Transformasi Tabek, Revolusi Tanpa Kata

Tabek nama kampung di Nagari Talang Babungo, Kecamatan Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok, Sumbar. Sejak disentuh KBA, namanya kini bahkan menduia.
Salah satu halte beratap ijuk menghiasai setiap zona di Jorong Tabek, Nagari Talang Babungo, Kecamatan Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok, Sumbar. (Foto: Tagar/Riki Chandra)

Solok - Deru sepeda motor seorang pemuda memecah keheningan jalan di pelosok selatan Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Sesekali ia tertegun di bawah langit mendung usai diguyur hujan deras, terpesona eloknya alam Jorong Tabek, Nagari Talang Babungo, Kecamatan Hiliran Gumanti.

Dulu kampung dibalut semak belukar, kumuh dan sangat tertinggal. Alhamdulillah hari ini, kampung kami sudah menjadi percontohan kampung-kampung lain.

Butuh tiga sampai empat jam perjalanan dari Kota Padang menuju Jorong Tabek, kampung kecil berpenghuni lebih dari 2.000 jiwa yang berada di lekuk bukit. Hamparannya disesaki jutaan bunga, tebu dan aren. Sebuah pemandangan asri yang nyaris tak ditemukan di kampung mana pun, khususnya di Ranah Minang.

"Baru kali ini saya menginjakkan kaki di Jorong Tabek, ternyata benar-benar asri," kata Nofri Perdana Putra, 28 tahun, yang berkunjung ke Tabek akhir November 2019 bersama Tagar.

Nofri adalah putra asli Nagari Surian, Kecamatan Hiliran Gumanti, tak jauh dari Nagari Talang Babungo. Namun dia tak tahu banyak tentang Jorong Tabek yang sejak 2017 sudah diburu pengunjung. Bahkan Nofri pun ingin ke Tabek setelah perbincangan kampung itu riuh di media sosial.

"Sungguh saya asli orang sini. Kalau Talang Babungo tau, tapi mengenal Tabek justru setelah terkenal. Makanya saya sampai tercengang melihat keadaan di Tabek, seperti berada di luar negeri," tuturnya.

Hampir dua jam lamanya mengitari Tabek, Nofri akhirnya bertemu seorang lelaki bernama Kasri Satra dan mengajaknya duduk sembari menyeruput kopi, di sebuah kedai belakang Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Muallimin.

Lelaki 41 tahun itu adalah putra asli Jorong Tabek yang rela mewakafkan diri demi kampung. Dia merupakan aktor perubahan Tabek dari pelosok hingga kini menjadi referensi Indonesia. Panjang lebar Kasri berkisah tentang pahit dan getir perjuangannya mengubah wajah Tabek.

Dia juga tak membantah Jorong Tabek betul-betul berada di pedalaman yang jauh dari hiruk-pikuk kendaraan bermotor. Jangankan warga asal Padang, penduduk asli Kabupaten Solok bahkan tak kenal nama Tabek.

"Dulu kampung dibalut semak belukar, kumuh dan sangat tertinggal. Alhamdulillah hari ini, kampung kami sudah menjadi percontohan kampung-kampung lain di Sumbar. Bahkan sudah banyak juga yang datang dari luar Sumbar," kata Kasri.

PetaPeta lokasi KBA Tabek yang bisa dinikmati pengunjung terpampang di gerbang masuk Jorong Tabek, Nagari Talang Babungo, Kecamatan Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok, Sumbar. (Foto: Tagar/Riki Chandra)

Sebelum menetap di kampung, dia sempat merantau ke Malaysia. Tiga setengah tahun lamanya Kasri bekerja sebagai operator di sebuah perusahaan di negeri jiran. Namun nasib membawanya pulang dan pun berjodoh dengan Pelni Eliza, seorang gadis yang juga berasal dari Tabek.

Tahun 2004, Kasri kembali ke tanah air dan mulai berdiam di Tabek, tempat dia dilahirkan. Dua faktor besar yang mendorongnya pulang kampung. Pertama karena memang mencintai kampung dan kedua ingin melanjutkan perjuangan kakaknya Ainismar, pendiri MIS Muallimin Tabek.

