UNTUK INDONESIA
Misteri Hantu Usil Toko Merah Kota Tua Jakarta
Toko Merah terletak di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. Bangunan itu menyimpan cerita misteri horor terkait Geger Pecinan di masa kolonial lampau.
Bangunan Toko Merah di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, Selasa, 29 Oktober 2019. (Foto: Tagar/Putra Abdul Fattah Hakim)

Jakarta - Toko Merah di Kota Tua, Jakarta. Selain punya nilai sejarah tinggi, bangunan itu dilingkupi banyak kisah misteri berbau horor. Sering muncul penampakan aneh, baik sosok maupun suara. Malah, sosok gaib perempuan kerap usil ke warga dan wisatawan. 

Nama Toko Merah, terdengar cukup unik untuk sebuah bangunan toko. Jika tempat dagang lain mencerminkan identitas pemilik, nama jalan sekitar hingga nama yang mengandung semangat usaha maka sebutan bangunan ini diambil dari warna yang menyelimutinya. 

Warna merah hati nampak jelas di permukaan tembok batu bata tanpa plester di bagian depan gedung. Dan pada sekitar abad 19, bangunan peninggalan kolonial itu memang berfungsi sebagai toko atau tempat untuk menjual barang. 

Toko Merah terletak di sisi barat Kali Besar, kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. Beralamat di Jalan Kali Besar Barat No 11, RT 7 RW 3 Kelurahan Roa Malaka, Kecamatan Tambora. 

Hari itu, sekira pukul 15.00 WIB, langit cerah berawan memayungi Kota Tua. Cukup mudah menemukan lokasi bangunan itu karena warna yang beda dengan warna bangunan sejarah lain di Kota Tua. Berbekal navigasi Google Maps, Tagar pada Selasa, 29 Oktober 2019, tidak kesulitan untuk sampai ke tempat tersebut.

Diamati dari luar, Toko Merah sekilas merupakan satu bangunan utuh. Sebenarnya bangunan tersebut merupakan penggabungan dari dua bangunan bertingkat. Terdiri dari tiga lantai. Lantai dasar banyak ruangan dengan fungsi masing-masing. Di lantai dua, ada empat buah kamar. Dan lima unit kamar di lantai tiga.

toko merah3Bangunan Toko Merah, Kota Tua, tampak dari depan. (Foto: Tagar/Putra Abdul Fattah Hakim)

Suasana Kota Tua terang benderang karena sore itu, sekira pukul 15.30 WIB, pancaran mentari masih cukup menyilaukan mata. Namun terasa ada yang beda dari Toko Merah. Hawa gelap menyeruak di antara jendela-jendela berukuran besar yang ada di bagian bawah hingga atas gedung. 

Tiba-tiba dia terjatuh dan berteriak-teriak aneh, tidak pakai bahasa Indonesia, entah bahasa apa. Ternyata dia kerasukan.

Penasaran, Tagar coba mencari tahu seputar misteri di rumah yang dibangun megah bergaya kolonial itu. Seorang pria, berwajah bapak-bapak, terlihat tengah santai usai mengatur posisi sejumlah kendaraan yang terparkir di depan Toko Merah. 

Setelah memperkenalkan diri, pria ramah itu diketahui bernama Saipullah, umurnya sekitar 42 tahun. Ia mengaku sudah bekerja di kawasan Kota Tua, khususnya sekitar Toko Merah, selama 20 tahun. Puluhan tahun beraktivitas di lingkungan tersebut, kejadian berbau mistis bisa dibilang makanan sehari-hari. 

Wajahnya langsung berubah tegang kala Tagar berusaha mengulik kejadian aneh yang pernah dialaminya. Ia seperti ragu untuk bercerita. Namun setelah diyakinkan, ia bersedia membuka peristiwa tak masuk nalar di lingkungan Toko Merah.   

Pernah suatu hari, kala tengah kerja parkir di malam hari, ia melihat sesosok wanita bergaun putih dengan rambut panjang tergerai. Sosok itu muncul secara tiba-tiba di salah satu jendela gedung. "Saya spontan memalingkan pandangan. Tapi karena penasaran saya lihat lagi dan ternyata sudah hilang. Kejadian penampakan seperti itu sudah sering saya lihat," bebernya dengan nada kalimat gugup. 

