UNTUK INDONESIA
Profil Dokter Kartono Mohamad Kakak Goenawan Mohamad
Kartono Mohamad seorang dokter, pernah jadi Ketua IDI, super aktif sepanjang usia. Ia juga kakak Goenawan Mohamad. Ini profilnya.
dr Kartono Mohamad. (Foto: Wikipedia)

Jakarta - Dokter Kartono Mohamad meninggal dunia pada Selasa, 28 April 2020. Ia Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) periode 1985-1988, juga adalah kakak sastrawan terkenal Goenawan Mohamad. Dokar panggilan akrabnya, singkatan dari Dokter Kartono, dikabarkan sakit dua tahun terakhir.

Kartono dibesarkan di lingkungan keluarga besar dengan delapan bersaudara, tinggal di Pekalongan Jawa Tengah. Ayahnya seorang pengusaha yang aktif dalam pergerakan melawan pemerintah kolonial Belanda.

Ayahnya meninggal karena ditembak pasukan Belanda. Sejak saat itu, Rukayah, ibunya yang menjadi tulang punggung keluarga dengan berjualan kue di pasar. Ibunya bertekad menyekolahkan anak-anaknya yang masih kecil, setinggi mungkin.

Kartono diterima di beberapa perguruan tinggi negeri terkemuka. Namun, atas saran ibunya, ia memilih masuk Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dengan alasan bisa satu kota dengan kakaknya. Setelah menempuh kuliah selama beberapa semester, ia mendapat beasiswa ikatan dinas dari TNI Angkatan Laut.

Begitu lulus kuliah, Kartono bertugas melayani kesehatan masyarakat di Kepulauan Seribu. Ia juga pernah bertugas di sejumlah kapal, termasuk KR Irian yang merupakan kapal penjelajah terbesar di Asia saat itu. Kartono juga sempat ditugaskan menghadang kapal induk Inggris yang akan melintasi Laut Jawa.

Kartono menerbitkan majalah kedokteran dan aktif menulis berbagai persoalan kesehatan untuk membangun komunikasi di kalangan sesama dokter, serta menggugah semangat pengabdian para dokter. Semangat pengabdian itu berkobar di dada Kartono Mohamad hingga akhir.

Dokter umum ini sempat menjabat sebagai pemimpin redaksi di majalah kedokteran, Medika. Dokter di TNI Angkatan Laut ini juga telah menghasilkan ratusan esai dan opini di media massa. Ia pensiun dengan pangkat terakhir Mayor.

Puskesmas dulu tujuannya mulia untuk melindungi kesehatan masyarakat, tapi sekarang bergeser menjadi tempat pengobatan.

dr Kartono Mohamaddr Kartono Mohamad. (Foto: Wikipedia)

Profil Dokter Kartono Mohamad

Dokter Kartono Mohamad lahir di Batang, Jawa Tengah, 13 Juli 1939. Ia menempuh pendidikan dokter di Universitas Indonesia pada 1964. Setelah lulus ia sempat praktik melayani kesehatan masyarakat. Pada 1992-1996, ia menjadi staf pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti Jakarta.

Kariernya di dunia jurnalistik cukup cemerlang dengan menduduki jabatan Redaktur Pelaksana di majalah Ilmu Bedah Ropanasuri, dan Pemimpin Redaksi majalah kedokteran Medika. Kartono bergabung dengan TNI Angkatan Laut dengan pangkat terakhir Mayor. Ia juga bergabung dalam organisasi dokter dan menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonedia (PB IDI) 1985-1988. 

Ia memiliki cita-cita di bidang kesehatan, yakni memberikan perlindungan kepada masyarakat sejak dalam kandungan hingga orang tua (healthy people in every stage of life) serta memberikan perlindungan kesehatan kepada masyarakat di mana pun dia berada (healthy people in healthy places), seperti yang juga diperjuangkan pemerintah Amerika Serikat.

”Puskesmas dulu tujuannya mulia untuk melindungi kesehatan masyarakat, tapi sekarang bergeser menjadi tempat pengobatan,” kata Kartono Mohamad.

Ketika aktif di Ikatan Dokter Indonesia, Kartono membenahi organisasi dengan memperkuat struktur organisasi IDI agar tidak hanya menjadi organisasi perkumpulan. Ia membentuk Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Indonesia (MKEKI) yang anggotanya adalah para dokter dari berbagai angkatan, berlatar belakang berbagai agama, budaya, etnis, dan latar belakang keahlian.

Kartono juga mendirikan Badan Pembelaan Anggota PB IDI. Sehingga setiap dokter yang menghadapi masalah etika kedokteran bisa mendapat pendampingan.

Ia juga menggagas lembaga pengaduan IDI untuk menampung aspirasi keluhan pasien yang masuk ke organisasi. Di masa kepemimpinannya, PB IDI berani membuka suara lebar untuk mengkritik kebijakan pemerintah Orde Baru dalam bidang kesehatan.

