UNTUK INDONESIA
Si Genit Manja Ikan Cupang Seharga Rp 600 Ribu
Ikan cupang kuning keemasan seharga Rp 600 ribu itu dengan genit menari manja, meliuk-liukkan tubuh dengan ekor mengembang melambai ringan.
Dua ekor ikan Cupang jenis Halfmoon milik Andi Surya Saputra, di peternakan ikan Cupang miliknya, Gang Anggrek, Krapyak Kulon, Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa, 29 Oktober 2019. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Yogyakarta - Ikan cupang kuning keemasan seharga Rp 600 ribu itu dengan genit menari manja, meliuk-liukkan tubuh dengan ekor mengembang melambai ringan.

Ia ikan cupang jenis Dumbo R Gold, berada di antara ratusan toples dan akuarium kecil yang berjejer rapi di teras rumah Andi Surya Saputra.

Andi Surya Saputra pemilik usaha peternakan ikan cupang Kiara Fish Farm, tinggal di Gang Anggrek, Krapyak Kulon, Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pada masing-masing toples dan akuarium itu berisi seekor ikan Cupang atau Betta Sp, dengan ragam warna dan jenis. Mulai dari Halfmoon, Plakat, Serit, Dumbo R Gold hingga Double Tail.

Beberapa ekor ikan terlihat agresif. Mereka mengembangkan kedua penutup insang, membentuk lingkaran tepat di belakang kepala. Sirip-siripnya pun mengembang, melambai-lambai di dalam air. Sebagian tampak genit menari sambil meliukkan tubuhnya.

Sebagian lainnya terlihat tenang, meliuk-liukkan tubuh seolah memancing agar ikan di akuarium sebelahnya marah.

Dari ratusan ekor ikan Cupang di tempat itu, setidaknya ada lima ekor ikan jenis Dumbo R berwarna Solid gold, yang menurut Andi, masih sangat jarang ditemui di pasaran.

Salah satu dari mereka, yang memiliki warna paling terang dan sirip terpanjang, berjoget manja sambil berlenggak-lenggok menggoyangkan sirip-siripnya yang menggemaskan.

Memang saya mengkhususkan diri pada Betta hias.

Ikan CupangIkan Cupang jenis Dumbo R Gold milik Andi Surya Saputra, di peternakan ikan Cupang miliknya, Gang Anggrek, Krapyak Kulon, Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa, 29 Oktober 2019. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Seorang pria penggemar ikan cupang, tampak asyik memperhatikan ikan yang dibanderol seharga Rp 600 ribu tersebut.

Bibirnya beberapa kali memuji keelokan ikan itu. Tapi nampaknya dia tidak berniat untuk membeli 'si genit'. Dia hanya suka melihatnya menari manja.

Kiara Fish Farm merupakan satu dari puluhan peternak ikan Cupang di Daerah Istimewa Yogyakarta. Andi selaku pemilik, mengaku dirinya fokus pada ikan cupang hias, bukan ikan aduan.

"Memang saya mengkhususkan diri pada Betta hias, terutama untuk yang kualitas pasar, karena pertimbangannya, kalau kualitas pasar, dia permintaannya akan setiap hari, jadi tidak tergantung dari event dan sebagainya," katanya saat ditemui di rumahnya, yang sekaligus menjadi lokasi peternakan ikan Cupang, Selasa, 29 Oktober 2019.

Bisnis ikan Cupang di Yogyakarta menurutnya sangat menjanjikan. Hal itu dibuktikan dengan lakunya ikan-ikan hasil budi dayanya. Dalam sehari, Andi bisa menjual hingga puluhan ekor ikan berbagai jenis.

Permintaan pasar terhadap ikan Cupang tak jarang membuatnya harus memesan dari peternak lain, yakni jika ikan-ikan hasil budi dayanya tidak mencukupi pesanan.

Olehnya itu, dia berani menjadikan bisnis ikan Cupang sebagai pekerjaan pokoknya, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Dumbo R Gold ini harganya antara Rp 400-Rp 600 ribu per ekor.

Ikan CupangAndi Surya Saputra, pemilik peternakan ikan Cupang di Gang Anggrek, Krapyak Kulon, Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa, 29 Oktober 2019. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Harga Mulai Rp 2.000-Rp 600.000

Untuk saat ini, kata Andi, jenis ikan Cupang yang digemari adalah ikan dengan warna Koi dari berbagai jenis yang ada.

Dalam sehari, Andi bisa menjual antara 10 hingga 20 ekor ikan Cupang warna Koi, dengan motif beragam.

Ikan Cupang dikelompokkan menjadi beberapa warna, mulai dari Solid, Koi, Fancy, Dragon, Lavender, Salamander, dan sebagainya.

Masing-masing jenis warna juga punya motif berbeda, di antaranya Koi Klasik, Koi Galaksi, Koi Nemo, Koi Candy, Koi Multycolor dan sebagainya.

"Fancy juga ada red fancy, yellow fancy, orange fancy, blue fancy. Dragon ada red dragon, yellow dragon, dan sebagainya," tuturnya.

