UNTUK INDONESIA
Pupuk Langka, Petani Bantaeng Tanam Kangkung
Akibat mahal dan langkanya pupuk di Kabupaten Bantaeng, kini petani banting stir dari petani Padi dan Jagung beralih ke petani Kangkung.
Salah satu petani di Kabupaten Bantaeng yang menanam kangkung akibat kelangkaan pupuk di daerah tersebut. (Foto: Tagar/Ist)

Bantaeng - Polemik kelangkaan dan harga pupuk yang mahal di Bantaeng masih terus bergulir. Kondisi tersebut mengharuskan petani di Bantaeng banting setir dari petani padi dan jagung menjadi petani kangkung.

Salah satunya Herman, petani di Desa Kayu Loe, kecamatan Bantaeng, kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Pria berusia 39 tahun yang mengeluhkan hilangnya pupuk subsidi dari peredaran. Ia kini menekuni penanaman kangkung yang dianggapnya mudah dikelola dan hanya membutuhkan pupuk kandang.

"Daripada saya tidak menanam gara-gara tidak ada pupuk, sementara ada anak istri yang butuh dinafkahi," kata Herman, Senin, 20 Januari 2020.

Tanaman kangkung dipilih Herman karena menurutnya itu lebih mudah untuk ditangani pada saat ini. Perawatannya tidak terlalu rumit, cukup menjaga suplai air dan umur tanaman kangkung juga relatif cepat. Hanya berkisar 4 sampai 6 minggu untuk dipanen.

Daripada saya tidak menanam gara-gara tidak ada pupuk.

"Ini lebih mudah meskipun tetap butuh pupuk, tapi pupuk organik, pupuk kandang," jelasnya

Herman menjadi petani kangkung sejak dua bulan terakhir. Baginya, saat ini tanaman kangkung adalah sebuah potensi bisnis yang bagus seiring meningkatnya permintaan pasar.

Dalam dua bulan terakhir ia mampu mendapat keuntungan bersih diatas Rp 500.000 rupiah sekali panen. Tentunya angka tersebut dinilai cukup untuk sebuah tanaman yang sesederhana pengelolaannya.

Bibit kangkung ia peroleh hanya Rp 40.000 perkilo. Sekali menanam ia cukup menebar bibit sebanyak 5 kg saja. Jadi selama dua bulan terakhir ia sudah menanam 10 kg bibit untuk dua kali panen, tepatnya sebulan sekali.

Herman yang merupakan warga asli kampung Kayangan, kecamatan Bantaeng, kabupaten Bantaeng, mengaku mendapatkan saran untuk beralih menanam Kangkung dari Ketua Kelompok Tani di desanya.

Adalah Abdul Maris, 27 tahun, warga asli desa Kayu Loe yang bertindak selaku Ketua Kelompok Tani.

"Sekarang petani masih keluhkan kelangkaan pupuk, makanya saya selaku kelompok tani memberikan sarang kepada angota untuk beralih ke tanaman organik selain tidak tergantung pada pupuk kimia tapi potensinya di pasaran itu sangat bagus," beber Maris saat dihubungi Tagar via WhatsApp.

Menurutnya, jika petani tidak mampu berinovasi dan berpikir kreatif maka akan terpuruk. Tentu saja hal itu bukan sesuatu yang baik bagi kehidupan petani. Utamanya mereka yang memiliki banyak tanggung jawab.

"Kalau masalah pupuk terus mau dipikir, tidak hidup orang," tutup Maris. []

Berita terkait
Kakek Diserang Kera di Pantai Seruni Bantaeng
Seorang kakek diserang kera liar di kawasan Pantai Seruni, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan.
Harga Pupuk di Bantaeng Mahal, Petani Menjerit
Harga pupuk bersubsidi di Kabupaten Bantaeng sangat mahal, membuat petani menjerit. Bahkan bukan hanya mahal tapi pupuk juga langka.
Legislator Bantaeng Persoalkan Kelangkaan Pupuk
Ketua Komisi B bidang Ekonomi dan Keuangan DPRD Bantaeng, Asriyudi Asman mempertanyakan kelangkaan pupuk di Kabupaten Bantaeng.
0
DPO Kasus Curanmor, Pelajar Deli Serdang Ditangkap
Seorang pelajar SMA di Kabupaten Deli Serdang ditangkap setelah 10 bulan menjadi buronan pencurian sepeda motor.