Untuk Indonesia

Pocut Meurah Intan Pahlawan yang Tak Dikenal

Pocut Meurah Intan Jadi diusulkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sebagai Pahlawan Nasional. Pocut adalah pejuang hebat keturunan Aceh.
Makam Pocut Meurah Intan (Foto: Tagar/Blorakab.go.id)

M. Adli Abdullah*


Pada Hari Pahlawan 10 November 2021, saya sangat terharu terhadap kepedulian Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang akan mengusulkan Pocut Meurah Intan Jadi Pahlawan Nasional (Kompas /9/11/2021). Ganjar yang datang ke makam Pocut Meurah Intan di Desa Tegal Sari, Kabupaten Blora, bersama istrinya Siti Atikoh. 

Disana beliau berjanji akan memperbaiki makam pejuang hebat Aceh ini, Pocut Meurah Intan dikejar kejar oleh Belanda sampai diasingkan ke Blora. Usaha yang patut dihargai dari seorang anak bangsa yang peduli terhadap peran dan kepahlawan Pocut Meurah Intan anak Hulubalang Biheu, Kale, Pidie ini.

Pocut Meurah Intan adalah puteri keturunan keluarga bangsawan dari kalangan kesultanan Aceh. Ayahnya Keujruen Biheue. Pocut Meurah merupakan nama panggilan khusus bagi perempuan keturunan keluarga sultan Aceh. Ia juga biasa dipanggil dengan nama tempat kelahirannya. 

Biheue adalah sebuah kenegerian atau ke-uleebalangan yang pada masa jaya Kesultanan Aceh berada di bawah Wilayah Sagi XXII Mukim, Aceh Besar. Setelah krisis politik pada akhir abad ke-19, kenegerian itu menjadi bagian wilayah XXII mukim: Pidie, Batee, Padang Tiji, Kale dan Laweueng.

Kisah Pocut Meurah Intan ini, dimulai ketika dia mendampingi suaminya Tuanku Abdul Majid yang juga cucu Sultan Aceh Sultan Alaidin Jauhar Alam Syah (1795-1815 dan 1819-1823) pejabat kerajaan Aceh yang mendapat tugas sebagai sebagai pejabat bea cukai kerajaan Aceh diakhir abad ke 19 di Pelabuhan Kuala Batee, Pidie.

Kapal-kapal dagang yang lewat di Selat Melaka diwajibkan membayar upeti kepada Kerajaan Aceh, tetapi tugas ini ditentang oleh Belanda khususnya paska Belanda menyatakan perang terhadap Aceh pada 26 Maret 1873 M. 

Veltman dalam bukunya “Nota over de Geschiedenis van het Landscap Pidie” (1919), mengatakan Pocut Meurah Intan gigih melawan Belanda di Selat Malaka sekitar Laweung dan Batee, yang kerap menyerang kapal-kapal dari maskapai berbendera Belanda, karena itu dia di cap sebagai Zeerover, yakni perompak laut. 

Padahal apa yang dilakukan oleh Pocut Meurah Intan dan suaminya Tuanku Abdul Majid sesuai dengan tugasnya sebagai pejabat bea cukai dari Kesultanan Aceh.

Walau suaminya telah ditawan Belanda, Pocut Meurah Intan tetap melakukan perlawanan dan mengajak putera-puteranya terus bergerilya di hutan belantara sampai dia tercium oleh pasukan elit Belanda Marsose. 

Puteranya, Tuanku Muhammad Batee dan Tuanku Nurdin, menjadi pemimpin utama dalam berbagai gerakan perlawanan terhadap Belanda, dikawasan Pidie. Akhirnya pada tanggal 19 April 1900, Pucot Meurah Intan ditangkap oleh pasukan elit belanda Marsose Belanda di Aceh Barat dan diasingkan ke Tondano Sulawesi Utara (Muhammad Said: 452). 

Pada 1904 Tuanku Mohammad Batee dan adiknya Tuanku Ibrahim bin Tuanku Abdul Majid yang lahir istri pertama Tuanku Abdul Majid meninggal dalam pengasingan di Tondano.

