UNTUK INDONESIA
Lulusan SD di Tegal, Bikin Robot Bantu Atasi Covid-19
Kejutan dari Tegal, Jawa Tengah, cuma lulusan SD, bisa bikin robot canggih untuk membantu tenaga medis merawat pasien Covid-19 di rumah sakit.
Robot buatan Abdul Wahab dan empat teman, saat diuji coba di RSUD dr Soeselo, Kabupaten Tegal, Jumat, 26 Juni 2020. (Foto: Tagar/Farid Firdaus)

Kabupaten Tegal, Jawa Tengah - ‎Robot itu terbuat dari besi akrilik dan fiber, panjangnya 55 sentimeter, lebar 43 sentimeter, tinggi 80 sentimeter, dan berat 10 kilogram. Terdapat tulisan 'Nyong Robot Tegal' di bagian depan. Robot pintar ini pada Jumat, 26 Juni 2020, menyusuri lorong Rumah Sakit Umum Daerah dr Soesilo, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.  

Ia bertugas mengantarkan obat, makanan, pakaian, dan keperluan pasien lain. Untuk mendukung tugasnya ini, robot dilengkapi penampang di bagian atas, mampu menampung beban hingga 20 kilogram. Saat berjalan, si robot memanfaatkan sensor pembaca garis dari selotip berwarna hitam yang ditempel di lantai untuk memandu arah menuju ruang perawatan pasien. Ia digerakkan aki yang bisa secara otomatis mengisi daya sendiri saat akan habis.

Robot itu berhenti di sebuah ruang perawatan pasien. Ia datang untuk mengantarkan obat, berbicara dalam bahasa Jawa dialeg Tegal, "Ngapunten, kulo Nyong Robot sing lagi bertugas ngateraken obat. Monggo obatipun dipun pundut. Sampun kesupen, mangke diunjuk obatipun (Permisi. Mohon maaf, saya Nyong Robot yang sedang bertugas mengantarkan obat. Silakan obatnya diambil. Jangan lupa obatnya diminum)."

Syukur-syukur pasien lihat robot jadi senang, belum diobati sudah sembuh.

Robot TegalRobot buatan Abdul Wahab dan empat teman, saat ditunjukkan kepada Bupati Tegal Umi Azizah di pendopo kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Tegal, Jumat, 26 Juni 2020. (Foto: Humas Pemkab Tegal)

Robot itu adalah buatan anak-anak yang tidak pernah mengenyam pendidikan hingga universitas. Mereka adalah Abdul Wahab, 30 tahun; Abdul Miliki, 21 tahun; Royan, 28 tahun; Fatihin, 30 tahun; dan Nur Salim, 42 tahun.

Mereka anak-anak muda, anak desa di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Siapa menyangka, tanpa sekolah tinggi, mereka mampu membuat robot untuk membantu tenaga medis dalam menangani pasien Covid-19.

Abdul Maliki mengatakan robot dibuat dengan basic line follower‎. Komponennya antara lain terdiri dari micro control, software dan sensor.

‎"Jadi dia mengikuti garis. Kita masukkan perintah, nanti dia akan mengikuti perintah sesuai dengan garis yang kita pilih atau kita perintahkan. Kalau sudah selesai melaksanakan tugas, nanti dia akan kembali lagi ke tempat semula," ujar Maliki.

Kami hanya anak desa yang mau mencoba membuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.

Robot TegalRobot buatan Abdul Wahab dan empat teman, saat diuji coba di RSUD dr Soeselo, Kabupaten Tegal, Jumat, 26 Juni 2020. (Foto: Tagar/Farid Firdaus)

Tegal Jepangnya Indonesia

Abdul Wahab menceritakan pembuatan robot tersebut berawal dari keprihatinan atas banyaknya tenaga medis yang terpapar Covid-19 saat menangani pasien penyakit ‎karena virus corona itu. Dia dan empat temannya juga termotivasi ketika membaca sejumlah negara sudah melibatkan robot dalam penanganan pasien Covid-19.

‎"Sebagai putra daerah, Tegal ini kan Jepangnya Indonesia, kenapa sebagai pemuda Tegal kita tidak mencoba membuat sesuatu yang hampir sama untuk membantu tenaga kesehatan di rumah sakit," ujarnya.

Menurut Wahab, robot dibuat untuk membantu tenaga medis dalam mengantarkan obat, makanan, pakaian, atau keperluan pasien lain ke ruang perawatan, sekaligus mengingatkan pasien untuk meminum obat. Dengan begitu, bisa mengurangi interaksi tenaga medis dengan pasien Covid-19. Risiko penularan pun bisa dihindari.

