UNTUK INDONESIA
Pembunuh Munir dalam Bilah-bilah Keris Yogyakarta
Sebagian besar keris Yogyakarta juga mengandung racun berbahaya, arsenik, zat yang menyebabkan aktivis Hak Asasi Manusia, Munir, tewas.
Mochammad Abdillah, pemilik kios di Blok C Los 3 Pasar Beringharjo, Yogyakarta, menata keris dagangannya, Jumat, 17 Januari 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Yogyakarta - Senjata tikam tradisional Jawa, yakni keris, bukan hanya memiliki filosofi tinggi dan anggun saat dilihat. Tapi, sebagian besar keris juga mengandung racun berbahaya, arsenik, zat yang menyebabkan aktivis HAM, Munir, tewas.

Belasan bahkan puluhan bilah keris tersimpan dalam beberapa laci di salah satu kios di Blok C Los 3 Pasar Beringharjo, Yogyakarta.

Keris-keris itu dipisahkan berdasarkan usia besi, jenis dan asal daerahnya. Pada laci yang terletak di tengah, sebagian keris tampak kotor berkarat. Keris di situ merupakan keris tua, yang usianya sudah mencapai ratusan tahun.

Meski kotor, pamor atau semacam guratan yang terlukis pada bilah keris, masih terlihat walau sedikit samar. Ada yang memanjang dari ujung hingga pangkal bilah, ada yang berbentuk lingkaran-lingkaran, juga ada yang berbentuk seperti peta.

Jenis dapur atau bentuk fisik bilah, pun beragam. Mulai dari yang lurus hingga yang memiliki tujuh lekukan atau disebut luk.

Sementara, di laci sebelah kiri tempat menyimpan bilah keris tua, juga tersimpan belasan keris berusia muda, atau biasa disebut keris kamardikan, karena pembuatannya setelah zaman kemerdekaan.

Jika dibandingkan keris-keris lokasian yang berusia tua di sampingnya, keris-keris kamardikan tampak lebih bersih dan besinya pun lebih tebal.

Sekilas seperti tidak ada perbedaan usia dari keris-keris tua maupun kamardikan. Pamor dari sebagian keris kamardikan itu juga tampak. Bahkan pamornya terlihat lebih jelas dibandingkan keris-keris tua di sampingnya. Salah satu penyebabnya karena warna bilah keris kamardikan itu lebih gelap.

Biasanya kita jamasi atau bersihkan pakai air kelapa, pakai arsen. Itu untuk mengeluarkan pamor.

Keris YogyakartaPuluhan keris dan aksesoris dijual di kios di Blok C Los 3 Pasar Beringharjo, Yogyakarta, Jumat, 17 Januari 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Arsenik untuk Mencerahkan Pamor

Meski keris-keris berusia ratusan tahun itu terlihat kotor, bilah-bilah tersebut bisa dibersihkan untuk menampakkan pesonanya, khususnya rajah pamor yang masih samar.

Pamor pada keris terbuat dari bahan yang berbeda dengan besi bahan baku bilah. Biasanya pamor keris terbuat dari logam meteorit atau nikel. Reaksi kimia tertentu pada bilah keris dapat memperjelas bentuk pamor.

Mochammad Abdillah, pemilik kios Intan Pusaka Jaya, yang menjual benda-benda pusaka dan antik di Pasar Beringharjo tersebut, mengatakan untuk membersihkan bilah keris, atau biasa disebut menjamas, dibutuhkan bahan-bahan khusus, salah satunya adalah racun arsenik cair.

Proses menjamas atau mewarangi tidak mudah, karena selain melewati beberapa tahap, juga harus berhati-hati agar tidak tergores, supaya racun arsenik tidak masuk ke dalam tubuh.

Untuk proses awal penjamasan, bilah keris dicuci bersih menggunakan air kelapa. Setelah benar-benar bersih, proses pewarangan bisa dilakukan. Caranya, bilah keris direndam dalam larutan arsenik yang telah dicampur dengan air jeruk nipis.

Tidak hanya direndam, bilah keris juga ditekan-tekan saat berada dalam larutan itu. Tujuannya agar larutan arsenik tersebut masuk ke dalam pori-pori bilah.

Reaksi kimia antara besi bilah dan larutan arsenik bercampur jeruk nipis, akan membuat warna besi menjadi lebih tua. Tapi pamor pada bilah tidak akan berubah warna, sehingga keindahannya menjadi lebih nampak.

Selain memunculkan pamor dan membersihkan bilah, proses penjamasan atau pewarangan itu juga membuat keris lebih awet. Sebab, bilah yang sudah dijamasi akan terhindar dari karat dan korosi.

