Indonesia
Setan Gundul, Ancaman Demokrat Keluar Kubu Prabowo
Wasekjen Partai Demokrat mengancam partainya akan keluar dari kubu Prabowo jika kemauan setan gundul terus dituruti.
SBY-Prabowo Jalan Buntu? | Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kiri) berjabat tangan dengan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (kanan) usai pertemuan tertutup di kediaman Prabowo, Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Senin (30/7/2018). Partai Demokrat resmi berkoalisi dengan Partai Gerindra dalam Pilpres 2019. (Foto: Antara/Sigid Kurniawan)

Jakarta - Wakil Sekjen Partai Demokrat Andi Arief mengkritik klaim kemenangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sebesar 62 persen. Menurutnya, ada setan gundul yang membisikan informasi sesat terkait klaim besaran suara Pilpres 2019 untuk paslon nomor urut 02.

Andi mengancam Partai Demokrat akan hengkang dari kubu Prabowo-Sandiaga jika kemauan setan gundul terus dituruti. Hal itu dikatakan Andi dalam akun resmi Twitternya pada Senin 6 Mei 2019.

Jika Pak Prabowo lebih memilih mensubordinasikan koalisi dengan kelompok setan gundul, Partai Demokrat akan memilih jalan sendiri yang tidak khianati rakyat.

Awal Cerita "Setan Gundul"

Politikus Partai Demokrat ini bercerita lewat Twitter soal setan gundul yang dinilainya menghancurkan Koalisi Adil Makmur pengusung Prabowo-Sandiaga di Pilpres 2019. Adapun gabungan partai itu adalah Partai Gerindra, Partai Demokrat, PKS, PAN dan Partai Berkarya.

"Gerakan rakyat itu hancur lebur karena setan gundul memberi info sesat 02, menang 62 persen. Tidak ada people power berbasis hoaks," cuitnya pada 6 Mei 2019.

Menurut Andi Arief, informasi sesat mengenai klaim angka kemenangan Prabowo- Sandiaga sebesar 62 persen versi hitungan internal BPN membuat Partai Demokrat kecewa. Patah arang Partai Demokrat bukan pada Prabowo, tetapi pada setan gundul.

"Kemarahan tumpahkan pada yang memberi info menjerumuskan bahwa 02 memang 62 persen," cuit Andi pada 5 Mei 2019.

"Partai Demokrat ingin menyelamatkan Pak Prabowo dari perangkap sesat yang memasok angka kemenangan 62 persen," tambahnya.

Menurut Andi Arief, setan gundul muncul dalam perjalanan Koalisi Adil Makmur mengusung Prabowo-Sandiaga. Seiring waktu, setan gundul mulai membisikan informasi sesat yang akhirnya mendeklarasikan kemenangan paslonnya sebesar 62 persen.

"Dalam perjalanannya muncul elemen setan gundul yang tidak rasional, mendominasi dan cilakanya Pak Prabowo mensubordinasikan dirinya. Setan gundul ini yang memasok kesesatan menang 62 persen," cuit Andi.

Jika akhirnya Prabowo keras hati menuruti setan gundul, kata Andi, maka tidak ada pilihan lain untuk Partai Demokrat untuk keluar dari Koalisi Adil Makmur.

Setan Gundul Dipertanyakan PKS

Wakil Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Hidayat Nur Wahid (HNW), tidak mengerti konteks "setan gundul" yang disebut Andi Arief dalam Twitternya. Terkait itu, HNW meminta partai berlambang mercy itu melihat kembali ke belakang terkait 62 persen suara yang dideklarasikan Prabowo pernah didengungkan internal Partai Demokrat.

"Tentang 62 itu publik itu kan sudah baca, bahwa di internal Demokrat survei mereka menyebutkan bahwa Prabowo menang dengan 62 persen," ujarnya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin 6 Mei 2019.

"Apakah ini yang dimaksudkan oleh Pak Andi Arief? Saya tidak tahu," tanya dia.

Karena tidak mengerti maksud cuitan Andi yang sesungguhnya, HNW pun meminta Andi untuk tidak sembarang melontarkan pernyataan kontroversial. Atau paling tidak, sebelum mencuit, menyelesaikan permasalahan di internal terlebih dahulu jika memang ada.

"Lagi-lagi beliau harus menjelaskan. Jadi kalau menurut saya sekali lagi dalam partai berkoalisi lebih baik, Andi Arief kalau masalah-masalah yang kontroversial itu selesaikan ke dalam, klarifikasi ke dalam, bagaimana permasalahannya, dari mana angka 62 persen dan sebagainya," papar Wakil Ketua MPR ini.

