UNTUK INDONESIA
Tingwe Digandrungi Perokok di Kediri saat Pandemi
Di tengah pandemi Covid-19 permintaan akan tembakau untuk membuat rokok tingwe di Kediri meningkat.
Owne Istana Tembakau, Agusta Danang Proviantsta Danang Proviant. (Foto: Tagar/Fendhi Lesmana)

Kediri - Pandemi Covid-19 ternyata mengubah kebiasan para perokok khususnya di Kota Kediri. Perubahan perokok dapat dilihat dari cara konsumsi masyarakat yang sebelumya menghisap rokok konvensional dan rokok elektrik (Vape) kini bergeser ke rokok linting dewe (tingwe) tembakau.

Owner Istana Tembakau, Agusta Danang Proviant mengatakan rokok tingwe di Kediri saat ini menjadi tren bagi muda-mudi di tengah pandemi. Jika sebelumnya, mereka mengonsumsi rokok konvensional dan vape.

Yang di sini ada sekitar 40 varian tembakau Nusantara, belum termasuk tembakau olahan.

"Karena mereka berhemat di tengah pandemi. Itulah yang memicu saya, menjual tembakau tradisional atau tembakau linting dewe (ting we)," ujarnya kepada Tagar, Selasa, 13 Oktober 2020.

Ia mengaku permintaan tembakau cukup tinggi, sejak tiga bulan terakhir ini mendadak bermunculan keberadaan para pedagang tembakau di Kota Kediri. Karena memiliki kesaaman visi, dan selera citra rasa sama, mereka kemudian membentuk komunitas pecinta tingwe dengan nama Lintingers Kediri.

Agusta Danang mengaku saat ini dirinya memiliki 40 varian tembakau Nusantara. Puluhan tembakau tersebut dijual eceran dengan harga bervariasi. Mulai dari termurah Rp 100-150 ribu per kilo, hingga termahal Rp 500 - Rp 1,5 juta perkilo

Ia mengaku varian tembakau Nusantara yang tersedia di kiosnya saat ini berasal dari berbagai daerah diantaranya ada tembakau tambeng dari Bondowoso, Paiton, Pode asal Madura, serta Lamsi dari Temanggung.

"Yang di sini ada sekitar 40 varian tembakau Nusantara, belum termasuk tembakau olahan. Untuk saat ini yang pernah saya rasakan tembakau terbaik adalah tembakau tambeng dari Bondowoso. Memang harganya sedikit mahal," ujarnya.

Tembakau tambeng memang sejak dari dulu dikenal dengan rasanya khas. Tembakau tambeng diperoleh dari petani di Desa Tambeng dari pegunungan tambeng di daerah Besuki Sitobundo. Jika diklasifikasi Tembakau tambeng masuk dalam kategori Great A.

"Tembakau itu mahal karena perawatan, kalau yang dirawat secara sederhana ya harganya murah," tutur Agusta Danang.

Selain menjual harga per kilo, dirinya juga melayani pembelian eceran per ons. Sebelum memiliki usaha kios kopi dan tembakau, Agusta Danang memasarkan dagangan tembakaunya tersebut melalui relasi para temanya.

"Memanfaatkan situasi pandemi, kita buka kios memang penggemarnya saat ini banyak," kata dia.

Tidak hanya melayani pembelian tembakau, para pengunjung bisa belajar cara melinting rokok tembakau. Proses melinting, tidak membutuhkan waktu lama , cukup 10 menit. 

Apalagi saat ini alat khusus melinting rokok tembakau sudah ada. Kebanyakan kategori usia penikmat tembakau ini antara 20 - 50 tahun.

"Kita ajari cara melinting, seperti bagaimana caranya yang benar," ucapnya.[](PEN) 

Berita terkait
Resep Rahasia Tahu Kuning Kediri, Lezat dan Bergizi
Kelurahan Tinalan, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri dikenal sebagai kampung perajin tahu. Setidaknya ada 30 perajin.
Resto Pari Kediri, Tempat Kuliner Baru di Kaki Gunung Wilis
Resto Pari belum satu bulan di buka tetapi sudah diminati warga Kediri yang ingin menikmati keindahan kaki Gunung Wilis.
Mengajarkan Siswa SD di Kediri Membatik Masker
Sejumlah siswa SD di Kediri belajar membatik untuk memperingati Hari Batik Nasional.
0
Soal Survey Indikator, DPR: Catatan Buruk Kinerja Pemerintah
Anis menegaskan bahwa ketidakberhasilan pemerintah mencapai target-target ekonominya menjadi catatan tidak baik terhadap kinerja pemerintah.