"Sayang umur beliau (Ainismar) ditakdirkan pendek. Saya pulang karena pesan beliau meminta saya melanjutkan perjuangan MIS Muallimin yang berdiri atas kerja keras," kata Kasri. Ia juga guru Bahasa Arab dan Penjaskes di MIS Muallim Tabek.

Setelah di kampung, Kasri tak lantas sekadar aktif di lingkup madrasah. Dia juga maju sebagai motor penggerak sosial pemuda di Jorong Tabek. Berbagai inovasi dirancangnya. Mulai dari pembersihan kampung hingga bakti sosial terhadap masyarakat.

Sejak awal memulai gerakan sosial, Kasri menyadari bahwa mengubah paradigma masyarakat kampungnya tidak semudah membalik telapak tangan. Selain pola hidup, minimnya sokongan dana juga menjadi rintangan terbesar yang mesti ditaklukkannya.

Semangat baru datang di akhir 2015 atau setelah kebakaran besar menghanguskan 27 unit rumah warga Nagari Talang Babungo. Berawal dari bantuan PT Astra Internasional Tbk lantas tertarik mengembangkan Tabek ke dalam program Kampung Berseri Astra (KBA). Hal ini karena melihat Jorong Tabek masih alami dan jauh dari virus gaya hidup modern yang menjadi syarat utama untuk KBA.

Alhasil, Jorong Tabek pun menjadi satu-satunya KBA yang dipilih Astra untuk wilayah Sumatera Barat. Kasri didaulat menjadi Ketua KBA Jorong Tabek, Nagari Talang Babungo karena memang dia salah satu pemuda yang aktif memajukan kampung kala itu.

Kehadiran KBA di Jorong Tabek bukan tanpa penolakan. Bahkan sebagian warga berprasangka program Corporate Social Responsibilty (CSR) perusahaan internasional ini, justru membawa mudarat pada generasi muda yang selama ini kuat menjaga kultur. Namun seiring berjalan waktu, KBA mulai diterima masyarakat Tabek.

"Awal-awal dulu sulit sekali meyakinkan warga. Pegiat KBA Tabek hanya tiga orang, kini sudah lebih 400 orang relawan aktif di KBA. Suatu semangat yang tidak bisa dinilai dengan uang," ujar anak ketiga dari enam bersaudara itu.

Sejak disentuh KBA, wajah Tabek berubah total, semak belukar kini berganti semboyan menjadi kampung seribu bunga. Setiap pinggiran jalan bercoran semen dengan luas tak lebih 2,5 meter disesaki beragam jenis bunga. Kasri pun membagi Jorong Tabek ke dalam 11 zona dan setiap zona membawahi sekitar 40 kepala keluarga.

"Dengan zona ini, apa yang kita lakukan itu jadinya serentak dan terarah. Sekarang kampung ini sudah lazim sebut tinggal di zona satu, empat, delapan atau sebelas," katanya.

Tak hanya itu, setiap zonasi Jorong Tabek juga dibangun halte yang terbuat dari bambu atau batang aren yang sudah tidak terpakai. Uniknya, halte yang berjumlah dua atau tiga setiap zona kampung ini digunakan untuk bersantai. Ada juga yang memanfaatkannya sebagai tempat berdiskusi melepas lelah sepulang bekerja.

"Itulah bedanya halte di kampung kami dari halte di kota besar. Bahannya tidak dari semen. Tapi memanfaatkan semua batang kayu dan ijuk. Satu halte menghabiskan biaya pembuatan sampai Rp 3 juta," katanya.

Hari ini di Tabek, nyaris tak ada lagi orang yang malu memungut sampah di jalanan. Bahkan mereka tak segan menyapu ketika menemukan sampah berserakan di jalan. Budaya ini telah menyentuh setiap pribadi masyarakat Tabek hingga hari ini.

Menguatkan Pendidikan dan Ekonomi

KBA tak semata mendukung lingkungan bersih, namun juga memperhatikan bidang pendidikan. Seperti MIS Muallimin Tabek, madrasah yang dulunya dijuluki kandang kuda itu, kini berubah menjadi sekolah terbaik dengan fasilitas lengkap.

Tak terhitung rasanya support KBA untuk kemajuan kampung kami. Tinggal bagaimana kami menjaganya agar terus menuai kebaikan.

