Jakarta, (Tagar 20/3/2019) - Pasangan calon nomor urut satu (01) Jokowi-Ma'ruf Amin mendapatkan elektabilitas lebih tinggi yakni 57,6 persen, ketimbang Prabowo-Sandiaga yakni 31,8 persen, sedangkan 10,6 persen menyatakan tidak tahu atau rahasia, dalam survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dilakukan 24 Februari-5 Maret 2019.

Artinya menurut hasil survei bila pilpres diadakan di saat survei berlangsung, maka kemungkinan besar pasangan nomor urut satu (01) akan memenangkannya dengan selisih sekitar 26 persen.

Lantas, apakah mungkin elektabilitas Jokowi-Ma'ruf Amin yang sudah unggul lebih dari 20 persen itu berbalik dalam 30 hari kedepan?

Direktur Program SMRC Sirojuddin Abbas mengungkapkan, kenyaataannya kecil sekali peluang untuk paslon nomor urut dua (02) Prabowo-Sandi menyalip elektabilitas paslon nomor urut satu (01) Jokowi-Ma'ruf Amin dalam tiga puluh hari kedepan.

"Dalam sebulan terakhir ini, sangat-sangat kecil kemungkinannya peluang  bagi Prabowo untuk bisa mendekati Jokowi," bebernya saat wawancara khusus dengan Tagar News di Kantor SMRC, di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (19/3)

Apalagi dilihat dari elektabilitas dalam survei SMRC tiga bulan terakhir, Jokowi-Ma'ruf Amin cenderung bertengger diatas 50 persen. Sementara, Prabowo-Sandi masih stagnan di angka 29-32 persen. 

"Dalam periode itu ternyata tidak terlihat ada perbaikan, 29 paling tinggi 32 sekarang turun lagi 31 sekian," sambungnya.

Artinya, dalam kurun waktu tiga bulan kebelakang, atau malah sejak kampanye resmi dimulai, program kampanye Prabowo-Sandi tidak berhasil meraih simpati publik.

"Itu artinya program kampanye mereka tidak berhasil menaikan kepercayaan publik ke Prabowo Sandi atau tidak bisa juga berhasil menggeser pemilih Jokowi untuk berpindah ke Prabowo-Sandi," jelas dia.

Kalau paslon nomor urut dua (02) sedianya ingin mendekati elektabilitas paslon nomor urut satu (01), harusnya dilakukan sejak periode kampanye resmi dimulai. Sejak itu pula, seharusnya Prabowo-Sandi menunjukan ada perbaikan signifikan.

Jadi, kecil peluang untuk Prabowo memperbaiki elektabilitasnya dalam waktu singkat. "Tidak, tidak mungkin dalam kondisi normal seperti ini ga akan terkejar," kata dia.

Pengecualian Kemenangan Prabowo-Sandi

Jika keadaan negara masih cenderung normal dan stabil seperti sekarang, kemungkinan elektabilitas Jokowi-Ma'ruf masih akan stabil 30 hari kedepan. Kecuali, ada peristiwa yang menimbulkan dampak besar secara nasional, semisal terjadi dua hal.

"Kecuali ada sesuatu yang luar biasa, tiba-tiba ada bom atom meledak disini, dan pemerintah tidak berbuat apa-apa," urainya.

"Atau jika terjadi sesuatu yang luar biasa itu krisis dalam sebulan sehingga masyarakat jatuh miskin semua seperti 98," tambahnya.

Kalau tidak ada kejadian yang seluar biasa itu, ia perkirakan tidak akan mengubah peta dengan serius, yang sebenarnya kejadian luar biasa itu tidak akan terjadi dalam kurun waktu satu bulan ini.

Meskipun pada 24 Maret mendatang mulai kampanye terbuka, tetap saja kecil peluang Prabowo-Sandi mengejar. Pasalnya, Jokowi-Ma'aruf Amin pun melakukan hal sama pada saat itu.

"Kecuali tim Jokowi-Ma'ruf Amin berhenti tidak melakukan kampanye sama sekali dan dia kampanye sekalian mungkin bisa mendekati, tapi saya tidak yakin juga akan menang," papar pria yang meraih gelar Ph.D.dalam bidang pem-bangunan sosial dari University of California, Berkeley, Amerika Serikat tersebut.

Dengan gap elektabilitas Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga yakni sekitar 26 persen, artinya kecil peluang Prabowo untuk mengalahkan Jokowi. 

"Kecil sekali peluangnya untuk Prabowo bisa mengalahkan Jokowi dalam posisi saat ini," imbuhnya.

Sehingga, apakah dengan elektabilitas sekarang apakah ada kemungkinan Jokowi-Ma'aruf Amin bisa menang di Pilpres 2019?

"Itu sudah jelas kelihatan, tidak usah ditanya lagi," pungkasnya. []

Baca juga: