UNTUK INDONESIA
Bisnis Wayang Kulit di Bantul
Berkunjung ke sentra perajin wayang kulit di Kampung Pucung, Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul. Mengenal kulit kerbau dan sapi.
Edi Wahyudi, 37 tahun, perajin wayang kulit, menunjukkan wayang berbentuk gunungan, di Kampung Pucung, Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Kamis, 7 November 2019. Foto: (Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Bantul - Kampung Pucung, Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul merupakan sentra perajin wayang kulit. Puluhan perajin tersebar di kampung tersebut. Mereka belajar secara otodidak dan turun-temurun.

Sebagian perajin wayang kulit di kampung itu belajar dari orang tuanya. Sejak kecil mereka terbiasa dengan alat-alat pembuat wayang. Mulai dari alat pengerok kulit sapi, pahat, hingga kayu pengalas wayang saat dipahat.

Edi Wahyudi 37 tahun, seorang perajin yang membuat wayang sejak kecil. Ia mengaku mulai menjadi perajin wayang kulit sejak kelas 3 sekolah dasar.

Saat ditemui di rumahnya, yang sekaligus merupakan tempat kerja, Edi sedang mengerjakan satu unit wayang kulit berbentuk raksasa.

Wayang itu berbahan baku kulit sapi, berukuran setinggi kurang lebih 70 sentimeter dan lebar sekira 50 sentimeter.

Edi duduk di kursi kecil yang disebut dingklik. Di depannya terdapat potongan batang pohon berdiameter sekitar 40 sentimeter, digunakan sebagai pengalas kulit yang akan dipahat.

Tangan kanannya memegang palu dari kayu, sementara jemari tangan kirinya menjepit mata pahat berukuran kecil. Tatap matanya fokus pada coretan pensil pada kulit sapi di depannya.

Perlahan jemarinya menari. Ketukan palu di tangan kanannya seperti menyenggol mesra pangkal mata pahat, membuat lubang kecil pada kulit bahan wayang.

Seperti bermata, palu itu lincah bergoyang, bertandem dengan mata pahat. Kerja sama antara keduanya menorehkan luka-luka yang rapi sesuai motif pada permukaan wayang.

Motif pada wayang serta ukuran, berpengaruh terhadap waktu pembuatan. Untuk tokoh wayang bertubuh kecil dan motif sederhana, dibutuhkan waktu selama minimal dua hari. Sementara untuk tokoh wayang berbentuk raksasa, pemahatannya membutuhkan waktu hingga sepekan.

"Kalau motif Arjuna, bisa minimal dua hari. Kalau kayak Rahwana dan Kumbakarna bisa lima hari. Itu pahatan standar. Kalau yang lebih rumit, minimal seminggu," katanya saat ditemui Kamis sore, 7 November 2019.

Kulit kerbau tidak berubah, kalau kulit sapi saat panas tergulung.

Wayang KulitEdi Wahyudi, 37 tahun, perajin wayang kulit, sedang memperhatikan kulit sapi yang akan dipahat, di Kampung Pucung, Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Kamis, 7 November 2019. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Harga Tergantung Bahan dan Motif

Para perajin wayang kulit, khususnya di Kampung Pucung tersebut, menggunakan dua jenis bahan baku yakni kulit sapi dan kulit kerbau.

Kata Edi, kulit kerbau memiliki kelebihan tersendiri dibandingkan kulit sapi, yakni tidak akan berubah bentuk meski cuaca sedang panas atau dingin.

Sementara wayang berbahan kulit sapi akan berubah bentuk, khususnya saat cuaca sedang terik. Wayang dari kulit sapi akan tergulung. Tapi meski tergulung, wayang itu bisa kembali pada bentuk semula jika ditekan dengan alat pres.

Karena kelebihan tersebut, harga kulit kerbau menjadi lebih mahal, yang berpengaruh pada harga wayang kulit. Para perajin membeli satu kilogram kulit kerbau seharga Rp 100.000. Sedangkan untuk kulit sapi, tidak sampai sebegitu.

"Kulit kerbau tidak berubah, kalau kulit sapi saat panas tergulung. Harga bahan baku lebih mahal kulit kerbau. Hitungannya per lembar tapi per kilogram. Satu lembar itu dihitung berapa kilo. Sekilonya seratus ribu," tuturnya.

Dari selembar kulit, perajin bisa memproduksi sekitar 10 wayang berukuran besar. Tapi dia mengaku tidak bisa memperkirakan jumlah wayang kulit berukuran kecil yang bisa dihasilkan.

Harga wayang dari kulit sapi dengan pahatan standar, berkisar antara Rp 1,5 juta hingga Rp 2,5 juta. Sementara untuk wayang yang sama tapi berbahan kulit kerbau, dipatok harga antara Rp 1,7 juta hingga Rp 3,5 juta.

Wayang KulitSaridi, 54 tahun, menunjukkan wayang kulit dan hiasan dinding dari kulit jualannya, di Kampung Pucung, Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Kamis, 7 November 2019. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Mudah Dipasarkan

Edi mengaku tidak pernah berhenti memproduksi wayang kulit. Salah satu alasannya karena pemasarannya cukup mudah. Dia tidak perlu menjajakan wayang buatannya di pinggir jalan atau galeri-galeri seni.

Kata Edi, wayang hasil karyanya langsung dipesan oleh beberapa dalang terkenal. Para dalang itu mempromosikan hasil karyanya dari mulut ke mulut.

