UNTUK INDONESIA
Terlalu Lama Jerman Remehkan Terorirme Ekstrem Kanan
Disebutkan bahwa Jerman sudah telah terlalu lama meremehkan ancaman teror ekstrem kanan dengan serius sampai muncul serangan teroris di Hanau
Ilustrasi (Foto: dw.com/id).

Oleh: Richard Connor

Ketua Parlemen Jerman mengatakan negara itu belum menanggapi ancaman teror sayap kanan dengan serius. Serangan di Hanau tidak terjadi secara tiba-tiba. “Jerman harus mengakui bahwa negara ini telah terlalu lama meremehkan ancaman teror ekstrem kanan,” ujar Ketua Parlemen Jerman Bundestag, Wolfgang Schäuble, di hadapan anggota parlemen, 5 April 2020.

Jerman juga dinilai perlu berbuat lebih banyak untuk menghancurkan jaringan teror sayap kanan, sambil mengatasi masalah Islamofobia di masyarakat, ujar Wolfgang Schäuble.

Schäuble, yang berbicara di parlemen terkait serangan di Hanau, menyerukan "ketulusan negara untuk mengakui bahwa mereka telah terlalu lama meremehkan ancaman ekstremis sayap kanan."

"Jawaban yang menentukan untuk masalah ini haruslah dengan cara mengungkap jaringan radikal secara konstitusional dan menghancurkan asosiasi ekstremis sayap kanan," kata Schäuble. Ia menambahkan bahwa negara harus "menjadi lebih baik dalam menegakkan hukum secara konsisten."

Michaela Küfner dari DW yang mengikuti proses persidangan di Bundestag mengatakan bahwa ini adalah saat ketika ancaman ekstrem kanan diakui jauh lebih besar daripada apa yang selama ini menjadi perdebatan.

Tidak terjadi begitu saja terjadi. Pelaku serangan di Hanau pada 19 Februari 2020 malam waktu setempat membunuh sembilan orang dengan latar belakang migran di kafe dan bar shisha. Pihak berwenang menilai pembunuhan itu memiliki motif rasisme.

Schäuble mengatakan bahwa kejahatan semacam itu "tidak terjadi dalam begitu saja" melainkan terjadi dalam "iklim sosial yang beracun, yang dipicu oleh kebencian terhadap 'sesuatu yang berbeda' - dan teori konspirasi yang paling tidak masuk akal."

kanselir angelaKanselir Angela Merkel menghadiri upacara peringatan korban tewas serangan bermotif rasisme di Hanau, 4 Maret 2020 (Foto: dw.com/id).

Kaum minoritas telah digambarkan sedemikian rupa dengan citra yang buruk, kata Schäuble, sehingga ujaran kebencian - dan bahkan pembunuhan - "disambut meriah di jejaring media sosial."

Dia juga membahas topik Islamofobia. "Tidak ada yang bisa membenarkan tindakan meremehkan, merendahkan, menganiaya, menyerang orang lain berdasarkan asal-usul ataupun kepercayaan mereka," kata Schäuble. Ia menambahkan bahwa kekhawatiran masyarakat terhadap imigrasi dan perubahan sosial perlu ditanggapi dengan serius.

Serangan di Hanau yang terletak dekat kota Frankfurt berakhir ketika sang pelaku bunuh diri. Usai membantai orang-orang, pelaku yang adalah pria Jerman berusia 43 tahun kembali ke rumah, membunuh ibunya, sebelum akhirnya menembak diri sendiri.

Ribuan orang telah lancarkan protes atas kekerasan sayap kanan setelah serangan di Hanau. Banyak yang menuduh partai ekstrem kanan Alternative für Deutschland, AfD, telah memicu kebencian. AfD menduduki 91 dari 709 kursi di Majelis Rendah Parlemen Jerman.

Sebuah upacara peringatan bagi para korban juga digelar pada 4 Maret 2020 dan dihadiri oleh Kanselir Jerman Angela Merkel serta Presiden Frank-Walter Steinmeier. (ae/rap)/dw.com/id. []

Berita terkait
Dua Turis Jerman Tewas Mengerikan Dibunuh Terduga Teroris Mesir
Dua turis perempuan asal Jerman tewas mengerikan dan empat orang lainnya luka.
Ke Turki dan Jerman, Jokowi Bicarakan Terorisme
Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Hamburg untuk menghadiri KTT G20 di Hamburg, Jerman, pada 7-8 Juli 2017, setelah melakukan kunjungan ke Turki.
0
Indonesia Raih Cuan Rp 102,5 Triliun dari Minyak Mentah
Kementerian ESDM menyebutkan, realisasi rata-rata harga minyak mentah Indonesia naik menjadi US$ 42 per barel hingga September 2020.