UNTUK INDONESIA
Jalan Terjal Jusmadi Melestarikan Budaya di Sinjai
Tangan kanan Jusmadi menggenggam mikrofon. Ia berbicara tentang kebudayaan kepada anak didiknya di Sanggar Malebbi, SMAN 12 Kabupaten Sinjai.
Jusmadi, seniman muda asal Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, berjuang menanamkan kecintaan seni budaya daerah generasi di kampung halamannya. (Foto: Tagar/Afrilian Cahaya Putri)

Sinjai - Tangan kanan pemuda bernama Jusmadi itu menggenggam mikrofon. Ia menjelaskan tentang kebudayaan pada anak-anak didiknya di Sanggar Malebbi, SMA Negeri 12 Kabupaten Sinjai. Songkok khas Sulawesi Selatan yang disebut songkok Bone atau songkok recca menutup sebagian kepalanya, saat Tagar menemuinya seusai mengajar, Sabtu, 14 Desember 2019.

Jusmadi mengisahkan awal ia membentuk sanggar budaya Malebbi sebagai kegiatan ekstrakurikuler di SMAN 12 Sinjai. Awal pembentukan sanggar ini dimulai saat ia lulus dari Fakultas Seni dan Desain (FSD) Universitas Negeri Makassar (UNM) pada 2013. Jusmadi menjadi guru honorer di SMA Negeri Sinjai Borong dan SMA Negeri 12 Sinjai Selatan, Sulawesi Selatan, sebagai guru mata pelajaran Seni Budaya.

Di situ ia merasa resah melihat pengaruh budaya barat melalui perkembangan teknologi, yang dianggapnya merupakan ancaman bagi seni budaya daerah. Ia pun mencoba melestarikan budaya lokal melalui mata pelajaran yang diampunya. Namun, saat itu ia merasa tidak cukup hanya menanamkan budaya dalam keterbatasan ruang-ruang kelas dan terikat kurikulum.

Kita berharap seni budaya daerah terus jaya, sehingga ada alasan kita bangga sebagai seniman Bugis-Makassar.

Akhirnya Adi, sapaan akrabnya, mengusulkan pada pihak sekolah untuk membentuk sanggar budaya sebagai salah satu ekstrakurikuler. Sanggar itu digunakan sebagai tempat belajar dan mendalami seni budaya daerah.

Dewi Fortuna berpihak pada Adi kala itu. Kepala Sekolah SMA Negeri 12 Sinjai Selatan, Basri Tama, menyambut baik usulannya, dan menjadikan sanggar tersebut sebagai salah satu ekstrakurikuler.

Kata Adi, salah satu alasannya membentuk sanggar adalah kuatnya pengaruh negatif teknologi digital era 4.0 terhadap generasi muda. Mereka semakin melupakan seni budaya daerah yang diwariskan leluhur di masa lalu.

"Meskipun memang era 4.0 ini ada bagusnya, tapi setidaknya harus dibarengi dengan penguatan pendidikan yang telah diwariskan leluhur kita, agar kecintaan ini tidak pudar. Kenapa? Karena mereka condong mengadopsi seni budaya barat yang dianggap kekinian dan melupakan budaya sendiri," kata Adi.

Hadapi Beragam Tantangan

Memulai sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ada, bukan hal yang mudah. Adi mengalami tantangan demi tantangan dalam mengedukasi siswa-siswinya untuk mengikuti ekstrakurikuler sanggar Malebbi tersebut, termasuk menarik minat mereka.

Saat pertama kali sanggar seni Malebbi didirikan, partisipasi siswa siswi sangat kurang. Namun, kondisi itu tidak pernah mengurungkan semangatnya.

Adi mencoba berbagai inovasi untuk menarik minat para siswa dan siswi, mulai dari kegiatan pentas seni, penampilan karya anak-anak yang sudah bergabung dan sosialisasi yang intens dilakukan di dalam lingkup sekolah.

"Pernah suatu waktu saya mengajak teman-teman seniman dari Makassar, khususnya mahasiswa FSD UNM ke sekolah SMA Negeri 12 Sinjai untuk berbagi inspirasi dan mengedukasi anak-anak di sini. Saat pertama efeknya memang tidak terlalu besar, tapi alhamdulillah ada saja anak-anak sekolah yang secara sukarela datang bergabung," kata dia.

Tantangan yang dihadapi tidak berhenti sampai di situ. Setelah ada beberapa siswa yang tertarik untuk bergabung, kesulitan lain pun muncul. Ia mengalami kesulitan dalam menumbuhkan bakat siswa pada bidang seni.

Kata dia, butuh waktu dan kesabaran ekstra untuk menumbuhkan hal itu. Terlebih anak-anak itu baru saja terjun di bidang seni dan budaya.

"Dalam menumbuhkan bakat siswa yang notabene merupakan anak yang masih sangat kurang mengerti, tentunya sangat menguras kesabaran dan tenaga bahkan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mampu membuat siswa berada pada tahap yang maksimal. Namun, itu tak menyurutkan semangat kami demi perkembangan seni budaya daerah yang kian usang," tuturnya.

Tantangan yang paling menguras pikiran dan membuat Adi hampir menyerah, adalah saat sanggar itu nyaris dibubarkan karena sepi peminat. Namun, semangat siswa yang masih bertahan di sanggar itu, membuat asanya tetap ada. Mereka pun berusaha mempertahankan sanggar itu sampai sekarang.

