Tempat Pengungsian Merapi di Magelang Terapkan Prokes

Tempat pengungsian ancaman erupsi Merapi di Magelang mengacu protokol kesehatan. Dibuat sekat dan pengungsi jalani rapid test.
Tempat pengungsian warga Merapi di Balai Desa Deyangan dibuat berupa bilik atau sekat agar sesuai dengan protokol kesehatan (prokes) pencegahan Covid-19. (Foto: Tagar/Solikhah Ambar Pratiwi)

Magelang - Pemerintah Kabupaten Magelang telah menyiapkan empat titik pengungsian di Kecamatan Mertoyudan dan Muntilan untuk para pengungsi Merapi. Karena kondisi pandemi Covid-19, tempat pengungsian ini dibuat mengacu protokol kesehatan (prokes).

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang Edi Susanto mengatakan, sampai saat ini ada sebanyak 607 orang yang sudah mengungsi. 

Terdiri dari 127 orang dari Desa Ngargomulyo, 124 orang dari Desa Krinjing, dan 356 orang dari Desa Paten. Mereka menempati empat titik pengungsian yang sudah disiapkan di Desa Banyurojo, Mertoyudan, Deyangan, dan Desa Tamanagung.

"Target kami adalah selamat dari Merapi dan pandemi Covid-19. Oleh karena itu, protokol kesehatan harus kami lakukan. Tempat pengungsian ini dibuat berupa bilik atau sekat untuk ditempati satu keluarga. Disediakan tempat cuci tangan, masker tentu saja juga nanti akan kami upayakan," ungkap Edi, Jumat, 6 November 2020.

Target kami adalah selamat dari Merapi dan pandemi Covid-19.

Edi tak memungkiri dengan situasi pandemi dan protokol kesehatan yang diberlakukan, mengakibatkan kapasitas tempat pengungsian menjadi berkurang dari seharusnya.

"(Tempat pengungsian) ini pasti membeludak karena dengan protokol kesehatan. Kapasitas yang seharusnya 100 persen hanya akan digunakan 50 persen. Namun desa sudah menyediakan balai RW, balai dusun yang tadinya tidak digunakan akan kami gunakan," jelasnya.

Senada dengan Edi, Bupati Magelang Zaenal Arifin juga mengatakan bahwa protokol kesehatan tetap diutamakan dalam kondisi saat ini.

"Dengan kondisi yang darurat ini, kami lakukan sekat-sekat untuk tempat-tempat pengungsian. Tujuannya, agar mereka tidak droplet di tempat pengungsian tersebut jadi ada batas atau sekatnya sehingga aman dari penularan Covid-19," kata Zaenal.

Baca juga: Status Merapi Naik, Ganjar: Jangan Panik tapi Tetap Waspada 

Selain itu, para pengungsi juga wajib menjalani rapid test sebelum masuk ke tempat pengungsian. Rapid test ini menjadi standar awal untuk mengetahui apakah para pengungsi aman dari Covid-19 atau tidak.

"Walaupun rapid test belum jaminan, tapi nanti akan kami tindaklanjuti dengan swab ketika ada para pengungsi ini yang sudah dinyatakan reaktif. Jadi standar protokol Covid-19 tetap kami laksanakan di sini," ucapnya.

Baca lainnya: 

Bagi pengungsi yang reaktif saat dilakukan rapid test, tambah Zaenal, akan langsung dirujuk ke RS Merah Putih Magelang untuk dilakukan penanganan lebih lanjut.

"Walaupun reaktif belum di-swab, nantinya akan langsung ditindaklanjuti dengan swab di rumah sakit. Harapannya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, apalagi sampai menulari pengungsi yang lain," pungkasnya. []

Berita terkait
Magelang Tanggap Darurat Merapi, Rp 5 Miliar Disiapkan
Kabupaten Magelang mengumumkan status tanggap darurat merespon warning kondisi Gunung Merapi. Anggaran Rp 5 miliar disiapkan.
BPBD Utamakan Evakuasi Lansia dan Balita di Lereng Merapi
BPBD Magelang mulai melakukan evakuasi terhadap warga di 3 desa yang terletak di lereng Gunung Merapi. Evakuasi diutamakan bumil dan difabel.
BPBD Magelang Mulai Evakuasi Warga 3 Desa di Merapi
BPBD Magelang memulai proses evakuasi warga di tiga desa di lereng Merapi. Status Merapi naik jadi siaga.
0
Pimpin Peringatan Hari Lahir Pancasila, Jokowi Pakai Pakaian Adat Kalsel
Presiden Jokowi memimpin upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila pada Selasa 1 Juni 2021 dengan mengenakan pakaian adat dari Tanah Bumbu Kalsel.