Sejarah dan Fungsi Cuci Tangan Cegah Penyakit Infeksi

Pandemi corona membuat metode cuci tangan kian populer. Berikut cerita sejarah dan fungsi cuci tangan dalam mencegah penyakit infeksi.
Ilustrasi Mencuci Tangan. (Foto: Pixabay.com)

Jakarta - Pandemi virus corona atau Covid-19 baik secara disadari atau tidak, membuat metode cuci tangan sebagai upaya pencegahan berbagai penyakit infeksi semakin populer dan gencar dilakukan. Metode ini memang menjadi salah satu cara yang sederhana dan efektif untuk mencegah penularan penyakit seperti diare dan termasuk Covid-19.

Dilansir dari laman theconversation, Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan serta Kepala Program Studi Magister Biomedik di Universitas katolik Indonesia Atma Jaya Soegianto Ali menjelaskan sebuah riset di kalangan anak kelas 6 sekolah dasar di Bandung telah membuktikan manfaat mencuci tangan bisa mengurangi infeksi bakteri E.coli (karena cemaran tinja) dan menaikkan status gizi pada anak-anak tersebut. Status gizi menjadi lebih baik lantaran kasus gangguan saluran pencernaan dan infeksi saluran pernapasan lebih jarang terjadi.

Meski di Indonesia metode cuci tangan sudah dikenalkan sejak pendidikan dini melalui program Pola Hidup Bersih Sehat (PHBS) di sekolah, nyatanya tak sedikit yang melakukannya dengan benar. Bahkan, banyak yang tidak mempraktikkan cuci tangan.

Sebuah riset di Kalikedinding Kenjeran Kota Surabaya, dari sampel 70 orang menunjukkan sebanyak 74 persen pengetahuan cuci tangan yang baik tetapi belum diikuti dengan perilaku yang baik juga. Dari angka tersebut, ternyata hanya sekitar 23 persen yang mencuci tangan memakai sabun dengan langkah-langkah yang dianjurkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Selain menganjurkan mencuci tangan dengan giat, ternyata juga perlu memberikan informasi mengenai cara mencuci tangan dengan baik dan benar. Ini bertujuan agar manfaat dari cara perlindungan diri ini lebih optimal.

Cara Mencuci Tangan yang Benar dan Berdampak

Ide mencuci tangan pertama kali dicetuskan oleh dokter di Hungaria, Ignaz Philipp Semmelweis, pada pertengahan abad ke-19. Dia menganjurkan para dokter mencuci tangan untuk menekan angka kematian akibat infeksi pada persalinan.

Alhasil, angka kematian pada pasien yang melahirkan di sana turun 13-18 persen menjadi sekitar dua persen. Ini menjadi penurunan kasus penyakit yang luar biasa.

Namun, ide tersebut sebelumnya ditolak oleh banyak orang lantaran Semmelweis tidak mempublikasikan konsep cuci tangan secara baik. Setelah itu, keberadaan mikroba baru berhasil dibuktikan dua dekade kemudian oleh Roberth Koch (Jerman) dan Louis Pasteur (Prancis).

Sekarang ini metode cuci tangan diakui efektif guna membunuh mikroorganisme dan mencegah penyakit menular. Selain manfaatnya berguna untuk pencernaan, ternyata juga berguna untuk penyakit kulit dan saluran pernapasan.

Peraturan dan praktik mencuci tangan menjadi salah satu kriteria penilaian dalam proses akreditasi rumah sakit di Indonesia. Cuci tangan juga dijadikan parameter guna mengurangi risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan di rumah sakit.

Berkaitan dengan pandemi, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menerbitkan Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 yang menyarankan mencuci tangan guna mencegah penularan virus Corona, diikuti dengan penggunaan masker, jaga jarak, dan tidak menyentuh bagian wajah pada Maret 2020 lalu. Metode ini kian relevan selama belum ditemukannya vaksin dan obat-obatan untuk Covid-19, serta banyaknya orang tanpa gejala (OTG) yang bisa menularkan kepada orang di sekitarnya.

