UNTUK INDONESIA
Oase di Kesunyian Pedukuhan Kemuning Gunungkidul
Di sudut terpencil Gunungkidul, empat perempuan sibuk memisah sampah plastik, kertas, logam. Sepeda motor pengangkut sampah terpakir dekat mererka.
Jembatan yang menghubungkan Pedukuhan Kemuning, Desa Bunder, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, dengan hutan Wanagama. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Gunungkidul - Empat perempuan muda dan paruh baya tampak sibuk memilah sampah. Mereka memisahkan antara sampah plastik, kertas dan logam. Satu sepeda motor pengangkut sampah terparkir tidak jauh dari mereka.

Tangan-tangan para perempuan anggota kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Dukuh Kemuning, Desa Bunder, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul tersebut lincah mengeluarkan sampah dari karung, melipat dan mengikatnya.

Matahari siang yang cukup terik tertahan oleh atap bangunan tanpa dinding, tempat mereka beraktivitas. Tidak ada suara lain yang terdengar selain obrolan para perempuan itu, di lokasi Bank Sampah Maju Sejahtera, nama tempat sampah yang mereka kelola

Setelah dipisah berdasarkan jenis, sampah-sampah itu kembali dimasukkan ke dalam karung yang sudah ditulisi jenis sampah. Lalu, mereka kembali menyimpannya, menunggu hingga cukup banyak, untuk kemudian dijual pada pengepul.

Sampah-sampah yang dipilah tersebut merupakan sampah yang dihasilkan warga Dukuh Kemuning. Para perempuan itulah yang mengumpulkan dari rumah warga satu ke rumah warga lainnya, untuk dibawa ke bank sampah.

Bendahara pengelola Bank Sampah Maju Sejahtera, Endang, mengatakan, bank sampah yang dibentuk pada 29 Agustus 2018 itu, merupakan salah satu wujud program CSR Astra.

"Astra memberi bantuan dan pelatihan. Ini salah satu inovasi dari Astra tentang lingkungan, jadi menjaga lingkungan. Sejak dibimbing Astra, kami manfaatkan sampah. Ada juga bantuan alat, sepatu safety, sarung tangan, dan lain-lain," ucapnya sambil memilah-milah sampah.

Kata Endang, selain anggota pokdarwis, pengelolaan bank sampah itu juga dibantu kader posyandu. Mereka mengambil sampah dari warga setiap dua pekan sekali, kemudian setiap bulan dijual.

"Kami kerja sama dengan Bank Sampah Jati Kuning. Hasil penjualannya dipakai untuk dana sehat posyandu balita dan lansia, buat PMT (pemberian makanan tambahan)," tuturnya.

Ini salah satu inovasi dari Astra tentang lingkungan.

Kemuning GunungkidulJalan menuju Pedukuhan Kemuning, Desa Bunder, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, dari Hutan Wanagama. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Juara Posyandu Tingkat Nasional

Baru saja Endang selesai menceritakan tentang bank sampah dan hasilnya yang digunakan untuk PMT posyandu, tiba-tiba seorang perempuan lain datang. Wajah dan lehernya basah keringat. Sepertinya cuaca panas siang itu yang menjadi penyebabnya.

Perempuan itu adalah Rumiyati, salah satu kader posyandu di Dukuh Kemuning. Dia beristirahat sejenak sebelum membantu keempat rekannya memilah sampah.

Rumiyati membenarkan penjelasan Endang, bahwa hasil penjualan dari bank sampah itu digunakan untuk PMT lansia dan balita.

Kata Rumiyati, selain bank sampah, program inovatif lain yang dilakukan oleh posyandu adalah pembentukan posyandu ranting dan pemanfaatan lahan minim air untuk digunakan sebagai kolam ikan lele.

Ketiga program inovatif tersebut, menurutnya merupakan binaan dari PT Astra. "Setiap tiga bulan sekali, kami juga ada pemeriksaan gratis dari puskesmas dan dibantu volunteer dokter Astra. Kemudian sejak ada binaan dari Astra, bisa memunculkan inovasi-inovasi. Pertama adalah posyandu ranting dan pemilahan sampah untuk pemenuhan tambahan pemberian makanan tambahan balita dan lansia. Yang terakhir, adalah pemanfaatan lahan yang minim air untuk kolam lele."

