Nyaman Rumah Berantakan, Awas Derita Gangguan Psikologis Clutter

Anda penghuni yang merasa nyaman ketika rumah berantakan Kemungkinan besar Anda mengalami gangguan psikologis Clutter.
Ilustrasi rumah berantakan. (Foto: Pexels)

Jakarta - Anda penghuni yang menganggap biasa saja dan merasa nyaman ketika rumah berantakan? Jika benar, kemungkinan besar Anda mengalami gangguan psikologis bernama Clutter.

Dikutip dari laman Springer Link, Clutter merupakan gangguan psikologis pada seseorang yang memiliki kedekatan terhadap barang-barang yang dimilikinya, dan membiarkannya menumpuk hingga seperti sampah.

Keadaan rumah yang rapih dan bersih membuat penghuninya nyaman. Sementara penderita Clutter merasakan ketenangan, meski situasi kediamannya berantakan. Mereka menaruh barang asal di dalam rumah tetapi menganggap itu hal yang biasa.

Profesor Psikologi dari Universitas DePaul Chicago, Amerika Serikat, Joseph Ferrari mengatakan, Clutter disebabkan rasa sayang yang muncul akibat terlalu dekat dengan benda pribadi.

Gangguan psikologi itu membuatnya penderitanya tidak ingin berpisah dari barang-barangnya walaupun sudah tidak layak pakai.

Rumah berantakanIlustrasi rumah berantakan (Foto: Pexels)

Baca juga:

Prof Joseph Ferrari menuturkan, gangguan psikologi itu didukung oleh kemajuan zaman yang memudahkan seseorang untuk mengumpulkan barang dengan cara membeli melalui online shop. Akibatnya keinginan untuk membeli menjadi terus menerus sehingga barang-barang tersebut menjadi menumpuk dan berantakan.

Sebab itu, menjadi hal yang wajar situasi rumah penderita Clutter berantakan bak kapal pecah setiap hari. Keadaan rumah kusut seperti itu juga dianggap nyaman meski penghuninya memiliki anak berusia belia, atau orangtua yang membutuhkan lingkungan yang bersih.

Penelitian yang diterbitkan jurnal Current Psychology menyebutkan, ada hubungan antara procrastination dan Clutter pada orang yang beranjak dewasa. Gangguan psikologis Clutter ini akan terus meningkat sejalan dengan pertambahan usia.

Untuk mengobati gangguan psikologis Clutter, Prof Joseph Ferrari menyarankan agar penderitanya menjauhkan atau meng-uninstal platform online shop di ponselnya.

Selanjutnya mencoba untuk melakukan terapi mandiri dengan mengurungkan niat ketika hasrat untuk membeli barang tinggi sehingga memicu Clutter. (Niswatul Mahmudah)

Berita terkait
Penelitian: Cahaya Lampu Warna Hijau Redakan Migrain di Kepala
Penelitian terbaru cahaya lampu berwarna hijau mampu mengurangi rasa sakit akibat migrain seperti minum obat.
Dokter Bicara Tren Tindik di Dalam Hidung, Bahaya Gak Sih?
Tindik atau piercing di bagian dalam hidung sedang hits. Namun, apakah mengikuti tren ini berbahaya?
Manfaat Air Ludah Sembuhkan Luka Basah, Mitos Atau Fakta?
Mengoleskan luka basah dengan air ludah atau air liur telah turun temurun diwariskan generasi lampau.
0
Sandiaga Uno: Tak Hanya Work From Bali, Bisa Juga Ada Work From Lombok
Berikut jawaban lengkap Menparekraf atas pertanyaan, apakah kebijakan Work From Bali bisa diterapkan di daerah destinasi prioritas wisata lainnya.