UNTUK INDONESIA
Nabi Yusuf AS, Manusia Paling Tampan Sedunia
Perempuan-perempuan itu begitu terpesona melihat ketampanan Nabi Yusuf AS, hingga mereka tanpa sadar melukai tangan masing-masing dengan pisau.
Ilustrasi - Gurun. (Foto: Pixabay/katja)

Jakarta - Nabi Yusuf AS adalah putra Yaqub bin Ishaq bin Ibrahim. Sejak kecil Yusuf telah diberikan keistimewaan oleh Allah SWT dengan besarnya rasa sayang Nabi Yaqub kepada dirinya hingga membuat saudara-saudaranya merasa iri, terutama setelah ibu kandungnya, Rahil, wafat saat ia masih berusia dua belas tahun.

Dikisahkan, pada suatu malam Yusuf yang masih kecil bermimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan bersujud kepadanya. Kemudian ia langsung mendatangi ayahnya, Nabi Yaqub AS menceritakan mimpinya itu. Ayahnya langsung memahami takwilnya, bahwa Yusuf akan terjadi pada anaknya suatu urusan yang besar. 

Nabi Ishaq berkata kepada Yusuf:” Wahai anakku! Mimpimu adalah mimpi yang berisi dan bukan mimpi yang kosong. Mimpimu memberikan tanda yang membenarkan firasatku pada dirimu, bahwa engkau dikaruniakan oleh Allah kemuliaan, ilmu dan kenikmatan hidup yang mewah. Mimpimu adalah suatu berita gembira dari Allah kepadamu bahwa hari depanmu adalah hari depan yang cerah penuh kebahagiaan, kebesaran dan kenikmatan yang berlimpah-limpah. 

Akan tetapi engkau harus berhati-hati, wahai anakku, janganlah engkau ceritakan mimpimu itu kepada saudaramu yang aku tahu mereka tidak menaruh cinta kasih kepadamu, bahkan mereka mengiri kepadamu karena kedudukkan yang aku berikan kepadamu dan kepada adikmu Benyamin. Mereka selalu berbisik-bisik membicarakan halmu, dan selalu menyindir-nyindir dalam percakapan mereka tentang kamu berdua. 

Aku khawatir, kalau engkau ceritakan kepada mereka kisah mimpimu akan makin meluaplah rasa dengki dan iri hati mereka terhadapmu dan bahkan tidak mungkin mereka akan merancang perbuatan jahat terhadapmu yang akan membinasakan engkau. 

Itulah orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya.

Dan dalam keadaan demikian setan tidak akan tinggal diam, tetapi akan makin mambakar semangat jahat mereka dan mengobarkan rasa dengki dan iri hati yang bersemayam dalam dada mereka. Maka berhati-hatilah, hai anakku, jangan sampai cerita mimpimu ini bocor dan didengar oleh mereka.”

Isi cerita tersebut di atas terdapat dalam Alquran, dalam surah Yusuf ayat 4 hingga ayat 10 yang berbunyi sebagai berikut:

Ayat 4 "(Ingatlah) ketika Yusuf berkata kepada ayahnya : “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas buah bintang, matahari dan bulan, kulihat semuanya sujud kepadaku”. 

Ayat 5. Ayahnya berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudar-saudaramu, maka mereka membuat muslihat (untuk membinasakanmu). Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” 

Ayat 6. Dan demikianlah Tuhanmu memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkannya kepada kamu sebahagian dari takdir mimpi-mimpi dan disempurnakannya nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya’qub sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmatnya kepada dua orang bapamu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. 

Ayat 7. Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang yang bertanya. 

Ayat 8. (Yaitu) ketika mereka berkata: “Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Benyamin) lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata.” 

Ayat 9. Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah (yang tidak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik.” 