Program posyandu ranting dilaksanakan karena ada satu RT di Dukuh Kemuning yang letaknya cukup jauh dari balai dukuh. Sehingga untuk memudahkan warga di RT tersebut, dibuat posyandu ranting.

Ketiga inovasi yang merupakan binaan PT Astra tersebut, membawa Posyandu Dukuh Kemuning menjadi juara dua Avisena Teladan tingkat nasional, yang dilaksanakan di Provinsi Bangka Belitung beberapa waktu lalu. "Penilaian yang utama adalah inovasi. Yang dimasukkan yang tiga tadi."

Selain ketiga program inovatif, PT Astra juga memberikan pembinaan pada kader posyandu, berupa pelatihan kader dan ditunjang dengan bantuan alat kesehatan. Sehingga kader Posyandu Dukuh Kemuning bisa mengoperasikan alat kesehatan, misalnya alat pengecek kadar kolesterol, asam urat, gula darah, indeks massa tubuh.

Kemuning GunungkidulKader posyandu dan bank sampah Pedukuhan Kemuning, Desa Bunder, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, memilah sampah, Sabtu, 21 Desember 2019. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Dengan program dan keterampilan yang dimiliki kader posyandu, warga semakin merasakan manfaatnya. Setidaknya, kunjungan yang dilakukan kader posyandu menjadi lebih sering, dan kesadaran warga untuk memeriksakan atau mengetahui perkembangan kesehatan anak, menjadi lebih tinggi.

"Kami sudah melaksanakan sistem lima meja, yang kegiatannya antara lain penimbangan berat badan, pemberian makanan tambahan dan penyuluhan kesehatan," tutur Rumiyati.

Produk Kuliner Unggulan

Bukan hanya posyandu dan bank sampah. CSR Astra di salah satu Kampung Berseri Astra ini juga membuat warga semakin bersemangat memroduksi kuliner yang terbuat dari hasil bumi setempat.

Direktur Pokdarwis Dukuh Kemuning, sekaligus penanggung jawab bagian produksi makanan olahan, Siti Romlah, menjelaskan, Dukuh Kemuning memiliki hasil bumi yang cukup melimpah, mulai dari singkong hingga beberapa macam rempah seperti jahe dan kayu secang.

Untuk hasil bumi berupa singkong, pihaknya membuat keripik dan kerupuk ubi, yang dinamai Balung Kethek. Sementara, untuk hasil bumi berupa kayu secang dan jahe, pihaknya membuat minuman yang dinamakan Secang Kemuning (Cangkemu).

"Oase Gunung Sewu Kemuning ini memproduksi hasil bumi lokal. Misalnya Balung Kethek, itu terbuat dari singkong. Sedangkan Cangkemu terbuat dari kayu secang, yang tumbuh liar di daerah sini, kemudian dicampur cengkeh, kapulogo, serei, dan jahe," tuturnya.

Semua makanan olahan itu kemudian dikemas dengan tempat plastik agar lebih menarik. Kata dia, ide pengemasan itu berasal dari usulan pihak PT Astra. "Ide secang kemuning dikemas seperti teh celup, karena kemasan plastik itu sudah biasa. Kita pengin yang lebih dari itu, untuk menarik pembeli. Itu usulannya dari Astra."

Secang Kemuning dikemas dalam dua jenis, yakni basah dan kering. Untuk Secang Kemuning basah biasanya disajikan pada tamu atau wisatawan yang datang ke tempat itu. Sementara, yang berbentuk kering, dikemas seperti teh celup, sehingga lebih tahan lama.

Kepala Pedukuhan Kemuning, Suhardi, membenarkan pernyataan ketiga warganya. Suhardi mengatakan, untuk produk makanan olahan, pihaknya hanya memanfaatkan hasil bumi yang ada. Misalnya, singkong yang memang tersedia cukup banyak.

