UNTUK INDONESIA
Suramnya Nasib Becak Penjelajah Nusantara di Aceh
Tiga pemuda Subulussalam yang keliling Indonesia dengan becak tanpa sponsor berharap agar becaknya diurus oleh pemerintah setempat.
Amri bersama Tagar mengecek keberadaan becak yang ia tunggangi sewaktu melakukan ekspedisi berkeliling Nusantara yang diparkirkan di salah satu sudut ruangan Kantor Arpus Kota Subulussalam, Selasa 4 Februari 2020, (Foto: Tagar/Nukman)

Subulussalam - Mendengar kata Becak mungkin tidak asing lagi ditelinga Anda. Apalagi salah satu alat transportasi darat ini merupakan salah satu angkutan yang kerap digunakan oleh warga kota. Dan pengemudinya pun santer dipanggil Abang becak.

Namun, berbeda bagi ketiga pemuda asal Kota Subulussalam, Aceh ini, mereka adalah Amri Purnama, 30 tahun, Sehendri Solin, 32 tahun dan Joni, 30 tahun melakukan sebuah ekspedisi yang mereka sebut Ekspedisi Becak Subulussalam Sabang-Merauke.

Tak kepalang tanggung, pada tahun 2016, atau tepatnya pada bulan Agustus, mereka berkeliling Nusantara dengan mengendarai satu buah becak motor dari Sabang sampai Merauke, dan dengan becak itu pula mereka menjajal pulau-pulau, menjelajah hingga ke sudut negeri, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Amri Purnama sebagai penggawa atas ide berkeliling nusantara dengan mengendarai becak tersebut kepada Tagar mengaku sudah sejak lama menyimpan hasratnya untuk berkeliling Indonesia.

Hingga akhirnya ia pun dapat mewujudkan impiannya bersama dua orang temannya yang ia ajak untuk turut bersamanya berekspedisi menjelajah Indonesia.

Saya ingin mempunyai rekor di dalam perjalanan hidup saya. Sebelum saya mengakhiri masa lajang, saya ingin berkeliling nusantara dulu.

Ada cerita menarik di balik angan-angannya mengelilingi nusantara. Amri bernazar ia tidak akan menikah sebelum impiannya berkeliling Nusantara terwujud.

"Saya ingin mempunyai rekor di dalam perjalanan hidup saya. Sebelum saya mengakhiri masa lajang, saya ingin berkeliling nusantara dulu. Alhamdulillah, hal itu dapat saya wujudkan," tuturnya kepada Tagar.

Berjuta kesan bersarang di relung jiwa mereka, suka maupun duka dengan seksama mereka dapati sepanjang menempuh ekspedisi mengitari nusantara.

Keliling Indonesia Tanpa Sponsor

Becak SubulussalamAmri (tengah), Joni (kiri) dan Suhendri (kanan) diabadikan bersama becak yang mereka kendarai dalam ekpedisi berkeliling Indonesia. (Foto: Tagar/Dok. pribadi Amri)

Betapa tidak, tanpa sponsor mereka dapat menuntaskan ekspedisi tersebut dalam kurun waktu delapan bulan. Tepat pada pada tanggal 24 Maret 2018 mereka tiba ke daerah, saat itu mereka disambut dengan gegap gempita oleh masyarakat dan pemerintah daerah bak pahlawan perang yang meraih kemenangan di medan perang.

Selama di perjalanan, bukan tak jarang mereka menemui halang rintang terutama dalam hal keuangan. Untuk mengatasinya mereka harus rela menjadi kuli di negeri orang untuk memenuhi kebutuhan hidup, membeli bensin dan ongkos angkut becak di kapal sewaktu hendak menyeberang.

Walau kadang-kadang mereka juga mendapat transfer uang dari sejumlah donatur-donatur di daerah berkat hasil penggalangan rekan-rekan mereka.

"Kalau kami sedang putus uang, kami bekerja di daerah yang kami singgahi. Macamlah jenis pekerjaan yang kami kerjakan. Pokoknya suka dukanya komplitlah," ucapnya.

Ada kalanya di antara mereka berselisih faham, bahkan acap sekali mereka mendapatkan komentar-komentar negatif tentang petualangan mereka.

Becak SubulussalamSaat Amri dan kedua rekannya menapak di tapal batas negara antara Indonesia dan Timor Leste dalam Ekspedisi Becak Subulussalam berkeliling Nusantara. (Foto: Tagar/Dok. pribadi Amri)

Namun, ikhwal yang demikian itu mereka jadikan sebagai energi untuk membuktikan bahwa mereka pasti dapat mewujudkan bahwa ada orang Subulussalam yang tercatat dalam sejarah berhasil mengelilingi Nusantara dengan mengendarai becak motor.

Kalau kami sedang putus uang, kami bekerja di daerah yang kami singgahi. Macamlah jenis pekerjaan yang kami kerjakan.

Singkatnya, guna mengapresiasi perjuangan mereka, Pemerintah Kota Subulussalam meminta becak tersebut untuk diabadikan sebagai monumen sejarah pemuda Kota Subulussalam yang telah berhasil mengelilingi Indonesia.

Sembari pemerintah setempat turut memberikan penghargaan atas jasa-jasa mereka yang telah mengenalkan nama daerah ke berbagai belahan negeri dengan turut mempromosikan potensi-potensi sumber daya alam (SDA) dan khazanah budaya daerah.

Diselimuti Debu

Becak SubulussalamAmri bersama Tagar mengecek keberadaan becak yang ia tunggangi sewaktu melakukan ekspedisi berkeliling Nusantara yang diparkirkan di salah satu sudut ruangan Kantor Arpus Kota Subulussalam, Selasa 4 Februari 2020. (Foto: Tagar/Nukman)

Becak itu pun akhirnya dititip melalui Dinas Arsip dan Perpustakaan (Arpus) Kota Subulussalam dengan cara simbolik kepada kepada Wali Kota Subulussalam pada waktu itu.

Namun, gambaran tentang becak yang semestinya diharapkan berkilau dan antik tidak seperti apa yang dikehendaki. Tepat di salah satu sudut ruang Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Subulussalam, becak tersebut tampak sudah diselimuti debu dan kondisinya tidak terurus.

Di saat Tagar mengajak, Amri melihat becak yang mereka tumpangi itu, Amri tampak seperti menahan rasa kerinduan yang mendalam, matanya berkaca-kaca, seperti menyiratkan sebuah kesedihan dengan melongo ia raba becak itu.

Melihat reaksinya, spontan Tagar pun menanyakan tentang perasaannya melihat becak yang bersejarah bagi perjalanan hidupnya itu. Dengan nada lirih ia menuturkan kesedihannya melihat kondisi becak tersebut.

"Bagi saya becak ini sangat keramat di dalam hidup saya. Melihatnya (becak) parkir di sini serasa kurang bernilai menurut saya," tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Kala itu ia pernah berpesan tentang sebuah harapannya kepada Pemerintah Kota Subulussalam agar dapat merawat becak tersebut sebagai sebuah pajangan sejarah.

"Seperti harapan kami di awal pada saat penyerahan becak tersebut kepada pemerintah pada waktu itu, namun harapan itu tampak sirna," timpal Amri.

Ia mengungkapkan tujuan lain yang diharapkan kepada pemerintah agar dapat meng-hak paten-kan becak tersebut menjadi satu angkutan umum plat kuning sebagai jasa transportasi warga Kota Subulussalam dengan membubuhi ornamen tabir sebagai ciri khas khazanah kebudayaan daerah setempat.

Becak SubulussalamSaat Amri dan kedua rekannya berada di gerbang perbatasan negara antara Indonesia dan Timor Leste dalam Ekspedisi Becak Subulussalam berkeliling Nusantara. (Foto: Tagar/Dok. pribadi Amri)

Melihat keberadaan becak penjelajah itu yang ada saat ini di Kantor Arpus daerah menurutnya tidak lebih hanya sebuah kendaraan rusak yang disimpan di sebuah gudang.

"Sedih saya melihat becak keramat ini. Jasanya sungguh besar. Tapi lihatlah sepertinya tak ada nilainya," tuturnya.

Lanjutnya menambahkan bahwa tidak ada keterlambatan bagi pemerintah untuk memperhatikan becak yang bersejarah itu sebagai sebuah warisan sejarah bagi daerah untuk generasi selanjutnya.

