UNTUK INDONESIA
Parlemen Hong Kong Akhirnya Cabut RUU Ekstradisi
RUU Ekstradisi yang menjadi biang merebaknya aksi demonstrasi telah dicabut oleh parlemen Hong Kong. RUU ini yang menyulut orang turun ke jalan.
Demonstrasi yang dilakukan masyarakat Hong Kong pada 16 Juni 2019 lalu menolak RUU Ekstradisi. (Foto: Wikipedia)

Jakarta - Parlemen Hong Kong secara resmi mencabut RUU Ekstradisi kontroversial yang memicu aksi demonstransi selama berbulan-bulan. RUU yang diajukan April 2019 lalu itu telah memantik kemarahan warga. Ratusan ribu orang turun ke jalan menolak RUU Ekstradisi sehingga ditunda pengesahannya.

Namun para pendemo  terus melakukan aksi demonstrasi secara teratur yang kemudian berkembang menjadi gerakan pro demokrasi. Aksi demo ini merupakan krisis yang terbesar sejak bekas koloni Inggris ini kembali kepada China tahun 1997.

Kerusuhan ini merupakan persoalan serius bagi pemimpin China di Beiijng. China menuduh para pendemo  sebagai kelompok sparatis berbahaya dan menuduh aksi ini mendapat dukungan dari pihak asing. RUU ini memungkinkan Hong Kong untuk mengekstradisi tersangka kriminal ke beberapa wilayah yang tidak ada perjanjian ekstradisi, termasuk China daratan, Taiwan dan Macau.

Seperti diberitakan dari BBC News, Rabu, 23 Oktober 2019, para pengkritik kebijakan mengkhawatirkan ekstradisi ke China darata bisa membuat tersangka ditahan secara sewenang-wenang dan tanpa persidangan yang adil. Pencabutan RUU itu hanya memenuhi satu tuntutan dari lima tuntutan yang diminta para pendemo  yang sering meneriakkan yel-yel "lima tuntutan,tidak satu pun kurang" di jalan-jalan Hong Kong.

Seorang pendemo kepada Reuters mengatakan, pencabutan RUU Ekstradisi ini sudah terlambat

Empat tuntutan lainnya yakni; protes tidak boleh dikategorikan sebagai kerusuhan, pemberian amnesti kepada demonstrans yang tertangkap, dilakukannya penyelidikan yang independen terhadap dugaan kebrutalan polisi, dan penerapan hak pilih lengkap yang universal.

Demo Hongkong
Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam bertemu dengan pembuat petisi diluar kantornya di Hong Kong, China, Selasa, 13 Agustus 2019. (Foto: Antara/Reuters/Thomas Peter)

Connie, salah seorang pendemo mengatakan kepada Reuters, pencabutan RUU Ekstradisi ini sudah terlambat. "Masih ada tuntutan lain yang harus dipenuhi pemerintah khususnya masalah kebrutalan polisi," katanya. Carrie Lam, pimpinan Hong Kong mengatakan tuntutan para pendemo ini bukan kewenangannya.

Aksi demo yang semula berjalan damai berubah menjadi aksi anarki. Polisi menyerang para pendemo  garis keras yang merusak toko dan melemparkan bom molotov ke aparat keamanan. Polisi membalasnya dengan menembakkan meriam air, gas air mata, dan peluru karet ke arah demonstran. Polisi juga melepaskan peluru tajam dan melukai remaja berusia 18 tahun pada 1 Oktober lalu.

Surat kabar Financial Times melaporkan bahwa pemerintah China merencanakan akan memecat pimpinan Hong Kong, Carrie Lam yang bertanggung jawab atas merebaknya aksi demo. Ia merupakan sosok yang sangat dibenci para pendemo. Bila Presiden Xi Jingping menyetujui, Carrie Lam akan diganti oleh pejabat kepala eksekutif hingga Hong Kong kembali tenang.

Lam mengatakan kepada BBC,"Kami tidak mau mengomentari spekulasi." Kementerian Luar Negeri China menyebutkan bahwa laporan Financial Times itu merupakan gosip politik dengan motif tersembunyi.

Berita terkait
Demo Lagi, Kantor Polisi Hong Kong Dilempar Bom Molotov
Hong Kong kembali diwarnai aksi demo menentang RUU Ekstradisi. Minggu 20 Oktober, demontrans menyerang kantor polisi dengan melempar bom molotov
Demo, Orang Kaya di Hong Kong Siap Kabur ke Luar Negeri
Kerusahan yang dipicu penolakan RUU Ekstradisi memicu kekhawatiran orang kaya di Hong Kong. Mereka siap kabur ke luar negeri memburu visa emas.
Aktivis Hong Kong Ancam Gelar Demo Lebih Besar
Aksi unjuk rasa menentang RUU Ekstradisi bakal digelar lagi. Para demonstran Hong Kong mengancam akan mengerahkan masa lebih besar lagi
0
Ariel Tatum Jadi Penyanyi Tamu di Album Glenn Fredly
Penyanyi muda Ariel Tatum menjadi salah satu biduan tamu di album terbaru Glenn Fredly yang berjudul Romansa ke Masa Depan.