HNW kemudian menampik tuduhan jika partainya yang berada dalam koalisi Prabowo disangkut negatif. Menurutnya PKS partai legal yang memiliki pengalaman panjang dalam dinamika perpolitikan di Indonesia dan patuh dari sisi hukum.

"Kami di koalisi Prabowo-Sandi, kami itu bukan koalisi 'setan gundul', bukan koalisi setan gondrong. Kami koalisi bermartabat," tegasnya.

HNW pun mengajak Andi Arief untuk tidak mengembangkan spekulasi publik dan mengedepankan kebenaran. Karena, PKS sedang disibukan menjaga penghitungan suara dari kecamatan menuju kabupaten dan kota.

Terlebih, lanjut Andi, hubungan Partai Demokrat dengan Koalisi Adil Makmur sampai hari ini masih baik. Tidak ada perkara meninggalkan dan ditinggalkan dalam koalisi pengusung paslon Prabowo-Sandi.

"Sampai hari ini yang kita dengar dari beberapa individu dari Demokrat yang mengatakan bahwa bukan adat kami meninggalkan teman perjuangan, itu juga dinyatakan oleh tokoh dari Demokrat. Ada mengatakan justru Pak AHY ketemu Pak Jokowi untuk menegaskan posisi AHY dan Demokrat, bersama dengan Prabowo-Sandi," cuitnya.

Demokrat Bantah Pernyataan PKS

Terkait pernyataan HNW, Ketua DPP Partai Demokrat Jansen Sitindaon membantah 62 persen suara yang disebut-sebut dalam polemik ini juga diamini Partai Demokrat. Ia meminta HNW memutar kembali video deklarasi kemenangan Prabowo agar terang, kemunculan sumber angka 62 persen itu.

"Aduhh.. dapat data dan informasi darimana itu pak Hidayat Nur Wahid ya? Kok malah menuduh sumber 62 persen kemenangan Pak Prabowo itu dari Demokrat? Harus kami tegaskan tidak benar sama sekali pernyataan Pak HNW itu. Demokrat tidak pernah menyatakan itu," tegasnya kepada wartawan, Senin 6 Mei 2019.

Menurutnya, dia hanya mengakui Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono lah satu-satunya yang mampu memperoleh suara tertinggi sampai 60 persen di Pilpres 2004. Jadi mana mungkin, Partai Demokrat menyatakan capres lain mampu menandingi perolehan suara SBY dalam kontetasi pilpres.

"Tidak mungkin kami mengatakan Prabowo menang 62 persen di pemilu kali ini. Bahkan untuk incumbent Pak Jokowi pun kami mengatakan hal yang sama, tidak mungkin Pak Jokowi akan menang di Pemilu ini diatas 60 persen," urai dia.

Karena Partai Demokrat merasa tidak pernah memberikan data internal, kata Jansen, Andi Arief kemudian angkat suara. Dia berkicau soal setan gundul yang membisikan angka kemenangan 62 persen Pilpres 2019 kepada Prabowo.

"Itu maka Andi Arief mengatakan ada 'setan gundul' yang menurutnya memberikan informasi sesat kepada pak Prabowo terkait angka 62 persen itu. Dan itu pasti bukan Demokrat," jelasnya.

Meski kritis, lanjut Jansen, Partai Demokrat tetap berkomitmen bersama koalisi Prabowo-Sandi, diikuti ikut mengawal secara konstitusional seluruh tahapan Pemilu 2019, apapun hasilnya.

Hanya saja, Partai Demokrat tidak akan mendeklarasikan kemenangan tanpa berbasis data. Karena menurutnya Partai Demokrat sadar, politik adalah ruang publik yang dilihat dan dinilai semua orang.

"Karena DNA partai Demokrat sejak dulu adalah rasional, berbasis data dan selalu menyampaikan apa yang sebenarnya. Jadi tidak mungkin kami menyampaikan hal yang tidak benar hanya untuk menyenangkan seseorang padahal faktanya tidak," pungkasnya.

Baca juga: 

Berita terkait
0
Rusuh di Manokwari, Tidak Ada Sweeping Orang Jawa
Kerusuhan terjadi di Manokwari dalam kerusuhan massa membakar gedung DPRD Papua Barat. Akibat pembakaran sejumlah ruas jalan ditutup.