Ayat 10. Seorang daripada mereka berkata: “Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah ia ke dalam perigi, supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir jika kamu hendak berbuat.” (QS. Yusuf: 4-10)

Nabi Muhammad SAW pernah menyebutkan bahwa nama-nama bintang yang ada di alam mimpi Nabi Yusuf Alaihissalam adalah:

  1. Juryan
  2. Ath-Thariq
  3. Adz-Dzayyal
  4. Dzul Katifan
  5. Qabis
  6. Watsab
  7. Amudan
  8. Al-Failaq
  9. Al-Musbah
  10. Adh-Dharuh
  11. Dzul Fara’
  12. Adh-Dhiyas
  13. An-Nur

Yusuf Dimusuhi Saudara-saudaranya

Rasa iri dengki yang berkecamuk dalam hati saudara-saudara Yusuf membuat gelap hati untuk merencanakan sebuah upaya melenyapkan Yusuf. Salah seorang di antara mereka mengusulkan untuk membunuh Yusuf atau membuangnya ke tempat yang jauh agar perhatian ayahnya hanya tertumpah kepada mereka saja, setelah itu mereka bertobat kepada Allah SWT. 

Akan tetapi di antara mereka ada yang menolak usulan pembunuhan, namun hanya mengusulkan agar Yusuf dimasukkan ke dalam sumur yang berada jauh agar nanti ditemukan oleh kafilah yang lewat, lalu mereka mengambil dan menjualnya. Ternyata usulan diterima mereka. 

Pada keesokan harinya mereka mengajak Yusuf untuk pergi bersama mereka. Mereka pun datang kepada Nabi Yaqub AS dan berkata, “Wahai ayah kami, apa sebabnya kamu tidak mempercayai kami terhadap Yusuf, padahal sesungguhnya kami adalah orang-orang yang menginginkan kebaikan baginya. Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, agar dia (dapat) bersenang-senang dan (dapat) bermain-main, dan sesungguhnya kami pasti menjaganya.”

Nabi Yaqub berkata, “Sesungguhnya kepergian kamu bersama Yusuf sangat menyedihkanku dan aku khawatir kalau-kalau dia dimakan serigala, sedangkan kamu lengah darinya.”

Mereka menjawab, “Jika ia benar-benar dimakan serigala, sedang kami golongan (yang kuat), sesungguhnya kami kalau demikian adalah orang-orang yang rugi.” (QS. Yusuf: 11-14)

Yusuf Dimasukkan ke Dalam Sumur

Maka pada pagi hari, mereka keluar membawa Yusuf ke gurun sambil menggembala kambing-kambing mereka. Setelah mereka berada jauh dari ayah mereka, maka mulailah mereka melakukan rencana itu, mereka berjalan hingga tiba di sumur, lalu mereka melepas baju Yusuf dan melempar Yusuf ke dalamnya. Ketika itu, Allah mewahyukan kepada Yusuf, “Sesungguhnya kamu akan menceritakan kepada mereka perbuatan mereka ini, sedang mereka tidak ingat lagi.” (QS. Yusuf: 15)

Setelah mereka berhasil memasukkan Yusuf ke sumur, mereka berpikir kembali tentang apa yang akan mereka katakan nanti di hadapan ayah mereka ketika ayahnya bertanya tentang Yusuf, hingga akhirnya mereka sepakat untuk mengatakan bahwa seekor serigala memakannya, dan untuk menguatkan pernyataan mereka itu, mereka sembelih seekor kambing lalu darahnya mereka lumurkan ke baju Yusuf.

Saat pulang ke rumah pada malam hari, mereka menemui ayahnya dan berpura-pura menangis. Mereka menceritakan kisah dusta bahwa ketika mereka pergi untuk berlomba-lomba dan mereka tinggalkan Yusuf di dekat barang-barangnya, lalu Yusuf dimakan serigala. Mereka juga menunjukkan baju Yusuf yang berlumuran darah untuk menguatkan pernyataan mereka.

Tetapi Nabi Yaqub melihat gamisnya dalam keadaan tidak robek, karena mereka lupa merobeknya, lalu Yaqub berkata kepada mereka, “Sungguh aneh serigala ini, mengapa ia bersikap sayang kepada Yusuf, ia memakannya tanpa merobek pakaiannya.” Maka Yaqub berkata kepada mereka menerangkan kedustaan mereka, “Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.” (QS. Yusuf: 18).

Yusuf Dikeluarkan dari Sumur dan Dibawa ke Mesir

Di dalam sumur, Yusuf berada dalam lindungan Allah SWT hingga pada akhirnya ada kafilah atau rombongan pedagang hendak menuju Mesir, mereka berhenti untuk menambah perbekalan, mereka mengutus salah seorang dari mereka ke sumur untuk mengambil air. 

Seorang itu saat menurunkan timba ke dalam sumur, melihat di dalam sana ada Yusuf, anak muda yang tampan. Orang ini pun merasa senang, bergegas memberitahukan kelompok kafilah yang kemudian mengeluarkan Yusuf dari sumur, membawanya bersama mereka menuju Mesir untuk dijual sebagai budak.

Yusuf muda dijual di pasar, dibeli Raja Mesir, Al Aziz, dengan harga beberapa dirham saja. Al Aziz membawa pulang Yusuf dan mengabarkan kepada istrinya. Istrinya sangat senang dengan keberadaan Yusuf.

Istri Al Aziz Menggoda Yusuf

Yusuf tumbuh menjadi pemuda kuat dan sangat tampan, membuat istri Al Aziz selalu memperhatikannya setiap hari hingga tertarik kepadanya. Mulailah ia menampakkan rasa suka melalui isyarat dan sindiran, tetapi Yusuf berpaling darinya dan tidak peduli terhadapnya, wanita ini berpikir bagaimana cara agar dapat merayu Yusuf.

Suatu hari, ketika Raja Al Aziz pergi meninggalkan istana, istrinya memanfaatkan kesempatan itu dengan berhias dan memakai pakaian yang indah, mengunci pintu rumahnya dan mengajak Yusuf untuk masuk ke kamarnya serta memintanya melakukan perbuatan keji dengannya.

Akan tetapi Nabi Yusuf AS dengan sifat ‘iffah (menjaga diri) dan sucinya menolak ajakannya, dan berkata, “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tidak akan beruntung.” (QS. Yusuf: 23)

Lalu Yusuf segera pergi menuju pintu untuk keluar dari tempat itu, namun istri Al Aziz tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia segera menarik Yusuf dari belakang untuk menghalanginya keluar dan menahan gamisnya hingga robek. 

Tiba-tiba, Al Aziz pulang dan suasana menjadi hening dan kritis. Istri Al Aziz segera meloloskan diri dengan menuduh Yusuf sebagai orang yang khianat serta berupaya menzaliminya, ia berkata kepada suaminya, “Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan istrimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?” (QS. Yusuf: 25)

Terhadap tuduhan itu Nabi Yusuf segera membela diri dan berkata, “Dialah yang merayu diriku.”

Maka suaminya meminta penyelesaian kepada salah seorang keluarganya, lalu anggota keluarga itu berkata tanpa ragu, “Lihatlah! Jika baju gamisnya koyak di depan, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta. Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka wanita Itulah yang dusta, dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar.” (QS. Yusuf: 26-27)

Lalu suaminya menoleh kepada istrinya, dan berkata kepadanya, “Sesungguhnya (kejadian) itu adalah di antara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar.” (QS. Yusuf: 28)

Selanjutnya Al Aziz meminta Yusuf untuk membiarkan masalah ini dan tidak membicarakannya di depan seorang pun, lalu suaminya meminta istrinya meminta ampun kepada Allah atas dosa dan kesalahannya.