Mengenai harga ikan Cupang yang paling mahal, Andi mengatakan hal itu tergantung pada tingkat kelangkaan, dalam artian jika ikan jenis dan warna tersebut masih kurang di pasaran, harganya akan menjadi lebih mahal.

Ikan CupangRatusan toples dan akuarium tempat ikan Cupang milik Andi Surya Saputra, di peternakan ikan Cupang miliknya, Gang Anggrek, Krapyak Kulon, Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa, 29 Oktober 2019. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

"Biasanya kita jual dengan harga yang tinggi. Contohnya Dumbo R Gold ini harganya antara Rp 400-Rp 600 ribu per ekor, tergantung kualitasnya juga," tuturnya.

Untuk pemasaran ikan-ikan hasil budi dayanya, Andi lebih banyak menawarkan melalui media sosial, seperti Facebook dan Instagram.

Meski ditawarkan dengan sistem online atau dalam jaringan (daring), 99 persen pembeli datang langsung ke rumahnya. Sisanya dikirimkan melalui jasa pengiriman.

Sebagian besar pembeli ikan-ikannya adalah reseller atau membeli untuk dijual kembali. Sebagian lainnya adalah para penggemar ikan Cupang di Yogyakarta dan sekitarnya.

Para pembeli itu tinggal memilih ikan sesuai pangsa pasarnya. Misalnya untuk dijual di sekolah-sekolah, biasanya akan membeli ikan yang harga ecerannya Rp 5.000.

"Mereka datang dan memilih sendiri. Harganya untuk eceran antara Rp 5 ribu sampai Rp 500 ribu per ekor. Ada juga promo, setiap pembelian 10 ekor dari item atau jenis yang sama, kita berikan diskon 50 persen," kata Andi.

Ikan CupangRatusan toples dan akuarium tempat ikan Cupang milik Andi Surya Saputra, di peternakan ikan Cupang miliknya, Gang Anggrek, Krapyak Kulon, Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa, 29 Oktober 2019. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Dua Jenis Peternak Ikan Cupang

Tak jauh berbeda dengan Andi, seorang penggemar ikan Cupang lain, Bramantyo, yang juga peternak ikan aduan, menjelaskan, ada dua jenis peternak ikan Cupang.

Perbedaan antara kedua jenis peternak itu ada pada tujuan pemijahan. Peternak jenis pertama lebih mengutamakan kuantitas hasil pemijahan, yang bertujuan untuk mendapatkan ikan sebanyak mungkin.

Biasanya peternak jenis ini menjual ikan hasil budi dayanya secara borongan, misalnya langsung 200 ekor. Keuntungan dari sistem ini, perputaran uang akan menjadi lebih cepat, hanya saja harga ikannya murah.

Sementara peternak jenis kedua lebih mementingkan kualitas ikan hasil budi daya, misalnya dengan melihat peluang dan permintaan pasar, atau melihat jenis ikan yang sedang populer.

Peternak jenis ini akan menyortir ikan-ikan hasil budi dayanya untuk dijual kepada penggemar dengan harga relatif lebih mahal. Nantinya sisa dari ikan yang telah disortir akan dijual borongan pada pedagang eceran.

Ikan CupangRatusan toples dan akuarium tempat ikan Cupang milik Andi Surya Saputra, di peternakan ikan Cupang miliknya, Gang Anggrek, Krapyak Kulon, Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa, 29 Oktober 2019. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Karena mementingkan kualitas, maka indukan yang dipilih pun biasanya tidak banyak. Mereka akan memilih indukan yang terbaik untuk dipijahkan.

"Kalau main kualitas, kita breeding itu melihat peluang, melihat permintaan, apa yang sedang populer saat ini. Kita selalu memantau misalnya di komunitas, di grup online, Facebook, Instagram. Kita lihat, saat ini di pasaran dalam negeri dan luar negeri yang sedang disukai adalah jenis ini, warna ini, jadi kita fokus ke situ," ujar Bram sapaan akrabnya, saat ditemui di rumahnya di Baturan, Trihanggo, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa, 29 Oktober 2019.

Tujuan lain dari sedikitnya indukan yang dipijahkan adalah untuk mencegah jatuhnya harga. Karena saat indukan yang dipijahkan berjumlah banyak, maka anakannya pun akan lebih banyak. Sehingga akan lebih sulit untuk dipasarkan.

"Otomatis kita tetap harus bisa menjual, kalau enggak bisa menjual atau enggak laku, otomatis kita berusaha bagaimana caranya bisa segera laku, otomatis kita turunkan harga," ujarnya.

Dia menambahkan, dalam sekali pemijahan, sepasang ikan Cupang bisa menghasilkan anakan sekitar 200 hingga 500 ekor. Dari jumlah itu akan disortir sesuai standar peternak. Setelah agak besar, hasil sortiran pertama akan disortir lagi agar mendapatkan hasil maksimal.

"Kalau di Jogja ini umumnya harganya ratusan ribu kalau standar bahan kontes. Kalau yang sudah jadi, siap untuk kontes, bisa lima ratus ribu ke atas," tuturnya.