Kejadian lain yang sempat mengundang kepanikan warga juga pernah terjadi di depan Toko Merah. Suatu sore, ia lupa kapan persisnya hari kejadian, seorang wisatawan jadi korban keusilan penunggu bangunan itu. Pengunjung anak muda diketahui tengah melintas dan bermaksud mengabadikan gambar Toko Merah dengan kameranya. 

toko merah4Bagian dalam Toko Merah, Kota Tua, Jakarta Barat dipenuhi ornamen bernuansa kultur Tionghoa dan kolonial. (Foto: Tagar/Putra Abdul Fattah Hakim)

"Tiba-tiba dia terjatuh dan berteriak-teriak aneh, tidak pakai bahasa Indonesia, entah bahasa apa. Ternyata dia kerasukan. Orang-orang pada datang. Dan setelah diobati, dia bilang ketika hendak memotret gedung, ada sesosok bukan manusia yang masuk ke bingkai foto kameranya," urai dia.

Menurut Saipullah, kejadian-kejadian berbau gaib seperti ini terjadi tak menentu. Siang, sore maupun malam, kerap muncul keisengan dari penunggu yang digambarkan perempuan itu. "Kalau dia ingin menampakkan diri muncul kapan pun, semaunya," ucap pria dengan rompi parkir biru ini. 

Cerita senada disampaikan Sudaryan. Pria berumur 54 tahun ini adalah seorang pedagang kaki lima di samping gedung Toko Merah. Ia sudah berjualan di sana hampir 32 tahun, meneruskan usaha yang dirintis ibunya. 

Sudaryan juga mengaku kerap menemui hal ganjil ketika tengah berjualan. Beda dengan Saipullah, wajah Sudaryan tak menggambarkan rasa takut. Ia terlihat santai saat membeber ragam kejadian mistis yang dialami. 

Pada sebuah malam, karena memang warung Sudaryan buka hingga tengah malam, terdengar suara aneh. Suara tanpa wujud itu seperti memanggilnya. Penasaran, Sudaryan tengok kanan kiri, bahkan keliling warung sampai depan Toko Merah untuk mencari sumber suara. Namun tidak ada seorang pun di sekitar warung maupun bangunan itu. 

"Pernah lagi dengar suara misterius. Tapi ini jelas suara perempuan. Suaranya seperti menangis, kadang tertawa. Itu dari dalam gedung, padahal kalau malam hari Toko Merah tutup, tidak ada orang. Suara itu akhirnya berhenti sendiri setelah saya menoleh ke gedung," tutur dia.

toko merah2Toko Merah di Kota Tua, Jakarta, telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya sejak tahun 1993. (Foto: Tagar/Putra Abdul Fattah Hakim)

Keusilan hantu Toko Merah tidak hanya itu. Sudaryan pernah melihat sesuatu mirip manusia yang melintas di gedung tersebut. Sosok bayangan itu berwujud perempuan mengenakan gaun putih panjang. Saking panjangnya, gaun si wanita seperti bergerak menyapu lantai. 

"Kejadiannya malah belum lama ini dan siang hari. Penasaran, saya menuju ke pintu gedung tapi ternyata gedung tersebut tutup dan terkunci," ujarnya.

Lantas siapa sebenarnya sosok perempuan berambut panjang dan bergaun panjang warna putih itu ? Saipullah dan Sudaryan hanya angkat bahu tanda tak tahu. Namun dari cerita warga yang berkembang, sosok penunggu Toko Merah terkait dengan kejadian mengerikan ratusan tahun lalu. 

Sebuah peristiwa sejarah yang juga dikenal dengan nama Tragedi Angke. Menjadi salah satu cerita kelam warga keturunan Tionghoa di Bumi Nusantara hingga memicu perlawanan ke Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) bersama raja dan pangeran di Jawa. 

Yakni aksi sadis tentara VOC terhadap orang Tionghoa pada tahun 1740. Di tahun itu, tepatnya tanggal 9 Oktober, Gubernur Jenderal Adrian Valckenier memerintahkan prajurit VOC menghabisi seluruh orang keturunan Tionghoa beserta keluarganya.

George Bernhard Schwarz dari Jerman menceritakan kejadian itu dalam bukunya yang berjudul Hal-hal yang Luar Biasa. Lewat karyanya, George menceritakan keterlibatannya dalam pembantaian. Ia ikut membunuh orang-orang yang tidak pernah punya masalah pribadi dengannya. Malah sebelumnya terjalin hubungan baik sebagai tetangga. 

toko merah5Sosok hantu perempuan kerap menampakkan diri di balik jendela besar di gedung Toko Merah, Kota Tua, Jakarta. (Foto: Tagar/Putra Abdul Fattah Hakim)

Disebutkan di buku itu, sekitar 24 ribu orang Tionghoa tewas sepanjang pelaksanaan perintah Valckenier. Tapi jumlah korban ini dibantah pihak Belanda dengan mengklaim hanya ada 5 ribu sampai 10 ribu korban. 

