UNTUK INDONESIA
Profil Ketua Umum PB IDI Daeng Mohammad Faqih
Daeng Mohammad Faqih, Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), menjadi kontroversi seribu kematian Covid-19. Ini profilnya.
Profil Ketua Umum PB IDI Daeng Mohammad Faqih. (Foto: Head Topics)

Jakarta - Daeng Mohammad Faqih atau sering ditulis Daeng M Faqih saat ini menduduki posisi Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia. Ia menjadi kontroversi karena menyatakan angka kematian Covid-19 ada 1000 kasus hingga tanggal 18 April 2020, padahal data Gugus Tugas Nasional Covid-19 hingga Jumat, 24 April 2020, angka kematian adalah 689.

Tidak ada perbedaan data, karena yang memiliki data hanya pemerintah.

Ia mengatakan perkiraan seribu kematian itu termasuk di dalamnya angka meninggal pasien berstatus dalam pengawasan atau PDP.

Setelah menjadi polemik, Daeng meluruskan pernyataannya. "Saya ingin klarifikasi. Tidak ada perbedaan data, karena yang memiliki data hanya pemerintah. Kemudian, data yang disampaikan tentang kematian yang positif PCR, memang sudah valid seperti itu," kata Daeng dalam wawancara siaran Podcast Opinisme.

Profil Daeng Mohammad Faqih

Daeng M FaqihDaeng Mohammad Faqih. (Foto: Twitter/Daeng M Faqih)

Daeng Mohammad Faqih lahir di Pamekasan, Madura, Jawa Timur, 30 Juni 1969. Ia akrab disapa Daeng. Namanya besar seperti sekarang ini setelah memenangkan pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) yang digelar di Medan, 18-22 November 2018.

Daeng berhasil mengalahkan ribuan peserta anggota IDI dari ratusan cabang di 32 wilayah dan utusan dari perhimpunan dokter. Ia pun ditetapkan bertugas periode 2018-2021. 

Latar belakang pendidikannya di antaranya ia kuliah di Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya. Ia masuk kampus tersebut pada 1988, Jurusan Kimia, lewat jalur penelusuran minat dan kemampuan (PMDK).

Daeng hanya setahun di kampus itu karena kemudian ia menuruti permintaan orang tua, menuntut ilmu di bidang kedokteran. Tahun 1989 ia mengikuti tes Jurusan Kedokteran di Universitas Brawijaya, Malang. Ia diterima.

Meski bukan pilihan sejak awal, Daeng berusaha menekuni dan meminati jurusan pilihan orang tuanya itu. Ia berhasil hingga lulus. Berikutnya Daeng menempuh pendidikan Master (S2) Jurusan Hukum di Universitas Hassanuddin, 2011.

Ia tercatat aktif di Badan Rumah Sakit Indonesia kurun waktu 2014-2017. Ia juga pernah menjadi bagian Tim Kendali Mutu Kendali Biaya Pusat dan Dewan Pembina Komisi Akreditasi Rumah Sakit.

Daeng sejak remaja sudah menunjukkan minat berorganisasi. Saat mahasiswa ia dikenal sebagai aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), juga aktif di Lembaga Kesehatan Mahasiswa Islam (LKMI). Ia adalah Ketua Badan Koordinasi Nasional LKMI periode 1997-1999. []

Baca juga:

Berita terkait
Kemenkes dan IDI Tak Akur karena Pemecatan Terawan?
Presiden Jokowi baru menegur Ikatan Dokter Indonesia (IDI) karena beda data dengan Kementerian Kesehatan soal corona. Apa karena Terawan dipecat?
27 Terobosan Jokowi Hentikan Badai Covid-19
Pandemi Covid-19 memukul ekonomi dunia, termasuk ekonomi Indonesia. Berikut terobosan Presiden Jokowi dalam menghentikan badai Covid-19
Jokowi Minta IDI Tidak Memperkeruh Situasi
Presiden Jokowi meminta Ikatan Dokter Indonesia atau IDI kalau memang mempunyai data, sampaikan saja ke Gugus Tugas, ke Kementerian Kesehatan.
0
Pria Botak di Sumut Diancam 15 Tahun Penjara, Ini Kasusnya
Pria botak di Deli Serdang, Sumatera Utara, nodai adik ipar. Penjara 15 tahun menantinya.