Menghadapi pasukan elit ini, Pocut Meurah tidak gentar bahkan beliau mencabut rencong dari pinggangnya, ia menyerang patroli itu seorang diri. “Kalau begini, biarkan aku mati” teriaknya.

Pocut Meurah memilih menyerang patroli itu dari pada ditangkap. Melihat itu, tentara marsose terkejut. Mereka tak menyangka, seorang perempuan paruh baya berani menyerang patroli 18 tentara Belanda lengkap dengan senjata. 

Ia menikam ke kiri dan ke kanan sehingga mengenai tubuh beberapa marsose. Sementara tubuhnya sendiri juga ditebas dengan sabetan pedang marsose.

Pocut Meurah mengalami dua luka sabetan pedang di kepalanya dan dua sabetan di bahu. Salah satu urat keningnya juga putus. Ia terbaring di tanah bersimbah darah dan lumpur. Melihat Pocut Meurah yang sudah tak berdaya, seorang sersan bertanya pada Veltman komandannya. 

Ia minta ijin untuk mengakhiri penderitaan Pocut Meurah, “Bolehkah saya melepaskan tembakan pelepas nyawa?” tanya sersan itu. Veltman kemudian membentak sersan tersebut. 

“Apa kau sudah gila” Veltman kemudian membungkuk dan menjulurkan tangannya untuk membantu Pocut Meurah, tapi mukanya diludasi, “Jangan kau pegang aku kaphe” tegas Pocut Meurah. Tapi Veltman tidak marah dan meniggalkan Pocut Meurah seorang diri. Veltman ingin agar Pocut Meurah yang sekarat itu menghembus nafasnya di hadapan bangsanya sendiri.

Namun dugaan Veltman bahwa Pocut Meurah akan meninggal karena lukanya itu ternyata meleset. Beberapa hari setelah kejadian itu, Veltman bersama pasukannya kembali patroli ke kawasan Keude Biheue, antara Sigli dan Padang Tiji mendengar bahwa Pocut Meurah bukan saja masih hidup, tapi juga berencana untuk kembali menyerang patroli Belanda.

Veltman pun mencari tahu bagaimana wanita perkasa itu bisa bertahan dari lukanya. Dari warga di sana diketahui bahwa untuk menyembuhkan lukanya, Pocut Meurah mengoleskan kotoran lembu di lukanya. Veltman kagum dengan keberanian Pocut Meurah, karena itu ia membawa seorang dokter bersamanya ketika menjenguk Pocut Meurah dalam masa penyembuhan di kediamannya.


Terima kasih Pak Ganjar kami ucapkan mewakili masyarakat Aceh yang sangat menghargai Jerih Payah Pahlawan dalam memperjuangkan Kemerdekaan Bangsa Ini, tanpa pahlawan, bangsa ini tidak akan bisa menjadi besar sampai saat ini.


Ketika Veltman sampai, Pocut Meurah masih sangat lemah akibat banyak kehilangan darah. Tubuhnya menggigil, ia mengerang kesakitan. Meski begitu, ia tetap menolak bantuan dokter yang dibawa Veltman untuk merawatnya. “Jangan kau sentuh aku, lebih baik aku mati dari pada tubuhku dipegang kaphe,” katanya.

Veltman terus membujuk Pocut Meurah agar mau diobati. Akhirnya Pocut mau menerima bantuan dokter itu. Lukanya yang sudah berulat dibersihkan diobati dan dibalut dengan perban. Masa penyembuhan Pocut Meurah berlangsung lama. Meski demikian, ia akhirnya sembuh walau pincang seumur hidup.

Berita tentang Pocut Meurah akhirnya sampai kepada Scheuer, komandan militer Belanda. Ia menyatakan keinginannya untuk bertemu dengan perempuan yang dinilainya sangat luar biasa, yang menyerang 18 tentara Belanda dengan 18 karaben seorang diri.