Lokasi madrasah berusia 19 tahun ini persis berada di lekuk bukit, di antara hamparan sawah Jorong Tabek. Halaman sekolah ditumbuhi ragam bunga. Ada pula dua gazebo terbuat dari kayu aren beratap ijuk di luar ruangan kelas. Konon, bagi siswa malas dan bosan belajar di kelas, diperkenankan belajar di gazebo.

Kasri mengatakan, tahun 2015 MIS Muallimin Tabek terpilih menjadi satu-satunya sekolah dasar binaan Astra dalam program KBA di Provinsi Sumatera Barat. Gelora prestasi di MIS Muallim pun kian bangkit setelah dikucurkan berbagai bantuan Astra.

Mulai dari pembangunan MCK, gerbang, perpustakaan, laboratorium komputer, ruang UKS dan semua perlengkapannya. Penyempurnaan sarana ini membuat MIS Muallimin Tabek kian lengkap. Tahun 2018, KBA juga membangun wastafel di sekolah yang digagas kakak kandung Kasri.

"KBA menyentuh semua lini yang kerap disebut empat pilar. Mulai dari pendidikan, kesehatan, kewirausahaan dan lingkungan. Bidang pendidikan ini, KBA fokus membina MIS Muallimin dan satu unit TK Al-Makmur," katanya.

MIS Muallimim TabekSalah satu gazebo yang mempercantik MIS Muallimin Tabek. (Foto: Tagar/Riki Chandra)

Tidak saja memberikan support pembangunan sarana sekolah, KBA juga menyalurkan bantuan beasiswa bagi murid ekonomi kurang mampu yang sudah berlangsung sejak 2015. Sedikitnya, ada 35 orang siswa yang dibantu biaya pendidikan.

"Ada SD, SMP dan SMA juga. Tahun lalu, penerima SD lebih banyak. Nominalnya sesuai kebutuhan masing-masing," tuturnya.

Ratusan trofi kini berjejer di MIS Muallimin Tabek. Tahun lalu, MIS ini berhasil menjadi juara 1 Unit Kesehatan Sekolah (UKS) tingkat Kabupaten Solok. Kemudian juara 1 nilai tertinggi dalam pelaksanaan UASBN MI tingkat Kabupaten Solok tahun ajaran 2017-2018.

"Tahun ini, MIS Muallimin juga meraih adiwiyata tingkat provinsi Sumbar. Banyak lagi lomba-lomba tingkat kabupaten yang dimenangkan para pelajar secara personal," ceritanya.

Nagari Talang Babungo memiliki 7 jorong dengan penduduk lebih 8 ribu jiwa. Dari semua Jorong, Tabek memiliki penduduk yang mayoritas berprofesi sebagai petani tebu. Sebagian kecil di antaranya juga berladang aren dan sawah.

Luas area perkebunan tebu di Jorong Tabek mencapai seribu hektare. Bahkan Kasri menyebut tebu umpama roh kehidupan masyarakat dan dia pun adalah seorang petani tebu.

"Tebu ini pendapatan sampingan, tapi fungsinya utama. Kalau sehari-hari, warga di sini umumnya tukang (mandor) bangunan," kata Kasri.

Ketua Koperasi Serba Usaha Ekonomi Desa (KSU-ED) Tabek, Yenimra, mengetahui betul hasil produksi tebu petani di Jorong Tabek. Apalagi dia juga seorang petani yang sudah lebih dari seperempat abad berladang tebu.

Dalam setahun, satu hektare ladang tebu bisa menghasilkan 3 hingga 5 ton tebu. Perkiraannya, satu hektare lahan ditanami 5.000 rumpun tebu. Satu rumpun tebu mampu menghasilkan sekitar 3 hingga 5 kilogram tebu.

"Kalau produksinya baik, setahun itu bisa sampai 10 sampai 15 ton per hektare. Tapi produksi kami masih kalah jauh dibandingkan produksi tebu di Pulau Jawa," tutur Yenimra yang sudah 19 tahun mengemban jabatan Ketua KSU-ED Tabek.