Karena keberaniannya, justru Orde Baru semakin mendengarkan aspirasi terkait bidang kesehatan.

Tidak berhenti di situ, sumbangsih Kartono di bidang kesehatan juga terus berlanjut di usianya yang semakin tidak lagi muda. Ia juga sempat aktif sebagai penasihat di Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), pengurus Yayasan Kesehatan Perempuan, pengurus Yayasan AIDS, ikut aktif dalam Koalisi untuk Indonesia Sehat dan gerakan pengendalian dampak tembakau bagi kesehatan, pengurus Bina Antar Budaya, tergabung dalam Forum Peduli Kesehatan Rakyat, dan aktivitas sosial lain.

Bahkan, Kartono turut aktif dalam penyusunan Revisi Rancangan Undang Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan tahun 2001-2004. Sayangnya, hingga kini revisi RUU itu belum juga kelar. 

"Saya tidak lelah, saya akan terus berteriak,” ujar Kartono di rumahnya yang asri di Jatipadang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Menurut Kartono, pembangunan manusia berkualitas harus bertumpu pada kesehatan yang juga berkualitas. Sebab, berbicara peningkatan kualisat pendidikan harus dibarengi dengan pembangunan kesehatan masyarakat.

Oleh karenanya, pembangunan kesehatan harus dimasukkan dalam pembangunan investasi bangsa. Tantangan bidang kesehatan adalah negara harus melaksanakan pembangunan kesehatan yang memprioritaskan upaya preventif atau pencegahan penyakit, bukan malah memfokuskan diri pada upaya kuratif dengan memperbanyak pendirian rumah sakit.

Keluarga

  • Hatma Wigati (istri)
  • Luki Andrini (anak)
  • Niko Anindita (anak)
  • Windu Kirana (anak)

Pendidikan

  • SD Negeri (1951)
  • SMP Negeri I Pekalongan (1954)
  • SMA Negeri I Pekalongan (1954)
  • Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) Jakarta (1964) Khusus General Management, Universitas Krisna Dwipayana Jakarta (1970)
  • Hospital and Medical Management Observation Training, US Navy Hospital, San Diego, AS (1971)
  • Health and Family Planning Management Training Dubrovnik, Yugoslavia (1979)
  • Potential Problem Assesment and Decision Making, LPPM Jakarta (1981)

Karier

  • Redaktur Pelaksana Majalah Ilmu Bedah Ropanasuri
  • Pemimpin Redaksi Majalah Kedokteran Medika (1975)
  • Dosen Etika Fakultas Kedokteran Trisakti (1992-1996)
  • Visiting Professor on Medical Sociology, Mahidol University, Bangkok (1996-1997)
  • Dosen Luar Biasa Bioetika Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM-UI), Jakarta (2000)
  • Dokter (Mayor) TNI-AL (1964-1975)
  • Ketua Medical Association of ASEAN
  • Ketua Umum Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Pusat
  • Pengurus Perhimpunan Ekonomi Kesehatan Indonesia
  • Pengurus Yayasan AIDS Indonesia
  • Pengurus Persatuan Pemberantasan TBC Indonesia
  • Redaksi Pelaksana Majalah Ilmu Bedah Ropanasuri
  • Anggota Tim Pengkaji Hukum Kesehatan BPHN/ Depkeh
  • Ketua Dewan Mahasiswa UI Jakarta (1963)
  • Sekretaris IDI Cabang Jakarta (1977-1979)
  • Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) DKI Jakarta (1979-1982)
  • Ketua Pengurus Besar IDI (1985-1988)
  • Anggota Penyusun Rancangan Revisi Undang-undang No.23 /92 tentang Kesehatan (2001-2004)

Legislatif

  • MPR dari Utusan Golongan (1987-1992). []

Baca juga:

Berita terkait
Profil Kim Jong Un, Koleksi Sepatu Nike dan Humoris
Pemimpin Korut Kim Jong Un kerap memakai sepatu bermerek Nike dan berperilaku humoris.
Profil Lukman Niode, Perenang Legendaris Indonesia
Duka yang mendalam menyelimuti Indonesia karena perenang legendaris Indonesia, Lukman Niode meninggal dunia pada 17 April 2020.
Profil Saud Anwar, Dokter Idola Masyarakat Amerika
Masyarakat Amerika berkonvoi mendatangi rumah Saud Anwar dokter Covid-19, mengelu-elukannya sebagai pahlawan. Ini profil dokter idola tersebut.
0
Gawat, 2 Juta Anak Indonesia Derita Berat Badan Rendah
Sekitar dua juta anak Indonesia menderita wasting parah atau berat badan rendah untuk tinggi badan, ciri-cirinya memiliki kekebalan yang lemah.