Ketika Scheuer sampai ke kediaman Pocut Meurah, wanita gagah perkasa itu belum sembuh betul. Di hadapan Pocut Meurah, Scheuer, komandan militer Belanda itu mengambil sikap sebagai seorang prajurit. Ia mengangkat tabik tanda hormat dengan meletakkan ujung jari-jarinya di ujung topi petnya, “saya sangat kagum padanya”.

Setelah sembuh dari luka, Pocut Meurah bersama putranya, Tuanku Muhammad Batee dan Tuanku Nurdin, menjadi pemimpin utama dalam berbagai gerakan perlawanan terhadap Belanda, dikawasan Pidie.

Akhirnya pada tanggal 19 April 1900, Pucot Meurah Intan ditangkap oleh pasukan elit belanda Marsose Belanda di Aceh Barat dan diasingkan ke Tondano Sulawesi Utara (Muhammad Said: 452). Pada 1904 Tuanku Mohammad Batee dan adiknya Tuanku Ibrahim bin Tuanku Abdul Majid yang lahir istri pertama Tuanku Abdul Majid meninggal dalam pengasingan di Tondano.

Setelah Tuanku Nurdin di tahan bersama ibunya, Pocut Meurah Intan dan saudaranya Tuanku Budiman dan juga anak tirinya Tuanku Ibrahim di buang ke Blora, Jawa Tengah dan pada tanggal 19 September 1937 kembali keharibaannya dengan semangat merdeka didadanya. Meski dikenal sebagai pejuang besar, namun nama wanita yang dijuluki sebagai “singa betina” ini tidak ada dalam daftar pahlawan nasional.

Pocut Meurah Intan ini juga tidak dimakamkan di taman makam pahlawan, bukan juga disuatu tempat di tanah asal kelahirannya, Biheu, melainkan di desa Tegal Sari, Kabupaten Blora Jawa Tengah.

Kini makam Pocut hendak diperbaiki oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Ganjar juga mendukung upaya untuk mengusulkan Pocut mendapat gelar pahlawan nasional.

“Kalau diizinkan, kita akan perbaiki (makam). Beliau ini pejuang hebat. Dari keluarga Kesultanan dan melawan Belanda sampai dikejar-kejar dan diasingkan ke sini,” kata Ganjar saat berziarah di makam Pocut.

“Terima kasih Pak Ganjar kami ucapkan mewakili masyarakat Aceh yang sangat menghargai Jerih Payah Pahlawan dalam memperjuangkan Kemerdekaan Bangsa Ini, tanpa pahlawan, bangsa ini tidak akan bisa menjadi besar sampai saat ini.”

Dan Bangsa yang Besar akan selalu mengingat Perjuangan Para Pahlawan nya. Selamat Hari Pahlawan untuk Semua Pahlawan yang di kenal maupun Tidak. Usahamu para Pahlawan akan dikenang sepanjang masa, semoga.[]


*Staf Khusus Menteri ATR/Kepala BPN Bidang Hukum Adat

Baca Juga:

Berita terkait
Ganjar: Wirausaha Sebaiknya Dilatih di Koperasi & UMKM
Gubernur Provinsi Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan bahwa enterpreneurship (kewirausahaan) sebaiknya dilatih pada koperasi dan UMKM.
Panca Unggul Ganjar Pranowo Memimpin Indonesia Menurut Pakar
Direktur Rumah Politik Indonesia Fernando EMaS menilai Banyak tokoh yang sudah mempersiapkan diri untuk ikut berkompetisi pada pilpres 2024.
Ganjar Serahkan Keputusan Sebagai Capres 2024 pada Megawati
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo belakangan ini sedang digadang-gadang untuk mendaftarkan diri sebagai calon presiden 2024. Simak ulasannya.
0
Pocut Meurah Intan Pahlawan yang Tak Dikenal
Pocut Meurah Intan Jadi diusulkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sebagai Pahlawan Nasional. Pocut adalah pejuang hebat keturunan Aceh.