Penduduk Mesir meskipun mereka menyembah patung, namun mereka tahu bahwa yang dapat mengampuni dan menyiksa hanyalah Allah SWT. Oleh karenanya Al Aziz menyuruh istrinya meminta ampun kepada Allah SWT.

Berkumpulnya Wanita-wanita Mesir Atas Undangan Istri Al Aziz

Semua pihak sepakat untuk menyembunyikan masalah ini, namun demikian ternyata berita godaan istri Al Aziz kepada Yusuf tersebut telah tersebar di istana, dan wanita-wanita kota telah membicarakannya. Istri Al Aziz yang mengetahui keadaan itu marah dan ingin menunjukkan alasan terhadap tindakannya itu kepada kaum wanita yang membicarakan dirinya, dan bahwa ketampanan Yusuf itulah yang membuat dirinya melakukan hal itu.

Maka istri Al Aziz mengundang kaum wanita ke istana dan telah disiapkan tempat mereka tempat yang istimewa. Selain itu juga telah memberikan masing-masing mereka sebilah pisau beserta buahnya, lalu istri Al Aziz menyuruh Yusuf keluar.

Yusuf pun keluar menuruti perintah majikannya, maka ketika kaum wanita melihatnya, mereka semua terpesona dengan ketampanannya dan tanpa sadar mereka melukai tangan mereka dengan pisau, sampai-sampai mereka semua mengira bahwa Yusuf adalah seorang malaikat. 

Istri Al Aziz pun berkata, “Itulah orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya aku telah menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak. Dan sesungguhnya jika dia tidak menaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk orang-orang yang hina.” (QS. Yusuf: 32)

Yusuf Memilih di Dalam Penjara

Para kaum wanita tersebut menerima alasan istri Al Aziz, dan ketika Yusuf melihat keadaan seperti itu, ia berdoa, “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dariku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS. Yusuf: 33)

Hampir saja terjadi fitnah di Madinah karena rasa cinta kaum wanita kepada Yusuf, maka pihak berwenang memandang bahwa Yusuf perlu dipenjarakan sampai waktu tertentu.

Mereka akhirnya memenjarakan Yusuf dan tinggallah Yusuf di penjara selama beberapa waktu, dan ternyata ada pula dua orang yang masuk penjara bersamanya, yang satu sebagai tukang roti, sedangkan yang satu lagi tukang pemberi minum raja. Keduanya melihat akhlak Nabi Yusuf yang begitu mulia dan ibadah yang dilakukannya yang mengagumkan sehingga keduanya mendatangi Yusuf dan menceritakan mimpi keduanya kepada Yusuf sebagaimana yang disebutkan Allah dalam kitab-Nya, 

“Berkatalah salah seorang di antara keduanya, “Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku memeras anggur.” Dan yang lainnya berkata, “Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku membawa roti di atas kepalaku, sebagiannya dimakan burung.” berikanlah kepada kami takwinya; sesungguhnya kami memandang kamu termasuk orang-orang yang pandai (menakwilkan mimpi).” (QS. Yusuf: 36)

Nabi Yusuf menakwil mimpi keduanya, bahwa di antara mereka berdua ada yang akan keluar dari penjara dan kembali bekerja seperti semula memberi minum kepada raja, sedangkan yang satu lagi akan disalib dan seekor burung akan memakan kepalanya.

Sebelum pemberi minum itu dikeluarkan dari penjara, Nabi Yusuf meminta kepadanya agar menyampaikan masalahnya kepada raja bahwa dia tidak bersalah. Akhirnya pembawa minum itu benar-benar dikeluarkan, tetapi setan menghasutnya untuk melupakan pesan Nabi Yusuf sehingga Yusuf tetap tinggal di penjara beberapa tahun lamanya. 

Nabi Yusuf Diangkat Jadi Menteri

Suatu hari, raja Mesir yang berkuasa pada masa itu bermimpi tentang 7 ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus, tujuh tangkai gandum yang hijau dan tujuh tangkai lainnya yang kering.

