Jakarta, (Tagar 18/3/2019) - Lembaga Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) merilis survei terbaru elektabilitas capres-cawapres jelang Pilpres 2019. Elektabilitas Jokowi-Ma'ruf Amin makin tinggi, Prabowo-Sandi terpuruk.

Dalam survei ini terungkap bila capres-cawapres nomor urut 01 Jokowi-Ma'ruf Amin unggul telak di angka 57,5 persen, sementara capres-cawapres nomor urut 02 Prabowo-Sandiaga sebesar 31,8 persen.

Menanggapi hal itu, Direktur Media dan Komunikasi Badan Pemenangan Nasional (BPN), Hashim Djojohadikusumo mengungkap jika elektabilitas capres-cawapres nomor urut 02 Prabowo-Sandiaga waktu ke waktu menunjukkan tren positif.

Bahkan, kata dia, ada survei yang menunjukkan elektabilitas mantan Danjen Kopassus telah mengungguli pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Jokowi-Ma'ruf Amin.

Namun, pihaknya tidak jemawa, maka itu akan lebih intensif lagi turun ke bawah menyapa rakyat serta memanfaatkan kampanye melalui media massa. Ia mengaku optimis untuk makin menggencarkan strategi di masa waktu yang makin singkat ini.

ElektabilitasElektabilitas Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo-Sandi. (Infografis: Tagar/Rully Yaqin)

"Sudah ada beberapa survei kami yang mendekati 01, ada justru yang melebihi, melampaui. Kami pakai beberapa survei," ucap Hashim di Kantor Komisi Pemilihan Umum, Jakarta (11/3).

"Kami akan intensif ke rakyat, sampai ke akar rumput, saya kira begitu. Terus nanti terus terang saja kami nanti lewat media massa," tutur adik bungsu Prabowo.

Sementara itu, mantan istri Prabowo, Titiek Soeharto menargetkan bila pulau Sumatera nantinya, akan menjadi lumbung suara utama bagi Prabowo-Sandi.

Lebih lanjut ia menerangkan, suara di pulau Jawa adalah yang terpenting untuk kemenangan capres oposisi di Pilpres 2019 ini.

"Jawa yang paling penting buat kita, InsyaAllah Sumatera sudah di tangan," kata Titiek.

Ia makin optimis, lantaran survei internal BPN menunjukkan hasil positif meningkatnya pemilih di pulau Jawa. Selain itu ia kemukakan juga bahwa suara paslon nomor urut 02 di Indonesia bagian timur juga makin meningkat.

"Kita sudah cukup meningkat cukup tinggilah," tandasnya.

Survei Internal BPN

Juru debat BPN Viva Yoga Mauladi menjelaskan perihal survei internal yang dilakukan BPN. Dia menyebut, responden dalam surveinya terakumulasi dari sejumlah daerah pemilihan, dari survei dapil, lalu dibakukan menjadi survei nasional.

"Jadi survei nasional yang ditarik menjadi survei dapil-dapil, dan survei dapil yang ditarik terakumulasi jadi survei nasional. Jadi misalnya kalau di kami ini jumlah respondennya adalah 32.460, itu adalah merupakan hasil survei dapil-dapil. Kemudian akumulasi dari hasil survei dapil itu menjadi survei nasional. Beda dengan hasil survei nasional yang jumlah respondennya relatif lebih kecil," kata Viva didepan awak media, di Jakarta, beberapa hari lalu.

Dia mengklaim, metode survei internal BPN akan menentukan kualitas dari validasi dan akurasi survei. Namun, menurut Viva, saat ini politik sudah diarahkan ke arah yang rasional.

"Artinya menggunakan lembaga survei adalah salah satu bukti bahwa politik ini serba terkuantitatifkan, serba-rasional. Ditentukan oleh beberapa indikator, terhadap respons sosial, respons publik terhadap pasangan calon maupun terhadap caleg dalam pemilu ini," jelasnya.

"BPN masih optimistis. Masih ada sisa waktu karena kita lihat fenomena yang terjadi, adanya kesadaran politik masyarakat, kemudian respons masyarakat terhadap pasangan 02," tutup Viva. []

Baca juga: