UNTUK INDONESIA
Mimpi Anak Aceh Penjual Air Nira Jadi Prajurit TNI AU
Seorang anak Aceh penjual air nira bercita-cita menjadi prajurit TNI AU. Mimpinya itu tak lepas dari cita-cita sang ayah yang kandas.
Abi Husein sedang membenahi dan mengikat payung untuk berteduh dari terik dan hujan, Sabtu, 7 November 2020. (Foto:Tagar/Zulfitra)

Aceh Tamiang – Seorang remaja laki-laki duduk di kursi plastik berwarna hijau. Rambutnya tertutup oleh topi biru berbahan jin. Warna pakaian yang dikenakannya tampak pudar. Bahkan celana jin yang dipakainya sudah robek pada bagian lutut. Kakinya beralas sandal jepit berwarna orange yang tak kalah lusuh.

Di depan anak itu, di atas meja kayu berukuran kurang lebih 90x60 sentimeter dengan tinggi sekitar 85 sentimeter, terpajang sebuah kotak yang terbuat dari styrofoam yang ditempatkan dalam kotak lain berbahan kayu.

Satu payung besar berwarna merah putih yang gagangnya disambung dengan bamu diikat pada meja kayu itu. Payung itu berfungsi sebagai peneduh saat matahari bersinar terik, sekaligus pelindung Abi Husein, 13 tahun, nama anak itu, dari tetesan air hujan.

Abi Husein, adalah seorang penjual air Nira di Kabupaten Aceh Tamiang, yang hari itu, Sabtu, 7 November 2020, cuacanya cukup teduh dengan gumpalan mendung bergelayut di langit.

Cuaca itu membuat aktivitas bocah yang masih duduk di kelas VIII sekolah menengah pertama negeri (SMP) di Aceh Tamiang tersebut sedikit berbeda dengan biasanya. Husein lebih banyak duduk sebab tidak banyak pembeli yang datang.

Di dalam kotak styrofoamnya tersusun sekitar 50 bungkusan plastik berisi air nira, serta beberapa pecahan es batu seukuran genggaman tangan, yang berfungsi sebagai pendingin air nira dalam plastik.

"Dari buka hingga sekarang, baru beberapa bungkus yang laku. Karena cuacanya hari ini mendung," kata bocah laki-laki yang tinggal di komplek perumahan Banjir Desa Bundar, Kecamatan Karang Baru.

Bermimpi Menjadi Anggota TNI AU

Selama kurang lebih setahun terakhir, anak sulung dari tiga bersaudara ini membantu sang ayah menjual air nira. Husein menjual air nira seharga Rp 5.000 per plastik. Dari satu bungkus air nira yang berhasil dijualnya, dia mendapat upah Rp 1.000 dari sang ayah.

Selain untuk membantu sang ayah, Husein mengaku kegiatannya berjualan sekaligus untuk melatih kemandiriannya sebagai seorang anak laki-laki, agar nantinya dalam menjalani hidup tidak bergantung kepada orang lain.

Terlebih, dia mengaku mempunyai cita-cita menjadi seorang prajurit Tentara Nasional Indonesia Angkat Udara (TNI AU). Jadi, sudah selayaknya dirinya belajar untuk belajar berdikari sejak sekarang.

Cerita Anak Aceh Penjual Air Nira (2)

Bungkusan air nira di dalam kotak styrofoam yang sudah dikemas dalam kantong plastik, Sabtu, 7 November 2020. (Foto:Tagar/Zulfitra).

Mimpinya menjadi seorang prajurit TNI AU, kata Husein, terobsesi dan termotivasi cerita dari sang ayah ketika dirinya masih duduk di bangku kelas VII. Saat itu, ayahnya bercerita kepadanya, jika dulunya dirinya mempunyai keinginan menjadi seorang tentara angkatan udara.

Tetapi, mimpi ayahnya untuk menjadi seorang prajurit TNI AU itu harus kandas, karena keterbatasan ekonomi kakeknya saat itu, yang membuat ayah Husein mengubur dalam-dalam impiannya itu. Husein pun menanamkan tekad dalam dirinya untuk melanjutkan mimpi ayahnya itu kelak, menjadi prajurit TNI AU.

Sebelumnya, dulu saya bercita-cita menjadi polisi. Namun karena ayah pengen jadi TNI AU, jadi saya harus lanjutkan mimpinya dan membuatnya bangga.

Selama dirinya membantu menjajakan air nira di tepi jalan lintas provinsi pada jalur dua jalan Ir haji Juanda, Kecamatan Karang Baru, milik orang tuanya, Husein mengaku banyak suka dan duka yang dirinya rasakan dan alami.

Postur tubuhnya yang mungil, membuat Husein tak jarang mendapatkan perlakuan tak wajar dari pembeli-pembeli nakal dan iseng. Husein mengaku pernah dipalak hingga ditipu.

Perlakuan itu, kata Husein, justru diterimanya dari orang dewasa, bukan anak-anak sebayanya.

Bermacam modus dari orang-orang itu. Ada yang mengaku sebagai teman ayahnya, dan meminta bonus saat membeli. "Beli satu, tapi minta bonus satu," kata Husein.

Ada juga pembeli yang bermodus tidak membawa uang receh. Mereka membayar dengan uang pecahan Rp 50 ribu atau Rp 100 ribu. Saat Husein mengatakan tidak memiliki uang kembalian, orang itu membawa pergi air nira yang dibelinya, sambil mengatakan bahwa mereka akan menukarkan uang di warung terdekat.

