UNTUK INDONESIA
Racikan Kenikmatan Nasi Pecel Tumpang Sor Pelem Kediri
Warung Nasi Pecel Tumpang Sor Pelem Kediri untuk menjaga cita rasa menggunakan bahan dan cara tradisonal.
Nasi Pecel Tumpang Sor Pelem Kediri. (Foto: Tagar/Fendhi Lesmana)

Kediri - Warung pecel tumpang sor pelem di Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri tak pernah sepi dari pengunjung, khususnya di akhir pekan. Antrean panjang selalu terlihat jika warga ingin merasakan racikan pecel yang sudah melegenda dan juga harganya murah.

Pemilik warung nasi pecel tumpang sor pelem, Erly Maya Muryati mengaku pelanggannya berasal dari luar daerah. Tak hanya itu, pesepeda atau goweser juga banyak menjadi pelanggannya menikmati pecel tumpang usai gowes ke Gunung Klotok.

Bedanya penyajian yang kita lakukan masih menggunakan daun pisang. Kita tidak pakai piring, kita pakai renggong yang dialasi daun.

"Selain masyarakat sini dan orang dari luar, kebanyakan yang datang para pesepada," ujarnya kepada Tagar, Minggu, 1 November 2020.

Erlu mengaku untuk satu porsi nasi pecel tumpang sor pelem lengkap dengan kulup (sayuran), potongan tahu dan tempe hanya Rp 6 ribu. Meski harganya yang terbilang murah, tetapi kualitas rasanya yang nendang dan penyajianya masih menggunakan cara tradisional.

Baca juga:

Setiap porsi nasi pecel tumpang, disajikan beralas daun pisang dan renggong (piring yang terbuat dari anyaman rotan). Sementara untuk minuman pendamping disajikan teh hangat harga Rp3 ribu.

"Bedanya penyajian yang kita lakukan masih menggunakan daun pisang. Kita tidak pakai piring, kita pakai renggong yang dialasi daun. Banyak dokter yang suka makan di sini, lebih higienis karena habis dipakai daun langsung bisa kita buang," kata dia.

Pecel Tumpang KediriKaryawan Pecel Tumpang Sor Pelem Kota Kediri melayani pelanggan. (Foto: Tagar/Fendhi Lesmana)

Rintis Usaha Februari 2020

Erly mengaku dirinya merintis nasi tumpang sor pelem pada Febuari 2020. Kurun waktu satu bulan atau mulai pandemi mulai ternyata tak membuat warungnya sepi.

"Ketika pandemi orang yang bersepeda atau gowes semakin banyak. Mereka selalu lewat sini, apalagi lokasi tempat kuliner saya kan dekat dengan lokasi wisata Goa Selomangkleng," ujar ibu dua anak ini.

Erly menilai saat ini masyarakat cenderung lebih suka kuliner yang lebih natural ala kampung. Untuk itu, ia sengaja mengkonsep warungnya tersebut secara tradisional dan ternyata berhasil.

"Selama ini saya betpikir bisnis kuliner itu, orang-orang kembali ke segmen yang natural, segmen kampung. Makanya untuk mem-branding Kota Kediri saya mengambilnya pecel tumpang," ujar dia.

Pecel Tumpang KediriKaryawan Pecel Tumpang Sor Pelem Kota Kediri melayani pelanggan. (Foto: Tagar/Fendhi Lesmana)

Warung Berada di Bawah Pohon Mangga

Nama Nasi Pecel Timpang Sor Pelem tak terlepas dari letak warung yang ada di bawah pohon mangga (pelem). Di saat musim mangga bahkan pengunjung diperbolehkan untuk memetiknya.

Selain suasana yang rindang akan pohon mangga, kata Erly, warungnya juga menyediakan Wifi gratis. Wifi gratis disedikan bagi pengunjung yang ingin swafoto dan shared di media sosial.

"Biasanya ibu ibu yang minta buah mangga untuk dipetik, terkadang Ada yang hanya untuk foto lalu dishare di medsos," ucapnya.

Pecel Tanpa Penyedap Kimia

Masakan nasi pecel tumpang yang dijual di sor pelem semuanya berbahan penyedap alami bumbu masakan tanpa kimia. Hal ini dapat dilihat setiap harinya di dalam kudapan bumbu pecel mau pun bumbu tumpang terdapat jenis empon-empon seperti halnya daun jeruk, daun salam dan lengkuas.

"Kalau jenengan (anda) lihat dalam panci itu, daun salamnya sampai banyak. Memang sengaja tidak kita buang, pembeli biar tahu kalau penyedap kita alami. Juga lengkuas itu kan penyedap," tutur perempuan yang menjabat sebagai Lurah Pojok Kecamatan Mojoroto ini.

Erly mengklaim jika masakan bumbu tumpang yang racikanya ini lebih condong ke resep kuno. Ia melihat jika sekarang ini banyak penjual bumbu tumpang warnanya terkesan sengaja dibuat warna merah.

"Kalau kita enggak, kalau tumpang kuno sebenarnya warnanya seperti ini kecoklatan. Malah terkesanya nggak menarik, tapi begitulah bumbu sambel tumpang sebenarnya. Kalau sekarang penjual suka yang warna merah, kalau saya nggak kembali ke selara asal Mbah-mbah (nenek-nenek) kita dulu," tuturnya.

Racikan bumbu yang dipergunakan untuk memasak bumbu sambel tumpang antara lain tempe, cabai, bawang merah bawang putih. Sementara racikan bumbu pecel menggunakan bahan kacang, cabai merah dan cabai kecil.

Setiap hari Sabtu dan Minggu makanan nasi pecel tumpang sor pelem habis terjual tidak sampai pukul 11.00 WIB. 

"Paling jam 11 siang kita sudah habis, yang masak karyawan. Cuman kalau penentuan rasa dan resepnya saya sendiri," ucapny.[](PEN)

Berita terkait
Operasi Zebra, Polres Kediri Kota Imbau Warga di Rumah Saja
Polres Kediri Kota menggelar operasi zebra semeru 2020 jelang momen libur panjang. Selain penindakan, juga akan ada sosialisasi.
Cabup Kediri Tawarkan Program Pembuatan Pupuk Organik
Cabup Kediri, Hanindhito Himawan Pramono menyiapkan program untuk mengantisipasi kelangkaan pupuk subsidi.
Tingwe Digandrungi Perokok di Kediri saat Pandemi
Di tengah pandemi Covid-19 permintaan akan tembakau untuk membuat rokok tingwe di Kediri meningkat.
0
Anies Baswedan akan Beri Sebagian Tanggung Jawab LRT ke Swasta
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berencana menyerahkan tanggung jawab LRT ke swasta.