Sejak dipanen, proses tebu menjadi gula merah butuh waktu dua hari. Hari pertama petani fokus menebang tebu, setelah itu tebu diolah menjadi gula. Paling tidak, dua hari itu bisa menghasilkan 100 kilogram gula tebu.

Mesin kilang tebuKetua KBA Tabek, Kasri Satra, menunjukkan tempat kilangan tebu semi modern yang memangkas biaya produksi gula tebu masyarakat Jorong Tabek, Nagari Talang Babungo, Kecamatan Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok, Sumbar. (Foto: Tagar/Riki Chandra)

Memangkas proses pengolahan tebu, Astra pun membantu pembuatan unit mesin kilang tebu semi modern yang disalurkan melalui KSU-ED Tabek. Dengan mesin itu, proses mencetak gula tebu tidak lagi harus berdiang api. Sebab sumber api untuk kuali tempat adonan air tebu yang akan dipanaskan berada di luar.

Mesin kilangan tebu semi modern juga mendongkrak jumlah produksi. Biasanya, sekali mengolah tebu, petani harus merogoh kocek Rp 80 ribu. Setelah menggunakan mesin semi modern, petani hanya perlu mengeluarkan Rp 40 ribu untuk sekali pengolahan.

Dalam sehari, satu kilangan hanya mampu menghasilkan 50 kg gula tebu. Dengan mesin semi modern ini, sehari kerja petani bisa menghasilkan 300 kilogram gula tebu dan bahkan lebih.

"Sangat membantu kami. Dari segi tenaga dan pendapatan mesin kilang semi modern ini betul-betul meringankan kami sebagai petani," tuturnya.

Kini, untuk menambah nilai jual gula merah, warga Tabek juga mulai memproduksi gula semut. Apalagi, satu unit mesin pembuat gula semut yang dipersembahan Astra melalui program KBA-nya juga dihadirkan di Jorong Tabek.

Gula semut dianggap solusi mengakali peningkatan harga jual gula tebu yang kerap fluktuatif. Selain lebih praktis, cakupan pasar gula semut juga lebih luas. Mesin tersebut dirancang KBA bekerja sama dengan Universitas Andalas yang menghabiskan anggaran sebesar Rp 100 juta.

"Alhamdulillah, tak terhitung rasanya support KBA untuk kemajuan kampung kami. Tinggal bagaimana kami menjaganya agar terus menuai kebaikan," katanya.

Rumah Pintar Terpanjang di Dunia

Awal Oktober 2019, Ketua KBA Jorong Tabek, Kasri Satra, menerima penghargaan sebagai pegiat kampung iklim (Proklim) daerah berprestasi tingkat nasional dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya. Penghargaan serupa juga diterima Bupati Solok, Gusmal Dt Rajo Lelo, selaku pembina proklim Nagari Talang Babungo, Nagari Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok.

Bangunan ini berdiri atas tetesan keringat masyarakat Tabek. Kami ingin Tabek menjadi desa wisata bernuansa tematik.

Tabek juga meraih gapura terheboh nasional 2019 dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (PDTT) 2019. Tak bisa dinafikan, capaian beragam prestasi tingkat nasional itu tak lepas dari geliat Jorong Tabek yang terus "bersolek" dengan KBA-nya.

Saat ini, Tabek jga tengah merampungkan pembangunan rumah pintar bernuansa Minangkabau dan Islami. Sebuah tempat yang dirancang seperti rumah panggung berukuran 4 x 100 meter. Pembangunannya sendiri sudah dimulai sejak 2018.

"Ini nanti sebagai simbol bahwa di Tabek geliat membaca sudah meningkat. Tidak alasan lagi malas membaca ketika rumah pintar ini sudah rampung," katanya.

Rumah baca dihadirkan untuk merangsang minat baca masyarakat, terutama para pelajar dan generasi muda. Kelak di dalam rumah itu tersedia ragam buku pengetahuan yang bisa dinikmati seluruh masyarakat dan wisatawan.

"Makanya kami bikin seperti rumah panggung agar pengunjung bisa membaca sambil bersantai. Konsep pustaka tertutup sepertinya mulai kurang diminati," tuturnya.