"Ngakunya mau memecahkan uang, tapi tidak balik lagi," katanya.

Tidak hanya itu, Husein mengaku, saat waktu -waktu banyak pembeli, ada juga beberapa orang yang berpura-pura mengambil air nira, kemudian orang itu pergi dengan alasan membeli nasi bungkus dulu, tapi tidak kembali lagi.

Cerita Anak Aceh Penjual Air Nira (3)Ayah Abi Husein, Sahri ketika melihat anaknya berjualan, Sabtu, 7 November 2020. (Foto:Tagar/Zulfitra).

"Beberapa kali saya pernah mengalami itu. Biasanya itu saat tengah hari siang, dan disaat ramai pembeli," katanya lagi.

Rindu Masuk Sekolah

Sebagai seorang siswa, Husein tetap harus belajar di tengah kesibukannya membantu sang ayah menjual air nira. Namun pandemi Covid-19 membuat seluruh siswa harus belajar dari rumah.

Husein mengaku tidak pernah mengabaikan kewajibannya sebagai seorang pelajar. Setiap tugas yang diberikan dari sekolah tetap ia kerjakan. Sama seperti halnya anak - anak lainnya.

Walaupun demikian, Husein menyadari pandemi Covid-19 saat ini sedikit membuatnya dirinya sedikit kesulitan dalam mengikuti pelajaran. Sebab, proses belajar dari rumah, atau sering disebut belajar daring membutuhkan beberapa fasilitas pendukung, seperti ponsel android dan kuota internet..

Keharusan memiliki ponsel android itulah yang membuat Husein merasa kesulitan dalam mengikuti proses belajar mengajar. Sebab ia mengaku tidak memiliki ponsel android.

"Untung ada teman saya yang baik, mau membantu. Jadi setiap ada tugas, saya minta tolong ke dia untuk mengirimkan foto tugas yang sudah selesai saya kerjakan ke guru dengan androidnya," katanya.

Husein selalu berdoa dan berharap agar pandemi ini cepat berlalu. Sehingga proses belajar dapat normal kembali seperti semula. Tidak seperti sekarang ini.

Sementara itu, ayah Husein, Sahri, 43 tahun, mengaku, usaha berjualan air nira ini sudah dilakoninya kurang lebih hampir 8 tahun, yakni saat dirinya masih berstatus sebagai buruh di sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit yang berada di Kabupaten Aceh Tamiang.

Cerita Anak Aceh Penjual Air Nira (4)Abi Husein, Sahri, saat bercerita dengan Tagar, Sabtu, 7 November 2020. (Foto:Tagar/Zulfitra)

Dirinya memutuskan mengundurkan diri sebagai buruh di perusahaan itu, dan berwirausaha menjual air nira. Sebab fisiknya sudah mulai lemah, dan tidak bisa lagi bekerja berat.

Sahri mengungkapkan, dirinya mendapatkan air nira langsung dari petani yang mengambil air nira dari pohonnya. Setiap hari Sahri membeli air nira antara tujuh hingga delapan liter, dengan harga per liter Rp 8000.

Dari satu liter air nira yang dibelinya itu, Sahri membaginya menjadi dua kantong plastik, lalu dijualnya kembali.

Sahri mengaku, dirinya tidak sembarangan dalam membeli air nira dari petani. Dia hanya membeli dari petani yang produksi air niranya bagus.

"Air nira rasanya hampir sama semua. Cuma yang membedakan daya tahan dari rasanya. Yang kualitasnya baik, rasanya tidak akan berubah dan tahan lama," kata Sahri.

Itu pun, kata dia, tergantung dari cara dan teknik orang yang mengambilnya dari pohon. Jika mengambilnya sembarangan, rasa manis dari air nira itu tidak akan bertahan, dan akan berubah rasa menjadi sedikit asam atau kecut.

"Dan sewaktu saya beli dari petani, saya akan membuat perjanjian dengannya. Kalau rasa berubah nantinya ketika di jual, air itu akan saya kembalikan," katanya.

Dari berjualan air nira, dalam sehari dirinya bisa mendapatkan hasil keuntungan rata-rata Rp 70 hingga Rp 90 ribu perhari. Itu pun tergantung dengan cuaca.

"Jika cuacanya mendung, paling banyak Sahri membawa uang pulang ke rumah sebanyak Rp 50 ribu," ujarnya. [] 

Berita terkait
Melihat Salinan Ijazah SD dan Foto Tembem Jokowi di Solo
Salinan ijazah sekolah dasar milik Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) tersimpan dengan rapi dalam pigura berbingkai warna emas di SDN Tirtoyoso 111.
Kisah Warga Aceh Mencari Nafkah dari Ukiran Nama Orang Mati
Lokasi usaha pembuatan batu nisan milik Mizuar ini berada di Jalan Nasional, Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh.
Trauma Erupsi Gunung Merapi, Penjual Bakso Berbekal HT
Seorang penjual bakso dan mie ayam di Ngrangkah, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, selalu ditemani HT saat menjual.
0
Mimpi Anak Aceh Penjual Air Nira Jadi Prajurit TNI AU
Seorang anak Aceh penjual air nira bercita-cita menjadi prajurit TNI AU. Mimpinya itu tak lepas dari cita-cita sang ayah yang kandas.