UNTUK INDONESIA
Loyalitas dan Soliditas Komunitas RX King di Semarang
Komunitas RX King di Semarang coba menghilangkan stigma negatif masyarakat yang selama ini memandang sinis karena motor ini berisik.
Kegiatan sosial yang dilakukan Raja Bersatu, wadah klub RX King di Semarang, Jawa Tengah. (Foto: RB Semarang dan Peking).

Semarang - Knalpot telo dan motor RX King. Dalam dunia otomotif Tanah Air, dua komponen itu menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Perpaduan keduanya belum tentu didapat di motor lain, meski sama-sama berbasis mesin dua tak.

Menunggangi "Sang Raja", sebutan RX King, berknalpot telo sembari sesekali membetot gas menjadi kepuasan berbalut kebanggaan tersendiri bagi pengendaranya dan dianggap prestise, meski ada pula yang nyinyir, menganggap motor ini berisik, bahkan ada yang menyebutnya motor jambret.

Terlepas dari nada-nada sumbang yang muncul, bagi pencintanya, suara yang dihasilkan RX King seolah-olah dapat membawa mereka terbang ke era tahun 1990-an, saat RX King sedang merajai jalanan.

Berbasis sasis kokoh khas motor lelaki, bodi ramping, serta memiliki kecepatan di atas rata-rata yang tak dimiliki motor sekelasnya. Dengan segala keunggulan yang dimilikinya, Sang Raja tak lekang oleh waktu, tetap menjadi idola kaum muda masa kini.

Namun di sisi lain, karena kecepatannya, motor berkapasitas 135 cc ini kerap disalahgunakan para bandit jalanan. Pelaku jambret, begal, copet, kerap beraksi dan kabur menggunakan RX King. Sehingga stigma negatif melekat di diri Sang Raja sebagai motor jambret.

Melawan Stigma Negatif Masyarakat

RX King Semarang 2Launcing Raja Bersatu (RB), wadah klub pecinta RX King Semarang pada 19 November 2017. (Foto: RB Semarang dan Peking)

“Tidak berisik tidak asyik,” ujar Bowo sembari tertawa lepas menanggapi pernyataan RX King menghasilkan suara bising. Warga Tlogosari, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang ini nyantai saja menghadapi nyiyiran tersebut. 

Karena faktanya, menurut dia, RX King dengan knalpot telo memang memiliki power suara yang kuat jika di-bleyer (betot gas sehingga menghasilkan suara keras).

“Mem-bleyer adalah bentuk sapaan kami ke sesama pecinta RX King maupun dengan komunitas motor lain. Tapi kami tahu aturan kok. Depan pasar, depan kantor polisi, rumah sakit, di bangjo adalah beberapa tempat yang haram untuk mbleyer,” ujar pria 42 tahun ini.

Tagar bertatap muka dengan Bowo pada Jumat, 20 September 2019. Dia adalah salah satu pencinta RX King di Semarang, Jawa Tengah. Ayah dua putri ini didapuk menjadi Ketua Raja Bersatu atau RB Semarang, sebuah wadah bagi klub-klub pecinta RX King di Kota Lumpia.

RB dibentuk, tujuannya untuk mewujudkan klub RX King yang lebih santun.

Dia juga Ketua Peking, singkatan dari Pelabuhan King atau sebuah klub RX King yang berbasis di kawasan Pelabuhan Tanjung Emas

Peking adalah satu dari banyaknya klub RX King yang menjamur di RB Semarang. Ada juga King Kong, punya arti King Sam Po Kong atau sebuah klub pecinta RX King yang ber-home base di kawasan Sam Po Kong, Simongan, Semarang Barat. Ada pula 18 klub RX King lainnya yang tergabung dalam RB.

“20 klub RX King tergabung dalam RB. Total anggota ada sekitar 700 pecinta RX King,” tuturnya, diamini pula oleh Ketua King Kong, Purwanto, 50 tahun.

RB dan banyak klub dalam naungannya, menjadi bukti ketidakpedulian para pecinta RX King dengan anggapan miring sebagian masyarakat. “Terlanjur cinta,” ujarnya kalem.

