UNTUK INDONESIA
Siapa Nabi Pertama Salat Subuh Zuhur Asar Magrib Isya
Tahukah Anda siapa Nabi pertama salat Subuh, Nabi pertama salat Zuhur, Nabi pertama salat Asar, Nabi pertama salat Magrib, Nabi pertama salat Isya?
Ilustrasi - Salat. (Foto: umroh.com)

Jakarta - Ibadah salat sudah diajarkan nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad SAW, sebelum kedatangan Islam. Bangsa Yahudi Arab dan Nasrani sudah melaksanakan salat di tempat ibadah mereka meski secara gerakan dan bentuknya berbeda dengan Islam. 

Dalam kitab al-Majalis al-Saniyah Syarh al-Arba’in al-Nawawiyah, Ahmad bin Hijazi menjelaskan secara singkat sejarah salat lima waktu yang sudah dikerjakan nabi-nabi terdahulu. 

Adam AS, Nabi Pertama Salat Subuh

Nabi Adam AS adalah Nabi pertama yang melaksanakan salat Subuh. Saat baru diturunkan dari surga ke dunia, bumi saat itu masih gelap gulita. Nabi Adam AS yang merasa sangat ketakutan melakukan salat Subuh menjelang dan matahari mulai terbit. Nabi Adam AS melaksanakan salat dua rakaat sebagai tanda syukur karena sudah terbebas dari kegelapan malam dan diberikan cahaya matahari sebagai gantinya.

Ibrahim AS, Nabi Pertama Salat Zuhur

Nabi Ibrahim adalah Nabi pertama yang mengerjakan salat Zuhur. Ia melaksanakan salat sebanyak empat rakaat setelah mendapat wahyu dari Allah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail, yang diganti dengan seekor domba kurban. Sebagai rasa syukur, Nabi Ibrahim salat empat rakaat pada saat matahari sudah tepat di atas ubun-ubun kepala.

Yunus AS, Nabi Pertama Salat Asar

Nabi Yunus adalah Nabi pertama yang mengerjakan salat Asar. Nabi Yunus melaksanakan salat empat rakaat sesaat setelah keluar dari perut ikan paus. Salat ini sebagai rasa syukurnya kepada Allah karena telah terbebas dari dalam perut ikan paus dan kegelapan yang sudah menutupi mata selama ini. Nabi Yunus mendirikan salat ini ketika waktu memasuki waktu salat Asar.

Isa AS, Nabi Pertama Salat Magrib

Nabi Isa adalah Nabi pertama yang mengerjakan salat Magrib yang dilaksanakan tiga rakaat pada saat matahari sudah terbenam. Nabi Isa melakukan salat ini sebagai ungkapan rasa syukur terhadap Allah karena sudah diselamatkan dari kejahilan kaumnya sendiri.

Musa AS, Nabi Pertama Salat Isya

Nabi Musa adalah Nabi pertama yang mengerjakan salat Isya yakni ketika dalam perjalanan dari Madyan menuju Mesir. Nabi Musa bersama istrinya, Shafura, takut kalau tentara Firaun dapat menemukan dan menyerahkannya pada Firaun yang zalim. Kegundahan Nabi Musa akhirnya didengar Allah. Seketika Allah menghilangkan rasa gundah itu dari hati Nabi Musa. Sebagai rasa syukur, Nabi Musa mendirikan salat empat rakaat pada saat malam hari.

Salat Lima Waktu Diwajibkan pada Zaman Nabi Muhammad SAW

Pada peristiwa Isra Miraj, Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW menyempurnakan lima salat ini dalam lima waktu yang harus dilaksanakan satu hari satu malam. Peristiwa Isra Miraj ini menjadi awal salat lima wajib dijalankan seluruh umat Islam.

Rukun Salat

Seperti penjelasan Imam Abu Suja’ dalam Matan al-Ghâyah wa Taqrîb, hal. 9, rukun salat ada 18. 

