UNTUK INDONESIA
Siapa Kariadi, Namanya Jadi RS Covid-19 di Semarang
Rumah Sakit Umum Pusat Dokter Kariadi Semarang, satu di antara rumah sakit rujukan pasien Covid-19 di Jawa Tengah. Siapa Kariadi? Ini profilnya.
Dokter Kariadi. (Foto: rskariadi.co.id)

Jakarta - Rumah Sakit Umum Pusat Dokter Kariadi Semarang, satu di antara rumah sakit rujukan pasien Covid-19 di Jawa Tengah. Siapa Kariadi yang menjadi nama rumah sakit tersebut? Ia seorang dokter yang turut berjuang melawan penjajahan Jepang. Hingga pada suatu malam ia ditembak tentara Jepang. 

Kariadi juga seorang dokter dengan karya besar di bidang pemberantasan penyakit malaria. Ia menemukan minyak "Oleum Pro-microscopieKar" yang sangat penting dalam menangani penyakit malaria dan filariasis yang berjangkit di berbagai daerah di Indonesia. 

Profil Dokter Kariadi

Kariadi lahir di Kota Malang, 15 September 1905. Ia menempuh pendidikan di Hollandsch Inlandsche School (HIS) di Malang yang kemudian ditamatkan di HIS Sidoardjo, Surabaya pada 1920. 

Pada 1921, Kariadi masuk Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) atau Sekolah Kedokteran untuk pribumi di Surabaya dan lulus pada 1931. Selanjutnya, ia bekerja sebagai asisten tokoh pergerakan, dr. Soetomo, di Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting (CBZ) di Surabaya. Usai berdinas selama tiga tahun, dr. Kariadi ditugaskan ke Manokwari, Tanah Papua.

Kariadi menikah dengan drg. Soenarti yang merupakan lulusan STOVIT (Sekolah Kedokteran Gigi) di Surabaya. Setelah tiga tahun di Manokwari, ia kembali pindah ke Kroya (Banyumas). Dua tahun di Kroya, Kariadi ditugaskan ke Martapura, Kalimantan hingga 15 Mei 1942. Mulai 1 Juli 1942, Kariadi dipercaya sebagai Kepala Laboratorium Malaria di RS Pusat Rumah Sakit Rakyat (Purusara) di Semarang

RSUP Dokter Kariadi SemarangRumah Sakit Umum Pusat Dokter Kariadi Semarang. (Foto: Wikipedia)

Berjuang Melawan Jepang

Setelah Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, para pemuda berusaha untuk merebut persenjataan milik tentara Jepang hingga menimbulkan ketegangan. Pihak Jepang yang bersikukuh tidak ingin menyerahkan senjata mendapat perlawanan.

Aula Rumah Sakit Purusara dijadikan markas perjuangan para pemuda rumah sakit. Mereka turut aktif dalam upaya melawan Jepang. Tepatnya pada Minggu pagi, 14 Oktober 1945, pukul 6.30 WIB, pemuda-pemuda rumah sakit mendapat instruksi untuk mencegat dan memeriksa mobil Jepang yang lewat di depan RS Purusara. 

Mereka menyita sedan milik Kempetai dan merampas senjatanya. Sore harinya, para pemuda ikut aktif mencari tentara Jepang dan kemudian menjebloskannya ke penjara Bulu. Sekitar pukul 18.00 WIB, pasukan Jepang bersenjata lengkap melancarkan serangan mendadak sekaligus melucuti delapan anggota polisi istimewa yang waktu itu sedang menjaga sumber air minum bagi warga Kota Semarang Reservoir Siranda di Candilama. 

Kedelapan anggota Polisi Istimewa itu disiksa dan dibawa ke markas Kidobutai di Jatingaleh. Sore itu tersiar kabar tentara Jepang menebarkan racun ke dalam reservoir itu.

Kariadi, sebagai Kepala Laboratorium Rumah Sakit Purusara diperintahkan pemimpin rumah sakit untuk memeriksa Reservoir Siranda karena berita Jepang menebarkan racun itu. Istri dr. Kariadi, drg. Soenarti mencoba mencegah suaminya pergi mengingat keadaan yang sangat genting. Namun, Kariadi merasa kabar simpang siur itu harus diselidiki kebenarannya karena menyangkut nyawa ribuan warga Semarang. 

Pada tengah malam, Soenarti mengangkat telepon dari Rumah Sakit Purusara yang mengabarkan Kariadi ditembak tentara Jepang. Mendengar kabar itu, Soenarti menangis. Keluarga Kariadi kebingungan, tidak bisa datang ke rumah sakit karena suasana yang masih dalam pertempuran.

Ketika dalam perjalanan menuju Reservoir Siranda, mobil yang ditumpangi dr. Kariadi dicegat tentara Jepang di Jalan Pandanaran. Bersama tentara pelajar yang menyetir mobil, dr. Kariadi ditembak. Ia sempat dibawa ke rumah sakit sekitar pukul 23.30 WIB. Namun karena luka yang parah, nyawa dokter muda itu tidak dapat diselamatkan. Ia gugur dalam usia 40 tahun satu bulan.

Pada 15 Oktober 1945, Mayor Kido memerintahkan 1.000 tentara Jepang untuk melakukan penyerangan ke pusat Kota Semarang. Berita gugurnya Kariadi dengan cepat tersebar, menyulut kemarahan warga Semarang. Hari berikutnya, pertempuran meluas ke berbagai penjuru kota yang mengakibatkan korban berjatuhan di mana-mana. Pada 17 Oktober 1945, tentara Jepang minta gencatan senjata, namun diam-diam mereka melakukan serangan ke berbagai kampung.

Pada 17 Oktober 1945, jenazah Kariadi dimakamkan di halaman Rumah Sakit Purusara dengan naungan bendera Merah Putih di antara desingan tembakan musuh. Pada 5 November 1961, kerangka dr. Kariadi dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal Semarang. 

Sebagai bentuk penghargaan, RSUP Purusara (yang sejak 1949 menjadi RSUP Semarang) diganti namanya menjadi "Rumah Sakit Dokter Kariadi" pada 1964. Dan pada Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 1968, dr. Kariadi dianugerahi Satyalencana Kebaktian Sosial oleh Presiden Soeharto, secara Anumerta. []

Baca juga:

Berita terkait
Siapa Sulianti Saroso, Namanya Jadi Rumah Sakit Rujukan Corona
Hari-hari ini namanya terus menghiasi pemberitaan.Namanya diabadikan dalam bentuk sebuah rumah sakit, RS Penyakit Infeksi Sulianti Saroso.
Syeikh Abdullah bin Mahfudh ibn Bayyah dan Fatwa Corona
Syeikh Abdullah bin Mahfudh ibn Bayyah pemimpin Lembaga Fatwa Uni Emirat Arab mengumumkan fatwa pandemi corona. Ini profil ulama moderat tersebut.
Profil Saud Anwar, Dokter Idola Masyarakat Amerika
Masyarakat Amerika berkonvoi mendatangi rumah Saud Anwar dokter Covid-19, mengelu-elukannya sebagai pahlawan. Ini profil dokter idola tersebut.
0
Korban Kebakaran di Bumi Permai Dimakamkan di 1 Liang Lahat
Penyebab kebakaran yang menewaskan satu keluarga dan menghanguskan empat rumah di Perumahan Bumi Permai akhirnya terungkap.