UNTUK INDONESIA
Rumah Kosong Dihuni Jin Pattirokanja di Bantaeng
Rumah kosong di Jalan Sungai Bialo II Kampung Mappilawing, Kecamatan Mallilingi, Kabupaten Bantaeng, Provinsi Sulawesi Selatan mendadak horor.
Bagian depan rumah Bu Suri yang berbatasan langsung dengan rumah Daeng Ngitung, tepatnya ruang keluarga Akbar yang suka baring di sana tengah malam dan paling sering mendengar suara orang nangis. (Foto: Tagar/ Fitriani Aulia Rizka)

Bantaeng - Pada tahun 2017, di sebuah rumah kosong di Jalan Sungai Bialo II Kampung Mappilawing, Kelurahan Mallilingi, Kabupaten Bantaeng, Provinsi Sulawesi Selatan mendadak horor.

Cerita itu mulai merebak setelah rumah tersebut ditinggalkan penghuninya. Rumah kosong yang sempat berhantu itu dikenal dengan nama rumah Tante Suri, karena nama pemiliknya adalah seorang perempuan bernama Bu Suri.

Awalnya tidak ada yang aneh dengan rumah tersebut. Keluarga yang tinggal di dalamnya pun hidup rukun dan akur tanpa masalah. Tidak pernah terdengar kabar buruk, baik gangguan dari manusia apalagi gangguan dari makhluk halus di sana.

Ketidaknyamanan yang dirasakan orang-orang sekitar rumah itu berawal sejak satu persatu anggota keluarga berpindah dan meninggalkan rumah. Akhirnya karena telah lama kosong pemilik terakhir rumah tersebut, yakni anak dari Suri menjualnya kepada seorang pedagang kaki lima.

"Saya lupa bulan berapa, tapi sekitar awal tahun 2017 dijual itu rumah," kata Daeng Ngitung saat ditemui Tagar, Kamis 14 November 2019 malam. Daeng Ngitung merupakan seorang kepala keluarga yang rumahnya tepat berada di depan rumah Bu Suri.

Suka sekali ketawa, kadang juga tiba-tiba menangis atau itu keran air di samping dia putar jadi air ngalir sampai pagi.

Daeng Ngitung adalah warga yang paling banyak menjadi saksi karena menerima bahkan pernah berhadapan langsung ketika diganggu oleh jin penunggu rumah kosong tersebut. Lelaki berusia 51 tahun itu adalah seseorang yang terbuka mata batinnya. Ia mengaku sudah sering melakukan interaksi dengan mahluk-mahluk tak kasat mata di sekitarnya.

Kepada Tagar, ia menceritakan tentang rumah itu dan menyebutkan hantu yang sempat bersemayam di sana adalah Pattirokanja. Yakni jin yang sengaja ditaruh oleh seseorang untuk menghuni rumah kosong tersebut. Pattirokanja merupakan jin kafir dalam berbagai wujud yang biasanya digunakan manusia sebagai pelaris. Di Pulau Jawa dikenal sebagai jin pesugihan.

Hantu PattirokanjaRumah kosong yang pernah diisi pattirokanja oleh seseorang sehingga sempat meresahkan warga sekitarnya. (Foto: Tagar/ Fitriani Aulia Rizka)

Pattirokanja yang disaksikan Daeng Ngitung di rumah Suri itu ada bermacam-macam sosok. Mulai dari kuntilanak atau sosok berambut panjang dengan dress putih lusuh yang suka tertawa, menangis ataupun berdendang ria. Katanya, sosok ini yang paling ribut dan kerap usil kala itu.

Sampai-sampai saking seringnya muncul, orang-orang di keluarga Daeng Ngitung yang terdiri dari istri dan anaknya sudah terbiasa setiap kali si kunti hadir. Saat ini dirinya tidak merasa takut lagi karena menganggap sudah terbiasa.

“Suka sekali ketawa, kadang juga tiba-tiba menangis atau itu keran air di samping dia putar jadi air ngalir sampai pagi, nanti pagi baru saya ke sebelah matikan," kata Akbar, putra Daeng Ngitung sambil menunjuk ke arah depan rumah Bu Suri yang berbatasan langsung dengan ruang nonton rumahnya.

Akbar yang biasanya terjaga hingga subuh memang paling sering mendapatkan gangguan. Ia terbiasa begadang dan menghabiskan waktunya berada di ruang tengah rumah mereka sambil menonton. Biasanya pada waktu-waktu seperti itulah si kunti hadir 'menemaninya'.

Akbar memang tidak seperti ayahnya yang bisa melihat sosok mahluk gaib. Ia hanya bisa mendengar karena sosok pattirokanja penghuni rumah kosong itu memang bertujuan mengganggu dan menakut-nakuti orang sekitar. 

Tapi, ibarat salah alamat, penghuni kiriman tersebut tidak nyaman di tempat barunya karena Daeng Ngitung dan tetangga lainnya adalah keluarga yang rutin beribadah dan selalu melantunkan ayat-ayat suci Al-quran setiap malam.

"Kalau orang rumah sudah ngaji, terdengar pas di sebelah perempuan nangis-nangis," kata Akbar lagi. 

Bujang berusia 22 tahun itu bahkan menirukan suara tangis sesengukan yang sering ia dengar sambil tertawa-tawa. Saking sering terdengar, hal itu kian jadi hiburan tersendiri baginya.

