UNTUK INDONESIA
Sunyinya Pasar Kebon Empring Bantul Jelang New Normal
Matahari sore menyinari jembatan gantung yang melintang di atas aliran Sungai Gawe, Desa Srimulya, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul Yogyakarta.
Dua pesepeda melintas di jembatan gantung di kawasan Pasar Kebon Empring, Piyungan, Kabupaten Bantul, Minggu, 28 Juni 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Bantul, Yogyakarta - Matahari sore menyinari jembatan gantung yang melintang di atas aliran Sungai Gawe, Dukuh Bintaran Wetan, Desa Srimulya, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, Minggu, 28 Juni 2020. Alas jembatan terbuat dari papan kayu, pengaman pada sisi kiri dan kanan jembatan terbuat dari semacam jaring. Di bawahnya, air Sungai Gawe mengalir tenang. Tak jarang riaknya memantulkan sinar keemasan mentari menjelang senja.

Walaupun pada beberapa bagian, sungai itu cukup dangkal, tetapi tak mengurangi minat para pemancing. Mereka dengan sabar menunggu ikan-ikan memakan umpan pada kailnya. Duduk di atas batu di tepi sungai.

Di bagian barat sungai, beberapa orang yang tampaknya merupakan wisatawan, duduk beralas semacam terpal di tepi sungai. Di atasnya, menjuntai puluhan batang bambu dari rumpun yang terletak hanya beberapa meter di sebelah barat mereka. Bentuknya menyerupai lengkungan kubah, menghalangi sinar matahari.

Di bawah atap batang bambu itu terdapat semacam gubuk, yang dinding, tiang, hingga atapnya terbuat dari bambu. Di situ hanya ada sepasang pria dan wanita yang duduk sambil menikmati pemandangan khas pedesaan.

Udaranya segarlah. Jadi pas sesudah belok dari Jalan Wonosari, itu kan di pinggir jalannya sudah sawah-sawah.

Pasar BantulPengunjung Pasar Kebon Empring, Piyungan, Kabupaten Bantul, menikmati pemandangan, Minggu, 28 Juni 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Dua anak kecil bermain air di tengah sungai, ditemani dua orang dewasa. Suara tawa mereka terdengar hingga kejauhan. Menambah hangat suasana sore menjelang senja.

Jembatan gantung yang melintang tiba-tiba bergerak-gerak. Rupanya ada dua pesepeda yang melintas, menyeberang dari sisi timur ke arah barat.

Tempat itu merupakan salah satu destinasi wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dinamai Pasar Kebon Empring, yang dalam bahasa Indonesia berarti pasar kebun bambu. Sesuai dengan kondisi di situ, yang ditumbuhi puluhan batang bambu.

Pasar Kebon Empring dikenal sebagai destinasi wisata kuliner. Beragam makanan dan minuman tradisional tersedia di tempat ini. Masing-masing stand menyediakan kuliner berbeda. Pengunjung disuguhi beragam kuliner itu sambil menikmati keindahan pemandangan.

Mereka bisa berswafoto di beberapa spot yang disiapkan oleh pengelola. Mulai dari jembatan gantung hingga beragam properti foto yang seluruhnya terbuat dari bambu. Tapi itu dulu, sebelum pandemi Covid-19 melanda.

Pasar BantulDua pengunjung Pasar Kebon Empring, Piyungan, Kabupaten Bantul, menunaikan salat berjemaah di gubuk, Minggu, 28 Juni 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Sejak Maret 2020 pengelola menutup tempat itu, untuk mencegah penyebaran Covid-19. Tapi, meski ditutup sementara, pengunjung tetap bisa memasuki area Pasar Kebon Empring. Tentu saja mereka hanya bisa menikmati keindahan alam desa tanpa menikmati beragam kuliner.

"Sebenarnya saya tahu di sini tutup sejak Maret, tapi kan kita bisa masuk ke lokasi untuk foto-foto," kata seorang pengunjung yang mengaku bernama Irfan, 28 tahun.

Kata Irfan, sebelum Pasar Kebon Empring ditutup sementara, dia sering ke tempat itu. Baik bersama teman-temannya atau bersama kekasihnya seperti hari itu. Biasanya saat akhir pekan, tempat itu lebih ramai dikunjungi.

Selain suasana di Pasar Kebon Empring yang sejuk dan ndeso (bernuansa pedesaan), menurut Irfan, daya tarik lain adalah harga kuliner yang murah. Serta penampilan para penjual dan pengelola yang unik setiap hari Minggu.

"Dulu kalau hari Minggu semua penjualnya pakai pakaian adat. Jadi suasananya kayak zaman dulu, gitu. Kita juga bebas main air di sini," ujarnya.

Pasar BantulSeorang pesepeda melintas di jembatan gantung. Kawasan Pasar Kebon Empring, Piyungan, Kabupaten Bantul, menjadi salah satu tujuan pesepeda, Minggu, 28 Juni 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Menurut Irfan, suasana di tempat itu selalu ramai. Pada beberapa lokasi selalu ada pengunjung yang berswafoto, seperti di atas jembatan gantung, di gubuk-gubuk bambu, serta di tengah sungai.

"Sejak tutup saya sudah beberapa kali ke sini. Tapi ya suasananya begini, sepi. Enggak banyak pengunjungnya. Kalau dulu setahu saya buka dari jam 08.00 sampai jam 18.00," kata Irfan.

Irfan bergegas menuju ke tengah sungai saat seorang perempuan muda memanggilnya. Keduanya berswafoto di situ dengan latar belakang jembatan gantung, sebelum akhirnya kembali ke tepi dan meninggalkan tempat itu.

