Siapa Kardinah, Namanya Jadi RS Covid-19 di Tegal

Pada masa pandemi Covid-19, RSUD Kardinah Kota Tegal Jawa Tengah sering disebut dalam berita. Siapa Kardinah yang jadi nama rumah sakit tersebut?
Raden Ajeng Kardinah. (Foto: gramho.com/Herlambang Yudho)

Jakarta - Pada masa pandemi Covid-19, Rumah Sakit Umum Daerah Kardinah di Kota Tegal, Jawa Tengah, sering disebut dalam pemberitaan. Rumah sakit ini satu di antara tempat rujukan perawatan pasien Covid-19, baik yang terkonfirmasi positif atau masih berstatus pasien dalam pengawasan atau PDP. Siapa Kardinah yang menjadi nama rumah sakit tersebut?

Kardinah merupakan putri Bupati Jepara, Raden Mas Arya Adipati Sosroningrat dengan istri selir bernama Ngasirah. Ia adalah adik Raden Ajeng Kartini. Kardinah lahir di Jepara, 1 Maret 1881.

Kardinah menikah dengan Patih Pemalang, Soejitno, yang merupakan anak Bupati Tegal, Ario Reksonegoro, pada 24 Januari 1902. Setelah menikah, Kardinah berusaha mewujudkan cita-cita Het Klaverblad (Daun Semanggi), sebutan Kartini untuk dirinya bersama kedua adik perempuannya, Kardinah dan Roekmini. Pada 1908, Soejitno diangkat menjadi Bupati Tegal.

Kardinah memiliki cita-cita memajukan perempuan dengan memberikan pendidikan yang setara. Kepedulian Kardinah terhadap perbaikan nasib kaum perempuan tidak berbeda dengan kakaknya, Kartini. Pemikiran tersebut mereka dapatkan dari sang ayah yang memberikan mereka pendidikan dasar yang baik. Selain itu, menyediakan berbagai bahan bacaan untuk menambah pengetahuan anak-anaknya secara mandiri. Ayahnya, Mas Arya Adipati Sosroningrat, saat itu mengundang guru les berkebangsaan Belanda untuk mendidik anak-anaknya. 

Kartini, Kardinah, dan RoekminiKardinah (tengah) bersama kakaknya, Kartini (kiri) dan adiknya, Roekmini (kanan). (Foto: itjeher.com)

Menekankan Pentingnya Pendidikan

Dalam buku berjudul Kardinah: Sebuah Biografi Pejuang Kemanusiaan (1881-1971), budayawan Tegal Yono Daryono mengatakan Kardinah mendirikan lembaga pendidikan, Sekolah Wisma Pranawa. Sekolah ini sangat terkenal hingga mendapat donasi dari Residen Pekalongan dan Ki Hajar Dewantara.

Sebagai istri Bupati Tegal saat itu, Kardinah memang berkeinginan mendirikan sekolah bagi rakyat, khususnya untuk perempuan. Untuk mewujudkan cita-citanya itu, Kardinah mengumpulkan dana dari hasil menjual buku masakan dan buku tentang batik. Hasil penjualan buku tersebut lah yang mendanai lembaga pendidikan Sekolah Wisma Pranawa.

Sejak di Pemalang hingga di Tegal, Kardinah mengajar kepada kalangan di sekitar kepatihan dan terbatas. Materi pembelajarannya terkait aspek keterampilan dasar bagi perempuan yang kelak menjadi istri dan ibu.

Tokoh Perintis Pembangunan Rumah Sakit

Meski namanya tidak semasyhur Kartini, tetapi di kalangan masyarakat Tegal dan sekitarnya, nama Kardinah harum karena namanya diabadikan menjadi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) yang terletak di Jalan AR. Hakim, Kota Tegal.

RSUD KardinahRumah Sakit Umum Daerah Kardinah Kota Tegal, Jawa Tengha, (tampak depan). (Foto: Dok Tagar/Farid Firdaus)

Dalam sejarahnya, Kardinah memang menjadi tokoh perintis pembangunan rumah sakit tersebut dari hasil penjualan buku karangannya. Dengan modal awal 16.000 golden hasil penjualan buku karangannya berjudul Cara Membatik ditambah bantuan dari Residen Pekalongan sebagai ganti rugi dari Pemerintah Kolonial ketika Kardinah mengambil alih Sekolah Wisma Pranawa (Sekolah Kepandaian Putri) maka didirikanlah Balai Pengobatan bertujuan memberikan bantuan pengobatan kepada rakyat kurang mampu.

Pada tahun 1971 setelah Raden Ajeng Kardinah wafat, Balai Pengobatan yang sudah mengalami berbagai peningkatan sarana dan prasarana diserahkan kepada Pemerintah Daerah Tingkat II Kotamadya Tegal dan kemudian berubah menjadi rumah sakit yang kemudian diberi nama Rumah Sakit Umum Kardinah Tegal.

RSUD yang mulai dibangun pada tahun 1927 tersebut bernama Kardinah Ziekenhuis. Kardinah menganggap rumah sakit itu amat penting bagi rakyat miskin, terutama bagi perempuan yang hendak bersalin.

Pada tahun 1983, dengan Surat Keputusan Wali Kota Madya Dati II Tegal Nomor 61/1/1004/1983, Rumah Sakit Umum Kardinah ditetapkan sebagai Rumah Sakit Umum Tipe C, selanjutnya pada tahun 1995 dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. 92/ Menkes/SK/I/1995 ditetapkan sebagai Rumah Sakit Umum Daerah tipe B Non Pendidikan.

Pada tahun 1998 Rumah Sakit Umum Kardinah dinyatakan lulus akreditasi dengan sertifikat akreditasi rumah sakit untuk 5 (lima) Pelayanan Dasar, dan pada tahun 2002 Rumah Sakit Umum Kardinah dinyatakan lulus akreditasi dengan sertifikat akreditasi rumah sakit untuk 12 (dua belas) Pelayanan.

Dalam upaya meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, maka berdasarkan Keputusan Wali Kota Tegal Nomor 445 /244 /2008 Tanggal 31 Desember 2008, ditetapkanlah status pengelolaan keuangan RSUD Kardinah sebagai Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang mempunyai hak pengelolaan keuangan dalam bentuk Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) dengan status penuh. Kemudian pada tanggal 16 Desember 2011, RSUD Kardinah berhasil memperoleh sertifikat mutu ISO 9001 : 2008 Certificate of Registration No : D0023.1.1023.12.11 dan berhasil mempertahankannya sampai dengan sekarang. []

Baca juga:

Berita terkait
Syeikh Abdullah bin Mahfudh ibn Bayyah dan Fatwa Corona
Syeikh Abdullah bin Mahfudh ibn Bayyah pemimpin Lembaga Fatwa Uni Emirat Arab mengumumkan fatwa pandemi corona. Ini profil ulama moderat tersebut.
Raja Salman, Tak Ada Umrah dan Haji Saat Wabah Corona
Salman bin Abdulaziz meminta muslim di seluruh dunia menunda umrah dan haji di tengah pandemi corona. Ini profil Raja Arab Saudi tersebut.
Profil Michael Levitt dan Ramalan Badai Corona
Tak perlu lockdown, cukup social distancing, tak lama lagi badai corona Covid-19 akan berlalu. Analisis ilmuwan Michael Levitt. Siapa dia?
0
Naomi Osaka Mundur Dari Grand Slam Prancis Terbuka 2021
Naomi Osaka, petenis Jepang peringkat dua dunia, menolak konferensi pers setelah pertandingan akhirnya mengundurkan diri dari Prancis Terbuka