"Robot ini masih dalam tahap penyempurnaan dan akan kembali diuji coba lagi sampai maksimal. Nanti akan dilengkapi dengan kamera, monitor, dan microphone. Jadi nanti robot ini bisa berinteraksi antara pasien dan tenaga medis," tutur Wahab.

Robot TegalTanda tangan Bupati Tegal Umi Azizah dibubuhkan di bagian depan robot buatan Abdul Wahab dan empat temannya, Jumat, 26 Juni 2020. (Foto: Tagar/Farid Firdaus)

‎Wahab dan rekan-rekannya tak hanya membuat satu robot. Selain robot dengan basic line follower, satu robot lainnya juga sedang mereka buat menggunakan basic koordinat.‎

"Robot yang koordinat ini masih kita kembangkan. Dalam satu hingga dua bulan mudah-mudahan bisa jadi. Kalau robot line follower ini nanti kita sempurnakan. Insya Allah sudah jadi pada minggu depan‎," ucapnya.

Dengan menggunakan robot ini kan termasuk physical distancing, ‎menjaga jarak, menghindari kontak secara langsung. Jadi ini sangat membantu dalam penanganan pasien Covid-19.

‎Khusus Nyong Robot, proses pembuatan robot memakan waktu selama sekitar satu bulan. Lama proses pembuatan itu menurut Wahab karena sempat terhenti akibat ketiadaan dana untuk membeli komponen. "‎Biaya pembuatannya total Rp 5 juta. Kami patungan dan utang ke tetangga. Sempat mangkrak satu minggu karena kehabisan modal."

Robot TegalBupati Tegal Umi Azizah menyaksikan ‎uji coba robot buatan Abdul Wahab dan empat teman, di RSUD dr Soeselo, Kabupaten Tegal, Jumat, 26 Juni 2020. (Foto: Tagar/Farid Firdaus)

Hanya Tamatan SD

Abdul Wahab, Abdul Miliki, Royan, Fatihin, dan Nur Salim, tinggal di Desa Gantungan, Kecamatan Jatinegara. Desa itu terletak sekitar 23 kilometer dari pusat Kota Slawi, Kabupaten Tegal. Lokasi wilayahnya berada di perbatasan dengan Kabupaten Pemalang serta harus ditempuh melalui jalan yang berkelok dan naik turun.

Wahab hanya mengenyam pendidikan hingga Madrasah Ibtidaiyah setingkat Sekolah Dasar. Dia sempat bersekolah di SMPN 1 Jatinegara, tapi tidak sampai tamat. Begitu juga dengan Abdul Miliki, Royan, Fatihin, dan Nur Salim, keempat temannya yang juga ikut terlibat dalam pembuatan robot.

Dari kelima orang itu, hanya Abdul Maliki yang pendidikannya paling tinggi. Dia ‎lulusan Madrasah Aliyah Al Ikhlas Jatinegara setingkat SMA. Seperti Wahab, Fatihin, dan Nur Salim hanya lulusan MI. Sedangkan Royan lulusan pondok pesantren. Pekerjaan sehari-hari mereka serabutan. Ada yang tukang kayu, kuli batu, hingga penjual martabak.

‎Meski begitu, Nyong Robot Tegal berhasil mereka ciptakan setelah mempelajari pembuatan dan pemograman robot dari buku-buku dan internet selama sekitar satu tahun di sela melakoni pekerjaan sehari-hari masing-masing. ‎Hasil kerja keras itu cukup membuat mereka bangga.

"Kami belajar membuatnya autodidak. Kami hanya anak desa yang mau mencoba membuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain," ujar Wahab.

Menurut Wahab, dalam berinovasi membuat robot, ada dua hal yang dibutuhkan. Pertama, doa. Kedua, dana. “Kalau doa kita bisa, yang kita butuhkan adalah dana. Dana yang bisa kami pakai untuk pengembangan agar robot ini bisa lebih maksimal. Soalnya ini kan juga untuk kepentingan bersama, kepentingan umat.”

Robot TegalRobot buatan Abdul Wahab dan empat teman, saat diuji coba di RSUD dr Soeselo, Kabupaten Tegal, Jumat, 26 Juni 2020. (Foto: Tagar/Farid Firdaus)

Bupati Beri Apresiasi

Bupati Tegal Umi Azizah menyempatkan diri menyaksikan uji coba 'Nyong Robot Tegal' di RSUD dr Soeselo, Jumat itu. Umi terlihat kagum melihat kemampuan robot mensimulasikan pengantaran obat ke ruang perawatan pasien. Sesekali dia tertawa ketika robot mengucapkan kalimat dalam bahasa Tegal.

"Saya atas nama pribadi dan jajaran Pemkab Tegal sangat mengapresiasi dan bangga ‎ada putra daerah yang mampu berinovasi di tengah pandemi Covid-19," ujar Umi.