Selain dipengaruhi kelangkaan warna ikan dan jenisnya, harga ikan Cupang juga dipengaruhi minat pasar. Meski ikan yang dimiliki berkualitas, tapi jika peminat jenis itu sedikit, harganya otomatis akan turun.

Ikan CupangPenggemar ikan Cupang sekaligus peternak ikan Cupang, Bramantyo, di saat ditemui di rumahnya, Baturan, Trihanggo, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa, 29 Oktober 2019. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Cupang Plakat Paling Mudah Dirawat

Dari beragam jenis ikan Cupang hias, jenis Plakat masih paling banyak disukai. Plakat memiliki bentuk ekor kecil dan oval. Plakat digemari karena perawatannya yang mudah.

Dulunya plakat merupakan ikan Cupang jenis aduan, warnanya pun tidak beragam, terbatas pada warna dasar, seperti hitam dan biru tua. Namun seiring perkembangan zaman, warna-warna pada ikan Cupang Plakat pun mulai beragam.

Berbeda dengan penjelasan Andi, menurut Bram, warna-warna ikan Cupang yang banyak disukai adalah warna Marble atau Fancy, ada Fancy Nemo hingga Fancy Bluerim. "Kemarin terakhir ini Bluerim harganya bisa sampai satu juta per ekor. Itu dari jenis marble, tapi ekornya kayak lukisan," tuturnya.

Mengenai keberagaman warna, Kata Bram, itu disebabkan indukan dan garis keturunan ikan. Untuk mendapatkan warna yang diingini, seorang peternak biasanya akan bereksperimen.

Mungkin awalnya mereka memilih indukan secara acak. Setelah indukan itu memiliki anakan, barulah dipilih warna dan jenis yang diinginkan. Anakan itu akan disiapkan untuk menjadi indukan.

"Jadi misalnya kita punya indukan, terus anaknya ada yang warnanya bagus, nah anakannya itu kita jadikan indukan lagi, begitu terus," ujarnya.

Memijahkan ikan jantan dan betina yang memiliki indukan yang sama, disebut in breeding. Cara ini memiliki dampak positif dan negatif. Negatifnya adalah anakan berpotensi cacat, misalnya tubuh yang bengkok atau sirip yang berbentuk keriting, atau cacat lain.

Sementara sisi positifnya adalah peluang untuk menghasilkan warna yang sama dengan indukannya, akan semakin besar.

Tapi ada kalanya peternak harus melakukan pemijahan crossbreeding, atau memilih indukan yang masih satu nenek tapi beda orang tua alias sepupu.

Ikan CupangIkan Cupang jenis Dumbo R Gold milik Andi Surya Saputra, di peternakan ikan Cupang miliknya, Gang Anggrek, Krapyak Kulon, Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa, 29 Oktober 2019. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Proses Pemijahan Ikan Cupang

Untuk pemijahan ikan Cupang, masing-masing peternak memiliki cara berbeda, meski secara umum proses pemijahannya sama. Perbedaannya biasanya terletak pada pemilihan media tempat sarang atau gelembung busa yang dibuat indukan pejantan.

Menurut Bram maupun Andi, yang harus disiapkan adalah tempat pemijahan. Sebaiknya indukan jantan dimasukkan dalam tempat pemijahan itu terlebih dahulu. Sementara ikan betina, disimpan dalam wadah transparan, misalnya botol kaca, lalu dimasukkan dalam wadah.

Sehari kemudian, setelah ikan jantan dan betina 'saling kenal', ikan betina boleh dimasukkan dalam wadah, agar bercampur dengan jantannya.

"Biasanya kita tunggu dua atau tiga hari, sudah bertelur. Setelah bertelur, betinanya kita ambil. Jantannya menjaga telurnya. Indikasi bahwa sudah bertelur adalah si jantan menunggu di bawah sarang atau gelembung busa. Sementara betinanya menjauh," ucap Andi.

Setelah dua atau tiga hari, telur-telur itu akan menetas, tapi anakannya atau burayak itu belum bisa berenang. Di situlah fungsi lain dari pejantannya, yakni menaikkan anakan ikan atau burayak tersebut ke dalam gelembung agar dapat oksigen. "Prosesnya sekitar tiga hari. Setelah mereka bisa berenang, dipindahkan ke kolam pembesaran," ucapnya. []

Baca cerita lain:

Berita terkait
Loyalitas dan Soliditas Komunitas RX King di Semarang
Komunitas RX King di Semarang coba menghilangkan stigma negatif masyarakat yang selama ini memandang sinis karena motor ini berisik.
Legenda Genderuwo Ki Poleng dan Nyi Poleng di Sleman
Gunung Gamping yang angker di Sleman, dijaga dua genderuwo yaitu Ki Poleng dan Nyi Poleng. Mereka yang menyebabkan kematian Kyai dan Nyai Wirosuto.
Pengrajin Gamelan Tiga Generasi di Sleman
Jemari kedua tangannya mengatur letak kulit kerbau yang akan dipasang pada tabung kayu, untuk dijadikan gendang. Kesibukan di Bondho Gongso Sleman.
0
Gempa M 7,1 di Maluku Utara Berpotensi Tsunami
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini tsunami terkait gempa bumi tersebut.