Bahkan bukan hanya anggota sanggar yang semakin bertambah. Adi pun tak lagi seorang diri dalam mengajar dan melestarikan budaya di sanggarnya. Ia dibantu beberapa pembina lain, yakni Rina Delfianti dan Rahmawati, rekan guru di SMA Negeri 12 Sinjai.

Kini Adi dan anggota sanggar seni Malebbi serta alumni bisa berbangga dan bertepuk dada. Karena saat ini sanggar seni Malebbi cukup dikenal di Kabupaten Sinjai. Sanggar yang dibinanya mampu mengharumkan nama SMA Negeri 12 Sinjai dalam setiap event seni dan budaya. Sanggar ini sudah menyumbangkan cukup banyak trofi untuk sekolahnya dalam berbagai event lomba kesenian.

"Sebagai wadah untuk melawan derasnya pengaruh budaya asing, sanggar seni Malebbi bukan hanya membekali siswa dengan seni teater, tari, musik dan rupa, tapi juga membekali dengan seni kebudayaan daerah setempat seperti osong, anggarru, panggolli botting hingga tata cara pesta pernikahan suku bugis," kata Adi.

Terdaftar sebagai kegiatan ekstrakurikuler, kegiatan sanggar seni Malebbi juga boleh diikuti masyarakat sekitar. Karena bagi Adi, melestarikan seni budaya daerah bisa dilakukan siapa saja.

Transfer pengetahuan sejak dini pada peminat seni, menurutnya merupakan langkah untuk menjaga eksistensi peninggalan leluhur. 

"Saya takut jika ada kalanya orang-orang yang paham seni budaya daerah langka dan dicari. Semoga tidak terjadi seperti ini. Kita berharap seni budaya daerah terus jaya, sehingga ada alasan kita bangga sebagai seniman Bugis-Makassar. Karena jika ini terjadi, yakin saja butuh waktu yang sangat lama untuk mengaktifasi kembali ilmu seni budaya daerah."

Budaya yang Mulai Punah

Adi mengatakan saat ini sudah banyak warisan leluhur berupa seni budaya lokal yang perlahan mulai usang. Bahkan jika tidak dilestarikan, ia khawatir budaya itu punah.

Beberapa budaya itu antara lain osong atau angarru, yakni ritual penyambutan tamu kehormatan secara adat, kemudian panggolli botting atau ritual penjemputan pengantin laki-laki atau perempuan saat tiba di kediaman pasangan pada pesta pernikahan dan tata cara pesta pernikahan Suku Bugis.

"Kalau ini tidak lagi dilestarikan, lalu apa lagi alasan kita bangga menjadi orang Bugis-Makassar? Seni budaya daerah itu adalah sebuah identitas dari mana kita berasal. Ini semua harus dibumikan kepada generasi-generasi kita," ucapnya.

Ia mengharapkan keberadaan sanggar seni Malebbi mampu mengawali perjuangannya membumikan seni budaya daerah di Kabupaten Sinjai, khususnya Sinjai Selatan. Ia ingin sanggar ini juga menjadi pionir yang membangkitkan pegiat seni lain mendirikan sanggar-sanggar seni lain.

"Saya sangat berharap Sanggar Seni Malebbi ini menjadi stimulus untuk melahirkan sanggar-sanggar lainnya di Sulawesi Selatan. Meski memang berat, tapi yang memulai pasti akan menuai hasil. Daripada berpangku tangan, lebih baik memulai dari hal-hal yang kecil sekalipun," tuturnya.

Untuk mewujudkan hal itu, sanggar seni Malebbi telah menyiapkan sebuah kejutan berupa kegiatan budaya yang akan dilaksanakan tahun 2020.

"Sebenarnya dalam seni kita bisa belajar banyak hal, khususnya membentuk pribadi yang baik. Di seni budaya kita bisa belajar karakter, etika, dan berbagai hal tentang pribadi yang baik. Begitu juga dengan pengetahuan tentang sejarah, akan banyak Anda temukan melalui seni budaya." []

Baca cerita lain:

Berita terkait
Qudratullah, Dosen Muda Berprestasi, Lajang Ganteng dari Bantaeng
Di bawah pucuk-pucuk pinus dan kabut tipis bumi perkemahan Trans Muntea, Desa Bonto Lojong, Kecamatan Ulu Ere, Kabupaten Bantaeng.
Sejarah Makam Raja Pehobi Sabung Ayam di Jeneponto
Ratusan batu nisan yang disebut pajjerakkang berjejer di area kompleks pemakaman Raja Binamu, di Kecamatan Bontoramba, Kabupaten Jeneponto.
Ratu Harum Sari, Jawara Banten Masa Kini
Puluhan anak menirukan gerakan silat yang diajarkan pelatih mereka, Ratu Harum Sari, 40 tahun, di Kampung Rumbut, Desa Kaduagung, Lebak, Banten.
0
DPO Kasus Curanmor, Pelajar Deli Serdang Ditangkap
Seorang pelajar SMA di Kabupaten Deli Serdang ditangkap setelah 10 bulan menjadi buronan pencurian sepeda motor.