Lalu ia meminta para peramal kerajaan untuk menafsirkan atau takwil mimpinya itu. Alih-alih memberikan jawaban, mereka malah menganggap bahwa mimpi itu kosong, tak ada artinya.

Seorang pelayan raja yang menguping pembicaraan itu tiba-tiba teringat seseorang yang dulu sama-sama dipenjara, yaitu Nabi Yusuf yang mampu menafsir mimpinya dan, berkat tafsirnya, menjadikan dirinya dipercaya sebagai pelayan raja. 

Maka disampaikanlah mimpi sang raja itu kepada Yusuf. Berkatalah Yusuf, “Agar kamu bercocok tanam tujuh tahun (berturut-turut) sebagaimana biasa; kemudian apa yang dituai hendaklah kamu biarkan di tangkainya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian setelah itu akan datang tujuh (tahun) yang sangat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (masa krisis), kecuali sedikit dari apa (bibit gandum) yang kamu simpan. Setelah itu akan datang tahun, di mana manusia diberi hujan (dengan cukup) dan pada masa itu mereka memeras (anggur).”

Rupanya ilmu tafsir Nabi Yusuf itu cukup mumpuni. Tafsir mimpinya yang rasional itu terbukti menjadi solusi jitu saat menghadapi krisis ekonomi (musim paceklik akibat kemarau panjang) di Mesir. Cadangan pangan yang didapat dari menimbun hasil panen 7 tahun sebelumnya dikonsumsi selama musim paceklik hingga musim hujan tiba.

Keahlian menafsir mimpi itulah yang kemudian membuat ia ditawari posisi penting oleh raja. Nabi Yusuf AS diangkat menjadi menteri dalam urusan pangan di Mesir pada usia 30 tahun. Lalu Nabi Yusuf berkata, “Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir); karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, dan berpengetahuan”.

Kisah ini bisa dibaca dalam Al-Quran surat Yusuf: 43-55 atau dalam Al-Kitab, Kitab Kejadian, pasal 40: 1-36. 

Kisah Nabi Yusuf dan Zulaikha

Raja Mesir memecat Qithfir, pejabat kerajaan yang dahulu memenjarakan Nabi Yusuf, lalu mengantar Nabi Yusuf sebagai penggantinya. Setelah Qithfir meninggal, Raja Mesir menikahkan Zulaikha dengan Nabi Yusuf. Dari pernikahan ini Nabi Yusuf AS, dikaruniai dua orang putra bernama Afrayin dan Mansa. 

Terdapat kisah, suatu ketika Raja Mesir mengajaknya berbicara dengan menggunakan 70 bahasa dan Nabi Yusuf AS mampu mengimbanginya dengan tata bahasa yang sangat baik. Hal ini semakin membuat wajah takjub dan bangga dengan kemampuan Nabi Yusuf AS, yang terbilang masih muda.

Nabi Yusuf bertemu Benyamin

Pada saat Mesir dilanda paceklik, kekeringan yang sama juga dialami negeri Syam, tempat tinggal ayahnya, Nabi Yaqub AS beserta keluarganya. Kondisi ini membuat Nabi Yaqub AS meminta kepada seluruh putranya kecuali Benyamin, agar pergi ke Mesir menemui penanggung jawab produksi dan pengolahan makanan kerajaan, untuk meminta izin agar boleh membeli bahan makanan.

Sesampainya di Mesir, mereka tidak mengenali Nabi Yusuf AS, sedangkan Nabi Yusuf AS berpura-pura juga tidak mengenali saudara-saudaranya. Nabi Yusuf AS sempat mencari Benyamin adik kesayangan yang ternyata tidak turut serta.

Nabi Yusuf AS mencari akal supaya dapat bertemu Benyamin, maka dijebak kakak-kakaknya dengan tujuan sebagai mata-mata, dan untuk membuktikan bahwa mereka tidak bersalah, mereka harus membawa Benyamin serta menyerahkan surat bukti kenabian ayah mereka yaitu Nabi Yaqub AS dan salah satu dari mereka harus tetap tinggal sebagai jaminan.