"Biasanya langsung dipesan sama dalang. Banyak dalang yang pesan dari sini. Kalau koperasi di sini ada, tapi saya belum nyetok ke sana. Jadi kita bikin itu ada yang pesan. Kita juga nyetok wayang yang terkenal seperti Krisna, walaupun berapa banyak, pasti laku," tuturnya.

Wayang KulitProses pemahatan kulit sapi yang akan dijadikan wayang kulit, di Kampung Pucung, Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Kamis, 7 November 2019. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Memproduksi Pahat

Bukan hanya memproduksi kerajinan wayang kulit, Edi juga membuat dan menjual peralatan untuk membuat wayang, khususnya pahat.

Hal itu untuk membantu dan memudahkan perajin lain yang tidak memiliki peralatan, juga para siswa atau sekolah yang menjadikan pembuatan wayang kulit sebagai salah satu keterampilan tambahan.

Edi membuat alat pahat tersebut dari besi shock breaker atau peredam kejut pada sepeda motor.

"Banyak perajin beli alat pahat di sini, dari Solo, dari Jakarta, kita menyiapkan peralatan untuk perajin. Palu juga," ujarnya.

Kata Edi, saat ini belum banyak toko yang menyediakan alat pahat kulit. Jika pun ada, tak jarang kualitasnya dipertanyakan.

Satu set pahat khusus wayang kulit berisi 25 batang pahat. Per batang dijual dengan harga Rp 15 ribu.

Untuk lebih memudahkan para perajin, selain menjual pahat, pihaknya juga menjual kulit bahan baku wayang yang sudah siap untuk dibentuk.

"Prosesnya, kulit direndam air biasa, terus dibentangkan, dijemur, kemudian baru dikerok dan dipotong," tuturnya.

Wayang KulitSeorang perajin wayang kulit, Edi Wahyudi, 37 tahun, sedang memahat kulit sapi untuk dijadikan wayang kulit, di Kampung Pucung, Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Kamis, 7 November 2019. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Jadi Perajin untuk Lestarikan Budaya

Bukan hanya mengejar materi, Edi mengaku tertarik menjadi perajin karena meneruskan profesi ayah dan kakeknya. Dia khawatir tidak ada lagi perajin wayang, maka wayang sebagai peninggalan nenek moyang akan musnah.

Apalagi wayang kulit sudah diakui Unesco sebagai salah satu warisan budaya dunia, yang asli berasal dari Indonesia.

"Kita dari dulu pekerjaan turun-temurun. Takutnya enggak ada yang nerusin," kata Edi.

Wayang KulitSaridi, 54 tahun, perajin sekaligus pedagang wayang kulit, sedang mengerok kulit sapi kering untuk dijadikan wayang, di Kampung Pucung, Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Kamis, 7 November 2019. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Kerja Sama Perajin dan Pedagang

Meski Kampung Pucung dikenal sebagai sentra produksi kerajinan wayang kulit, tidak semua warganya murni berprofesi sebagai perajin wayang kulit. Salah satunya adalah Saridi, 54 tahun, yang memilih untuk memasarkan hasil karya para perajin di kampungnya.

Saridi memasarkan wayang produksi perajin hingga ke daerah Jawa Timur dan Bali. Dia bahkan telah menyewa rumah kos di Banyuwangi untuk melancarkan usahanya.

Awalnya, pada 1989, dia memasarkan kerajinan wayang kulit di daerah Semarang, Jawa Tengah. Kemudian pindah ke Jakarta.

Tapi sejak beberapa tahun terakhir, menurutnya, wilayah Jawa Timur dan Bali justru menjadi lokasi penjualan wayang yang sangat menjanjikan.

Biasanya Saridi menjual wayang pada awal bulan, karena mayoritas dipasarkan di kantor-kantor instansi. 

"Kan kalau tanggal muda, pasti pegang uang. Kalau tanggal tua, saya bikin wayangnya," kata Saridi saat ditemui di Kampung Pucung.

Kalau kerajinan buatannya kurang banyak untuk dipasarkan, Saridi akan menghubungi tetangganya yang berprofesi sebagai perajin, dan menjualkan karya mereka.

"Kalau di Bali, selain saya tidak ada yang jualan wayang begini. Cuma saya sendiri. Biasanya di Ubud, Gianyar, dan Sukowati," kata Saridi.

Meski hanya satu-satunya penjual wayang kulit hiasan dinding di Bali, Saridi belum berani menitipjualkan barang-barangnya di toko, karena modalnya yang masih terbatas.

"Kalau enggak langsung bayar, saya enggak punya modal. Biasa toko ambil juga yang dibutuhkan. Harga antara Rp 200 ribu sampai 350 ribu," tuturnya. []

Baca cerita lain:

Berita terkait
Si Genit Manja Ikan Cupang Seharga Rp 600 Ribu
Ikan cupang kuning keemasan seharga Rp 600 ribu itu dengan genit menari manja, meliuk-liukkan tubuh dengan ekor mengembang melambai ringan.
Sedotan Bambu Yogyakarta Tembus 4 Negara
Lembaran daun bambu berserak di halaman sebuah rumah di Dusun Gesik, Kasongan Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kenken, Burung Seharga Lebih Mahal dari Mobil Avanza
Belasan ekor burung beraneka warna itu terbang menuju langit biru. Satu di antaranya bernama Kenken, burung seharga lebih mahal dari mobil Avanza.
0
Pengamat: Tak Masalah AIIB China Danai Ibu Kota Baru
Upaya pemerintah melobi Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) untuk turut membiayai proses pemindahan ibu kota dinilai sah-sah saja.