UNTUK INDONESIA

Mitos Atau Fakta Menguap Bisa Menular? Ini Penjelasannya

Pernahkah kamu menguap karena tertular oleh orang lain? Ini penjelasannya.
Ilustrasi menguap. (Foto: Freepik)

Jakarta - Pernahkah kamu menguap karena tertular oleh orang lain? Entah itu secara langsung, di telepon, atau panggilan video. Hal ini sangat sering terjadi di mana saja. Jika ada satu orang menguap, setelahnya akan diikuti oleh yang lain.

Laman Sehatq menjelaskan bahwa menguap merupakan respons tubuh terhadap rasa lelah, kantuk, hingga stres. Faktanya, sering menguap bisa menandakan adanya suatu gangguan kesehatan.

Dalam proses menguap, mulut akan terbuka dan menarik napas dalam-dalam sehingga paru-paru terisi dengan udara.

Berdasarkan penelusuran Tagar ke berbagai sumber, terdapat sejumlah penelitian yang menyebutkan bahwa menguap merupakan cara refleks tubuh untuk mendinginkan otak, mendapatkan lebih banyak oksigen, atau bahkan meregangkan organ dalam.

Selain itu, penelitian lain pada 2014 mendukung gagasan bahwa menguap adalah cara kita mengatur suhu otak.

Kondisi ini tidak dapat ditahan. Bahkan, menguap bisa menular ke orang di sekitar. Hal ini berkaitan dengan rasa empati dan keterikatan terhadap orang lain.

Lantas, mengapa menguap bisa menular? Mengutip informasi dari laman Healthdigest, menguap merupakan perilaku manusia yang paling menular. Seorang ahli saraf bernama Robert R. Provine percaya bahwa mungkin saja seseorang dapat langsung menguap saat membaca sesuatu tentang menguap.

Provine mengatakan, menguap tidak hanya menular dengan melihatnya, tetapi bisa juga dengan membaca atau mendengarnya.

Fakta lainnya adalah tindakan menguap bahkan bisa menular antar spesies. Hal ini dikarenakan menguap berperan dalam evolusi ikatan sosial dan empati.

Jadi, semakin sedikit rasa empati yang dimiliki seseorang, maka semakin kecil kemungkinan mereka akan menguap setelah melihat orang lain melakukannya.

Sebuah penelitian juga menunjukkan bahwa kecenderungan untuk mengulang menguap secara bawaan disebabkan oleh refleks primitif dari bagian otak yang bertanggung jawab atas fungsi motorik.

James Giordano, seorang ahli saraf, percaya bahwa perilaku tersebut dapat dikaitkan dengan neuron cermin di otak. Ia menyatakan bahwa yang terlibat di dalam neuron ini mencocokkan dengan yang kita rasakan dan cara kita bergerak.

Giordano juga mengatakan bahwa pencerminan sosial ini terkait dengan perilaku lain seperti menyilangkan kaki dan tertawa. []

(Okky Pratiwi)

Berita terkait
7 Tips Mencegah dan Mengatasi Milia Pada Wajah
Berikut Tagar rangkumkan sejumlah tips untuk bantu mempercepat proses penyembuhan dan mencegah milia.
Manfaat Strawberry untuk Kesehatan dan Kecantikan
Berikut Tagar rangkumkan sejumlah manfaat buah strawberry bagi kecantikan.
Manfaat dan Risiko Menghilangkan Bulu dengan Laser
Berikut Tagar rangkumkan sejumlah manfaat dan risiko menghilangkan bulu dengan teknologi laser.