Rumah pintarRumah "panggung" Pintar yang sedang dirampungkan KBA Tabek kian diminati pengunjung. (Foto: Tagar/Dok. Intan Sati)

Tak hanya buku, rumah pintar Tabek bakal dijadikan museum yang di dalamnya memajang berbagai peninggalan sejarah Minang. Terutama budaya yang ada di Jorong Tabek atau Talang Babungo dan Kabupaten Solok.

"Kami bangun dengan dana swadaya dan Astra juga bantu pembangunan tahap awal. Sekarang kami sedang berjuang mencari dana untuk merampungkan rencana besar ini," tuturnya.

Kasri meyakini, ikon baru KBA Tabek itu bakal menyita mata dunia, bahkan bisa tercatat sebagai rumah panggung pintar terpanjang di dunia. Dia pun bertekad menyelesaikan pembangunan rumah pintar Tabek dalam waktu dekat.

Saat ini Tabek memiliki 4 unit rumah pintar. Satu bangunan berukuran 4 x 20 meter, kemudian 4 x 4 meter, dan dua unit berukuran 3 x 3 meter. Semua bangunannya beratap ijuk dan bergonjong persis Rumah Gadang Minangkabau.

Guru-guru sekolah di Kabupaten Solok, pejabat hingga wisatawan mulai kepincut menggelar diskusi di bangunan 4 x 20 meter rumah pintar Tabek. Ya, selain sejuknya udara kampung, rumah pintar bernuansa rumah panggung Minangkabau juga menawarkan lokasi swafoto menarik. Seperti jembatan di atas rumah yang kiri-kanannya dibalut bunga dan pemandangan asri.

Jika dikalkulasikan, merampungkan rumah pintar itu butuh dana sebesar Rp 300 juta. Tentu saja dana itu mustahil didapat dalam waktu bersamaan. Pembangunan awal saja bahkan merogoh kocek pribadi Kasri dan sumbangan masyarakat. Siang-malam warga bergotong-royong membangun rumah pintar.

"Bangunan ini berdiri atas tetesan keringat masyarakat Tabek. Kami ingin Tabek menjadi desa wisata bernuansa tematik yang dikenal seluruh penjuru dunia," tutur Koordinator KBA di Pulau Sumatra itu.

Rumah pintar yang baru berumur setahun itu juga menarik wisatawan mancanegara (wisman). Baru-baru ini Tabek dikunjungi wisman dari 11 negara. Di antaranya Aljazair, Mesir, Turki, Spanyol, Swedia, Perancis, dan beberapa negara di Asia hingga Eropa.

"Sejak jadi KBA, Tabek sudah sering juga dikunjungi wisman. Sejak hadir rumah pintar ini, kunjungan juga cukup meningkat," katanya.

Hari ini masyarakat Tabek sedikit telah menuai hasil dari tranformasi desa kumuh menjadi destinasi wisata. Paket-paket wisata home stay di rumah penduduk dan sajian makanan ala kampung, mendatangkan manfaat besar bagi geliat perekonomian masyarakat.

Rumah panggungRumah panggung bernuansa Minangkabau mempercantik KBA Tabek. (Foto/Tagar/istimewa)

Para pengunjung juga dapat berkeliling Tabek dengan bersepeda yang jumlahnya baru 8 unit. Kelak kata Kasri, jika jumlah sepeda mencukupi, pihaknya akan melarang sepada motor masuk ke objek wisata Tabek. Sehingga semua terlihat dan tersaji alami tanpa asap kendaraan bermotor.

"Insya Allah, kami terus berjuang demi Tabek dan untuk masa depan anak cucu di kampung ini," katanya.

Di sisi lain, pemerintah daerah pun telah ikut memberikan dukungan terhadap kelangsungan program Tabek. Apalagi setiap program yang dicanangkan KBA di pelosok kampung itu, telah banyak mengharumkan nama Kabupaten Solok.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Solok, Nasripul Romika, mengatakan pemda menyokong geliat KBA Tabek dari segi pemberdayaan. Khususnya untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dalam pengelolaan pariwisata.

Seperti membentuk kelompok sadar wisata yang memiliki tugas mendorong terciptanya sapta pesona di Jorong Tabek. "Tujuan akhirnya tentu bagaimana Tabek jadi destinasi utama dengan konsep kampung asri."

