UNTUK INDONESIA
Miris, 7 Tahun Tinggal di Rumah Rusak di Mamuju
Tujuh tahun, perempuan paruh baya dan dua anaknya tinggal di rumah rusak di Mamuju. Berulang pendataan tapi bantuan tak kunjung datang.
Kondisi bangunan rumah Rasdiana di Mamuju yang memprihatinkan, Sabtu, 1 Februari 2020. Tujuh tahun rumah rusak itu ditinggali Rasdiana dan dua anaknya tanpa ada bantuan dari pemerintah. (Foto: Tagar/ Eka Musriang)

Mamuju - Rasdiana 53 tahun, tinggal bersama dua anaknya di rumah rusak di Kelurahan Rangas, Kecamatan Simboro, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Menjadi miris karena selama tujuh tahun rumah perempuan paruh baya itu terabaikan dari bantuan pemerintah. 

Padahal tempat tinggal Rasdiana hanya berjarak sekitar dua kilometer dari pusat pemerintahan Mamuju yang juga Ibu Kota Provinsi Sulawesi Barat. Kondisi tersebut mengundang keprihatinan warga sekitar.

Diketahui, rumah Rasdiana dibangun pada tahun 1983. Bangunan mulai mengalami kerusakan usai sang suami meninggal tahun 2013 atau sejak tujuh tahun lalu. Tak ada pilihan lain bagi ibu dan dua anaknya selain menempati rumah tersebut. 

"Jadi, yang pertama rusak itu, mulai dari atap hingga merembes ke bagian dinding sebelah kamar tamu," kata Rasdiana menahan tangis saat ditemui Tagar, Sabtu, 1 Februari 2020.

Bertahun-tahun kemudian kerusakan makin parah. Rumah berdinding papan itu makin lapuk dan berlubang sana-sini. Di bagian belakang, dinding papan juga sudah memperlihatkan lubang cukup besar. Di bagian atas, atap dari rangkaian daun juga sudah menunjukkan banyak rongga yang bisa menjadi celah masuknya air hujan.

Kalau hujan, kami kehujanan. Untung ada bagian yang masih bisa dijadikan tempat berteduh dari air yang turun.

Rasdiana mengaku, kondisi tersebut membuat ia dan anaknya tidak nyaman ketika hujan turun. Apalagi jika turun hujan pada malam hari. Perasaan was-was kehujanan hingga kejatuhan atap yang sudah lapuk membuat tidur jadi tak nyenyak.

"Kalau hujan, kami kehujanan. Untung ada bagian yang masih bisa dijadikan tempat berteduh dari air yang turun," tuturnya.

Hingga saat ini rumah Rasdiana belum pernah mendapatkan bantuan, baik dari dermawan, maupun pemerintah setempat. Berulang kali didata tapi bantuan tidak pernah kunjung datang.

"Sudah berkali-kali di data, bahkan ada yang didata belakangan tapi malah dia yang mendapatkan bantuan duluan," imbuh dia.

Sementara, Kepala Lingkungan Rangas Timur, Marhaban mengakui sudah melakukan pendataan terhadap tempat hunian Rasdiana. Namun, hingga saat ini bantuan untuk memperbaiki rumah itu belum pernah terealisasi.

"Saya sudah berusaha untuk berkali-kali memasukkan datanya tapi sampai saat ini belum ada yang datang. Bahkan, ada yang tahap kedua, sudah mendapatkan bantuan lebih dulu. Padahal data ruah Rasdiana sudah masuk duluan," jelas dia.

Marhaban sangat prihatin atas kondisi salah satu warga kurang mampu di wilayahnya itu. Secara pribadi, jika ada dana lebih, ia akan membantu memperbaiki rumah Rasdiana. Ketimbang menunggu bantuan pemerintah yang tak jelas juntrungnya.

"Kalau pemerintah terus menerus tidak memperhatikan orang tua itu, lebih baik saya sendiri yang bantu kalau sudah ada dana pribadi," ucap dia. []

Baca juga: 

Berita terkait
Kisah Sannari Tinggal di Rumah Tak Layak Huni Maros
Kehidupan seorang warga Maros bernama Sannari sangat memprihatinkan, dia tinggal di rumah tak layak huni tanpa bantuan pemerintah.
Miris, di Kalteng Ada 128 Ribu Rumah Tak Layak Huni
Pemprov Kalteng mengusulkan bantuan bedah rumah ke pusat sebanyak 4.000 unit rumah.
Kementerian PUPR Bedah Rumah 1.200 Unit Tidak Layak Huni
Kementerian PUPR terus meningkatkan hunian layak di Pandeglang, sebanyak 1.200 unit rumah tidak layak huni pada tahun 2019.
0
Martin NasDem Buka Diskusi Perlindungan Anak di Toba
Anggota DPR Fraksi Partai NasDem Martin Manurung membuka diskusi perlindungan anak dari ancaman berbagai tindak kekerasan di Kabupaten Toba.