"Jadi daripada kita jual singkong yang belum diolah, harganya per kilo seribu atau dua ribu rupiah. Kalau kita kelola dulu, harganya lebih naik," ujarnya.

Kemuning GunungkidulKepala Pedukuhan Kemuning, Suhardi, menikmati minuman Secang Kemuning di rumahnya di Gunungkidul, Sabtu, 21 Desember 2019. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Sebelum produk dibungkus dengan kemasan menarik, paling banter dijual dalam bentuk kerupuk yang harganya maksimal Rp 20 ribu per kilogram. Setelah dibungkus dengan kemasan yang menarik, meski ongkos produksinya menjadi sedikit lebih mahal, harganya pun meningkat. "Lebih mahal sedikit tapi harganya naik, untuk menambah pemasukan ibu-ibu di UMKM."

Suhardi mengatakan sebenarnya sudah cukup banyak produk makanan olahan yang dibuat Pokdarwis Dukuh Kemuning yang memiliki izin PIRT, namun karena keterbatasan bahan, mereka hanya fokus pada hasil olahan singkong dan Cangkemu.

Minuman Bangsawan

Demikian pula dengan kayu secang, yang banyak tumbuh di kampung mereka, bahkan di hutan di tepi kampung. Mereka memanfaatkannya meski belum bisa maksimal. "Khasiatnya untuk memperlancar peredaran darah. Dulu katanya secang itu minuman para bangsawan. Produk dari sini kita jual dari teman ke teman, online di Instagram, di website. Produknya sampai di Bali dan Batam."

Kata Suhardi, produksi makanan olahan tersebut diberi pendampingan oleh pihak PT Astra, termasuk untuk desain kemasan dan pencetakan kemasan dibiayai.

Suhardi memasukkan bongkahan kecil gula batu ke dalam minuman Secang Kemuning yang diseduh oleh istrinya, lalu menyeruputnya pelan setelah mengaduk dengan batang serei.

Suasana siang itu masih sunyi. Hanya beberapa pejalan kaki, dan sesekali sepeda motor melintas di depan rumah Suhardi.

Tak begitu jauh dari kediaman Suhardi, sekitar satu kilometer menuju ke hutan Wanagama, terdapat telaga yang tidak pernah kering meski kemarau panjang. Telaga itu menjadi lokasi wisata yang juga dikelola Pokdarwis Dukuh Kemuning.

Suasana di sekitar telaga tak jauh berbeda dengan suasana di perkampungan, sunyi, tenang. Beberapa pohon rindang tumbuh di sekitar telaga. Juga ada bangunan semacam pendopo yang didirikan PT Astra.

Kata Suhardi, CSR Astra di kampungnya terdiri dari empat pilar, yakni pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan kewirausahaan. Untuk objek wisata tersebut, masuk dalam pilar kewirausahaan.

"Sebelum ada CSR Astra, hanya ada pemancingan di telaga itu. setelah 2018, karena ada pilar kewirausahaan, didoronglah pembentukan pokdarwis. Kegiatannya banyak, termasuk paket wisata yang kita pasarkan, outbond, paket percontohan dan beberapa paket lain," tuturnya.

Kemuning GunungkidulProduk makanan olahan asli Pedukuhan Kemuning, Desa Bunder, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Menurut kepercayaan warga setempat, telaga yang tak pernah kering tersebut dibuat oleh pendiri kampung Kemuning, yakni Sarijan, yang kemudian mengubah namanya menjadi Resowijoyo.

Sekitar tahun 1775, tepatnya saat menjelang perpecahan Kerajaan Mataram, ada seorang abdi dalem keraton, bernama Sarijan. Saat itu Sarijan tahu bahwa akan ada perpecahan di internal keraton. Sarijan kemudian mengasingkan diri sekaligus bersembunyi dari kejaran penjajah Belanda, ke lokasi yang sekarang menjadi Pedukuhan Kemuning. Dulu lokasi itu merupakan hutan lebat.