Justru pandangan tersebut, kata dia, termasuk stigma motor jambret, menjadi tantangan bagi segenap anggota RB untuk mengubahnya. “RB dibentuk, tujuannya untuk mewujudkan klub RX King yang lebih santun,” tegasnya.

Dia menceritakan, RB tercetus sekitar dua tahun lalu, tepatnya pada 19 November 2017. Bukan hal mudah untuk menyatukan gerak langkah klub-klub motor meskipun sejenis. Apalagi klub-klub RX King tersebut ada yang sudah lahir jauh hari sebelum munculnya gagasan RB.

“Awalnya banyak yang menanyakan RB itu apa dan kalau masuk ke RB dapat apa. Kami tegaskan RB bukan produk, di mana yang masuk ke RB tidak akan dapat gaji atau apa. Bahwa ini komunitas, komunitas itu pakai hati. Awalnya niat seduluran, berangkat dari hobi dan kecintaan yang sama,” tutur dia.

Inisiasi RB mulai mendapat gayung bersambut kala perwakilan tujuh klub bertemu di acara Ikatan Motor Indonesia (IMI) Semarang. Mereka sepakat merekatkan persaudaraan yang sudah terjalin di masing-masing klub dalam wadah yang lebih besar.

Keberadaan RB juga disepakati tidak menghilangkan identitas klub masing-masing. “Karena ini wadah, jangan pernah melepas baju klub masing-masing, karena ini ciri khas RB, pelangi, beragam warna. Bhinneka Tunggal Ika, beda-beda tapi kami satu,” kata Bowo.

Dia menjelaskan, ada kopi darat (kopdar) di masing-masing klub maupun kopdar gabungan yang digelar sepekan sekali dan tiga bulan sekali. 

“Kopdar klub biasanya dilakukan di tempat mereka biasa kumpul dan nongkrong. Semisal Peking di kawasan Bangkong, King Kong di daerah Sam Po Kong,” ujarnya. 

Sementara untuk kopdar gabungan tergantung dari klub yang ketiban sampur (kena giliran) sebagai tuan rumah.

RX King 3Kegiatan kopdar gabungan klub RX King di wadah Raja Bersatu (RB) Semarang. (Foto: RB Semarang dan Peking)

Di pertemuan rutin, silaturahmi lebih dieratkan seraya menyusun sejumlah agenda sosial. Seperti anjangsana ke panti jompo, yatim piatu, saur on the road bersama pekerja jalanan, pembagian takjil, sudah menjadi agenda rutin komunitas di RB.

Dananya didapat dari iuran anggota. Jumlahnya variatif, tergantung kesepakatan masing-masing klub. Ada yang memberi Rp 5.000, Rp 10.000 per anggota setiap kali mereka bertemu. Khusus di kopdar gabungan, tiap klub iuran Rp 100 ribu.

“Itu semata untuk kegiatan sosial sampai membantu anggota yang lagi tertimpa musibah. Ada pula klub yang menggunakan sisa kas iuran untuk touring. Jadi tergantung kesepakatan di tiap-tiap klub itu,” ujar Bowo

Pelan tapi pasti, dengan sinergi sosial para pencinta RX King, baik lewat klubnya maupun melalui RB, lama-kelamaan membuat stigma negatif motor jambret mulai terkikis di mata masyarakat. 

“Dulu dikenal motornya jambret, buat kejahatan. Karena memang spek mesinnya sudah seperti itu, kenceng larinya, standar balap. Nah itu, kami berupaya mengubah image yang sudah terlanjur melekat, cukup berat,” bebernya.

Jangan pernah urakan di jalan. Jangan pernah merasa jadi penguasa jalan.

Mereka bahkan sempat melakukan sosialisasi tertib berlalu lintas, seperti wajib mengenakan helm dan berperilaku sopan selama berkendara. Hal tersebut intens dibenamkan di tiap benak anggota RB. 

“Jangan pernah urakan di jalan. Jangan pernah merasa jadi penguasa jalan. Main bleyer silakan, tapi harus tahu tempat dan waktu. Semisal di acara anniversary dan jauh dari kawasan permukiman,” ujar pria yang akrab disapa Bowo Peking ini.

Dua hal yang bakal menjadi risiko pribadi dan tidak ada toleransi bagi anggota RB adalah terperosok ke jurang narkoba dan melakukan perbuatan kriminal. 