  1. Niat
  2. Berdiri bagi yang mampu
  3. Takbiratul ihrâm,
  4. Membaca surat al-Fatihah, dim ana Bismillahirrahmanirrahim merupakan bagian ayatnya
  5. Ruku’
  6. Thuma’ninah
  7. Bangun dari ruku’ dan I’tidal
  8. Thuma’ninah
  9. Sujud
  10. Thuma’ninah
  11. Duduk di antara dua sujud
  12. Thuma’ninah 
  13. Duduk untuk tasyahhud akhir
  14. Membaca tasyahhud akhir
  15. Membaca salawat pada Nabi SAW saat tasyahhud akhir
  16. Salam pertama
  17. Niat keluar dari salat
  18. Tertib; yakni mengurutkan rukun-rukun sesuai apa yang telah dituturkan

Rukun Qauli Salat

Rukun salat dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu rukun fi’li (perbuatan) dan rukun qauli (ucapan). Berikut ini akan dijelaskan tentang rukun salat yang berupa bacaan (qauli). Rukun yang berupa ucapan dalam salat berjumlah lima, yakni membaca takbiratul ihram, membaca surat al-Fatihah, membaca tahiyyat akhir, membaca salawat saat tahiyyat akhir, dan salam pertama.

Berikut ini rukun-rukun tersebut sebagaimana dikutip dari karya Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani, Nihâyah al-Zain (Jakarta: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 2002), hal. 55-63:

1. Bacaan Takbiratul Ihram

أَللهُ أَكْبَر

Allâhu Akbar

“Allah Maha Besar”

Saat takbiratul ihram ini, tangan diangkat ke atas, mulut mengucapkan “Allahu Akbar”, dan hati membisikkan niat. Ketiga hal tersebut dilakukan secara bersamaan.

2. Bacaan Surat al-Fatihah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ. إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ. اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ. صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Bismillahirrahmanirrahim (1), Alhamdulillâhi rabbil ‘alamin (2), Ar-Rahmanir Rahim (3), Maliki yaumiddin (4), Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’an (5), Ihdinash shirathal mustaqim (6), Shirathal ladzina an’amta ‘alaihim ghoiril maghdzubi ‘alaihim waladldlallin (7).

Artinya: "Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai di hari Pembalasan. Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan. Tunjukilah Kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

3. Bacaan tahiyyat akhir

التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ السَّلَامُ عَلَيْك أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ

Attahiyyatul mubarakatush shalawatut thoyyibatu liLlah, assalamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu warahmatuLlâhi wabarakâtuh, assalamu ‘alaina wa ‘ala ‘ibadillâhish shalihin, asyhadu al-la ilaha illa-Llah, wa asyhadu anna muhammadar rasulullah

“Segala penghormatan yang penuh berkah, segenap salawat yang penuh kesucian, (semuanya) adalah milik Allah. Salam padamu wahai para Nabi, beserta rahmat dan berkah Allah. Salam bagi kami, dan bagi hamba-hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah”

4. Bacaan shalawat Nabi sesudah tasyahhud akhir

اَلَّلهُمَّ صَلِّ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمّدْ

Allahumma shalli ‘alâ sayyidina Muhammad

“Semoga Allah memberikan shalawat bagi junjungan kami, Nabi Muhammad”.

5. Salam pertama

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ

Assalamu ‘alaikum warohmatullah

“Salam dan rahmat Allah (semoga tercurahkan) bagi kalian semua”

Bacaan dalam salat terbagi menjadi tiga kategori.

  1. Bacaan wajib yang harus diucapkan
  2. Sunah ab’ad, yang jika ditinggalkan, disunahkan untuk sujud sahwi.
  3. Sunah hai`ah yang tidak berkonsekuensi apa pun jika ditinggalkan, namun sebaiknya dilakukan untuk meningkatkan kualitas salat yang dijalankan.