"Biasanya kita jamasi atau bersihkan pakai air kelapa, pakai arsen. Itu untuk mengeluarkan pamor. Dulu dicampur dengan bisa ular, bisa katak, padahal arsen sendiri sudah beracun. Kalau ditambah begitu, tergores saja sudah bisa meninggal. Kalau yang sekarang enggak terlalu fatal dan ganas," tutur Abdillah saat ditemui Tagar di kiosnya, Jumat, 17 Januari 2020.

Keris YogyakartaMochammad Abdillah, pemilik kios di Blok C Los 3 Pasar Beringharjo, Yogyakarta, menata keris dagangannya, Jumat, 17 Januari 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Kata dia, untuk orang-orang yang awam atau belum terbiasa mewarangi keris, sebaiknya menggunakan pakaian khusus, untuk mencegah terpapar racun arsenik. "Kalau menjamas saya tidak menggunakan pakaian khusus untuk menghindari arsen, karena sudah biasa. Kalau yang awam, mungkin harus lebih safety dan dijaga benar."

Pemilik keris yang ingin mewarangi tapi khawatir dengan kandungan arsenik, atau tidak tahu cara menjamas, bisa membawa kerisnya ke kios milik Abdillah. Dia menerima jasa mewarangi keris. Biaya yang dipatok untuk sebilah keris cukup terjangkau, yakni Rp 40 ribu.

Proses pewarangan itu, kata dia, membutuhkan waktu sekitar sepekan, karena harus dijemur dan melalui beberapa proses. Sehingga dia tidak bisa mewarangi di pasar.

"Misalnya punya keris yang jelek dan tidak terawat, bisa dijamaskan di sini. Biasanya kalau sudah jadi akan senang lihatnya. Saya pernah mewarangi di sini tapi enggak berhasil. Kalau enggak dijamasi lama-lama keris juga akan hancur," ucapnya sambil menata keris-keris dagangannya.

Pewarangan atau penjamasan keris juga menjadi salah satu upaya untuk melestarikan keris, agar tidak keropos atau aus.

Pujiyono, seorang pelestari budaya keris lain, yang juga membuka jasa pewarangan atau penjamasan keris, mengatakan hal senada. Kata Pujiyono, untuk memaksimalkan pewarangan, dibutuhkan sinar matahari yang cukup.

Proses pewarangan yang menggunakan racun arsenik, menurut Pujiyono, cukup menguras tenaga. Dia menduga itu akibat racun arsenik yang bersentuhan dengan tubuh. "Aku nek bar mewarangi njuk koyo kesel banget, lemes (Saya kalau sesudah mewarangi, biasanya lelah sekali, lemas). Biasane njuk turu sedino (biasanya terus tidur seharian)."

Keris YogyakartaMochammad Abdillah, pemilik kios di Blok C Los 3 Pasar Beringharjo, Yogyakarta, menata keris dagangannya, Jumat, 17 Januari 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Melestarikan Budaya Sambil Berdagang

Dua perempuan muda berjilbab yang menemani Abdillah berjualan, menata puluhan keris dan aksesorisnya, mulai dari handel atau deder, warangka keris, serta beberapa aksesoris lain.

Suasana kios yang tidak terlalu terang, bukan halangan untuk keduanya mengatur benda-benda yang sebagian berusia ratusan tahun tersebut. Jemari mereka lincah menempatkan masing-masing barang pada tempatnya, meski jauh dari kesan rapi.

Abdillah mulai menjalankan usahanya pada 1993. Dia melanjutkan usaha pamannya, yang telah berjual beli barang antik jauh sebelum pasar tersebut didirikan. Abdillah menjual keris dan aksesoris mulai dari yang biasa hingga harga ratusan juta rupiah.

"Awal berdirinya ini sebelum pasar ini jadi. Sudah turun temurun. Dulu kan budaya kita di Jogja masih banyak yang melestarikan, satu dua masih ada yang koleksi, masih ada juga yang merawat," kata dia.

Seiring perkembangan zaman, pelestari budaya, khususnya keris dan senjata khas lainnya mulai berkurang. Untungnya, kata dia, Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta memberlakukan aturan yang mendukung pelestarian budaya.

Pemprov DIY mewajibkan seluruh aparatur sipil negara (ASN) mengenakan pakaian adat setiap Kamis Pahing. Hal itu menurut Abdillah, sangat mampu memperkenalkan budaya Jawa pada masyarakat, sekaligus melestarikannya.

