UNTUK INDONESIA
Si Kaya Bantu Si Miskin di Kudus Hadapi Pandemi
Si Kaya Bantu Si Miskin, gagasan Lurah Wergu Kulon, Kudus mengatasi kesulitan ekonomi warganya di tengah pandemi corona.
Lurah Wergu Kulon, Kudus, Ninuk Herdjini menyalurkan bantuan bahan pangan ke warga terdampak corona di masa pendemi, Sabtu, 26 April 2020. Bantuan program Si Kata Bantu Si Miskin ini merupakan hasil penggalangan bantuan warga mampu di Wergu Kulon. (Foto: Tagar/Nila Niswatul Chusna)

Kudus - Ninuk Herdjini namanya. Wanita setengah abad yang menjabat sebagai Lurah Wergu Kulon, Kecamatan Kudus Kota, Kabupaten Kudus, ini memiliki cara tersendiri dalam menyelesaikan permasalahan sosial ekonomi yang melilit masyarakatnya di tengah pandemi corona. Yakni dengan progam Si Kaya Bantu Si Miskin.

Sebagai lurah baru, Herdjini tergolong orang yang adaptatif. Dalam waktu singkat, dia dapat menyesuaikan diri dengan karakteristik masyarakatnya yang sangat beragam, baik dari status sosial, ekonomi, pendidikan dan kebudayaan.

Sejak awal menjabat lurah, pada Mei 2019 lalu, berempuan berhijab ini aktif turun ke bawah, berusaha menyapa dan mengenali warganya. Dengan bantuan ketua RT dan RW, ia tak malu untuk belajar memahami karakteristik masing-masing warga di kelurahannya.

“Sekarang, saya cukup memahami karakter mereka seperti apa. Sehingga saat terjadi permasalahan di masyarakat, saya bisa memberikan solusi yang baik bagi mereka,” ujarnya kepada Tagar, Sabtu, 26 April 2020.

Seperti halnya pandemi Covid-19 saat ini, yang tidak sekedar menyerang kesehatan, tetapi juga mematikan perekonomian sebagian warganya. Dari hitungan pihaknya, ada sekitar 433 warganya yang mengalami mati pendapatan imbas wabah corona.

Sembari menunggu kucuran bantuan sosial dari pemerintah, Herdjini melakukan pendekatan kepada warganya yang berasal dari kalangan berada. Tujuannya untuk menghimpun batuan bagi warga lain yang terdampak Covid-19. Bukan hal mudah untuk mengetuk sanubari yang kaya guna membantu yang tak mampu

“Awalnya memang tidak mudah. Karena semua orang saat ini merasakan dampak dari Covid-19. Baik yang kaya ataupun yang miskin, semua perekonomiannya terguncang," tuturnya di Kantor Kelurahan Wergu Kulon.

Saya tidak ingin, ada warga saya yang kelaparan dan tidak bisa makan di masa pandemi Covid-19.

kaya bantu miskin1Warga terdampak pandemi corona di Wergu Kulon, Kudus mendapat bantuan program Si Kaya Bantu Si Miskin gagasan Bu Lurah Ninuk Herdjini. (Foto: Tagar/Nila Niswatul Chusna)

Bersinergi dan bahu-membahu menangani setiap permasalahan yang ada, merupakan prinsip yang Herdjini terapkan kepada warganya. Dengan semangat sinergitas ini, pihaknya berhasil menghimpun 300 kilogram beras dan 600 bungkus mie instan dari warga ketirunan Tionghoa yang tinggal di kelurahannya.

“Saya ucapkan terimakasih atas kepedulian warga yang tinggal di RW 5 Kelurahan Wergu Kulon, yang telah memberikan bantuan kepada warga kurang mampu dan warga yang terdampak Covid-19,” ucapnya.

Bantuan yang masuk pada pertengahan bulan April 2020 ini, kemudian dia salurkan kepada sejumlah warga terdampak Covid-19 di RW 2 dan RW 3 Kelurahan Wergu Kulon. Dikemas dalam plastik kresek berwarna merah, setiap keluarga tidak mampu terdampak Covid-19 di daerahnya diberi lima kilogram beras dan 10 bungkus mie instan.