Terkait penyempurnaan infrastruktur terutama jalan menuju Jorong Tabek, Nasripul mengaku telah membicarakan hal itu dengan stakeholder terkait. Nantinya juga akan dilakukan pembicaraan lanjutan tentang seperti apa konsep Tabek ke depan.

"Tentu perlu penyempurnaan infrastruktur sebagai support pemerintah yang memang perlu ditingkatkan," tuturnya.

Nasripul tak menampik hari ini Jorong Tabek tak pernah sepi pengunjung, naik wisman maupun pengunjung domestik. Bahkan setiap pekan nyaris kelompok sadar wisata daerah lain melakukan studi tiru ke KBA Tabek.

"Pemda akan mendukung dan semoga Tabek terus berbenah. Muara dari semua kunjungan ini tentu mendatangkan manfaat besar bagi masyarakat Tabek," katanya.

Begitu juga Bupati Solok Gusmal Dt Rajo Lelo. Dia mengaku cukup mengagumi geliat Jorong Tabek di Nagari Talang Babungo. Apalagi baru-baru ini Tabek juga dinobatkan sebagai kampung proklim tingkat nasional.

"Tentu kami bangga. Harapannya Tabek tetap fokus mengembangkan diri untuk terus menjadi contoh jorong lain yang bahkan di luar Kabupaten Solok," tuturnya.

Sementara itu, Koordinator KBA Jorong Tabek, Nur Imansyah Tara, mengatakan Astra melalui KBA datang dengan program empat pilar. Mulai dari bidang pendidikan, kesehatan, kewirausahaan dan lingkungan. Menurutnya, Astra tidak memberi pegiat secara finansial alias gaji.

KBA hanya menfasilitasi Tabek dengan sarana untuk berkegiatan. Seperti bantuan peralatan mesin kilang tebu untuk wirausaha. Bunga untuk lingkungan, perlengkapan posyandu bidang kesehatan dan menyempurnakan sarana dan prasarana MIS Muallim Tabek sebagai sekolah binaan KBA.

"KBA ini datang untuk merangsang masyarakat agar tumbuh cepat dengan ekonomi membaik," katanya.

Menurut Kepala Cabang Auto 2000 Cabang Khatib Sulaiman Padang itu, tujuan utama KBA adalah untuk melahirkan kemandirian warga di nagari itu sendiri. Konsep programnya berupa edukasi, pelatihan, ditambah sokongan dana.

KBA juga memberikan berbagai pelatihan bermanfaat bagi masyarakat. Seperti pelatihan menyulap sampah menjadi berkah yang disumbangkan Astra melalui kerja sama dengan peneliti Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) Universita Andalas. Kemudian meracik gula tebu dan aren menjadi gula semut dengan mesin yang juga disumbangkan KBA.

"Warga Tabek sangat positif menyambut KBA dan mereka bergerak cepat. KBA memulai satu langkah, masyarakat berlari sepuluh langkah," tuturnya.

Bukti dari keseriusan itu, setelah menjadi yang terbaik dari 11 KBA di Sumatera, KBA Tabek berhasil menyabet peringkat terbaik kedua dari 81 KBA se-Indonesia sebagai KBA Inovasi pada November 2018. "Partisipasi masyarakat Tabek sangat tinggi. Harapan kami, jangan sampai berhenti di titik ini." []

Berita terkait
Kisah Berdarah Kuburan Belanda di Bantaeng
Kisah berdarah kuburan Balandayya di Bantaeng ini sering diceritakan mereka yang kesurupan dirasuki arwah tentara Belanda yang bunuh diri.
Rumah Angker Bekas Tempat Pembunuhan di Bantaeng
Tinggal bersebelahan dengan rumah bekas tempat pembunuhan di Bantaeng, berdampak psikologis luar biasa bagi pasangan suami istri, Robi dan Ira.
Iin Ayu, Perempuan Penakluk Kobra dari Purwokerto
Iin Ayu, perempuan asal Purwokerto, Banyumas, punya 150 ekor ular berbagai jenis dan ukuran.
0
Anies Baswedan Ajak Masyarakat DKI Berhenti Merokok
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengajak seluruh masyarakat DKI Jakarta untuk berhenti merokok agar tercipta kehidupan yang lebih sehat.