UNTUK INDONESIA
Pengrajin Gamelan Tiga Generasi di Sleman
Jemari kedua tangannya mengatur letak kulit kerbau yang akan dipasang pada tabung kayu, untuk dijadikan gendang. Kesibukan di Bondho Gongso Sleman.
Seger menguatkan kulit gendang menggunakan baut dan kunci pas, Selasa, 1 Oktober 2019. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Sleman - Wajah pria paruh baya bernama Seger itu tampak serius. Guratan kerut pada wajahnya semakin terlihat. Jemari kedua tangannya mengatur letak kulit kerbau, yang akan dipasang pada tabung kayu, untuk dijadikan gendang.

Itu kesibukannya sehari-hari di lokasi pembuatan kerajinan gamelan 'Bondho Gongso', di Turusan, Banyuraden, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman. Tagar berkunjung ke sini pada Selasa, 1 Oktober 2019.

Di luar ruangan, matahari seperti tepat berada di atas kepala. Teriknya cukup menyengat, meski angin siang bertiup lembut. Udara siang yang gerah seperti tak mengurangi semangat Seger.

Dibantu kedua lutut yang menjepit tabung kayu, Seger meletakkan alat pemasang kulit gendang, kemudian menguatkannya dengan baut.

Sambil mengencangkan keenam baut, Seger menekan-nekan bagian tengah kulit, untuk mengukur kekencangan kulit. Saat ada sisi yang dinilai terlalu kencang, dia melonggarkan baut pada sisi itu, sambil mengencangkan pada sisi lain.

Di sekeliling Seger, puluhan gendang beraneka ukuran tertata rapi. Beberapa di antaranya masih belum dipasangi kulit. Bahkan masih ada berbentuk tabung kayu yang belum dihaluskan.

Pada dinding ruangan, terdapat hiasan dinding berupa ukiran bermotif naga. Sementara pada sisi lain dinding, dihiasi dengan wayang kulit.

Beberapa peralatan, seperti pahat, amplas, dan kunci pas tergeletak di lantai.

Di halaman rumah itu, beberapa tabung gendang yang telah melalui tahap penghalusan dan pewarnaan, dijemur dengan cara diangin-anginkan. Warnanya coklat gelap.

Pak Seger itu memang ahlinya memasang kulit. Kita di sini punya keahlian masing-masing.

SlemanLokasi pembuatan kerajinan gendang \'Bondho Gongso\', di Kecamatan Gamping, Sleman, Selasa, 1 Oktober 2019. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Sekitar dua meter dari tempat Seger memasang kulit gendang, seorang pria lain yang tak mengenakan baju, Punjul, asyik memainkan gendang yang baru saja selesai dipasang.

Suara khas alat musik tradisional Indonesia itu menggema, seiring jemari Punjul yang menari di atas permukaan kulit gendang.

Suara gerinda yang beradu dengan logam di sebelah rumah, seolah mencoba menyaingi dan mengiringi alunan gendang dari Punjul, meski tak padu.

Setelah dirasa hasil karyanya sesuai dengan standar, Punjul menghentikan tabuhannya. Dengan kain lap yang ada, dia membersihkan bagian gendang yang terkena debu Kemudian membawa gendang itu, untuk ditata di samping gendang lain dan beberapa rebana yang telah diselesaikan terlebih dahulu.

Tak berhenti di situ, Punjul kembali mengambil satu unit gendang yang belum selesai dibuat. Lalu dia kembali duduk. Tapi dia tidak langsung bekerja. Tangannya meraih sebungkus rokok kretek, yang terletak tidak jauh dari tempat duduknya.

Punjul menyalakan rokok dan menghisapnya dalam-dalam, sambil memperhatikan gendang di hadapannya dengan saksama, sebelum kemudian menabuh untuk mendengar suara yang dihasilkan.

Harganya di kisaran Rp 800 ribu sampai Rp 2,5 juta.

GendangPermadi memahat kulit sapi untuk dipasang pada gendang, Selasa, 1 Oktober 2019. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Seorang pria lain, Permadi, yang merupakan adik dari pemilik usaha kerajinan gendang dan alat musik tradisional Jawa 'Bondho Gongso', Tri Suko, sedang memahat kulit sapi.

Dia duduk pada dingklik atau kursi kecil dari kayu, kedua kakinya menjepit kulit sapi yang diletakkan di atas balok kayu di lantai.

Tangan kanannya memegang palu berukuran kecil. Sementara jemari kirinya menggenggam pahat, yang juga berukuran kecil.

Perlahan dia mengecilkan ukuran kulit sapi itu, dengan memahat pada pinggiran kulit. Meski tampak mudah dan sederhana, namun membutuhkan ketepatan dan presisi yang tinggi. Jika ukurannya terlalu kecil, kulit sapi itu tidak bisa digunakan lagi.

Kata Permadi, kulit sapi itu dipahat dengan ukuran yang sedikit lebih besar daripada lubang gendang. Nantinya setelah sesuai ukuran, Seger bertugas memasangnya pada tabung gendang.

"Pak Seger itu memang ahlinya memasang kulit. Jadi kita di sini punya keahlian masing-masing," ucap Permadi kepada Tagar.

Bukan hanya memasang kulit pada tabung, Seger juga dipercaya menipiskan kulit yang akan digunakan, karena tidak semua kulit yang sudah disamak, bisa langsung digunakan. Proses penipisan kulit itu membutuhkan ketelitian, agar kulit tidak sampai robek.

Untuk gendang Jawa Barat, kita gunakan kulit kerbau. Untuk gendang Jawa Tengah atau Jogja, kita pakai kulit sapi. Untuk rebana, pakai kulit kambing.

GendangPunjul mencoba gendang buatan \'Bondho Gongso\', Selasa, 1 Oktober 2019. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Permadi menjelaskan, proses pembuatan gendang membutuhkan waktu lebih dari sepekan. Mulai dari melubangi kayu hingga pemasangan kulit.

Proses terlama adalah finishing, yakni mulai dari penghalusan, pengecatan, dan pemasangan kulit. Semua proses itu membutuhkan keterampilan dan ketelitian yang tinggi, agar hasilnya maksimal. Waktu yang dibutuhkan sekitar empat hari.

Meski proses pembuatannya memakan waktu lama serta membutuhkan ketelitian, harga gendang produksi 'Bondho Gongso' tersebut cukup terjangkau.

"Itu tergantung ukuran, Mas. Harganya di kisaran Rp 800 ribu sampai Rp 2,5 juta. Ada tiga ukuran, kecil, sedang dan besar," ujarnya.

Mengenai bahan untuk pembuatan gendang, kata Permadi, pihaknya hanya menggunakan bahan terbaik, kayu maupun kulit.

Untuk bahan tabung gendang, 'Bondho Gongso' memakai kayu pohon nangka. Kayu pohon nangka memiliki kekerasan yang pas, sehingga suara yang dihasilkan pun akan lebih bagus.

Sedangkan untuk kulit gendang, selain menggunakan kulit sapi, pihaknya juga menggunakan kulit kerbau dan kulit kambing, tergantung pada jenis gendang yang diproduksi.

"Kalau untuk gendang Jawa Barat, kita gunakan kulit kerbau. Tapi untuk gendang Jawa Tengah atau Jogja, kita pakai kulit sapi. Untuk rebana, pakai kulit kambing," tuturnya.

Saat ditanya mengenai jumlah kulit gendang yang dihasilkan dari selembar kulit, Permadi mengatakan, jumlah kulit gendang yang dihasilkan tergantung pada besarnya kulit dan cara tukang jagal menguliti.

"Kadang ada yang kurang terampil, jadi ada bagian kulit yang lubang. Kalau begitu jadinya akan lebih sedikit," tuturnya.

Sudah hampir seratus tahun. Ini sudah generasi ketiga.

GendangPermadi, Seger dan Punjul, saat ditemui di lokasi pembuatan kerajinan gendang \'Bondho Gongso\', Selasa, 1 Oktober 2019. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Sementara, untuk pemasarannya, Permadi menyebut, saat ini masih didominasi pemesan dari Yogyakarta dan Jawa Tengah, meski ada juga beberapa pesanan dari luar Jawa, seperti Kalimantan.

Saat ini, usaha kerajinan 'Bondho Gongso' hanya memproduksi alat musik jika ada pesanan saja. Tapi mereka tidak mematok jumlah minimal pemesanan. Pembeli bisa memesan satu unit saja, atau sesuai kebutuhan mereka.

Selain memproduksi dan menjual, 'Bondho Gongso' juga melayani servis atau reparasi alat musik tradisional. Untuk kerusakan pada gendang, kata Permadi, biasanya pada kulit.

"Macam-macam kerusakannya. Mulai dari kulit yang sudah tidak kencang sampai kulitnya robek. Jadi, biaya reparasinya juga beragam, tergantung kerusakan," imbuhnya.

Kata dia, alat musik tradisional buatan 'Bondho Gongso' sudah memiliki pelanggan, karena usaha kerajinan ini sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Tri Suko merupakan generasi ketiga dari pendiri usaha kerajinan gamelan ini.

"Sudah hampir seratus tahun. Ini sudah generasi ketiga. Dulu lokasinya di Taman Sari, tapi kemudian pindah ke sini. Selain gendang ada beberapa alat musik lain, termasuk gong. Intinya alat musik tradisional Jawa," ujarnya.

Meski memproduksi beragam alat musik tradisional, lokasi pembuatan alat musik lain terpisah dari lokasi pembuatan gendang. Tapi jaraknya tidak jauh. Hanya berkisar puluhan meter.

Lokasi pembuatan gong merupakan yang terdekat dari lokasi pembuatan gendang, hanya berjarak sekitar dua rumah.

Permadi melanjutkan pekerjaannya, memahat kulit sapi hingga berbentuk bundar. Sementara, Punjul dan Seger berdiri dan melangkah keluar. Keduanya menuju salah satu rumah milik Tri Suko, untuk makan siang. []

Berita terkait
Irfantoro, Barista Berkursi Roda di Kafe Cupable Sleman
Duduk di kursi roda, memegang secangkir kopi, Irfantoro meluncur menuju sebuah meja di sudut Kafe Cupable di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Paijo, Pemahat Wayang Kulit di Taman Sari Yogyakarta
Di sudut area cagar budaya Taman Sari di Kota Yogyakarta, Paijo khusyuk memahat kulit sapi untuk dijadikan wayang kulit. Ia menjadi tontonan turis.
Pengalaman Bertemu Hantu di Rumah Kontrakan di Sleman
Beberapa biji salak tergantung di sekitar rumah kontrakan itu di Sleman, menandakan ada makhluk astral berupa anak kecil. Dan memang itu terjadi.
0
Himasil Lhokseumawe Galang Dana Kebakaran Pesantren
Himasil Lhokseumawe melakukan aksi galang dana untuk korban musibah kebakaran Pesantren Al-Waliyah Darussalam, Aceh Selatan.