Berikut ini bacaan-bacaan sunnah hai`ah disarikan dari karya Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani, Nihâyah al-Zain (Jakarta: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 2002), hal. 63-76:

1. Membaca doa iftitah sesudah takbiratul ihram sebelum membaca fatihah

اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً. إِنِّىْ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَالسَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. إِنَّ صَلاَتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. لاَشَرِيْكَ لَهُ وَبِذلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

Allahu Akbar kabira wal hamdu lillahi katsira, wa subhanallahi bukratan wa ashila. Inni wajjahtu wajhiya lilladzi fatharas samawati wal ardha hanifan muslimaw wa ma ana minal mushrikin. Inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi Rabbil ‘alamin. La syariikalahu wa bidzalika umirtu wa ana minal muslimin.

“Allah Maha Besar dengan sebesar-besarnya. Segala puji yang sebanyak-banyaknya bagi Allah. Maha Suci Allah pada pagi dan petang hari. Aku menghadapkan wajahku kepada Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi dengan segenap kepatuhan dan kepasrahan diri, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang menyekutukan-Nya. Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah kepunyaan Allah, Tuhan semesta alam, yang tiada satu pun sekutu bagi-Nya. Dengan semua itulah aku diperintahkan dan aku adalah termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim).”

2. Membaca ta’awudz sebelum membaca surat al-Fatihah

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمْ

A`udzu biLlahi minasy syaithanir rajim

"Aku memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk"

3. Membaca أمين

(Aamiin; Semoga Allah mengabulkan permohonan kita) sesudah membaca surat al-Fatihah

4. Membaca ayat Alquran sesudah membaca surat al-Fatihah

5. Membaca takbir pada setiap perpindahan gerak

أَللهُ أَكْبَر

Allahu Akbar “Allah Maha Besar”

6. Membaca tasbih dan doa pada saat ruku’, minimal sebanyak 3 kali

سُبْحَانَ رَبِّيْ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ

Subhana Rabbiyal ‘adzimi wabihamdih (dibaca tiga kali)

Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung, dan dengan memuji pada-Nya

اللهم لَكَ رَكَعْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَلَكَ أَسْلَمْتُ خَشَعَ لَكَ سَمْعِيْ وَبَصَرِيْ وَمُخِّيْ وَعَظْمِيْ وَعَصَبِيْ وَشَعْرِيْ وَبَشَرِيْ وَمَا اسْتَقَلَّتْ بِهِ قَدَمِيْ اللهُ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Allahumma laka raka’tu wa bika amantu wa laka aslamtu, khasya’a laka sam’i wa bashari, wa mukhkhi, wa ‘adzmi, wa ‘ashabi, wa sya’ri, wa basyari, wa ma istaqalat bihi qadami. Allahu rabbil ‘alamin

“Ya Allah, pada-Mu aku ruku, pada-Mu aku beriman, pada-Mu aku pasrah, tunduk pada-Mu pendengaranku, penglihatanku, otakku, tulangku, urat syarafku, rambutku, kulitku, dan apa yang dilangkahi telapak kakiku. Allah, Tuhan semesta alam”.

7. Membaca tasbih dan doa ketika sujud, minimal sebanyak 3 kali

سُبْحَانَ رَبِّيْ الْأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ

Subhana Rabbiyal a’la wabihamdih (dibaca tiga kali)

Maha Suci Tuhanku Yang Maha Luhur, dan dengan memuji pada-Nya.

اللهم لَكَ سَجَدْتُ وَلَكَ أَسْلَمْتَ وَبِكَ آمَنَتُ أَنْتَ رَبِّي سَجَدَ وَجْهِيْ لِلَّذِيْ خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ تَبَارَكَ اللهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

Allahumma laka sajadtu, wa laka aslamtu, wa bika amantu, anta Rabbi sajada wajhi lilladzi khalaqahu wa shawwarahu wa syaqqa sam’ahu wa basharahu tabaraka-Llahu ahsanal khaliqin

“Ya Allah, pada-Mu aku bersujud, pada-Mu aku pasrah, dan pada-Mu aku beriman. Engkaulah Tuhanku. Wajahku ini sujud pada dzat yang menciptakannya, membentuknya, dan membukakan pendengaran dan penglihatan. Bertambahlah kebaikanmu Ya Allah, Sang Pencipta Terbaik”.