Janji Bangun Museum

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Subulussalam, Saiban Gafar saat dikonfirmasi mengatakan, ia berjanji akan menunaikan harapan tim ekspedisi tersebut yaitu dengan membangunkan museum khusus.

"Dulu saya dipindahtugaskan ke tempat lain, sehingga hal ini tidak ditindaklanjuti lagi waktu itu. Saat ini saya sudah dikembalikan menjabat sebagai Kepala Dinas Arpus, saya koordinasikan dulu kembali kepada Wali Kota," kata Saiban.

Ia meminta kepada tim ekspedisi nantinya untuk sama-sama menemui Wali Kota guna membicarakan perihal tersebut. "Sekarang Wali Kota kita kan sudah baru. Sedangkan permohonan mereka waktu itu di masa Wali Kota yang lama, ada baiknya kita bicarakan lagi kepada Wali Kota sekarang. Saya optimis Wali Kota akan mempertimbangkan harapan kawan-kawan," ujar Saiban.

Sedih saya melihat becak keramat ini. Jasanya sungguh besar. Tapi lihatlah sepertinya tak ada nilainya.

Becak SubulussalamMomentum acara serah terima Becak Subulussalam yang dikendarai Amri, Joni dan Suhendri sewaktu berkeliling Nusantara kepada Pemerintah Kota Subulussalam pada tanggal 16 Mei 2017 lalu, berlangsung di Kantor Arpus setempat. (Foto: Tagar/Dok. pribadi Amri)

Amri dan kedua temannya itu merupakan pegiat lingkungan di daerahnya. Amri terbilang aktif di sejumlah kegiatan, terutama dalam hal kegiatan-kegiatan lingkungan hidup dan pegiat di bidang wisata alam.

Demi mendukung kegiatannya tersebut, ia pun mendirikan sebuah komunitas yang ia beri nama Komunitas Pemuda Pecinta Alam Subulussalam (Komppas).

Sebagai Ketua di komunitas tersebut, Amri bersama rekan-rekan komunitasnya terbilang cukup aktif mengekspos seputar isu-isu lingkungan daerah.

Selain itu, mereka juga aktif masuk ke dalam kawasan hutan untuk melakukan kegiatan penelusuran gua, penelusuran air terjun dan advokasi satwa langka seperti Orangutan Sumatera (Pongo Abeli) dan pernah tergabung juga dalam hal penanganan mitigasi konflik satwa Gajah dengan masyarakat di daerahnya.

Amri yang kini telah berstatus sebagai seorang ayah dari seorang putrinya yang ia beri nama Edelweiss buah pernikahannya dengan seorang wanita bernama Sintia Veranika yang berasal dari tanah dataran tinggi Gayo, Kabupaten Aceh Tengah.

Sebagai seorang pegawai tenaga honorer daerah, sosok yang akrab dipanggil Ampur itu juga aktif di kegiatan kepramukaan sebagai pembina Pramuka di Dewan Kwartir Cabang (DKC) Kwarcab Pramuka Kota Subulussalam.

Pada Pemilu tahun 2019 lalu, Amrin pun turut menjadi salah seorang peserta Pemilu yakni mencalonkan sebagai Calon Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Subulussalam.

Namun, keberuntungan politik tidak dapat dicapai. Cita-citanya untuk menjadi Anggota Dewan pun akhirnya kandas.[]

Baca cerita menarik lainnya: 

Berita terkait
Terkait Corona, Tidak Ada Pembagian Masker di Aceh
Dinas Kesehatan Provinsi Aceh tidak akan membagikan masker dan diimbau kepada masyarakat agar selalu bergaya hidup sehat.
Kapolda Aceh Akan Hantam Jika Dapat Penimbun Masker
Polda Aceh akan terus mengawasi para pedagang yang menimbun masker.
Pria di Aceh Perkosa Gadis Bisu Hingga Hamil
Seorang pria asal Kabupaten Aceh Tengah, Aceh berinisial IW, 41 tahun, berulang kali perkosa gadis bisu yang masih berusia 14 tahun hingga hamil.
0
Tes Swab Anggota DPRD Sumut Ini Negatif Covid-19
Anggota DPRD Sumatera Utara, Ebenejer Sitorus, menjadi pasien suspek Covid-19.