Pasar BantulDua perempuan menyeberangi jembatan gantung setelah bersepeda di sekitar kawasan Pasar Kebon Empring, Piyungan, Kabupaten Bantul, Minggu, 28 Juni 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Beragam Permainan Tradisional

Pengunjung lain yang datang bersama istri dan anaknya, Sigit, 43 tahun, menjelaskan hal yang sama dengan Irfan. Sigit sudah beberapa kali datang ke Pasar Kebon Empring. Tapi dia tidak tahu bahwa pasar kuliner itu ditutup sementara waktu.

Hal menarik di tempat itu, menurut Sigit, bukan hanya pemandangan alam dan kulinernya saja, tetapi juga adanya beberapa macam permainan tradisional yang disediakan oleh pengelola.

"Ada ayunan, angklung, bakiak, egrang, intinya mainan-mainan jadullah (zaman dulu). Jadi anak-anak juga betah," ucapnya.

Menurut Sigit, keberadaan permainan tradisional itu bisa melatih keterampilan anak-anak, sekaligus memperkenalkan mereka pada permainan-permainan yang diciptakan oleh para leluhur.

Saat memainkan permainan-permainan tradisional tersebut, anak-anaknya bisa sejenak lepas dari gawai, meski diakuinya itu tidak lama. Tapi setidaknya bisa mengurangi waktu anak-anak di depan layar gawai.

"Ya memang tidak lama. Paling cuma selama di sini saja. Nanti kalau sampai di rumah ya mainan HP lagi. Jangankan sampai di rumah, kalau sudah masuk mobil, ya yang dipegang HP lagi," ujarnya.

Pasar BantulCahaya matahari sore menjelang senja, menimpa pepohonan bambu di kawasan Pasar Kebon Empring, Piyungan, Kabupaten Bantul, Minggu, 28 Juni 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Sigit mengatakan tadi sebetulnya waktu melihat tulisan 'Ditutup', sudah mau putar balik. "Tapi mamanya anak-anak mengajak masuk dulu, melihat situasi. Akhirnya pas masuk, anak-anak malah minta mainan air."

Ia berharap objek wisata kuliner itu kembali dibuka dalam waktu dekat. Apalagi saat ini sudah menjelang masa kenormalan baru atau new normal, dan penambahan kasus Covid-19 di DIY pun hanya di kisaran dua hingga tiga orang.

Tapi, jika kembali dibuka, menurut Sigit, sebaiknya pengelola menyiapkan fasilitas tambahan untuk pencegahan penyebaran Covid-19, termasuk menerapkan protokol kesehatan dan mewajibkan pengunjung mengenakan masker.

"Dengar-dengar kan sudah ada beberapa tempat wisata yang mulai dibuka lagi. Tapi yo kuwi mau, nek wis buka kudu nyiapke fasilitas, misale tempat cuci tangan, terus pengunjung wajib masker. (Tapi ya itu tadi, kalau dibuka harus menyiapkan fasilitas, misalnya tempat cuci tangan, dan pengunjung wajib mengenakan masker)," kata Sigit.

Pasar BantulPasar Kebon Empring, Piyungan, Kabupaten Bantul, masih ditutup oleh pihak pengelola, tapi beberapa pengunjung tetap menikmati suasana di sana, Minggu, 28 Juni 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Selain pengunjung yang berniat untuk berwisata dan para pemancing, beberapa pesepeda juga terlihat menikmati kesegaran udara di tempat itu. Kesegaran udara bukan hanya dapat dinikmati di situ, tetapi juga di sepanjang jalan menuju Pasar Kebon Empring.

"Udaranya segarlah. Jadi pas sesudah belok dari Jalan Wonosari, itu kan di pinggir jalannya sudah sawah-sawah. Kalau aku biasanya sebelum Magrib sudah pulang lagi," ujar seorang pesepeda, Nisa, 20 tahun.

Menurutnya, hampir setiap sore dia dan beberapa teman bersepeda ke tempat itu. "Rumahku kan enggak jauh dari sini, Mas. Aku tinggal di Berbah. Jadi kalau keluar dari sini nanti ke kiri, terus ke kanan," ujarnya.

Nisa menyukai tempat itu karena setelah lelah mengayuh sepeda, dirinya bisa bermain air, atau menyeberangi jembatan gantung dan bersepeda ke arah bukit. "Kan ringan, Mas. Kalau mau ke atas, sepedanya diangkat ke jembatan. Kalau mau main air, ya diangkat, dibawa turun." []

Baca cerita lain:

Berita terkait
Sayuran dan Sembako Bertebaran di Yogyakarta, Gratis
Aneka sayuran itu rapi dalam ikatan-ikatan, ada juga bahan pangan dalam kantong digantung. Warga Yogyakarta boleh ambil, gratis, sesuai kebutuhan.
Kisah Udin, Tukang Cukur di Bawah Pohon Beringin Yogyakarta
Dulu saya mulai nyukur saat tarif parkir sepeda motor masih Rp 100, mobil Rp 200. Kisah Udin, tukang cukur di bawah pohon beringin di Yogyakarta.
Kisah Mbah Uti, Penjual Gorengan di Kota Semarang
Jangan kehilangan harapan. Kalau ada kesempatan jualan, tetap jualan di mana pun. Seperti saya jualan di depan rumah. Mbah Uti Semarang.
0
Kapolres di Papua Diminta Amankan Pilkada dan Pengumuman CPNS
Kapolda Papua memerintahkan Polres jajarannya untuk mengamankan Pilkada dan pengumuman CPNS di wilayahnya. Ini alasannya.