Terlepas mana yang benar tapi George mengungkap korban VOC tidak hanya kaum laki-laki. Para orang tua, wanita dan anak-anak juga jadi korban. Bahkan mereka yang tengah dirawat di rumah sakit tak luput dari kebengisan prajurit VOC. 

Mayat-mayat korban pembantaian berserakan di sekeliling Kali Besar sehingga mengubah warna air jadi merah darah. Dan bangunan Toko Merah juga disebut menjadi tempat penyiksaan bagi para gadis Tionghoa hingga banyak yang menemui ajalnya.

Sementara dari sisi sejarah, Toko Merah dan beberapa bangunan tua lain di sepanjang Jalan Kali Besar Barat dan Timur di tepi Ciliwung membentuk suatu lingkungan perkotaan Eropa masa lampau. Wilayah ini juga menjadi daerah elite pusat Kota Batavia.

Awalnya Toko Merah menjadi kantor dan tempat hunian Gubernur Jendral VOC bernama Gustaaf Willem baron van Imhoff. Juga menjadi kediaman beberapa gubernur jenderal lainnya. 

Kalau dia ingin menampakkan diri muncul kapan pun, semaunya.

Sebut saja Jacob Mossel yang menempati Toko Merah pada tahun 1750 hingga 1761. Kemudian ada Petrus Albertus van der Parra, 1761-1775. Petinggi VOC lain, Reinier de Klerk juga pernah beraktivitas di tempat itu selama tiga tahun, 1777-1780. Termasuk Nicolas Hartingh dan Baron von Hohendorff. 

Selain menjadi pusat operasional perdagangan VOC, Toko Merah juga pernah difungsikan untuk kegiatan lain. Pada 1743 sampai tahun 1755, bangunan itu dijadikan sebagai kampus dan asrama Academie de Marine atau akademi tentara laut. Juga untuk heerenlogement atau hotel pejabat, 1786-1880. 

Tahun 1809-1813 bangunan ini juga dijadikan sebagai rumah oleh Anthony Nicare. Hingga pada abad 19, gedung Toko Merah menjadi milik seorang pejabat Tionghoa bernama Oey Liauw Kong. Bangunan kemudian difungsikan sebagai taka dan dicat warna merah. Kemudian populer dengan sebutan Taka Merah. 

Berjalan waktu, Indonesia merdeka. Bangunan-bangunan kolonial berhasil diambil alih, termasuk gedung Toko Merah. Pada tahun 1990-an, gedung ini dijadikan sebagai bangunan cagar budaya berdasarkan UU No 5 Tahun 1992 dan surat keputusan Gubernur DKI Jakarta No 475 tanggal 29 Maret 1993.

Setelah bertahun-tahun terabaikan, tahun 2012 Toko Merah direstorasi ulang dan diubah menjadi function hall yang dapat dimanfaatkan untuk tempat pameran dan konferensi. 

Belakangan ini Toko Merah memang tertutup untuk umum. Hanya kegiatan-kegiatan tertentu yang dapat menggunakan gedung tersebut. Jika Anda penasaran dengan cerita mistis atau ingin belajar sejarah maka bisa masuk seizin petugas jaga. []

(Putra Abdul Fattah Hakim)

Baca juga:

Berita terkait
Kisah Legendaris Jembatan Ancol
Kisah Si Manis Jembatan Ancol pernah terkenal di era 90-an dan menjadi cerita paling legenda di Jakarta.
Kisah Yanti, Hamil Tua Diteror Kuntilanak Gowa
Yanti, perempuan hamil delapan bulan diganggu kuntilanak di rumahnnya di Gowa, Sulawesi Selatan. Dia tidak menyangka kecerobohan membuatnya apes.
Noni Belanda dan 3 Hantu Lain yang Eksis di Bantaeng
Di beberapa kota di Indonesia banyak cerita mistis yang melegenda begitupun di Kabupaten Bantaeng, berikut hantu yang eksis di kota Bantaeng Sulsel
0
Main Layang-layang, Pemain Brasil Tewas Kesetrum
Pemain lokal Brasil, Kaio Felipe Santos Silva, mengalami nasib tragis. Dia meninggal karena kesetrum listrik saat bermain layang-layang.