“Itu ulah oknum, jadi konsekuensi pribadi. Karena komunitas kami dan tentu komunitas motor lain pasti tidak mendukung narkoba dan berbuat kejahatan,” tuturnya.

Merasakan Touring RX King

RX King SemarangAnggota Peking, Pelabuhan King, Semarang, salah satu klub RX King di RB Semarang, tengah touring ke Sarangan, Jawa Timur

Joko Mendil mantap menatap RX King yang terparkir di teras depan rumah, di kawasan Bulu Lor, Semarang Utara. Pria 42 tahun ini lantas pamit ke istrinya yang mengantar hingga pagar rumah. 

Jreeeng, suara mesin khas dua tak berknalpot telo garang terdengar usai kakinya menjejak pedal kick starter.

Siang itu, Sabtu, 7 September 2019, Joko janjian bertemu dengan rekan-rekan sesama pencinta RX King di SPBU Jalan Sultan Agung, depan kompleks Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang. 

Mereka sepakat kumpul sekitar pukul 12.00 WIB. Maka setelah mengecek ulang perbekalan di tas ransel, Joko menuju ke tempat yang telah disepakati.

Tiba di lokasi, ada enam penunggang RX King yang hadir lebih awal. Tak berselang lama, lima rekannya menyusul kemudian. Lengkap sudah 12 orang pencinta RX King berkumpul, seperti yang sudah disepakati sebelumnya di Grup WhatsApp mereka.

Tepat pukul 13.00 WIB, para anggota Klub Pelabuhan King (Peking) Semarang ini beriringan menuju ke arah selatan Semarang. 

Hari itu, mereka merencanakan touring ke kawasan wisata Sarangan di Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Agenda touring wisata sudah menjadi kegiatan rutin setiap tiga bulan sekali.

Di bagian depan, Ketua Peking Bowo dipercayai menjadi leader sekaligus pembuka jalan bagi rombongannya. Sementara Joko Mendil ada di posisi paling buntut, atau dapat dikatakan bertugas sebagai sweeper. Pembagian tugas ini sudah biasa terjadi di kalangan komunitas motor ketika melakoni touring ke luar kota.

Bret…bret…bret… tiba-tiba suara telo Joko menunjukkan gejala tidak beres. Padahal mereka baru sejam melakukan perjalanan, baru masuk Kota Salatiga. 

Diiringi gerak motor yang tersendat. Upaya darurat dengan sesekali membetot gas, mbleyer, dilakukan Joko untuk menstabilkan laju motornya. Sekaligus sebagai kode kepada rekan lain yang ada di depannya.

“Motor ku mbrebet,” teriak Joko begitu melihat sejumlah rekannya menoleh ke belakang.

Tanpa dikomandoki, anggota Peking melambatkan laju motor. Posisi sweeper diganti personil lain. Tak lama, mereka memutuskan berhenti sejenak guna mengecek King Joko. 

Diademke sek wae menowo mesin kepanasen, karo dewe iso leren (Didinginkan saja dulu, mungkin mesinnya terlalu panas sambil kita bisa istirahat),” ujar Bowo kepada rekan-rekannya.

RX King 4Perbaikan darurat di perjalanan touring wisata anggota RX King Semarang. (Foto: RB Semarang dan Peking)

Habis membakar dua batang rokok, memastikan mesin King sudah dingin, Joko mencoba menyalakan motornya. Dan seperti dugaan awal, suara telo terdengar normal, menunjukkan mesin siap digeber lagi. Rombongan pun kembali melanjutkan perjalanan.

Sial, celoteh Joko. Suara mbrebet kembali terdengar dari telo RX King rilisan tahun 1997 itu. Kali ini malah lebih parah, berujung pada matinya mesin. 

Padahal belum mengaspal jauh usai lepas dari Salatiga, baru masuk Boyolali. Anggota Peking lantas berjalan pelan mencari toko onderdil untuk membeli busi baru.

“Padahal sebelum berangkat sudah saya servis. Apa karena magnet sudah saya ganti kimcil (magnet racing) jadi kayak gini?” gerutu Joko yang disambut senyum geli rekan-rekannya.

Uji coba menggunakan busi baru ternyata bisa menstabilkan power mesin. Perjalanan pun berlanjut dan lancar hingga tiba di home stay Kawasan Tawangmangu.