"Tapi masih ketahuan oleh penjajah Belanda. Di salah satu petilasan ada pertarungan kuda simbah Sarijan dengan para penjajah. Kudanya mati tapi Mbah Sarijan selamat dan sembunyi di gua, akhirnya menetap di sini dan mengubah nama jadi Resowijoyo," Suhardi mengisahkan.

Sarijan tinggal bersama keluarganya di tempat terpencil itu. Saat siang hari dia bertani, tapi ketika malam datang, dia menjelma menjadi harimau, untuk melindungi keluarganya. Namun, Sarijan berpikir tentang usianya yang semakin menua. Tubuhnya tidak akan kuat jika terus-menerus seperti itu. Seiring berjalannya waktu, dia pun berdoa bagaimana cara melindungi keluarganya.

"Kemudian tumbuh pohon yang bisa melindungi dari kejaran penjajah. Kalau ada yang berniat jelek, di sini hanya terlihat sebagai hutan. Akhirnya pohon itu dinamakan Kemuning, artinya kesucian atau kejernihan dalam berpikir," lanjut Suhardi.

Setelah merasa aman, dia membuat perkampungan di Pedukuhan Kemuning, dan membawa keluarganya dari hutan. Tapi, saat musim kemarau, tempat itu kekeringan. Sarijan kembali berdoa agar Tuhan menciptakan mata air.

"Kemudian muncul mata air cukup besar, bahkan meluap dan dia justru khawatir kampung ini terendam. Dia akhirnya menutup mata air itu, sekarang jadi telaga. Kita akhirnya namakan Oase Gunung Sewu Kemuning, airnya tidak pernah kering," tutur Suhardi.

Oase Gunung Sewu Kemuning itu pula yang dijadikan nama destinasi wisata dengan beberapa paket. Semua pemandu dan pelaku paket wisata adalah warga setempat.

Sayangnya destinasi wisata Oase Gunung Sewu Kemuning masih belum banyak dikenal wisatawan. Hal itu bisa dilihat dari minimnya paket wisata yang terjual sepanjang 2019. "Dalam setahun ini, pengunjung yang ke sini baru dari 24 paket wisata. ada paket camping ground, paket kuliner. Lokasinya di pinggir telaga. Astra membuatkan pendopo besar di situ."

Pilar lain adalah kesehatan, yang dialokasikan ke posyandu. Kemudian pilar lingkungan yang dialokasikan untuk bank sampah.

Untuk pilar pendidikan, Astra menyalurkan CSRnya di Pedukuhan Kemuning dengan memberikan beasiswa pada puluhan anak sekolah serta mendirikan gedung pendidikan anak usia dini (PAUD). "Tahun ini total ada 35 lebih yang dapat beasiswa, tambah yang masuk SD jadi sekitar 40an."

Dengan adanya beasiswa yang dikucurkan tersebut, minat belajar anak di pedukuhan itu meningkat, karena mereka berupaya meraih prestasi agar bisa menerima beasiswa. "Dorongan Astra itu bisa menunjang kemauan mereka untuk bersekolah. Belajarnya meningkat dan akhirnya bisa dapat beasiswa." []

Baca cerita lain:

Berita terkait
Mereka yang Tak Kenal Libur Natal dan Tahun Baru
Syamsul, Nisa, dan Paryono adalah bagian dari mereka di barisan yang tidak mengenal libur Natal dan Tahun Baru. Apa pekerjaan mereka?
Kisah Pak Yesus Merawat Toleransi di Malang
Laki-laki yang suka sarungan dan berkopiah itu beragama Islam, tapi namanya sungguh ajaib, Slamet Hari Natal. Hidupnya pun dipenuhi keajaiban.
Bidan Icha, Pahlawan di Jalan Sunyi
Hardinisa Syamitri akrab disapa Icha adalah seorang bidan. Ia dianggap makhluk aneh di tengah dominasi dukun di kampung terpencil Luak Begak.
0
Covid-19 di 17 Negara Eropa Antara 11.000 - 200.000
Penyebaran virus corona baru (Covid-19) di Eropa melanda semua negara bahkan di beberapa negara kasusnya jauh di atas jumlah kasus di China