UNTUK INDONESIA
Menelusuri Jejak Masa Silam Etnis Uighur di China
Etnis minoritas di China, Uighur menjadi perbincangan hangat dunia belakangan ini.
Kaum perempuan dari etnis Uighur menawarkan barang dagangan di Kota Tua Kashgar, Xinjiang, Jumat (4/1/2019). (Foto: Antara/M Irfan Ilmie)


Jakarta - Etnis minoritas di China, Uighur menjadi perbicangan hangat dunia belakangan ini. Pemerintah China dituduh melakukan pelanggaran berat hak asasi manusia terhadap suku yang mayoritas memeluk agama Islam itu dengan menahan mereka di kamp penahanan. Pemerintah China menyebutkan bahwa laporan tentang penahanan massal satu juta muslim Uighur di Xinjiang sepenuhnya tidak benar, namun mengakui telah mengirim sejumlah orang ke pusat-pusat reedukasi.

Seperti apa pusat reedukasi yang disebut pemerintah China dan sejak kapan etnis Uighur ini tinggal di Xinjiang, berikut penelusuran Tagar yang dirangkum dari berbagai sumber.

Uighur, ada yang menulis Uygur atau Uygur merupakan salah satu suku minoritas resmi di China. Etnis ini merupakan keturunan dari suku kuno Huhe yang tersebar di Asia Tengah. Suku Uighur terutama berdomisili dan terpusat di daerah otonom Xinjiang.

Selain di China, mereka tersebar di Kazakhstan, Kirgistan, dan Uzbekistan. Etnis Uighur yang menetap di Xinjiang, China mencapai 10 juta orang. Sejumlah kecil, sekitar 300 orang tinggal tersebar di Uzbekistan, Kazakhstan, Kirgistan, dan Uzbekistan.

Seperti dikutip dari britannica.com, suku Uighur masuk China mulai abad ke-3 Masehi. Masuk abad ke-8, mereka mendirikan kerajaan di sepanjang Sungai Orhon. Pada tahun 840, kerajaan kecil itu jatuh dan dikuasai Kirgistan. Orang-orang Uighur melarikan diri ke wilayah di sekitar Tien (Tian) Shan atau Pegunungan Surga. Mereka kemudian mendirikan kerajaan dan menetap hingga masuk abad ke-13 setelah wilayah itu dikuasai kerajaan Mongol yang gencar melakukan agresi.

Uighur XinjiangPengunjung di depan Masjid Etigar, Kota Kashgar, Xinjiang, Jumat (4/1/2019). (Foto: Antara/M Irfan Ilmie)

Mata pencaharian suku Uighur adalah pertanian. Namun karena Tien Shan merupakan salah satu wilayah tergersang di dunia, mereka membangun irigasi untuk mengatasi masalah pasokan air. Tanaman pangan utama mereka aalah gandum, jagung, koaliang (sejenis sorgum) dan melon. Sementara tamanan industrinya kapas yang sudah lama tumbuh di wilayah itu. Namun tak sedikit warga Uighur yang mencaari penghidupan di kota dengan bekerja di pertambangan dan manufaktur.

Kota-kota utama Uighur antara lain Ürümqi yang menjadi ibu kota Xinjiang dan Kashgar (Kashi). Kota Kashi merupakan pusat perdagangan kuno di jalan sutera bersejarah, dekat perbatasan antara Rusia dan China. Suku Uighur tidak mempunyai kesatuan politik selama berada-abad. Organisasi sosial mereka terpusat di desa.

Pada tahun 1950-an, pemerintah China membentuk daerah otonom di Xinjiang. Saat itulah terjadi migrasi besar-besaran suku Han (etnis China) ke Xinjiang. Jumlah warga Han semakin mendominasi setelah tahun 1990. Pada awal abad ke-20, marga Han menguasi dua perlima dari total populasi Xinjiang.

UighurPengunjuk rasa dari berbagai organisasi Islam menggelar aksi solidaritas terhadap muslim Uighur di depan Kedubes China, Jakarta, Jumat, 21 Desember 2018. (Foto: Antara/Putra Haryo Kurniawan)

Seiring perjalanan waktu, terjadi kesenjangan ekonomi dan ketegangan etnis antara suku Uighur dengan pendatang marga Han sehingga sering terjadi kerusuhan. Pada Juli 2009, terjadi kerusuhan terutama di Ürümqi, dilaporkan 200 orang etnis Han tewas terbunuh dan sekitar 1.700 lainnya mengalami luka.

Sejak itu ekskalasi kekerasan di Xinjiang semakin meningkat, termasuk serangan menggunakan senjata tajam dan bom bunuh diri. Pemerintah segera merespon dengan menangkap warga Uighur yang dicurigai sebagai pembangkang dan separatis. Pihak keamanan China melakukan penangkapan, penembakan, dan menjebloskan ke penjara warga Uighur yang membangkang.

Tahun 2017, perlakuan kekerasan China terhadap Uighur semakin menjadi-jadi. Pemerintah melakukan pengawasan yang ketat dengan memasang kamera, pos pemeriksaan dan patroli polisi di daerah-daerah yang didominasi suku Uighur. Kebijakan pemerintah China yang paling kontroversial dan banyak mendapat protes dari organisasi-organisasi hak asasi manusia adalah penahanan satu juta orang Uighur di kamp penahanan yang mereka sebut sebagai "pusat pelatihan politik". Kamp tahanan ini merupakan bangunan-bangunan berupa benteng kuat dengan penjagaan super ketat mirip dengan kamp pendidikan di masa pemerintahan Mao Zedong.

Setidaknya selama tiga tahun terakhir, pihak keamanan China telah menangkap warga Uighur. Para ahli dari luar memperkirakan  ada sekitar satu juta orang Uighur yang ditahan. Pemerintah China berungkali menyangkal keberadaan kamp tahanan. Tapi tahun lalu, China mengakui keberadaan kamp tahanan. Negeri Tirai Bambu itu berkilah sebagai pusat pelatihan atau reedukasi untuk menangkal aksi terorisme.[] 

Baca Juga:

Berita terkait
PWNU Jatim Nilai Isu Uighur Tak Hanya Kemanusiaan
Ketua PWNU Jawa Timur KH Marzuki Mustamar menilai isu yang terjadi di China mengenai umat Islam Uighur ditunggangi oleh banyak kepentingan.
MUI Jatim Nilai Indonesia Lamban Bantu Muslim Uighur
Yunus mengatakan poin pertama sikap MUI Jatim yakni meminta agar pemerintah China segera menyelesaikan persoalan persekusi muslim Uighur
Soal Uighur, Remaja Masjid di Aceh Desak Pemerintah
Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Aceh Singkil mendesak pemerintah pusat agar bersuara membela etnis muslim Uighur.
0
Dua Warga Kota Tangsel Terpapar Radiasi Dosis Rendah
Paparan radioaktif di Perumahan Batan Indah, Kota Tangsel, Banten, berdampak pada dua warga yang terkena paparan radioaktif dalam dosis rendah