Hantu PattirokanjDaeng Ngitung, salah satu warga sekitar rumah yang kerap kali melihat sosok pattirokanja di rumah kosong. (Foto: Tagar/ Fitriani Aulia Rizka)

Daeng Ngitung meneruskan ceritanya. Selain berwujud kuntilanak, jin lain atau pattirokanja penghuni rumah itu berwujud mahluk berbulu tebal serta memiliki taring besar yang tajam dengan mata hijau atau hitam menyala. Di daerah lain mungkin ciri-ciri itu mirip dengan mahluk yang sering disebut genderuwo.

Sosok itu suka berubah-ubah. Paling sering ia nampak sebagai sosok kakek tua yang nangkring di pohon mangga di pekarangan rumah kosong itu. Saksi mata yang pernah melihat di antaranya Lia dan Lina yang juga tinggal tak jauh dari rumah kosong.

Terdengar pas di sebelah perempuan nangis-nangis.

Lia bercerita waktu itu, menjelang magrib dia baru saja pulang sehabis menjual di pasar. Ketika motornya melintas di depan rumah tersebut, sekelebat ia melihat sosok kakek tua di atas pohon mangga. Karena ketakutan ia lantas menancap gas dan buru-buru masuk ke rumahnya.

Lina bercerita lain lagi. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri sebanyak dua kali. Lina, adalah seorang ibu rumah tangga dan memiliki dua orang anak, seorang putra bernama Bintang dan seorang putri bernama Wulan.

Pertama kali ia melihat adalah sewaktu Wulan baru saja pulang bermain. Ia berteriak memanggil ibunya. Ketika Lina keluar, ia langsung menarik anaknya dan mengunci pintunya rapat-rapat. Posisi rumahnya yang berhadapan dengan pintu masuk rumah berhantu itu mampu memperlihatkan dengan jelas sosok yang ada di balik jendela. Ia melihat seorang kakek tua mengintai anaknya yang kala itu berjalan ketakutan karena merinding.

Kali kedua ia melihat adalah sewaktu Bulan, Bintang dan dua orang sepupu mereka sedang berswafoto di teras rumah. Kemudian Bintang teriak karena kaget melihat sosok pocong ikut terekam di kamera hpnya. Sosok tersebut berada di seberang, di rumah kosong yang tak berpenghuni.

"Sayangnya hp itu rusak dan tidak ada memorinya juga, jadi fotonya tidak bisa dilihat," kata Lina kepada Tagar.

Cerita lainnya adalah ketika salah satu tetangga melaksanakan sebuah hajatan. Dapur rumah mereka berbatasan dengan rumah kosong berhantu itu. Alhasil kesurupan massal terjadi di tengah hari. 

Menurut kabar beberapa orang di bagian dapur sempat melihat mahluk kecil berkepala plontos dan berwajah putih pucat berlari-lari di sekitar rumah. Bahkan mengintip ke arah mereka yang sedang ramai untuk persiapan hajatan.

Hantu PattirokanjBagian belakang rumah yang dulunya tertutup papan. warga sekitar belum tahu pasti mengapa sekarang sudah terbuka, warga menyebutkan dulunya ada penampakan pocong. (Foto: Tagar/ Fitriani Aulia Rizka)

Rentetan kejadian mengerikan itu berlangsung sekitar lima sampai enam bulan lamanya. Menurut Daeng Ngitung, pemilik pattirokanja itu menarik 'peliharaannya' karena hal buruk yang dialaminya. 

Jin-jin kafir peliharaannya terusik selama tinggal di sana dan tidak berhasil menakut-nakuti orang sekitar. Sekalipun beberapa kejadian sempat rusuh karena ulah mereka. Namun kabarnya mereka tetap tidak tahan karena orang-orang di sana semakin kuat beribadah dan mahluk-mahluk itu memilih pergi.

"Sekarang sudah tidak ada, sudah pergi. Ini rumah juga sudah dijual kembali tapi tidak tahu apa sudah laku atau belum," ucap Daeng Itung.

Hingga kejadian-kejadian tersebut berlalu, tak ada warga sekitar yang mengenal pasti sosok pedagang kaki lima yang pernah membeli rumah Bu Suri itu. 

Semasa itu, hanya dua sampai tiga kali seorang pria yang tak dikenal datang memeriksa kondisi rumah. Dia mengaku sebagai orang yang dipercayakan oleh si pedagang kaki lima untuk mengurus rumah itu. []

Baca cerita lain:

Berita terkait
Kisah Yanti, Hamil Tua Diteror Kuntilanak Gowa
Yanti, perempuan hamil delapan bulan diganggu kuntilanak di rumahnnya di Gowa, Sulawesi Selatan. Dia tidak menyangka kecerobohan membuatnya apes.
Legenda Berdarah Bungung Barania Bantaeng
Julukan Butta Toa untuk Kabupaten Bantaeng bukan isapan jempol belaka. Butta Toa dalam Bahasa Indonesia artinya tanah tua.
Nasib Perempuan Aceh Tersudut Pelecehan Seksual
Kekerasan seksual terhadap perempuan Aceh terus meningkat dari tahun ke tahun. Adanya Qanun belum terimplementasikan dengan maksimal.
0
Persipura Tetap Waspadai Permainan Kalteng Putra
Persipura Jayapura tak meremehkan Kalteng Putra meski posisi kedua tim sangat bertolak belakang. Laga digelar pada Kamis 12 Desember 2019.