Pada Minggu, 8 September 2019, perjalanan wisata ke Telaga Sarangan lancar tanpa kendala. Sore rombongan memutuskan pulang, bahkan sempat mampir di kawasan Kemuning untuk beristirahat sembari wedangan kopi. Di sini lah awal ujian solidaritas anggota Peking mulai diuji.

Motor Joko kumat, “Mbrebet lagi bro,” kata dia sesaat hendak melanjutkan perjalanan pulang.

Jauh dari perkotaan, tidak ada bengkel, terlebih matahari sudah mulai sayup-sayup bersinar. Bowo pun mengalah. Busi racing motornya ditukar dengan busi standar motor Joko. Jreeeeng, suara King pria berkepala plontos ini terdengar kembali normal.

Dengan kenyataan motor yang kurang sehat, laju pulang diperlambat guna mencegah mesin motor cepat panas. Sayang, sampai di Karanganyar, RX King warna biru itu sudah tak bisa diajak kompromi. Motor tersebut benar-benar mengambek, tak mau menyala meski betis Joko sudah pegal karena terlalu lama mengayun pedal kick starter.

Malam mulai menyelimuti Karanganyar saat itu. Jam juga sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Cari bengkel pada malam hari, apalagi di jalanan yang didominasi kebun dan sawah, jelas tidak mungkin ada.

Cara tradisional dalam kondisi darurat akhirnya diterapkan, teknik mendorong motor dengan kaki yang biasa disebut pancal. Konkretnya, pengendara lain mendorong motor mogok dengan kaki. Sebagai pijakan dorongan, biasanya dipilih footstep bagian belakang di motor yang mogok.

RX King 5Kegiatan sosial yang dilakukan Raja Bersatu, wadah klub RX King di Semarang, Jawa Tengah. (Foto: RB Semarang dan Peking).

Wis kene tak pancale wae (Sudah sini biar saya dorong pakai kaki),” kata salah satu rekan Joko.

Pancal sampai Boyolali bro, kakimu kuat?,” tanya Joko keheranan. Yang ditanyai pun menjawab, ”Wis ndang ra sah kakean takon, selak wengi (Sudah jangan banyak tanyak, terlanjur larut malam nanti).”

Maka perjalanan pulang pada malam itu berlangsung ‘romantis’. Dua RX King saling tempel bak pengantin baru yang enggan berpisah. Sementara motor lain, layaknya pengiring, mengawal dua motor sekaligus menjadi saksi kesetiaan sesama anggota Peking.

Hanya dengan satu kaki, King Joko di-pancal rekannya sampai Boyolali. Jauhnya tidak main-main, hampir 40 kilometer. Tidak ada sepatah kata bernada mengeluh yang keluar dari mulut pecinta King berperawakan sedang itu. 

Di Boyolali, RX King Joko dititipkan di rumah kerabatnya. Lalu dia pulang ke rumah menumpang motor Peking lain.

“Kejadian-kejadian tak terduga semacam ini bisa mempererat persaudaraan sesama anggota komunitas. Dan teknik mancal motor yang mogok memang lazim dilakukan anggota komunitas motor. Biasanya ada satu rekan, dia spesialis, punya kaki kuat buat mendorong motor,” papar Ketua King Kong, King Sam Po Kong, Purwanto menanggapi aksi solidaritas sesama anggota RX King di Semarang. []

Berita terkait
Lima Cara Merawat Ban Motor Agar Awet
Keberadaan ban pada motor atau mobil seringkali disepelekan oleh sebagian orang.
Kuntilanak Intai Pengendara Motor di Semarang
Pengendara motor di Semarang ditampakkan kuntilanak berambut panjang berwajah hitam. Wanita itu mengenakan daster corak batik yang sudah kumal.
Polda Jawa Timur Kembalikan Motornya, Petani Ini Senang
Polda Jawa Timur menggelar Gebyar Expo Penyerahan Barang Bukti kendaraan hasil curian di halamam Mapolda Jatim, Selasa 24 September 2019.
0
Pelaku Investasi Bodong Itu Teroris Ekonomi
Para pelaku penipuan investasi bodong bisa dicap sebagai teroris ekonomi yang banyak memakan korban anak kecil