Umi Azizah menilai keberadaan robot karya Wahab dan kawan-kawan itu bisa membantu tugas para tenaga medis yang sehari-hari bergulat dalam penanganan pasien Covid-19 di Kabupaten Tegal yang jumlahnya terus bertambah setelah Lebaran.‎

"Inovasi dari Mas Wahab dan kawan-kawan ini betul-betul sesuai kebutuhan Kabupaten Tegal terutama kebutuhan rumah sakit. Bisa untuk mengantar obat, mengantar makanan, dan lain sebagainya," ucapnya.

Menurut Umi, robot hanya perlu dilakukan penyempurnaan sedikit agar bisa berfungsi maksimal, seperti pada bagian sensornya sehingga bisa berjalan tanpa bergantung pada keberadaan garis hitam di lantai.‎ "‎Nah nanti urusan aksesoris urusan belakangan. Sambil jalan. Apakah itu susunan kalimatnya, suaranya, kemudian bahasa-bahasa yang digunakan untuk menyapa dan sebagiannya."‎

Setelah nanti disempurnakan dan hasil uji coba berikutnya memuaskan, Umi berharap robot tersebut selain bisa membantu tugas tenaga medis, juga dapat menghibur dan menyemangati pasien Covid-19 sehingga bisa cepat sembuh. ‎"Prinsipnya tidak hanya agar teman-teman tenaga medis merasa ringan, tapi juga melalui pelayanan ini memberikan optimisme kepada pasien-pasien. Memberi semangat dan menghibur."

Robot TegalRobot buatan Abdul Wahab dan empat teman, saat diuji coba di RSUD dr Soeselo, Kabupaten Tegal, Jumat, 26 Juni 2020. (Foto: Tagar/Farid Firdaus)

‎Apresiasi juga datang dari Direktur RSUD dr Soeselo, Guntur M. Taqwin‎. Ia memberikan cacatan sedikit terkait apa yang perlu dilakukan untuk memaksimalkan fungsi robot. 

"Secara teknis bagaimana agar motoriknya lebih lancar. ‎Intinya agar operasional dari robot itu bisa menggantikan peran perawat, ‎sehingga lebih efisien, lebih efiktif. Setelah itu mungkin casing, performanya lebih menarik. Syukur-syukur pasien lihat robot jadi senang, belum diobati sudah sembuh he he he. Ini era milenial, teknologi kan harus kita kembangkan, tingkatkan," tutur Guntur.‎

Menurut Guntur, keberadaan robot akan sangat membantu para tenaga medis. Salah satunya dalam penerapan protokol kesehatan untuk mengurangi risiko penularan Covid-19. "Dengan menggunakan robot ini kan termasuk physical distancing, ‎menjaga jarak, menghindari kontak secara langsung. Jadi ini sangat membantu dalam penanganan pasien Covid-19."

‎Guntur menyebut, di RSUD dr Soeselo terdapat 10 pasien positif Covid-19 yang dirawat di ruang isolasi dan membutuhkan penanganan khusus dari dokter dan tenaga medis‎ lain. "Hari ini ada tiga pasien yang sembuh. Kalau mereka sudah dipulangkan, ada tujuh paien yang masih dirawat."

Data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 menyebutkan s‎ecara akumulasi jumlah pasien positif Covid-19 di Kabupaten Tegal hingga Jumat, 26 Juni 2020, mencapai 32 orang dengan tiga di antaranya merupakan dokter. Dari jumlah total pasien positif itu, 15 orang dirawat, 14 orang sembuh, dan empat orang meninggal. []

Baca cerita lain:

Berita terkait
Kisah Udin, Tukang Cukur di Bawah Pohon Beringin Yogyakarta
Dulu saya mulai nyukur saat tarif parkir sepeda motor masih Rp 100, mobil Rp 200. Kisah Udin, tukang cukur di bawah pohon beringin di Yogyakarta.
Kenapa Banjir Selalu Berulang di Bantaeng
Banjir yang selalu berulang di Bantaeng Sulawesi Selatan membuat warga resah. Ada apa sebenarnya. Apa tidak ada yang bisa dilakukan pemerintah.
Bumbu Rahasia Tongseng Kambing di Yogyakarta
Potongan-potongan daging kambing setengah matang tertata di nampan anyaman bambu di sebuah warung tongseng terkenal sangat laris di Yogyakarta.
0
Bos Samsung Meninggal Ekonomi Korsel Hancur, Apa Hubungannya ya
Bos Samsung Group, Lee Kun Hee belum lama ini meninggal dunia, ini akan memnberikan implikasi terhadap perekonomian Korea Selatan.