundang santri satu pondok pesantren saja namun bahkan sampai 10 atau bahkan lebih dalam satu hari untuk Meudike dan sajian dari masyarakat inilah yang nantinya diberikan kepada para santri.

Cerita Maulid Aceh (4)Para santri sedang berzikir Meudike dalam acara Maulid Nabi Muhammad SAW, di salah satu masjid kota Blangpidie, Kamis, 29 Oktober 2020 di Aceh Barat Daya. (Foto: Tagar/istimewa)

Kegiatan maulid biasanya ditutup dengan tausiah tentang keutamaan dan sejarah lahirnya nabi.

"Memang setiap tahun kita gelar seperti ini. Sebelum balai-balai ini dibawa ke masjid kita pawai dulu keliling kota," kata Wahyu, warga Mataie, Kamis, 29 Oktober 2020 di Aceh Barat Daya.

Wahyu mengatakan semua warga di desanya sangat antusias dalam memperingati maulid, semua gembira dan sama-sama ikut Meudike dan sama-sama melayani yang berzikir. "Ada yang ikut berzikir ada yang menyiapkan minuman dan makanan, pokoknya semua gembira," sebutnya.

Ditemui terpisah, Kepala Desa Mataie, Nasruddin mengatakan di desanya Maulid awal memang biasanya dibuka dengan perayaan di masjid setelah itu barulah di pondok pesantren dan tempat pengajian lainnya.

"Kalau di awal masuk bulan maulid kita gelar di Masjid Kemukiman, nanti baru menyusul di pondok pesantren dan tempat-tempat pengajian," katanya. []

Berita terkait
Harapan Besar Nelayan Pandeglang pada Kapal Semen TNI
Sejumlah nelayan di kawasan Pantai Desa Sukajadi, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, berharap TNI memproduksi lagi kapal dari semen.
Mimpi Anak Aceh Penjual Air Nira Jadi Prajurit TNI AU
Seorang anak Aceh penjual air nira bercita-cita menjadi prajurit TNI AU. Mimpinya itu tak lepas dari cita-cita sang ayah yang kandas.
Melihat Salinan Ijazah SD dan Foto Tembem Jokowi di Solo
Salinan ijazah sekolah dasar milik Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) tersimpan dengan rapi dalam pigura berbingkai warna emas di SDN Tirtoyoso 111.
0
Ternak untuk Maulid Nabi Muhammad dan Kepercayaan Warga Aceh
Sebagian warga Aceh memiliki kepercayaan bahwa ternak yang diniatkan untuk disembelih pada perayaan maulid Nabi Muhammad bisa menghindarkan bahaya.