Keris YogyakartaMochammad Abdillah, pemilik kios di Blok C Los 3 Pasar Beringharjo, Yogyakarta, memperlihatkan keris dagangannya, Jumat, 17 Januari 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Kebijakan itu juga meningkatkan penjualan keris maupun aksesorisnya. "Terangkat, karena dengan adanya itu, aturan Kamis Pahing, diperkenalkan, meskipun ibaratnya harga seratus ribuan tapi sudah ada rasa memiliki atau ingin tahu. Kami jual satu set untuk kamis pahingan. Satu set itu beskap, surjan, blangkon, gamus atau sabuk untuk keris," ujar Abdillah.

Dari beragam jenis aksesoris yang dijualnya, mendak atau cincin yang terletak di antara handel dan bilah merupakan barang termurah. Harganya mulai Rp 10 ribu. Sementara yang termahal adalah bilah keris yang harganya bisa mencapai ratusan juta.

"Keris paling murah Rp 100 ribu, itu untuk manten (pengantin) dan Kamis Pahingan, gaya Solo dan Jogja ada. Yang paling mahal ada sampai ratusan juta. Biasanya yang beli pejabat," tuturnya.

Dia menjelaskan, perbedaan pembuatan keris pada zaman dahulu dan zaman sekarang hanya pada energi supranaturalnya. Pada zaman dahulu, menurutnya lara empu pembuat keris menyelaraskan energi dari besi dengan pemiliknya, termasuk watak pemilik.

"Itu lebih bagus. Kalau sekarang lebih ke seni. Karena rasa senang pemiliknya pun akan memunculkan energi tersendiri. Zaman dulu karena zaman perang, untuk piandel (keberanian), untuk musuh. Kalau sekarang lebih pada pelestarian dan seni," kata dia.

Keris yang dijual Abdillah bukan hanya berasal dari Jawa. Abdillah juga menyediakan keris dari Sumatera, Madura, bahkan dari Malaysia.

Keris YogyakartaMochammad Abdillah, pemilik kios di Blok C Los 3 Pasar Beringharjo, Yogyakarta, memperlihatkan keris dagangannya, Jumat, 17 Januari 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Dua Golongan Pecinta Keris

Beberapa waktu sebelumnya, seorang kolektor sekaligus pecinta tosan aji atau benda pusaka, Yogi Yuwono, menjelaskan bahwa pecinta keris terbagi atas dua kalangan, yakni eksoteri dan isoteri.

Kalangan eksoteri, menurutnya lebih mengedepankan sisi fisik atau tampilan atau bentuk utuh sebilah keris. Sementara, pecinta keris kalangan isoteri, melihat keris lebih dalam lagi, yakni dari sisi kajian secara makna, filosofi dan sisi spiritualnya. Termasuk pengharapan-pengharapan yang dituangkan dalam sebilah keris.

Biasanya seorang empu atau pembuat keris, memasukkan harapan-harapan, serta makna dan tujuan tertentu pada keris yang dibuatnya, yakni sebagai sarana untuk sifat kandel, atau dijadikan pegangan.

"Maka ada pemahaman bahwa keris itu singkatan dari kekering aris atau sebuah kebijaksanaan dalam menghadapi segala hal," kata Yogi.

Orang-orang zaman dulu, kata dia, menganggap orang yang pantas kedunungan atau memiliki keris hanya mereka yang berusia 40 tahun ke atas. Pertimbangannya adalah, orang berusia 40 merupakan sosok yang sudah matang dan bijaksana dalam menyikapi berbagai hal.

Namun untuk saat ini sudah tidak seperti itu lagi, katanya. Sekarang banyak kalangan muda yang mulai mengumpulkan hingga memaharkan dan melestarikan keris. Salah satu alasannya, karena keris merupakan investasi yang baik selain tanah dan emas. []

Baca cerita lain:

Berita terkait
Siang di Kampong Kopi Bawakaraeng Gowa
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam dari Kota Makassar dengan kondisi jalan mulus, kami tiba di Kampong Kopi Bawakaraeng di Gowa.
Keraton Agung Sejagat di Sleman Usai Raja Dipenjara
Pengikut Keraton Agung Sejagat yakin Toto Santoso yang dipenjara bukan raja mereka tapi hanya jelmaan. Begini kondisi keraton terkini di Sleman.
Utang Demi Gabung Keraton Agung Sejagat Purworejo
Kisah ngenes korban Keraton Agung Sejagad Purworejo. Ada yang belain utang demi bisa gabung. Ada yang ludes jutaan rupiah. Dijanjikan apa mereka?
0
Dzulmi Eldin Segera Diadili di PN Tipikor Medan
Kasus Wali Kota Medan nonaktif Dzulmi Eldin segera disidangkan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi.