UNTUK INDONESIA
Kisah Mbah Uti, Penjual Gorengan di Kota Semarang
Jangan kehilangan harapan. Kalau ada kesempatan jualan, tetap jualan di mana pun. Seperti saya jualan di depan rumah. Mbah Uti Semarang.
Mbah Uti berjualan gorengan di depan rumah di Banyumanik, Semarang, Jawa Tengah, 28 April 2020. (Foto: Tagar/Budi Utomo)

Semarang - Kumandang azan asar terdengar di jalanan di daerah Banyumanik, Semarang, di antara lalu lalang kendaraan yang tidak terlalu padat cenderung lengang. Sore itu bulan puasa, Selasa, 28 April 2020, di tengah situasi pandemi Covid-19. Orang-orang memakai masker untuk melindungi diri agar tidak tertular virus, juga melindungi orang lain dari penularan virus. Tapi, ada juga orang-orang yang tidak memakai masker.

Di sebuah gang, seorang perempuan tua menggelar dagangan berupa makanan gorengan di teras rumah. Wajahnya penuh kerut dan tampak tabah. Namanya Afifah, biasa disapa Mbah Uti. Usianya 60 tahun. Anaknya empat. Cucunya delapan.

Pada saat bulan puasa biasanya banyak pedagang makanan dadakan. Para pedagang ini yang jumlahnya ratusan orang, umumnya berkumpul di tempat paling ramai, yaitu di titik Simpang Lima yang biasa pada hari Minggu diterapkan car free day atau hari bebas kendaraan. Biasanya banyak orang datang ke situ. Tapi karena pandemi, area itu ditutup, siapa pun dilarang berjualan di situ, hari Minggu atau pada bulan puasa. Mbah Uti yang biasanya berjualan di situ pun terdampar, harus mencari tempat lain yang aman. Akhirnya Mbah Uti berjualan di teras rumah.

Sebelum pandemi, di titik Simpang Lima pada bulan puasa biasanya penuh dengan ragam kuliner yang menggoda iman. Aneka minuman segar dan macam-macam makanan terutama gorengan.

Gorengan adalah sebutan aneka makanan ringan yang digoreng, di antaranya tempe mendoan, tahu petis, tahu isi sayur, bakwan jagung, pisang goreng. Kecuali pisang goreng, makanan yang lain dikonsumsi dengan cabe rawit untuk memberikan rasa pedas.

Mbah Uti memanfaatkan peralatan seadanya untuk berjualan. Ia gunakan meja kayu jati untuk menggelar gorengan. Ia meletakkan kompor di teras untuk menggoreng makanan, supaya masih panas saat pembeli datang. Tempat ia berjualan ini biasanya digunakan suaminya untuk memarkir mobil.

“Mumpung banyak yang cari gorengan untuk buka puasa, jadi saya jualan gorengan,” kata Mbah Uti kepada Tagar.

Ia menceritakan Ramadan-Ramadan yang telah silam, saat belum ada pandemi. Ia paling senang berjualan di Simpang Lima, banyak orang, selalu ramai jelang buka puasa. Dagangannya cepat habis. Bukan berarti sekarang ia mengalami sepi pembeli. Ternyata berjualan makanan di depan rumah, dagangannya juga cepat habis. Mbah Uti pun jadi semringah.

Kalau ada tetangga dekat yang jualan, lebih baik beli di tetangga dekat.

Mbah Uti SemarangYanti (tengah) menantu Mbah Uti,membantu Mbah Uti berjualan gorengan di depan rumah di Banyumanik, Semarang, Jawa Tengah, 28 April 2020. (Foto: Tagar/Budi Utomo)

Mbah Uti setua ini harus bekerja demikian. Suaminya pernah menjadi pegawai outsourcing di sebuah instansi pemerintah, kini tidak lagi, dan tidak ada pensiun.

“Memang ada anak-anak yang membantu hidup kami, tapi kami tidak bisa sering merepotkan mereka,” tutur Mbah Uti.

Ia tidak menyalahkan pemerintah setempat yang melarangnya berjualan di pusat kota, Simpang Lima. Karena memang pandemi, pemerintah melakukan yang terbaik untuk melindungi warganya dari ancaman penyakit.

Sikap pengertian tersebut ternyata membawa keberuntungan bagi Mbah Uti. Jualan di rumah, buktinya dagangannya cepat ludes juga. Bahkan banyak tetangganya yang rela mengantre lama, menunggu gorengan yang sedang dimasak.

“Lebih enak menunggu yang baru saja diambil dari penggorengan, masih panas dan renyah, ” kata Rina, 37 tahun. Ia tetangga Mbah Uti, sedang menunggu layanan Mbah Uti.

Ibu-ibu yang lain juga rela menunggu Mbah Uti menggoreng makanan. Mereka lebih suka membeli gorengan kepada tetangga, daripada harus mencari-cari di jalan yang jauh dari rumah.

“Malas naik motor, mondar-mandir ke sana sini, apalagi pas puasa begini. Belum lagi kalau harus ngantre,” ujar Novi, 36 tahun. Ibu dua anak ini juga mengatakan, "Kalau ada tetangga dekat yang jualan, lebih baik beli di tetangga dekat, toh gorengan di tempat lain belum tentu lebih murah dan lebih enak daripada yang dijual Mbah Uti."

Menantu Baik Hati

Satu jam jelang waktu buka puasa, muncul seorang perempuan dengan rambut diikat. Namanya Yanti, 42 tahun. Ia menantu Mbah Uti. Yanti baru pulang dari tempat kerjanya, di sebuah pabrik garmen di kawasan industri di Semarang Barat.

