UNTUK INDONESIA
Ramadan dan Tragedi Berdarah di Bantaeng
Dua peristiwa sadis menggegerkan masyarakat Bantaeng di tengah pandemi Covid-19 dan bulan suci Ramadan.
Proses evakuasi jasad Rosmini, korban pembunuhan sadis di Kabupaten Bantaeng. (Foto: Tagar/Humas Polres Bantaeng)

Bantaeng - Wabah Covid-19 merupakan peristiwa yang tidak pernah diduga. Virus ini nyaris mematikan semua gerak manusia, hingga membuat pemerintah kalang kabut. Tak sedikit pekerja di Indonesia yang kehilangan pekerjaan akibat corona.

Di tengah pandemi yang juga berada di bulan suci Ramadan 1441 Hijriah, sejumlah peristiwa sadis juga menambahkan kepanikan masyarakat di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan.

Dua hari berturut-turut, kabar buruk dan menyayat hati terjadi kabupaten berjuluk "Butta Toa" itu. Pertama terjadi di hari Jumat, 8 Mei 2020. Sesosok mayat pria tergeletak di pinggir jalan Kampung Kiling-kiling, Desa Pattallassang, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Bantaeng.

Penemuan mayat ini sempat heboh di media sosial terutama Facebook. Kabar ini dibagikan sejumlah akun disertai captions mayat penuh luka bekas tikaman benda tajam di tubuhnya.

Merasa tidak tega melihat korban, saksi pun mengangkat korban keluar dari lokasi judi sabung ayam itu menggunakan sarung.

Mayat tersebut diketahui bernama Syaripuddin, 48 tahun, alias Daeng Kande, warga Kampung Kayangan Garegea, Kelurahan Bonto Rita, Kecamatan Bissappu.

"Korban adalah seorang pedagang pisang," kata Paur Humas Polres Bantaeng Aipda Sandri Ershi kepada Tagar melalui WhatsApp, Sabtu, 9 Mei 2020.

Dari hasil pemeriksaan tim dokter Puskesmas Moti dan Tim Inafis Polres Bantaeng, Syaripuddin meninggal akibat beberapa luka tikaman di tubuhnya. Sejumlah sayatan dengan luka serius terdapat di bagian pundak dekat leher.

Mayat ini pertama kali ditemukan Amran Sori, 31 tahun. Dia sudah menemukan Syaripuddin dalam keadaan tak bernyawa dalam kondisi tertelungkup di lokasi judi sabung ayam.

Lantas, dia bersama dua orang saksi lainnya yakni Yaki dan Maing mengevakuasi jasad Syaripuddin keluar dari arena sabung ayam itu.

"Merasa tidak tega melihat korban, saksi pun mengangkat korban keluar dari lokasi judi sabung ayam itu menggunakan sarung," katanya.

Setelah itu, para saksi ini meninggalkan mayat Syaripuddin di tepi jalan tanpa memberitahukan warga sekitar. Mereka mengaku kebingungan dan tidak tau harus berbuat apa. Setelah ditemukan, barulah jasadnya dievakuasi ke RSUD Anwar Makkatutu Bantaeng untuk keperluan visum.

Kabar buruk kembali datang di hari Sabtu, 9 Mei 2020. Kali ini, peristiwa penyanderaan dan pembunuhan terjadi di dalam sebuah rumah panggung di Kampung Katabung, Desa Pattaneteang, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Bantaeng. Anehnya, yang disandra dan dibunuh justru keluarga mereka sendiri.

Akibat kejadian itu, sembilan orang ditangkap polisi. Masing-masing, DA selaku kepala keluarga dan istrinya AN, 50 tahun. Kemudian anak-anak mereka R, 30 tahun, HT, 28 tahun, NA, 21 tahun, AT, 20 tahun, SC, 14 tahun. Selanjutnya juga para menantu berinisial AJ, 40 tahun dan RI, 24 tahun.

Mereka yang disandera itu bernama Sumang Bin Nuseng, 45 Tahun. Dia mengalami luka sayatan senjata tajam di bagian telinga kiri. Kemudian Irfandi bin Reni, 18 tahun, dan Enal bin Hari, 25 Tahun. Mereka ini mengalami luka robek dibagian kepala.

KorbanRosmini, gadis yang diduga menjadi tumbal keluarganya sendiri semasa hidup. (Foto: Tagar/Istimewa)

Penyanderaan sadis ini berakhir sekitar pukul 17.30 Wita atau setelah Kapolsek Tompobulu Iptu Suhardi berhasil bernegosiasi dengan kepala keluarga DA.

Keluarganya ada pesugihan akhirnya anaknya dibantai dengan semena-mena karena anaknya terlihat kerbau dimatanya.

Nahasnya, setelah digeledah ternyata tidak hanya tiga orang yang disandera. Polisi juga menemukan sesosok manusia yang sudah jadi mayat dengan wajah hancur. Korban kekejian keluarga sendiri itu bernama Rosmini, gadis 18 tahun yang tak lain anak DA.

"Motif dan modus kejadian masih didalami penyidik," katanya.

Kabar yang beredar, peristiwa penyanderaan itu berawal dari dugaan ilmu hitam atau aliran sesat yang dijalani keluarga tersebut. Hingga mereka diringkus polisi, orang-orang terus membicarakan soal ilmu hitam.

"Begitulah ceritanya. Keluarganya ada pesugihan akhirnya anaknya dibantai dengan semena-mena karena anaknya terlihat kerbau dimatanya," tulis akun Nurhidaya di kolom komentar pada salah satu postingan di Facebook.

"Iya saya tidak nyangka kalau diakhir hayat anak ini sesadis itu. Siswa andalanku ini," kata akun bernama Kasmirah.

Beberapa akun lainnya mengatakan bahwa seluruh keluarga tersebut dalam kondisi tak sadarkan diri atau kesurupan akibat aktivitas mistis yang dijalaninya. Namun, kepastian tentang kasus tersebut belum dirincikan oleh pihak yang berwajib. []

Berita terkait
Dilema Nyawa Pelajar Tapanuli Utara saat Naik Motor
Menjadi sebuah dilema ketika para pelajar usia SMP di Tapanuk li Utara dibiarkan melenggang naik motor di jalan raya. Nyawa jadi taruhan.
Pagi Sunyi di Arumba Manggarai Timur NTT
Sunyi menyergap pagi di pengujung Maret 2020, seperti tak ada kehidupan di sudut Arumba di Manggarai Timur NTT pada masa pandemi Covid-19
Burger Monalisa Yogyakarta dari Krismon ke Pandemi
Hamburger Monalisa Yogyakarta, kokoh dihantam krismon. Kini ikut terdampak saat pandemi Covid-19.
0
Ramadan dan Tragedi Berdarah di Bantaeng
Dua peristiwa sadis menggegerkan masyarakat Bantaeng di tengah pandemi Covid-19 dan bulan suci Ramadan.