UNTUK INDONESIA
Rezeki Terompet Tahun Baru yang Tak Lagi Nyaring
Terompet tidak lagi menjadi mainan yang menjanjikan rezeki buat perajin dan penjualnya di Tahun Baru.
Terompet Tahun Baru sisa tahun lalu di rumah kontrakan perajin di Desa Debong Wetan, Kecamatan Dukuhturi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Sabtu 28 Desember 2019. (Foto: Tagar/Farid Firdaus)

Tegal - Terompet bukan lagi jadi barang 'sakral' di tiap momen malam Tahun Baru. Keberadaannya tergeser oleh mainan lain yang lebih modern. Maka rezeki para penjual dan perajin pun tergerus.

‎Duduk di atas tikar tipis berwarna kusam, Slamet, 55 tahun, menyadarkan punggungnya ke tembok. Tak jauh dari tempatnya duduk, sebuah sepeda onthel penuh berbagai jenis mainan dan terompet terparkir.

‎Selain memenuhi sepeda onthel, ratusan terompet juga tampak digantung menggunakan tali ke kayu dan paku yang menempel di tembok.‎ Bentuk dan jenisnya bermacam-macam. Ada yang berbentuk naga, ada yang ditempeli karakter kartun.

‎"Itu sisa tahun lalu yang tidak laku," ungkap Slamet kepada Tagar menunjuk terompet berwarna-warni yang tergantung di tembok. "Dibuatnya menjelang Tahun Baru 2019."

‎Saat ditemui di rumah kontrakannya di Desa Debong Wetan, Kecamatan Dukuhturi, Kabupaten Tegal, Sabtu 28 Desember 2019 siang itu, Slamet baru saja pulang dari berkeliling menjajakan sebagian dari terompet yang masih tersisa.

"Sekarang penjualan terompet tahun baru sepi pembeli. Keliling setengah hari hanya laku dua sampai tiga buah," ungkap Slamet.

Slamet sudah 10 tahun membuat dan menjual terompet setiap menjelang Tahun Baru. Pekerjaannya sehari-hari sebagai penjual mainan anak-anak ditinggalkan sementara demi bisa meraup penghasilan yang lebih banyak dari momen pergantian tahun.

Sekarang penjualan terompet tahun baru sepi pembeli. Keliling setengah hari hanya laku dua sampai tiga buah.

Trompet2Slamet 55 tahun, menata terompet buatannya di rumah kontrakannya dj Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. (Foto: Tagar/Farid Firdaus)

Namun tiga tahun terakhir, kemeriahan perayaan Tahun Baru tak lagi mengalirkan rezeki bagi pembuat dan penjual terompet tahun baru seperti Slamet. Terompet-terompet buatan Slamet lebih banyak menumpuk di rumah kontrakan.

"Tahun ini tidak buat terompet sama sekali karena teromp‎et yang dibuat tahun lalu saja masih banyak yang belum terjual," ujar Slamet.

Sepinya pembeli membuat Slamet mesti berkeliling ke sejumlah tempat di Kabupaten Tegal dan Kota Tegal menggunakan sepeda onthel untuk menjajakan terompetnya. ‎Padahal beberapa tahun lalu, ia cukup mangkal di depan pasar atau di pinggir jalan yang ramai.

"Dulu mangkal di satu tempat saja bisa laku banyak. Sekarang harus keliling. Itu pun belum tentu ada yang beli. Sudah kalah sama terompet dari plastik, yang dari Cina," ujarnya.

Slamet terakhir kali menikmati larisnya penjualan terompet Tahun Baru pada 2016. Kala itu, dengan modal Rp 4 juta untuk membeli bahan baku kertas, ‎ia bisa memperoleh penghasilan hingga Rp 10 juta selama 10 hari.

"Dulu selain dijual eceran, banyak juga yang beli kulakan untuk dijual lagi. Sekarang hanya dijual eceran saja dan lakunya sedikit," ungkapnya.

Cerita Slamet diamini Abdul Khamid, 37 tahun, pembuat dan penjual terompet musiman lainnya. Seperti Slamet, terompet yang dibuat Khamid pada tahun lalu masih tersisa ratusan buah. Alhasil daripada membuat baru, ia lebih memilih untuk memaksimalkan jualan tahun lalu. 

"Tahun lalu pas mau Tahun Baru 2019 saya buat 2.000 terompet. Yang terjual 30 persennya saja. Jadi sampai sekarang masih tersisa banyak. Tahun ini juga sepi," katanya.

‎Menurutnya, tiga tahun terakhir, kemeriahan perayaan Tahun Baru menggunakan terompet sudah semakin berkurang. Dipicu informasi yang menyebar di media sosial yang menyebut bahwa terompet bisa menjadi sarana penyebaran penyakit lantaran kerap dijajal oleh pembuat, penjual hingga calon pembeli. 

"Tahun 2018 juga ada pernah ramai berita virus yang bisa menular dari terompet. Itu membuat tambah sepi pembeli. Kalau tahun ini, musim hujan pengaruh ke penjualan," ungkapnya.

Pembuat Terompet Musiman

Slamet berasal dari Puwantoro, Kabupaten Wonogiri. Setiap menjelang Tahun Baru, belasan warga dari kabupaten di ujung timur Jawa Tengah itu ‎merantau ke Kabupaten Tegal untuk membuat dan menjual terompet. 