Meski bantuan dari hasil penggalangan donasi tersebut tidak banyak, Herdjini tetap berharap dapat meringankan beban warga dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Saya tidak ingin, ada warga saya yang kelaparan dan tidak bisa makan di masa pandemi Covid-19. Untuk itu, kami galangkan bantuan. Bila ke depan ada warga yang benar-benar membutuhkan bantuan ini lagi, kami siap memberikannya kembali,” kata dia.

Hingga kini, masih kata Herdjini, sudah ada enam kepala keluarga yang mendapat bantuan. Mereka rata-rata berprofesi sebagai pedagang kaki lima, tukang ojek, tukang dekorasi dan tukang parkir. Tidak hanya itu, pemudik dari sejumlah kota kabupaten yang pulang ke kampung halaman dan menjalankan isolasi mandiri selama 14 hari juga ikut kebagian.

Herdjini menggarisbawahi, bantuan tersebut ditujukan kepada warga tidak mampu yang benar-benar terdampak Covid-19. Namun mereka belum masuk dalam penerima bantuan sosial dari pemerintah, baik dari pos anggaran APBN, APBD Provinsi Jawa Tengah maupun APBD Kabupaten Kudus.

“Kami kelurahan, tidak seperti pemerintah desa yang bisa merasionalisasi anggaran untuk penanganan Covid-19. Kami tidak memiliki kemampuan untuk itu. Makanya kami menggerakkan warga untuk saling tolong-menolong di masa pandemi,” tutur dia.

Secara teknis, bantuan itu tidak terhimpun menjadi satu di kelurahannya. Tetapi dilakukan secara mandiri oleh sejumlah penguru RT di wilayahnya. Herdjini mengaku hanya sebagai pembuka pintu, mengetuk kerelaan warga yang mampu.  

Tak Ada Konflik Kepentingan

kaya bantu miskin2Lurah Wergu Kulon, Kudus, Ninuk Herdjini menyosialisasikan program Si Kaya Bantu Si Miskin dan pencegahan penyebaran virus corona ke warga. (Foto: Tagar/Nila Niswatul Chusna)

Koordinasi intensif dengan ketua RT dan RW terus dijalinnya, agar bantuan yang diterima masyarakat tidak tumpang tindih dan menimbulkan pergolakan sosial.

Selain itu, sosialisasi dan pemberian pemahaman yang baik kepada masyarakat mengenai pembagian dana yang terkumpul, pembagian beras bantuan sosial hingga kriteria penerima penting dilakukan, agar upaya positif itu justru tidak menimbulkan kecemburuan sosial di tengah masyarakat.

“Kalau ada masyarakat yang bertanya, kenapa tetangganya dapat bantuan sosial tetapi dia tidak? Saya jelaskan secara gamblang apakah dia dapat atau tidak. Misalnya dapat, saya jelaskan sumbernya dari pos anggaran apa, besarannya berapa dan kira-kira kapan turun. Biar tidak ada kesalahpahaman,” tegas dia.

Menurut Herdjini, tidak adanya kepentingan pribadi dalam penyaluran bantuan sosial menjadi kunci sukses meredam potensi kecemburuan dan pergejolakan sosial di masyarakat. 

“Selama kami tidak memasukkan kepentingan pribadi dalam pemilihan penerima dan penyalurannya, saya rasa masyarakat tidak akan bergejolak,” ucapnya dengan nada mantap.

Seperti saat menyalurkan bantuan sosial ke warga RT 2 RW 3 Kelurahan Wergu Kulon, Sabtu siang, 25 April 2020. Dengan mengendarai motor, Herdjini menyerahkan empat paket bantuan sosial bagi pemudik dan warga terdampak Covid-19 di kawasan permukiman padat penduduk tersebut.