8. Membaca salawat ibrahimiyyah dan doa sesudah tasyahhud akhir

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى سَيِّدِنَا آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammadin wa ‘ala ali Sayyidina Muhammadin kama shallaita ‘ala Sayyidina Ibrahima wa ‘ala ali Sayyidina Ibrahima Wa barik ‘ala Sayyidina Muhammadin wa ‘ala ali Sayyidina Muhammadin kama barokta ‘ala Sayyidina Ibrahima wa ‘ala ali Sayyidina Ibrahima. Fîl ‘alamina innaka hamidun majid

“Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami, Nabi Muhammad saw, dan kepada keluarganya, sebagaimana Engkau limpahkan rahmat kepada Nabi Ibrahim as. dan keluarganya. Berikanlah keberkahan kepada junjungan kami, Nabi Muhammad saw, dan keluarganya, sebagaimana Engkau limpahkan berkah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung di seluruh alam.”

اللهم اغْفِرْ لِيْ مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَسْرَفْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّى أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَالْمُؤَخِّرُ لآ إلَهَ إِلاَّ أَنْتَ اللهم إنِّيْ أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ اللهم إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ اللهم إِنِّى ظَلَمْتُ نَفْسِيْ ظُلْمًا كَثِيرًا وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إلَّا أَنْتَ فَاغْفِرْ لِيْ مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِيْ إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Allahummaghfirli ma qaddamtu wa ma akhkhartu wa ma asrartu wa ma a’lantu wa ma asraqtu wa ma anta a’lamu bihi minni, antal muqaddam wal muakhkhar la ilaha illa Anta. Allâhumma inni a’udzu bika min ‘adzabil qabri wa min ‘adzabin nari wa min fitnatil mahya wal mamat, wa min fitnatil masahid dajjal. Innî a’udzu bika minal ma’tsami wal maghrami. Allahumma inni dzalamtu nafsi dzulman kabiran wa la yughfarudz dzunuba illu anta faghfirli maghfiratan min ‘indika warhamni innaka antal ghafurur rahim

“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa yang telah kuperbuat ataupun yang akan kuperbuat, yang kurahasiakan ataupun yang kutampakkan, dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya ketimbang aku. Engkau Maha Awal lagi Maha Akhir. Tiada tuhan selain Engkau. Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari siksa kubur, dari siksa neraka, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta dari fitnahnya dajjal. Ya Allah, aku berlindung padamu dari segala kerugian. Ya Allah, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku dengan sangat, dan tiada yang bisa mengampuni dosa selain Engkau, maka ampunilah dosaku dengan ampunan dari sisi-Mu, dan kasihanilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Pengasih”. []

Baca juga:

Berita terkait
Nabi Harun AS, Saat Terakhir di Puncak Gunung Hor
Nama Nabi Harun AS disebut di dalam Alquran sebanyak 20 kali. Nabi Harun AS merupakan kakak Nabi Musa AS dengan selisih empat tahun lebih tua.
Nabi Daud AS, Namanya Disebut 16 Kali dalam Alquran
Nabi Daud AS memiliki suara sangat merdu. Saat ia membaca Kitab Zabur dengan sangat fasih, gunung-gunung dan burung pun ikut bertasbih.
Nabi Syuaib AS, Ahli Pidato dari Kalangan Para Nabi
Nabi Syuaib AS berdakwah dengan argumentasi yang kuat sehingga ia disebut Khathibul Anbiya, ahli pidato dari kalangan para nabi.
0
Siapa Nabi Pertama Salat Subuh Zuhur Asar Magrib Isya
Tahukah Anda siapa Nabi pertama salat Subuh, Nabi pertama salat Zuhur, Nabi pertama salat Asar, Nabi pertama salat Magrib, Nabi pertama salat Isya?