Setelah mendapatkan surat bukti kenabian Nabi Yaqub AS, mereka mengajak Benyamin pergi ke Mesir, kali ini Nabi Yusuf sangat gembira, karena dapat berjumpa dengan Benyamin.

Akhirnya saudara-saudara Nabi Yusuf AS pulang kembali ke negeri Syam, tanpa Benyamin. Baru setelah itu Nabi Yusuf AS memanggil Benyamin dan mengaku bahwa ia adalah kakaknya, mereka berpelukan melepas kerinduan yang telah lama terpendam.

Sementara itu, Nabi Yaqub AS sangat sedih karena kehilangan Benyamin dan memerintahkan putra-putranya agar kembali ke Mesir, untuk membawa pulang Benyamin. Sesampainya di Mesir, Benyamin menjelaskan bahwa yang menjadi menteri urusan pangan adalah Yusuf yang dahulu mereka buang ke sumur. Sontak saudara-saudara Nabi Yusuf AS langsung minta maaf menyesal telah iri dan dengki kepada Nabi Yusuf.

Mereka menceritakan bahwa sepeninggal Nabi Yusuf AS, sang ayah Nabi Yaqub AS selalu menangis hingga matanya buta. Pada saat saudara-saudaranya akan kembali lagi ke negeri Syam, Nabi Yusuf AS membawa sebuah baju gamis miliknya untuk diusapkan ke bagian wajah Nabi Yaqub AS, atas izin Allah SWT mata Nabi Yaqub AS dapat melihat kembali.

Selanjutnya, Nabi Yaqub bersama keluarga besarnya segera berangkat ke Mesir untuk menemui Nabi Yusuf AS dan Benyamin, saat bertemu dengan Nabi Yusuf AS, Nabi Yaqub, ibu dan 11 saudaranya melakukan sujud penghormatan.

Inilah arti mimpi Nabi Yusuf AS ketika masih kecil, Matahari melambangkan Nabi Yaqub AS, bulan melambangkan Ibunya, dan 11 bintang melambangkan 11 saudaranya. 

Pada zaman Nabi Yusuf bersujud kepada sesama, merupakan tradisi bahkan disyariatkan seperti sujudnya para malaikat kepada Nabi Adam AS. Tetapi tradisi ini kemudian dihapus dengan syariat yang dibawa Nabi Muhammad SAW, yang melarang orang bersujud, kecuali hanya kepada Allah SWT.

Di dalam Alquran penguasa Mesir pada masa Nabi Yusuf AS disebut dengan Al Malik yang berarti Raja, sedangkan pada masa Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS, penguasa Mesir disebut dengan Firaun. []

Baca juga:

Berita terkait
Nabi Ishaq AS, Saudara Seayah dengan Nabi Ismail AS
Allah SWT mengutus Nabi Ishaq untuk menjadi penuntun bagi kaum Kanaan yang berada di Kota Hebron atau yang kerap juga disebut sebagai Al-Khalil.
Nabi Ismail AS, Saat Tapak Kaki Sentuh Tanah Gersang
Dari perjalanan kehidupan Nabi Ismail akan diketahui arti di balik semua ritual dalam prosesi ibadah haji, juga ibadah kurban.
Nabi Luth AS, Ketika Malaikat Menyamar Pemuda Tampan
Nabi Luth AS tinggal di sebelah timur Palestina, wilayah Kanan dekat Desa Sodom. Suatu hari ia kedatangan tamu, malaikat yang menyamar.
0
Nabi Yusuf AS, Manusia Paling Tampan Sedunia
Perempuan-perempuan itu begitu terpesona melihat ketampanan Nabi Yusuf AS, hingga mereka tanpa sadar melukai tangan masing-masing dengan pisau.