Mereka meninggalkan sementara pekerjaan yang biasa digeluti sehari-hari di daerah asal. "Ada yang sehari-hari petani, ada yang jual mainan seperti saya. Beralih sementara membuat terompet kalau mau Tahun Baru saja," ujar Slamet.

Selama di Kabupaten Tegal, Slamet dan pembuat terompet lainnya patungan mengontrak rumah di Desa Debong Wetan, Kecamatan Dukuhturi untuk dijadikan tempat tinggal sekaligus tempat produksi. Lokasi ini tiap menjelang tahun baru selalu menjadi jujukan para penjual terompet eceran untuk kulakan.

"‎Biasanya dua bulan sebelum tahun baru sudah mulai buat dan ramai pesanan. Kami membuat terompet sendiri-sendiri. Masing-masing bisa membuat 1.000 sampai 2.000 terompet," ungkapnya.

‎Terompet yang dibuat Slamet dan rekan-rekannya dibuat dari bahan kertas dan spons. Harganya bervariasi menyesuaikan jenis bahan dan ukuran. Paling murah berharga Rp 4.000 dan paling mahal Rp 25.000.

"Rata-rata belajar sendiri buatnya. Kalau bentuknya meniru dari yang sudah ada saja," ucap ayah tiga anak itu.

Tahun depan juga akan tetap jualan terompet lagi. Walaupun sepi pembeli ya mau gimana lagi.

Trompet3Slamet dan terompet sisa momen Tahun Baru 2019. Nyaring suara terompet tak lagi senyaring rezeki penjualannya. (Foto: Tagar/Farid Firdaus)

‎Menjelang Tahun Baru 2020, kesibukan pembuatan dan banyaknya pesanan terompet di rumah kontrakan yang ditinggali Slamet sudah tinggal cerita. Momen pergantian tahun tak lagi menjanjikan banyak pundi-pundi rupiah bagi Slamet dan rekan-rekannya.

"Dulu ada 15 orang yang membuat terompet kalau menjelang Tahun Baru. Sekarang tinggal lima orang. Lainnya ada yang beralih kerja lain, seperti jualan bakso. Ada juga yang pindah ke kota lain,"‎ sebut Slamet.

Sebelum di Kabupaten Tegal‎, Slamet pernah berjualan terompet Tahun Baru di Kota Semarang, Pekalongan, Yogyakarta, dan Jakarta. Beragam pengalaman pun pernah dialaminya. 

Tak hanya senang, pahit getir hidup di jalanan juga dilakoni. Terlebih di era milenial beberapa tahun terakhir, dimana arus informasi begitu cepat menyebar. Dan berimbas pada barang dagangannya. 

Nafas Slamet mulai terlihat berat ketika kenangan tak menyenangkan berjualan terompet terlintas di ingatan. Salah satu yang membekas, yakni ketika ramai pemberitaan tentang terompet yang menggunakan kertas bertuliskan Arab. 

Gara-gara masalah itu, ia sampai dimintai keterangan polisi saat berjualan terompet di Yogyakarta. "‎Kalau di Pekalongan dulu sempat ada larangan membunyikan terompet sehingga berpengaruh ke penjualan. Dimarahin orangtua karena anaknya menangis minta dibelikan terompet juga sering," ceritanya sembari tersenyum kecut.

Meski pembeli terompet Tahun Baru sudah tak ramai lagi, beberapa hari menjelang tahun 2020 Slamet memilih tetap mengayuh sepeda onthelnya yang dipenuhi terompet. 

Seperti sifat pekerjaan mereka yang musiman, masa kejayaan terompet nyata juga musiman. Bunyinya tak lagi menjanjikan rezeki yang melimpah, malah jauh dari kata balik modal. Dan tak bisa dipungkiri, game online dan media sosial perlahan pasti mulai menyingkirkan salah satu produk kerajinan mikro tersebut.

Lesu dan kurang menjanjikan memang usaha tersebut. Tapi teringat wajah istri dan anak di kampung, membuat semangat Slamet kembali membari. Demi menafkahi keluarganya di Wonogiri, hujan dan angin yang selalu menyambut momen pergantian tahun bukan lagi hambatan.

"Tahun depan juga akan tetap jualan terompet lagi. Walaupun sepi pembeli ya mau gimana lagi," tuturnya dengan nada pasrah. []

Baca juga: 

Berita terkait
Jepara Sepi Terompet Tahun Baru, Ada Apa?
Penjual terompet Tahun Baru di Jepara jarang dan sepi pembeli. Karena minat terompet tergusur dengan game online.
Larangan Terompet Bogor, Pedagang: Polisi Aja Beli
Pedagang di Pasar Gembrong, Jakarta Timur menanggapi larangan meniup terompet dan kembang api di wilayah Kabupaten Bogor.
Tak Ada Terompet Ditiup saat Tahun Baru di Aceh, Pengunjung Hotel Anjlok
Padahal sejumlah hotel sudah menyiapkan paket khusus untuk pengunjung yang akan menginap di hotel mereka.
0
Corona Belum Berdampak bagi Jemaah Umrah Siantar
100 jemaah umrah dari Kota Pematangsiantar diberangkatkan ke Arab Saudi.