UNTUK INDONESIA
Sekarang Pria Wanita Bisa Bercampur di Arab Saudi
Pemerintah Arab Saudi membuat terobosan menabrak aturan sosial. Pria dan wanita tidak wajib melewati pintu berbeda saat memasuki restoran.
Ilustrasi - Restoran. (Foto: Pixabay/Free-Photos)

Riyadh - Pemerintah Arab Saudi untuk ke sekian kali membuat terobosan menabrak aturan sosial, yaitu bagi pria dan wanita tidak wajib melewati pintu berbeda saat memasuki restoran. 

Sebelumnya di negara tersebut berlaku aturan pemisahan berdasarkan gender, laki-laki dan perempuan wajib melewati pintu berbeda saat masuk restoran.

Pengumuman tersebut disampaikan Kementerian Urusan Kota dan Perdesaan di Twitter seperti diberitakan Antara, Selasa, 10 Desember 2019.

Restoran masih bisa memberlakukan pemisahan pintu masuk.

Juru bicara kementerian yang dihubungi Reuters tidak menentukan apakah pemisahan tempat duduk di dalam restoran juga akan dihapus. 

"Aturan yang baru tidak wajib, artinya restoran masih bisa memberlakukan pemisahan pintu masuk jika pemilik memilih melakukannya," ujar juru bicara tersebut.

Tidak ada pengumuman perubahan terhadap fasilitas masyarakat lain seperti sekolah dan rumah sakit, yang tampaknya akan tetap terpisah untuk saat ini.

Sejak lama di negara ini, pria dan wanita yang tidak memiliki ikatan dilarang berbaur di tempat umum. Hal ini berdasarkan aturan sosial yang pernah diterapkan oleh ulama garis keras dan polisi agama.

Putra Mahkota Mohammed bin Salman mengobrak-abrik aturan tersebut. Ia menampilkan wajah moderat, memberikan kelonggaran kepada perempuan untuk berkegiatan.

Arab Saudi adalah negara berbentuk kerajaan yang tergolong relatif baru dibandingkan negara monarki lain di dunia yang telah berusia seratusan tahun. Terbentuk pada 23 September 1932, Arab Saudi sudah memiliki tujuh raja.

Arab Saudi sering disebut sebagai negara yang bersikap kurang adil terhadap hak-hak perempuan. Dalam Global Gender Gap Report 2016 yang diterbitkan oleh World Economic Forum, misalnya, Arab Saudi berada di deretan terbawah, tepatnya pada peringkat 141 dari 144 negara.

Akhir tahun 2016, sekelompok gerakan perempuan Arab Saudi menggelar kampanye agar pemerintah Saudi mengakhiri kebijakan 'sistem pengawalan' yang mencegah perempuan melakukan tugas penting tanpa perlu meminta izin kepada kerabat pria atau muhrimnya.

Kesenjangan gender yang terjadi di Saudi antara lain tampak dari sejumlah batasan atau larangan terhadap kaum perempuan di negeri itu. Beberapa batasan itu misalnya saja larangan menyetir bagi perempuan.

Ada beberapa hal yang berubah ketika Raja Salman memegang pucuk kepemimpinan.

1. Menyetir Mobil

Tak ada aturan resmi yang melarang perempuan Arab Saudi untuk menyetir mobil, tapi para ulama telah mengeluarkan fatwa bahwa pengemudi perempuan dianggap melecehkan nilai sosial.

Walau bukan merupakan larangan paten, akan tetapi larangan ini awalnya menjadi batas wanita untuk melakukan berbagai hal dengan mandiri. Terutama bagi perempuan yang harus membeli suatu barang atau keperluan.

Pada tahun 2011, para perempuan Arab Saudi membuat petisi agar mereka diperbolehkan mengemudi tapi gagal.

Sementara itu, opini Arab News yang ditulis wartawan Talal Alharbi mengatakan perempuan diperbolehkan mengemudi selama hanya mengantarkan anak-anak ke sekolah atau kerabat ke rumah sakit.

Baru-baru ini, miliarder sekaligus pangeran Arab Saudi mengambil sikap untuk melawan peraturan 'turun-menurun' negerinya yang melarang perempuan untuk mengemudi.

Pangeran Alwaleed bin Talal, anggota keluarga kerajaan, menulis empat halaman opini di website pribadi yang dia kaitkan ke Twitter-nya. Di situ, Pangeran Alwaleed mengatakan, bahwa sudah saatnya para perempuan Arab Saudi mengemudi mobilnya sendiri.