Lima menit menempuh perjalanan menyusuri gang-gang sempit, akhirnya rombongan sampai di rumah sasaran. Di sana, Herdjini bertemu dan menyapa sejumlah warganya yang tengah duduk santai di teras rumah.

Selama kami tidak memasukkan kepentingan pribadi dalam pemilihan penerima dan penyalurannya, saya rasa masyarakat tidak akan bergejolak.

kaya bantu miskinLurah Wergu Kulon, Kudus, Ninuk Herdjini (kiri) saat melakukan tugas pelayanan harian di kantornya. (Foto: Tagar/Nila Niswatul Chusna)

Melihat Herdjini menenteng bingkisan beras. Salah satu warga tanpa sungkan menanyakan progres penyaluran bantuan sosial dari pemerintah pada Bu Lurah. Menanggapi pertanyaan warga tersebut dengan entengnya, Herdjini memberikan penjelasan sederhana pada warga tersebut.

“Ini kemarin ada bantuan dari warga pecinan untuk Hendrik. Tenang saja, ibu sudah terdaftar bantuan sosial dari pemerintah. Tapi ini bantuannya belum turun. Sabar ya bu, ditunggu saja ya,” jelasnya pada warga tersebut.

Penjelasan sederhana yang disampaikan Herdjini direspon baik oleh warga tersebut dengan anggukan kepala dan senyuman. Dalam kesempatan itu disampaikan pula imbuan pentingnya social distancing dan physical distancing di masa pandemi Covid-19. Termasuk imbuan selalu menggunakan masker saat keluar rumah dan menyediakan tempat cuci tangan di luar rumah juga digaungkannya.

Di tempat yang sama, Hendrik Cahyo Purwanto, 29 tahun, warga RT 2 RW 3 Kelurahan Wergu Kulon penerima bantuan sosial Covid-19 mengucapkan terimakasih atas kepedulian warga mampu, khususnya warga keturunan Tionghoa dan pemerintah kelurahan kepada keluarganya.

Kepada Tagar, Hendrik mengaku sedang menjalani masa isolasi mandiri selama 14 hari di rumah. Hal ini dilakukannya, usai pulang dari Kabupaten Rembang

Di wilayah berslogan Bangkit, yakni Bahagia, Aman, Nyaman, Gotong Royong, Kerja Keras, Iman dan Takwa, Hendrik bekerja sebagai pedagang kaki lima yang menjajakkan dagangannya di depan sejumlah sekolah.

“Dengan adanya corona, sekolah di liburkan. Di sana kami juga dilarang berjualan dan tidak ada pendapatan. Makanya saya memilih pulang ke Kudus. Karena dari luar kota, saya isolasi dulu di rumah. Setelah selesai, nanti saya baru jualan lagi,” ujar Hendrik.

Di tengah pandemi, dia bersyukur masih ada orang-orang yang terketuk hatinya untuk membantu sesama yang membutuhkan. Meski tidak banyak, tetapi bantuan ini cukup membantu mencukupi kebutuhan hidup orang-orang yang mengalami mati mata pencaharian seperti dia dan keluarga, selama beberapa hari kedepan. []

Baca cerita juga: 

Berita terkait
Pedagang Kudus: Kapan Retribusi Pasar Dibebaskan?
Pedagang Pasar Kliwon Kudus mendesak Plt Bupati Hartopo segera mengeluarkan perbup soal pembebasan retribusi.
Kecemburuan Sosial dan Bansos Covid di Kudus
Beda nominal bansos untuk warga terdampak Covid-19 potensial menimbulkan persoalan sosial baru di masyarakat Kudus.
Getaran Suara Beduk Menara Kudus Penanda Puasa
Tak ada kemeriahaan tradisi dhandhangan di Kudus. Namun tabuhan beduk di masjid Menara masih jadi penanda datangnya bulan puasa.
0
Jokowi Lantik Hakim Konstitusi Manahan MP Sitompul
Presiden Joko Widodo hari ini, Kamis, 30 April 2020 resmi melantik Manahan MP Sitompul sebagai Hakim Konstitusi 2020-2025.