Pencegahan Corona akan lebih optimal jika mencuci tangan dilakukan dengan baik dan benar, seperti menggunakan air mengalir dan sabun selama 40-60 detik. Berikut langkah mencuci tangan sesuai anjuran Kemenkes menurut WHO:

  • Basahi tangan, gosokkan sabun, kemudian gosok kedua telapak tangan dengan arah memutar.
  • Usap dan gosok kedua punggung tangan secara bergantian.
  • Gosok juga sela-sela jari sampai bersih.
  • Bersihkan ujung jari bergantian dengan posisi mengunci.
  • Gosok dan putar kedua ibu jari secara bergantian.
  • Letakkan ujung jari ke telapak tangan, gosok bergantian secara perlahan, lalu bilas dengan air.

Dalam metode tersebut, sabun berperan penting guna melarutkan lapisan lemak, termasuk yang dikandung pada selubung virus dan dinding bakteri. Sedangkan air mengalir berguna untuk membilas virus atau bakteri yang tersisa di permukaan tangan.

Cuci Tangan Cegah Diare dan Infeksi Saluran Napas

Sebuah riset di Jember dengan melibatkan responden sebanyak 300 anak SD menemukan korelasi sangat kuat antara mencuci tangan dan kasus diare. Semakin baik cara mencuci tangan, tentu akan memperkecil risiko terjadinya diare.

Serupa di Jember, riset di Sidoarjo dengan sampel 58 ribu ibu yang memiliki anak berusia di bawah lima tahun, menemukan adanya manfaat mencuci tangan. Dalam riset tersebut, nyatanya menunjukkan mencuci tangan yang kurang baik dari seorang ibu sangat berhubungan erat dengan terjadinya diare pada balitanya.

Sementara dalam riset di Semarang dengan sampel 128 anak, ditemukan adanya hubungan antara perilaku mencuci tangan yang kurang baik dengan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Secara tidak sadar, orang sering menyentuh bagian wajah termasuk hidung dan mulut, tetapi dengan mencuci tangan, mikroba yang menempel di tangan bisa dihilangkan, sehingga kejadian ISPA berkurang. Riset lainnya juga membuktikan cuci tangan mampu berdampak pada terjadinya penurunan kasus cacingan.

Perlu Dukungan Banyak Pihak

Selama pandemi Covid-19, imbauan mencuci tangan sudah seharusnya diikuti masyarakat secara responsif. Bahkan bisa dilihat terjadinya peningkatan harga masker dan hand sanitizer yang sempet menjadi barang langka pada awal pandemi.

Penggunaan hand sanitizer memang bisa menjadi alternatif saat bepergian atau minimnya fasilitas mencuci tangan dengan air dan sabun. Namun, cara ini tetap kurang efektif pada tangan yang sangat kotor, sehingga belum sepenuhnya bisa menggantikan mencuci tangan dengan sabun.

Kini tak sedikit sejumlah relawan dan donatur telah menyediakan sarana cuci tangan di berbagai tempat seperti pasar, toko. Bahkan, tempat belanja juga menyediakan hand sanitizer bagi pengunjungnya. Ini bertujuan untuk menjaga kebersihan setiap orang.  

Perubahan perilaku tersebut dalam menjaga kebersihan tangan menjadi hal yang positif dan perlu dijaga setelah pandemi nanti. Sehingga diperlukan adanya riset berskala besar guna mengukur penurunan kejadian berbagai infeksi lainnya sebagai pertanda efektifnya kebiasaan cuci tangan saat pandemi virus Corona. []

Baca Juga:

Berita terkait
3 Penyakit Penyerta Covid-19 Berisiko Kematian
Terdapat tiga penyakit penyerta Covid-19 yang berisiko terjadinya kematian, seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung. Ini penjelasannya.
Risiko Menurunkan Masker ke Dagu Selama Corona
Tak sedikit orang yang masih salah menggunakan masker seperti menurunkannya ke dagu. Hal tersebut bisa meningkatkan risiko terpapar virus Corona.
Risiko Olahraga Pakai Masker di Era New Normal
Meski masker bisa meminimalisir penyebaran virus Corona atau Covid-19, alat pelindung wajah ini bisa berdampak buruk saat berolahraga.
0
26 Pemain untuk Satu Tim di Piala Dunia FIFA 2022 Qatar
FIFA telah menyetujui 26 pemain untuk Piala Dunia FIFA 2022 tahun ini di Qatar yang merupakan perluasan dari 23 pemain sebelumnya