Menurutnya larangan negara itu adalah "pelanggaran fundamental atas hak-hak wanita," demikian seperti dikutip dari Chicago Tribune.

Tagar memewawancarai seorang perempuan yang pernah tinggal di Arab Saudi. Namira, mengaku lebih menyukai tinggal di Indonesia. Sebab menurut dia tinggal di Indonesia jauh lebih bebas.

"Kalau dibanding tempat tinggal dulu, saya lebih memilih di sini. Kalau di sana kan terbatas, mau pergi juga sepi suasananya beda dengan di sini," kata Namira kepada Tagar, 28 Agustus 2019.

2. Boleh Masuk Stadion

Kejadian tak terlupakan ketika Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kerajaan Arab Saudi tahun lalu. Dilansir Reuters, ratusan perempuan terlihat memadati King Fahd International Stadium, Riyadh, untuk menyaksikan pagelaran konser serta pertunjukan opera perayaan HUT Kerajaan Saudi itu.

Sebelumnya, Arab Saudi memberlakukan larangan bagi perempuan untuk datang ke konser, bioskop, dan tempat-tempat ramai lainnya, termasuk stadion.

3. Boleh Mengikuti Pemilu

Untuk pertama kalinya dalam sejarah kerajaan, lebih dari 900 perempuan berkampanye untuk memperebutkan jabatan publik alias kursi pemerintahan di Arab Saudi. 

Peristiwa bersejarah itu digelar pada 12 Desember 2015. Berbeda dengan di Indonesia, dalam jabatan di eksekutif maupun legislatif, pemerintah justru mewajibkan ada keterwakilan wanita di setiap kepemimpinan lembaga.

Di Arab Saudi, langkah tersebut terbuka sejak 2011, sesuai dengan perintah dari almarhum Raja Abdullah yang memberikan wanita peluang untuk partisipasi politik di kerajaan ultrakonservatif itu.

Sesuai pernyataan Departemen Luar Negeri Arab Saudi, Abdullah mengeluarkan dekrit kerajaan pada 2013 untuk mandat Dewan Konsultasi, badan penasihat yang ditunjuk raja, setidaknya 20 persen perempuan. Dan perempuan-perempuan di Arab Saudi pun diizinkan mendaftar menjadi pemilih.

4. Olahraga

Di Arab Saudi kaum perempuan dilarang berolahraga. Apa pun jenisnya terlebih untuk olahraga air yaitu berenang.

Namun, pada 2012 ada dua atlet perempuan turut dalam Olimpiade London. Kala itu, para ulama menyebut mereka tak lebih dari pekerja seksual.

Pada Olimpiade Rio, kerajaan mengirim empat atletnya. Dan baru-baru ini Arab Saudi berencana membuka gym atau pusat kebugaran khusus perempuan di setiap lingkungan. Hal tersebut dinilai sebagai langkah kecil kerajaan itu menuju kemerdekaan perempuan.

Namun gym tersebut bertujuan untuk memotivasi perempuan untuk menjadi lebih sehat. Menurut organisasi kesehatan CDC, obesitas lebih banyak diderita perempuan dibanding laki-laki di Arab Saudi.

Wakil Presiden untuk Urusan Perempuan di Otoritas Umum Olahraga, Putri Reema binti Bandar, mengatakan kepada surat kabar Okaz bahwa Arab Saudi akan mulai memberikan izin gym khusus perempuan pada akhir Februari 2019.

5. Pendidikan

Dalam beberapa tahun terakhir telah terjadi peningkatan perempuan Arab Saudi untuk mendaftar ke universitas dan bergabung dengan tenaga kerja.

Visi Saudi 2030 menyebut road map untuk ekonomi dan pertumbuhan menyebut meningkatkan akses pendidikan dan olahraga bagi perempuan. []

Baca tulisan lain:

Berita terkait
Arab Saudi Gelar Laga Gulat Wanita Pertama Kali
Pertama kalinya dalam sejarah Kerajaan Arab Saudi, pertandingan gulat putri akan diadakan di negara di Timur Tengah tersebut.
Bukan Muhrim Boleh Sekamar Hotel di Arab Saudi
Bukan muhrim, tidak ada ikatan suami istri, boleh sekamar hotel di Arab Saudi.
Lima Kelonggaran untuk Perempuan di Arab Saudi
Kepemimpinan Raja Salman bin Abdulaziz dianggap lebih moderat karena membawa dampak positif bagi kaum hawa di Arab Saudi.
0
Terindikasi Corona, Risma Tolak Viking Sun Sandar
Sementara Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meminta adanya pemeriksaan ulang terhadap seluruh penumpang Viking Sun sebelum sandar.