Yanti tidak mempedulikan dirinya capek seharian bekerja di pabrik. Ia dengan cekatan, turun tangan, membantu menggoreng makanan yang sedang ditunggu para tetangga. Yanti juga biasanya pada hari Minggu, sebelum pandemi, membantu Mbah Uti jualan gorengan di Simpang Lima, saat banyak orang berolahraga pagi saat car free day, hari bebas kendaraan.

Car free day bertujuan mensosialisasikan kepada masyarakat untuk menurunkan ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan bermotor. Pada saat car free day, orang-orang meninggalkan kendaraan bermotor di rumah, berjalan kaki, naik sepeda, atau menggunakan kendaraan umum menuju Simpang Lima. Orang-orang berkumpul, terpusat di satu tempat, berkah buat para pedagang termasuk Mbah Uti.

Pandemi mengharamkan kerumunan karena kerumunan berpotensi menularkan virus. Orang-orang harus menjaga jarak fisik, semeter atau dua meter dari orang lain. 

Yanti melayani pembeli satu per satu. Satu pembeli pergi, muncul pembeli lain. Ia dan Mbah Uti bahu-membahu, memasak dan mengemas makanan.

Memang ada anak-anak yang membantu hidup kami, tapi kami tidak bisa sering merepotkan mereka.

Mbah Uti SemarangMbah Uti (kiri, berbaju biru) berjualan gorengan di area Car Free Day (CFD) Simpang Lima, Semarang, Jawa Tengah, 15 Maret 2020. Tempat ini ditutup pada masa pandemi Covid-19, tidak boleh lagi berjualan di sini. Belum diketahui kapan tempat ini dibolehkan untuk berjualan. (Foto: Tagar/Budi Utomo) 

Mbah Uti tampak masih sehat, bugar. Ia mondar-mandir ke dapur, mengambil sesuatu, juga untuk mempersiapkan hidangan berbuka bagi keluarga. Ia mengatakan dirinya termasuk yang mendapat bantuan sosial dari pemerintah.

Yanti masih di dekat penggorengan, dengan seorang pembeli yang menunggu. Setelah selesai denga pembeli, Yanti memasak gorengan untuk takjil buat keluarga Mbah Uti. 

Beberapa menit berikutnya azan Magrib berkumandang, Yanti dan Mbah Uti bergegas membatalkan puasa dengan berbagai minuman yang terhidang dan mencomot gorengan hangat yang baru saja diangkat dari penggorengan.

“Salah satu keuntungan berjualan makanan adalah bisa menikmati makanan yang kita jual,” ujar Yanti sembari menggigit pisang goreng.

Menyalakan Lilin

Penutupan car free day pada khususnya dan Simpang Lima pada umumnya setiap akhir pekan pada masa pandemi, memukul perekonomian masyarakat bawah. Mereka yang mengais rezeki di kawasan pusat provinsi sekaligus pusat bisnis Jawa Tengah itu harus mencari cara lain untuk bertahan hidup.

Mbah Uti sudah tujuh tahunan berjualan di kawasan car free day itu. Pendapatan yang dia dapat setiap minggu cukup untuk hidup dia dan suami. “Dan untuk memberi cucu yang kebetulan main ke rumah.”

Ia tidak bisa membayangkan berapa besar pendapatan yang hilang dari pedagang-pedagang lain yang setiap hari berjualan di kawasan Simpang Lima. Apalagi pedagang yang omzetnya sudah bagus biasanya juga memperkerjakan pegawai.

Tentu saja saat ini keadaannya semakin sulit, apalagi bagi yang sudah memiliki keluarga. Mbah Uti berharap rekan-rekannya sesama pedagang di area car free day Simpang Lima, terutama yang hanya mengandalkan hidup dari usaha jualan, tetap bersemangat menghadapi cobaan ini.

“Jangan kehilangan harapan. Kalau ada kesempatan jualan, tetap jualan di mana pun. Seperti saya jualan di depan rumah seperti ini,” ujarnya.

Nanti saatnya dibuka lagi area car free day Simpang Lima, Mbah Uti siap menggelar lapak di sana. Ia juga siap mengikuti protokol kesehatan untuk mencegah penularan virus. Tentu pelanggannya juga sudah kangen dengan nasi ayam dan lontong opor racikannya.

Mbah Uti tidak mengeluhkan keadaan. Ia seperti kata pepatah, tidak mengutuk kegelapan, ia memilih menyalakan lilin untuk menciptakan terang. []

Baca cerita lain:

Berita terkait
Tingkah Aneh Pecandu Drakor di Bantaeng Sulawesi Selatan
Orang-orang kok suka banget nonton drakor. Gue jadi penasaran. Nontonnya di mana deh ya. Kisah perempuan-perempuan di Bantaeng tergila-gila drakor.
Tradisi Jurung Petani Banyuwangi di Tengah Pandemi
Dulu makan nasi jagung dikira tidak mampu, sekarang semua makan nasi jagung. Bahkan orang luar sengaja ke sini cari nasi jagung. Petani Banyuwangi.
Letusan Gunung Tambora yang Mengubah Wajah Dunia
Letusan Gunung Tambora mengubah pola musim di Eropa, biasanya Mei-Agustus panas tiba-tiba tidak panas sama sekali, tertutup awan bak guguran salju.
0
Sebut Monyet di Facebook, Wanita Ini Dituntut Penjara
Seorang wanita yang menulis kata monyet dan ditujukan kepada wanita lainnya via akun Facebook dituntut penjara 1 tahun 6 bulan.